Konser Guns N’ Roses di Jakarta pada 21 November 2026 akan menghadirkan sebuah pertemuan istimewa dalam sejarah musik Indonesia.
Sebelum band rock asal Amerika Serikat itu tampil, sembilan gitaris Indonesia dijadwalkan berkumpul dalam pertunjukan bertajuk 9 Dewa Gitar.
Di antara nama yang terlibat terdapat Ian Antono, Dewa Budjana, dan Rhoma Irama.
Keterlibatan Rhoma menjadi salah satu hal yang menarik perhatian. Selama puluhan tahun, Rhoma dikenal sebagai penyanyi, pencipta lagu, dan tokoh penting musik dangdut Indonesia.
Kali ini, Rhoma akan bergabung dalam proyek yang namanya secara khusus menonjolkan para gitaris.
Dalam wawancara dengan kanal YouTube Etalase Seni, Rhoma mengaku terkejut ketika mendapat undangan tersebut.
“Saya terkejut ketika diundang untuk gabung dalam 9 Dewa Gitar. Sementara kan saya lebih kepada vokalis, bukan gitaris,” ujar Rhoma.
Meski demikian, Rhoma melihat kesempatan tersebut sebagai pengalaman menarik. Rhoma juga pernah berkolaborasi dengan sejumlah musisi yang terlibat dalam proyek ini, termasuk God Bless, Jamrud, dan Dewa Budjana.
“Ini satu peluang kesempatan yang bagus buat saya karena saya juga kebetulan pernah kolaborasi dengan teman-teman ini sama God Bless, kemudian sama Jamrud, sama Dewa Budjana juga. Dan senang jadi kayak ketemu lagi teman-teman lama,” kata Rhoma.
Dalam wawancara yang sama, Rhoma mengenang penampilan sebelumnya bersama Deep Purple dan menyebut keterlibatannya kali ini sebagai kejutan istimewa.
Pertemuan tersebut memperlihatkan hubungan yang telah terjalin di antara musisi dari latar belakang berbeda.
Musik dangdut, rock, dan pop Indonesia memiliki jalur perkembangan masing-masing, tetapi perjalanan para pelakunya sesekali bertemu melalui kolaborasi dan pertunjukan bersama.
Sembilan Gitaris, Sembilan Perjalanan Musik
Selain Rhoma Irama, 9 Dewa Gitar melibatkan Ian Antono, Eet Sjahranie, John Paul Ivan, Dewa Budjana, Totok Tewel, Pay Burman, Azis MS, dan Edi Kemput.
Nama-nama tersebut memiliki perjalanan panjang bersama band dan proyek musik yang membentuk lanskap musik Indonesia.
Ian Antono dikenal melalui God Bless dan Gong 2000. Eet Sjahranie merupakan mantan God Bless dan kini gitaris Edane, sedangkan John Paul Ivan dikenal melalui Boomerang. Dewa Budjana tumbuh bersama GIGI, Pay Burman dikenal melalui Slank dan BIP, sementara Azis MS merupakan gitaris Jamrud.
Totok Tewel, gitaris Elpamas, dan gitaris Grass Rock Edi Kemput juga membawa pengalaman musikal dari perjalanan mereka bersama kelompok rock Indonesia. Rhoma Irama melengkapi pertemuan tersebut dengan latar musik dangdut dan pengalamannya bersama Soneta.
Gagasan mempertemukan para musisi itu datang dari promotor Anas Syahrul Alimi. Dalam unggahan Facebook bertanggal 17 Oktober 2026, Anas menjelaskan bahwa proyek tersebut bukan sekadar reuni atau acara nostalgia.
“Saya tidak ingin mereka merasa sekadar diundang untuk mengisi acara pembuka konser artis luar negeri. Saya ingin mereka memahami bahwa justru merekalah inti dari sebuah gagasan besar yang sedang kami bangun,” tulis Anas.
Anas ingin menjadikan pertunjukan itu sebagai penghormatan terhadap perjalanan musik rock Indonesia.
Menurut Anas, setiap gitaris membawa sejarah, karakter, dan pengalaman yang berbeda. Pertemuan mereka diharapkan menghadirkan kembali karya-karya yang pernah menemani perjalanan beberapa generasi pendengar musik Indonesia.
“Saya ingin menjadikan pertunjukan ini semacam memorabilia sejarah rock Indonesia. Sebuah arsip hidup yang tidak disimpan dalam lemari kaca, melainkan dimainkan kembali di hadapan puluhan ribu orang,” tulis Anas.

Dewa Budjana Menyatukan Karakter Musikal
Mempertemukan sembilan gitaris dengan pengalaman puluhan tahun bukan perkara sederhana. Masing-masing memiliki gaya bermain, kebiasaan panggung, dan pendekatan musikal yang berkembang melalui perjalanan panjang.
Dewa Budjana dipercaya menjadi music director, didampingi Rio Ricardo sebagai co-music director. Keduanya bertugas merancang pertunjukan agar sembilan gitaris tidak sekadar bergantian memainkan solo, tetapi tampil dalam susunan musikal yang utuh.
Tantangan itu juga mencakup penampilan Rhoma Irama. Dalam wawancara Etalase Seni, Budjana menjelaskan perbedaan konsep pertunjukan kali ini dengan kolaborasi sebelumnya bersama Rhoma.
“Kalau ini kan saya membawakan lagu Pak Haji dengan konsep band, bukan dengan Soneta,” ujar Budjana.
Pernyataan tersebut memberi gambaran bahwa lagu-lagu Rhoma akan ditempatkan dalam format musikal yang berbeda dari penampilan bersama Soneta. Rincian lagu yang akan dibawakan belum diumumkan dalam wawancara tersebut.
Bagi Anas, penyatuan karakter para pemain menjadi bagian penting dari gagasan 9 Dewa Gitar.
Anas menegaskan bahwa pertunjukan ini tidak dimaksudkan sebagai parade solo gitar, melainkan sebagai karya yang mempertemukan perjalanan musikal berbeda dalam satu cerita.
Mempertemukan Sejarah Rock Indonesia dan Dunia
Guns N’ Roses telah menjadi salah satu nama penting dalam sejarah rock dunia. Kehadiran band ini di Jakarta memberi kesempatan bagi musisi Indonesia untuk tampil dalam rangkaian acara yang sama dengan kelompok yang memiliki penggemar lintas generasi.
Anas melihat momentum tersebut sebagai ruang untuk memperkenalkan kembali perjalanan musik rock Indonesia kepada penonton yang datang menyaksikan Guns N’ Roses.
Dalam unggahannya, Anas menjelaskan bahwa konsep 9 Dewa Gitar harus melalui pembicaraan dengan pihak produksi Guns N’ Roses, terutama mengenai durasi penampilan, pergantian alat, dan kebutuhan teknis panggung.
Anas juga menyebut pihak yang diajak berdiskusi memberikan apresiasi terhadap konsep tersebut. Meski begitu, pelaksanaan pertunjukan tetap harus mengikuti kebutuhan produksi konser utama.
Pada 21 November 2026, sembilan gitaris tersebut dijadwalkan tampil di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta. Mereka akan membawa perjalanan musik dari berbagai band dan latar genre ke dalam satu pertunjukan.
9 Dewa Gitar tidak merangkum seluruh sejarah musik rock Indonesia. Masih banyak musisi lain yang turut membentuk perjalanan musik di negeri ini.
Pertemuan ini menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kembali karya dan perjalanan para musisi tersebut kepada penonton masa kini.
Di tengah konser yang menghadirkan salah satu band rock dunia, 9 Dewa Gitar juga membuka ruang bagi musik Indonesia untuk mendapat perhatian dari generasi yang lebih muda.
Guns N’ Roses Kembali ke Indonesia
Konser pada 21 November 2026 menjadi kunjungan ketiga Guns N’ Roses ke Indonesia. Band asal Amerika Serikat tersebut pertama kali menggelar konser di Jakarta pada Desember 2012.

Pertunjukan yang semula dijadwalkan pada 15 Desember akhirnya berlangsung sehari kemudian, pada 16 Desember 2012, di Mata Elang International Stadium, Ancol.
Saat itu, Axl Rose menjadi personel asli yang tampil bersama formasi berbeda dari susunan band pada masa awal popularitasnya. Posisi gitar sempat diisi oleh DJ Ashba, Ron “Bumblefoot” Thal, dan Richard Fortus.
Guns N’ Roses kembali ke Jakarta pada 8 November 2018 melalui tur Not in This Lifetime.
Konser di Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi momen penting bagi penggemar karena Axl Rose kembali tampil bersama gitaris Slash dan pemain bas Duff McKagan setelah bertahun-tahun berpisah dari formasi klasik band tersebut.
Kembalinya Slash dan Duff McKagan memperkuat daya tarik tur reuni tersebut. Keduanya merupakan bagian penting dari perjalanan awal Guns N’ Roses, terutama pada album Appetite for Destruction yang dirilis pada 1987 dan membawa nama band itu ke panggung musik internasional.
Harga Tiket Konser Guns N’ Roses Jakarta 2026
Harga tiket konser Guns N’ Roses di Jakarta pada 21 November 2026 bervariasi berdasarkan kategori dan gelombang penjualan.
Pada periode Nightrain Fan Club Presale dan Bale by BTN Presale, harga tiket VIP dibanderol Rp5.500.000, Festival A Rp2.750.000, Festival B Rp1.750.000, Festival C Rp1.050.000, Tribune A Rp3.250.000, dan Tribune B Rp1.250.000.
Pada periode General Sale, harga tiket mengalami kenaikan. Kategori VIP dibanderol Rp7.500.000, Festival A Rp3.750.000, Festival B Rp2.750.000, Festival C Rp1.750.000, Tribune A Rp4.250.000, dan Tribune B Rp2.250.000.
Dengan rentang harga tersebut, Festival C menjadi kategori dengan harga terendah, sedangkan VIP merupakan kategori dengan harga tertinggi.
Penonton dapat memeriksa ketersediaan tiket dan ketentuan pembelian melalui kanal resmi penyelenggara.
Harga ini tiket belum termasuk pajak hiburan sebesar 10% dan biaya layanan atau platform sebesar 5% dari harga tiket. Biaya tambahan lainnya dapat mengikuti ketentuan platform pembayaran yang digunakan.








