Bandung menjadi tempat bertemunya perajin batik, akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah dalam Jambore Batik Jawa Barat 2026.
Berlangsung pada 24–25 Oktober 2026 di Hotel Golden Flower, kegiatan ini membawa agenda penguatan ekosistem batik melalui pendidikan, pengembangan pengetahuan, dan kerja sama lintas sektor.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon, yang menghadiri pembukaan pada 24 Oktober, menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan batik sebagai warisan budaya sekaligus mengembangkan potensinya bagi perekonomian masyarakat.
Jambore yang diselenggarakan Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) ini menghadirkan pameran batik dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat. Rangkaian kegiatannya juga mencakup penyusunan kurikulum batik serta peluncuran buku The Emerging Expression of Batik in West Java.
Bagi pengembangan batik, pertemuan tersebut bukan hanya menjadi ruang untuk memperlihatkan keragaman motif.
Jambore juga membuka pembahasan tentang bagaimana pengetahuan membatik diwariskan, identitas batik daerah diperkuat, dan kegiatan budaya terhubung dengan kehidupan ekonomi masyarakat.
Batik Jawa Barat dan Kekayaan Identitas Daerah
Jawa Barat memiliki keragaman batik yang tercermin dalam motif, warna, dan coraknya. Mega Mendung dari Cirebon menjadi salah satu motif yang dikenal luas, sementara Tasikmalaya dan Garut memiliki kekayaan warna serta corak tersendiri.
Keragaman tersebut menjadi bagian dari kekayaan batik Indonesia. Setiap motif dan teknik pembuatan menyimpan pengetahuan tradisional, keterampilan, nilai seni, serta makna filosofis yang berkembang dalam lingkungan budaya masing-masing.
Dalam sambutannya, Fadli Zon menyebut Jambore Batik Jawa Barat sebagai ruang penting untuk mendukung pemajuan kebudayaan. Menurutnya, kegiatan seperti ini dapat membantu menginventarisasi kekayaan batik, mulai dari motif hingga komunitas perajinnya.
Pendataan tersebut penting dalam upaya mengenali keragaman batik secara lebih terarah. Pengetahuan mengenai motif dan komunitas pembatik dapat menjadi bagian dari penguatan ekosistem budaya, sekaligus memperlihatkan kontribusi berbagai daerah terhadap perkembangan batik Indonesia.
Fadli juga menekankan bahwa batik merupakan salah satu wujud kekayaan budaya yang memperkuat identitas Indonesia sebagai bangsa dengan keragaman budaya yang besar.
Pelestarian, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan pengembangan dan pemanfaatan. Tradisi tidak harus berhenti pada bentuk yang diwariskan, tetapi dapat terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan akar budayanya.
Buku Ajar Membawa Pengetahuan Batik ke Sekolah
Salah satu agenda penting dalam Jambore Batik Jawa Barat 2026 adalah peluncuran Buku Kurikulum dan Buku Ajar Batik Jawa Barat 2026.
Langkah ini diarahkan untuk memperkenalkan literasi membatik melalui pendidikan, termasuk melalui muatan lokal di sekolah. Dengan adanya bahan ajar, pengetahuan mengenai batik diharapkan dapat diwariskan secara lebih terstruktur kepada generasi muda.

Fadli Zon mengapresiasi penerbitan buku tersebut. Ia menilai pengenalan batik dalam pembelajaran sekolah merupakan langkah strategis untuk meneruskan pengetahuan dan keterampilan membatik kepada generasi berikutnya.
Pendidikan dapat menjadi salah satu jalur pewarisan budaya di luar lingkungan keluarga, sanggar, dan komunitas perajin. Melalui pembelajaran, siswa berkesempatan mengenal batik bukan hanya sebagai produk yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga sebagai hasil keterampilan, pengetahuan, dan perjalanan budaya masyarakat.
Kehadiran buku ajar menjadi bagian dari upaya tersebut. Namun, penerbitan bahan pembelajaran juga perlu diikuti dengan pengembangan dan penerapan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan sekolah serta dukungan dari pihak terkait.
Kementerian Kebudayaan menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dan mendukung upaya pengembangan pendidikan batik melalui berbagai skema yang tersedia.
Penguatan literasi batik tidak hanya berkaitan dengan pengenalan motif. Upaya ini juga menyangkut keberlanjutan pengetahuan tradisional dan kesempatan bagi generasi muda untuk memahami proses serta nilai budaya di balik karya batik.
Usulan Museum Batik Jawa Barat
Selain pendidikan dan penguatan ekosistem perajin, Jambore Batik Jawa Barat 2026 juga memunculkan gagasan pendirian Museum Batik Jawa Barat.
Ketua Yayasan Batik Jawa Barat, Sendy Dede Yusuf, menyampaikan usulan tersebut dan berharap mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan serta dapat dikolaborasikan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Fadli Zon menyambut baik gagasan itu. Ia menyatakan dukungan terhadap rencana pendirian museum sebagai bagian dari pengembangan batik dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurut Fadli, Kementerian Kebudayaan telah mengelola Museum Batik dan Museum Keris di Taman Mini Indonesia Indah. Ia menilai inisiatif pendirian Museum Batik Jawa Barat juga penting untuk mendukung perkembangan batik di daerah dan membuka ruang untuk memperkenalkan keragaman batik Jawa Barat kepada masyarakat.
Di luar agenda tersebut, Kementerian Kebudayaan mendorong kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, seniman, perajin, pembatik, penenun, pelaku usaha, dan komunitas lokal.
Kolaborasi lintas sektor dipandang penting agar kegiatan budaya dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Jambore Batik Jawa Barat 2026 mempertemukan sejumlah upaya dalam satu ruang: memperkenalkan keragaman batik, menyusun bahan pembelajaran, dan membangun dukungan bagi pengembangan budaya di daerah.
Keberlanjutan batik pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh pengakuan terhadap warisannya. Pengetahuan dan keterampilan membatik perlu terus diwariskan, komunitas perajin perlu mendapat ruang untuk berkembang, dan kerja sama lintas sektor perlu dijaga agar batik tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.








