Pantun dikenal sebagai salah satu bentuk tradisi lisan masyarakat Melayu. Rangkaian kata yang memiliki sampiran dan isi itu biasa disampaikan dalam percakapan, upacara adat, maupun berbagai kegiatan sosial.
Di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, pantun juga hadir dalam bentuk pertunjukan yang memadukan syair dan irama musik. Kesenian tersebut dikenal dengan nama Tundang, singkatan dari pantun berdendang.
Tundang merupakan pertunjukan yang menghidupkan pantun dan syair melalui lantunan suara serta iringan alat musik. Tabuhan gendang membentuk irama khas, sementara kata-kata yang disampaikan membawa pesan sesuai dengan tema acara.
Perpaduan unsur sastra dan musik menjadikan Tundang sebagai salah satu ekspresi budaya masyarakat Melayu di Kalimantan Barat.
Perjalanan kesenian ini tidak terlepas dari kreativitas Edi Ibrahim bin H. Ahmad, yang dikenal dengan nama Edi Tundang atau Usu Yem. Dalam sejumlah pemberitaan, namanya juga ditulis sebagai Eddy Ibrahim.
Ketertarikannya pada pantun dan syair sejak masa sekolah menjadi salah satu bekal dalam mengembangkan bentuk pertunjukan tersebut.
Dari Sandiwara Radio ke Pantun Berdendang
Dalam wawancara yang diunggah kanal YouTube Bu Risna pada 21 September 2021, Edi Ibrahim menceritakan ketertarikannya pada pantun dan syair sejak masih bersekolah.
Salah satu pengalaman yang memengaruhi proses kreatifnya adalah kebiasaan mendengarkan sandiwara radio yang menggunakan syair dalam penyampaian cerita.
Menurut penuturannya, bagian syair dalam sandiwara radio terkadang terasa panjang sehingga pendengar harus menunggu cukup lama untuk mengetahui kelanjutan cerita.
Pengalaman tersebut ikut mendorong pemikirannya untuk menghadirkan bentuk penyampaian yang lebih ringkas, tetapi tetap memiliki unsur sastra dan irama.
Dari gagasan itu, Edi mengembangkan pertunjukan yang memadukan pantun atau syair dengan tabuhan gendang. Tundang mulai diperkenalkan sekitar 1992, berdasarkan kesaksiannya dalam wawancara tersebut.
Nama Tundang merangkum bentuk kesenian yang dikembangkannya, yakni pantun yang dilantunkan atau didendangkan dengan iringan musik.
Edi menjelaskan bahwa Tundang memiliki irama dendang tersendiri. Penyajiannya terdiri atas pembukaan, pengantar, bagian isi atau pesan, dan penutup.
Susunan tersebut membantu membangun alur pertunjukan agar materi yang disampaikan dapat diterima oleh penonton.
Pantun dan syair dapat digunakan sesuai kebutuhan. Pantun tradisional umumnya memiliki sampiran dan isi, sedangkan syair memberi ruang untuk menyampaikan pesan secara lebih langsung.
Pilihan bentuk tersebut membuat Tundang dapat menyesuaikan materi dengan tema acara tanpa meninggalkan unsur sastra lisan.
Edi Ibrahim bin H. Ahmad, yang juga dikenal sebagai Edi Tundang atau Usu Yem, wafat pada Sabtu, 25 Oktober 2025. Kepergiannya menjadi bagian dari perjalanan kesenian yang diperkenalkannya kepada masyarakat.
Dalam Anugerah Kebudayaan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat 2025, nama Eddy Ibrahim juga tercatat sebagai penerima penghargaan kategori Pelopor bidang Kesenian Tundang.
Pantun dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Melayu
Dalam masyarakat Melayu Mempawah, Tundang hadir pada berbagai kegiatan. Pertunjukan ini dapat dijumpai dalam acara perkawinan, perayaan ulang tahun, penyambutan tamu, serta kegiatan masyarakat lainnya. Isi dendang disesuaikan dengan suasana dan kepentingan acara.
Kedekatan Tundang dengan kehidupan sosial membuat kesenian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan.
Pantun dan syair menjadi sarana menyampaikan nasihat, ungkapan penghormatan, pesan moral, hingga kritik sosial. Pesan tersebut disampaikan melalui bahasa yang dekat dengan pendengar dan dapat disertai humor untuk membangun suasana pertunjukan.
Kajian Sri Kusnita dan Muhammad Lahir berjudul Fungsi Pantun dalam Kesenian Tundang pada Masyarakat Melayu di Kabupaten Mempawah (2022) mengidentifikasi sejumlah fungsi pantun dalam Tundang. Fungsi tersebut mencakup pendidikan, adat, hiburan, dan kritik sosial.
Dalam fungsi pendidikan, pantun dapat menyampaikan nilai seperti rasa syukur, kerja sama, persatuan, dan perilaku baik. Dalam konteks adat, pantun berkaitan dengan kehidupan masyarakat Melayu, termasuk penyelenggaraan perkawinan.
Sementara itu, fungsi hiburan dan kritik sosial memperlihatkan bahwa pantun dapat menjadi media untuk menyampaikan gagasan sekaligus menanggapi keadaan di lingkungan masyarakat.
Ragam fungsi tersebut memperlihatkan hubungan Tundang dengan tradisi lisan. Kesenian ini memberi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pengalaman, nilai, dan pandangan melalui bahasa yang memiliki pola serta irama.
Dari Panggung ke Ruang Digital
Perkembangan media komunikasi membuka jalur baru bagi Tundang untuk dikenal lebih luas. Jika sebelumnya pertunjukan bergantung pada pertemuan langsung antara pemain dan penonton, kini dokumentasi serta penampilan Tundang dapat dijumpai melalui platform digital.
Peneliti BRIN Dewi Juliastuty menyampaikan perkembangan tersebut dalam Seminar Internasional Pantun Nusantara di Jakarta pada 11 Februari 2025.
Dalam rilis BRIN yang diterbitkan pada 13 Februari 2025, Tundang disebut telah hadir melalui YouTube, Facebook, dan TikTok. Penyebaran melalui media tersebut memungkinkan pertunjukan diakses oleh orang yang tidak berada di lokasi pementasan.
Ruang digital juga memberi kesempatan untuk mendokumentasikan bentuk pertunjukan, lantunan pantun, dan irama musik. Rekaman dapat menjadi bahan pengenalan bagi masyarakat yang belum mengenal Tundang, termasuk generasi muda.
Kehadiran konten digital tetap perlu diikuti kegiatan belajar dan praktik secara langsung agar pengetahuan tentang kesenian ini tidak berhenti pada tontonan.
Upaya memperkenalkan Tundang kepada generasi muda juga terlihat melalui kegiatan pendidikan dan kebudayaan. Pemerintah Kota Pontianak, misalnya, pernah menyelenggarakan lomba berceloteh dan Tundang bagi pelajar tingkat SMP dan SMA pada 2024.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara memperkenalkan bahasa Melayu, syair, serta alat musik pengiring kepada kalangan pelajar.
Tundang juga tercatat sebagai atraksi budaya di sejumlah desa wisata di Kalimantan Barat. Kehadirannya dalam kegiatan pariwisata membuka kesempatan bagi pengunjung untuk mengenal tradisi pantun berdendang melalui pertunjukan secara langsung.
Melanjutkan Warisan Pantun Berdendang
Perkembangan Tundang di ruang digital memperluas cara masyarakat mengenal kesenian ini.
Panggung pertunjukan, kegiatan pendidikan, desa wisata, dan media sosial dapat menjadi ruang yang saling melengkapi. Masing-masing memiliki peran dalam memperkenalkan dan mendokumentasikan tradisi.
Dalam Seminar Internasional Pantun Nusantara pada Februari 2025, Alang Rizal dari Asosiasi Tradisi Lisan Riau menekankan pentingnya kerja sama pemerintah, akademisi, komunitas, dan generasi muda untuk mendukung keberlanjutan pantun. Pembahasan seminar tersebut mencakup perlindungan, revitalisasi, dokumentasi, dan publikasi tradisi pantun.
Bagi Tundang, keberlanjutan tidak hanya bergantung pada seberapa sering pertunjukan ditampilkan atau seberapa luas rekamannya tersebar.
Pengetahuan mengenai cara menyusun pantun dan syair, irama dendang, penggunaan alat musik, serta konteks sosial pertunjukan juga perlu diwariskan.
Kepergian Edi Ibrahim pada Oktober 2025 menandai berakhirnya perjalanan seorang pelaku seni yang memperkenalkan Tundang melalui kreativitasnya. Kesenian tersebut kini memiliki ruang untuk terus berkembang melalui para pemain, sanggar, komunitas, dan generasi muda yang mempelajarinya.
Perjalanan Tundang dari Mempawah memperlihatkan bagaimana tradisi lisan dapat menemukan bentuk penyajian baru tanpa harus kehilangan akar budayanya. Pantun tetap menjadi inti, sementara musik dan perkembangan media memperluas cara kesenian tersebut hadir di tengah masyarakat








