Jakarta Film Week 2026 kembali mempertemukan beragam karya sinema dari berbagai negara. Memasuki penyelenggaraan tahun keenam, festival ini menjadi ruang untuk mengenal perkembangan perfilman, memperluas pertemuan antarsineas, dan mendorong ekosistem film Indonesia semakin terhubung dengan dunia internasional.
Festival dibuka pada 21 Oktober 2026 di CGV Grand Indonesia, Jakarta, dan berlangsung hingga 25 Oktober 2026.
Dalam pembukaannya, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menekankan pentingnya membangun ekosistem perfilman yang tidak hanya bertumpu pada produksi film, tetapi juga membuka ruang pertukaran pengalaman, pembelajaran, dan jejaring.
Kementerian Kebudayaan mendukung penyelenggaraan Jakarta Film Week sebagai bagian dari upaya mendorong perfilman Indonesia berkembang dan semakin dikenal di kancah global.
159 Film dari 59 Negara
Festival Director Jakarta Film Week 2026, Rina Damayanti, menyampaikan bahwa penyelenggaraan tahun ini melibatkan film-film dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Prancis, Italia, Hong Kong, Jepang, dan Peru.
“159 film dari 59 negara, dan berlangsung empat hari,” jelas Rina.
Jumlah tersebut menunjukkan luasnya cakupan karya yang dihadirkan dalam festival. Pertemuan film dari beragam latar negara membuka kesempatan bagi penonton untuk mengenal perbedaan pengalaman, budaya, dan cara bercerita melalui sinema.
Bagi ekosistem perfilman, keberagaman itu juga menjadi ruang perbandingan. Sineas dan pelaku industri dapat melihat pendekatan artistik, tema, serta cara produksi yang berkembang di lingkungan perfilman berbeda.
Dalam sambutannya, Fadli Zon mengapresiasi perkembangan Jakarta Film Week yang menurutnya semakin besar partisipasinya. Ia menilai festival ini memberi kesempatan bagi masyarakat untuk menyaksikan film-film dengan latar belakang etnis, suku bangsa, pengalaman, dan cerita yang beragam.
Memperluas Pertemuan Antarsineas
Selain menghadirkan film kepada penonton, Jakarta Film Week diharapkan menjadi ruang pertemuan bagi para pembuat film. Fadli Zon menyoroti pentingnya memperluas jejaring sineas Indonesia dengan para pelaku perfilman dari luar negeri.
Ia mencontohkan Sammo Hung, aktor senior legendaris asal Hong Kong yang dikenal melalui film-film kungfu, sebagai figur yang dapat membuka kesempatan untuk membangun hubungan di dunia perfilman.
Pertemuan semacam ini menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan ekosistem film. Interaksi antarpelaku industri dapat membuka kesempatan untuk berbagi pengalaman, mengenal pendekatan kerja yang berbeda, dan menjajaki hubungan profesional lintas negara.
Harapan tersebut sejalan dengan posisi festival film yang tidak hanya menjadi tempat pemutaran karya. Festival juga dapat mempertemukan pembuat film, memperkenalkan karya kepada audiens baru, serta memperluas percakapan mengenai perkembangan sinema.
Meski demikian, jejaring internasional membutuhkan proses yang berkelanjutan. Pertemuan dalam festival merupakan salah satu pintu masuk; kelanjutannya bergantung pada hubungan yang dibangun dan kesempatan kolaborasi yang berkembang setelah acara berlangsung.
Membangun Ekosistem Perfilman
Dukungan Kementerian Kebudayaan terhadap Jakarta Film Week menempatkan festival ini dalam agenda pengembangan perfilman nasional. Pemerintah berharap penyelenggaraan yang terus berkembang dapat menjadi platform bagi sineas Indonesia untuk belajar, bertukar pengalaman, dan memperluas hubungan profesional.
Dalam konteks tersebut, pembangunan ekosistem perfilman tidak cukup hanya dilihat dari jumlah film yang diproduksi atau banyaknya penonton.
Ruang pertemuan, akses terhadap pengetahuan, kesempatan memperkenalkan karya, dan hubungan dengan pelaku industri lain juga menjadi bagian dari lingkungan yang mendukung perkembangan perfilman.
Festival internasional seperti Jakarta Film Week dapat mengambil peran melalui pertemuan karya dan orang-orang di baliknya.
Film membawa cerita dari lingkungan sosial dan kebudayaan yang berbeda, sementara festival menyediakan ruang bagi cerita-cerita itu untuk bertemu
Tantangan berikutnya ialah bagaimana pertemuan tersebut dapat berlanjut menjadi hubungan profesional, pertukaran pengetahuan, dan peluang yang memperkuat perfilman Indonesia.








