Kesenian

Sampyong, Jejak Adu Ketangkasan dari Majalengka

Kesenian tradisional Majalengka ini memadukan ketangkasan, gerak pencak silat, dan musik Sunda, dengan sejarah yang berkaitan dengan tradisi Ujungan.

Oleh Ridwan

Pertunjukan kesenian Sampyong dengan tongkat rotan di Majalengka
Sampyong merupakan kesenian tradisional Majalengka yang memadukan adu ketangkasan, gerak pencak silat, dan iringan musik Sunda. Foto: Tangkapan Layar YT Sasama Channel
Diterbitkan

Rotan sepanjang sekitar 60 sentimeter menjadi salah satu unsur yang mudah dikenali dalam pertunjukan Sampyong. 

Dua pemain berhadapan, mengandalkan ketangkasan dan keberanian dalam permainan yang memiliki aturan. Gerak tubuh, pukulan, dan iringan musik membentuk pertunjukan yang berbeda dari tari tradisional pada umumnya.

Sampyong dikenal sebagai kesenian tradisional Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka menjelaskan bahwa pertunjukan ini memadukan adu ketangkasan, musik tradisional Sunda, dan gerak khas pencak silat. 

Kesenian tersebut merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat yang kini mulai jarang dijumpai dalam pertunjukan.

Bagi masyarakat yang mengenalnya, Sampyong bukan sekadar permainan menggunakan tongkat rotan. Kesenian ini menyimpan jejak tradisi adu ketangkasan yang berkembang dalam kehidupan masyarakat setempat. 

Perjalanannya juga memperlihatkan bagaimana sebuah praktik tradisional dapat berubah bentuk menjadi seni pertunjukan yang dikenal lebih luas.

Jejak Ujungan dalam Sejarah Sampyong

Asal-usul Sampyong berkaitan dengan Ujungan, tradisi adu ketangkasan menggunakan tongkat yang dikenal di sejumlah wilayah Jawa Barat. Hubungan keduanya menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan kesenian Sampyong di Majalengka.

Iwan Sunandar, peneliti dari Departemen Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia, membahas perjalanan kesenian tersebut dalam penelitian berjudul Kesenian Sampyong di Kabupaten Majalengka: Suatu Tinjauan Historis terhadap Pelestarian Nilai-Nilai Budaya Lokal.

Penelitian itu menelusuri perkembangan Sampyong di Majalengka, terutama dalam rentang 1960–2000, melalui sumber sejarah dan keterangan mengenai perubahan masyarakat setempat.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka juga menyebut Sampyong sebagai pecahan dari seni Ujungan. 

Carli, seorang pelaku seni yang dikutip dalam laman dinas tersebut, mengaku tidak lagi mengingat tahun ketika nama Ujungan berubah menjadi Sampyong.

Penuturan mengenai asal-usul Sampyong juga ditemukan di daerah lain. Laporan detikJabar tentang kesenian Sampyong di Indramayu, misalnya, memuat penjelasan pemerhati kesenian setempat mengenai kemungkinan asal-usul tradisi dan penafsiran nama Sampyong.

Berbagai penuturan tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Sampyong hadir melalui sumber tertulis dan ingatan para pelaku seni di daerah masing-masing. 

Di Majalengka, hubungan dengan Ujungan menjadi bagian penting dalam penjelasan mengenai perkembangan kesenian ini. Penuturan dari Indramayu memberikan gambaran lain tentang bagaimana masyarakat setempat memahami tradisi yang dikenal dengan nama Sampyong.

Ketangkasan, Gerak, dan Iringan Musik Sunda

Sampyong memperlihatkan pertemuan sejumlah unsur pertunjukan. Ketangkasan pemain menjadi pusat perhatian, sedangkan gerak tubuh dan iringan musik memberi bentuk pada keseluruhan penyajian.

Dalam permainan yang diberitakan di Indramayu, pemain menggunakan tongkat rotan dengan panjang sekitar 60 sentimeter hingga satu meter.

Laporan tersebut juga menyebutkan aturan tiga pukulan secara bergantian. Informasi ini membantu memberikan gambaran tentang salah satu bentuk Sampyong, tetapi aturan di satu wilayah tidak otomatis mewakili semua kelompok Sampyong di Majalengka.

Pada pertunjukan yang dideskripsikan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka, musik tradisional Sunda dan gerak pencak silat turut mengiringi kesenian ini. 

Perpaduan tersebut memperlihatkan bahwa Sampyong tidak hanya bertumpu pada aksi fisik. Irama, gerak, dan hubungan antarpemain ikut membentuk karakter pertunjukan.

Penelitian Edukasi Sampyong untuk Menguatkan Eksistensi Kesenian Tradisional di Majalengka yang diterbitkan dalam jurnal Agrokreatif pada 2016 juga menempatkan Sampyong sebagai kesenian lokal yang menampilkan keberanian dan ketangkasan. 

Penelitian tersebut mendokumentasikan program pengenalan Sampyong kepada pelajar, mulai dari pengenalan kesenian dan teknik permainan hingga festival serta kegiatan ekstrakurikuler.

Catatan penelitian itu memperlihatkan bahwa pengetahuan tentang Sampyong dapat diwariskan melalui praktik. Generasi muda tidak hanya mengenal nama keseniannya, tetapi juga berkesempatan mempelajari gerak, teknik, dan unsur pertunjukannya.

Sampyong juga perlu dipahami berdasarkan aturan dan kebiasaan kelompok yang melaksanakannya. 

Apabila pertunjukan berlangsung dalam rangkaian acara adat, hubungan dengan acara tersebut perlu dijelaskan sesuai keterangan masyarakat penyelenggara. 

Tidak setiap pertunjukan otomatis merupakan ritual, dan tidak setiap unsur dalam pertunjukan memiliki makna sakral.

Menjaga Sampyong agar Tetap Dikenal

Berkurangnya pertunjukan Sampyong menjadi salah satu persoalan yang disoroti dalam sumber kebudayaan dan penelitian. 

Laman Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka menyebutkan bahwa kesenian ini mulai jarang dijumpai. Penelitian Agrokreatif juga mencatat bahwa keberadaan Sampyong telah memudar dan memerlukan upaya pengenalan kembali.

Pada 2016, program edukasi Sampyong dilaksanakan di SMAN 1 Maja, Majalengka. Kegiatan tersebut melibatkan 15 siswa sekolah menengah atas dengan materi pengenalan kesenian, teknik Sampyong, serta kegiatan pertunjukan. 

Program itu juga menghasilkan peningkatan pengetahuan, minat, dan keterampilan peserta menurut laporan peneliti.

Contoh tersebut memperlihatkan salah satu cara memperkenalkan warisan budaya melalui pendidikan. 

Sekolah dapat menjadi ruang pertemuan antara generasi muda dan pelaku seni, sementara festival memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menyaksikan kesenian secara langsung.

Pelestarian juga memerlukan pengetahuan tentang sejarah dan praktik lokal. Cerita para pelaku, istilah yang digunakan, aturan permainan, musik pengiring, serta hubungan Sampyong dengan Ujungan merupakan bagian yang perlu didokumentasikan. 

Pengetahuan tersebut membantu generasi berikutnya memahami kesenian ini lebih utuh, bukan hanya mengenalnya melalui gambaran pemain yang saling memukul dengan rotan.

Pada saat yang sama, dokumentasi perlu membedakan keterangan yang sudah didukung sumber sejarah dari cerita yang diwariskan secara lisan.

Keduanya dapat menjadi bagian penting dalam memahami kebudayaan, tetapi memiliki kedudukan bukti yang berbeda. 

Penuturan pelaku memberi gambaran tentang pengalaman dan ingatan komunitas, sedangkan penelitian sejarah membantu menempatkan keterangan itu dalam perkembangan waktu.

Sampyong menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya bertahan melalui benda atau nama yang tercatat. 

Kesenian ini hidup melalui orang-orang yang memainkannya, pengetahuan yang diwariskan, serta ruang sosial yang memungkinkan pertunjukan berlangsung.

Jejak Ujungan, ketangkasan pemain, dan iringan musik Sunda menjadi bagian dari perjalanan Sampyong di Majalengka. 

Memahami sejarah dan variasi praktiknya merupakan langkah awal untuk menjaga kesenian ini tetap dikenal, sekaligus memberi ruang bagi masyarakat yang mewarisinya untuk terus mengembangkan tradisinya.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar, lalu melintasi media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Kesenian

Lihat semua →

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →