Panggung Gedung Pewayangan Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, menjadi tempat pertemuan para dalang muda dari berbagai daerah pada 2–4 November 2026.
Sebanyak 29 anak berusia 8 hingga 14 tahun mengikuti Festival Dalang Anak (FDA) ke-19. Mereka datang dari 22 provinsi untuk memperlihatkan kemampuan dalam seni pedalangan.
Di balik kompetisi tersebut, tersimpan upaya yang lebih luas daripada mencari pemenang. Festival ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal, mempelajari, dan mempraktikkan seni pewayangan.
Mereka tidak hanya berhadapan dengan tokoh-tokoh dalam lakon, tetapi juga mempelajari pengetahuan, bahasa, nilai, dan tata pertunjukan yang diwariskan melalui tradisi pedalangan.
Festival Dalang Anak diselenggarakan oleh Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) sejak 2008. Pada penyelenggaraan ke-19, para peserta merupakan hasil seleksi panjang dari perwakilan 516 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.
Proses tersebut memperlihatkan luasnya upaya penjaringan calon dalang muda sebelum mereka tampil di tingkat nasional.
Belajar Menghidupkan Tokoh dan Cerita
Menjadi dalang membutuhkan kemampuan yang tidak sederhana. Dalam pertunjukan wayang, dalang mengendalikan jalannya pementasan, menggerakkan tokoh, menyampaikan dialog, membangun suasana cerita, serta menjaga hubungan antara lakon dan iringan gamelan.
Kemampuan tersebut menuntut penguasaan cerita, keterampilan memainkan wayang, pengolahan suara, dan pemahaman terhadap karakter setiap tokoh.
Dalang juga perlu memahami nilai dan pesan yang terkandung dalam lakon agar pertunjukan tidak berhenti sebagai tontonan.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan pentingnya peran dalang dalam menjaga pengetahuan dan kearifan yang terkandung dalam cerita pewayangan.
Menurutnya, anak-anak perlu mengenal tradisi pedalangan sekaligus memiliki kesempatan mengembangkan kreativitas agar seni tersebut tetap hidup mengikuti perubahan zaman.
“Dalang adalah pusat pengendali dari pementasan wayang. Penting agar anak-anak mengenal dan melanjutkan tradisi pedalangan, menjaga ilmu pengetahuan dan kearifan dalam lakon pewayangan sebagai refleksi kehidupan, sekaligus mengembangkan seni pewayangan dengan inovasi dan kreativitas agar terus hidup di tengah perubahan zaman,” ungkap Fadli Zon dalam Malam Grand Final Festival Dalang Anak ke-19 pada 4 November 2026.
Pandangan tersebut menempatkan anak-anak bukan hanya sebagai peserta perlombaan, melainkan calon penerus pengetahuan pedalangan.
Penguasaan teknik pertunjukan perlu berjalan bersama pemahaman terhadap cerita, nilai budaya, dan pesan kehidupan yang disampaikan melalui wayang.
Wayang dan Pengakuan Warisan Budaya Dunia
Seni pewayangan memiliki perjalanan panjang dalam kebudayaan Indonesia. UNESCO mengakui wayang sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 2003.
Pengakuan tersebut kemudian menjadi bagian dari daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada 2008.
Pengakuan internasional itu memperlihatkan nilai penting wayang sebagai tradisi budaya yang mengandung seni pertunjukan, sastra, musik, pengetahuan, dan pandangan hidup masyarakat.
Di dalamnya terdapat hubungan antara dalang, pemain musik, pembuat wayang, pelaku seni, serta komunitas yang menjaga keberlangsungan pertunjukan.
Peran dalang menjadi penting karena pengetahuan pewayangan tidak hanya tersimpan dalam bentuk tokoh dan perangkat pertunjukan. Cerita, dialog, karakter, serta pesan dalam lakon juga diwariskan melalui kemampuan dalang menghidupkan pementasan.
Fadli Zon menyebut dalang memiliki peran sebagai guru yang memberikan tuntunan dan pencerahan. Iringan gamelan juga menjadi bagian dari harmoni pertunjukan yang merepresentasikan irama kehidupan.
Regenerasi dan Ruang Kreativitas Baru
Festival Dalang Anak menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan calon dalang dari berbagai daerah.
Kompetisi tingkat nasional ini memberi kesempatan kepada peserta untuk menunjukkan kemampuan sekaligus memperoleh pengalaman tampil di hadapan masyarakat dan pelaku seni pedalangan.
Upaya regenerasi juga membutuhkan dukungan di luar panggung festival. Sanggar, keluarga, komunitas, lembaga pendidikan, dan organisasi pedalangan memiliki peran dalam memperkenalkan wayang serta menyediakan ruang belajar bagi anak-anak.
Proses pembinaan yang berkelanjutan diperlukan agar pengalaman mengikuti kompetisi dapat berkembang menjadi kecakapan dan pengabdian dalam seni pedalangan.
Perkembangan teknologi juga membuka kemungkinan baru bagi pertunjukan wayang untuk menjangkau penonton yang lebih luas.
Fadli Zon mencontohkan penggunaan teks terjemahan bahasa Indonesia dan Inggris dalam pementasan berbahasa Jawa atau Sunda. Pertunjukan yang disiarkan secara daring juga dapat memperluas akses bagi penonton di luar daerah asalnya.
Pemanfaatan teknologi tersebut memberi kesempatan bagi wayang untuk hadir dalam lingkungan penonton yang semakin beragam. Bahasa dan bentuk penyajian dapat disesuaikan untuk membantu pemahaman, sementara cerita dan nilai tradisi tetap menjadi bagian utama pertunjukan.
Kementerian Kebudayaan menyatakan dukungannya terhadap PEPADI, Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENAWANGI), serta komunitas pewayangan di berbagai daerah.
Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat ekosistem pedalangan dan membuka ruang bagi tumbuhnya generasi penerus.
Festival Dalang Anak ke-19 menunjukkan bahwa keberlanjutan seni pewayangan membutuhkan keterlibatan generasi muda. Dua puluh sembilan peserta yang tampil di Jakarta menjadi bagian dari proses pewarisan tradisi yang lebih luas.
Melalui pembelajaran, latihan, dan kesempatan berkarya, anak-anak dapat mengenal dunia pedalangan sekaligus mengembangkan kemampuan untuk meneruskannya.
Masa depan pewayangan tidak hanya bergantung pada keberadaan wayang dan lakon yang diwariskan. Tradisi ini juga membutuhkan orang-orang yang mampu menghidupkannya.
Di antara mereka, dalang cilik memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi generasi penerus yang membawa seni pedalangan ke panggung berikutnya.








