Kesenian

Saat Anak Muda Mengolah Tari Kopyah

Generasi muda Lumajang mengembangkan Tari Kopyah melalui koreografi dan musik rock, membuka ruang baru bagi keberlanjutan seni tradisi.

Oleh Ridwan

Pertunjukan Tari Kopyah Ajaga oleh generasi muda Lumajang dengan koreografi modern.
Tari Kopyah Ajaga memadukan gerak khas Tari Kopyah Lumajang dengan koreografi modern dan nuansa musik rock. Kreasi ini menjadi salah satu upaya memperkenalkan seni tradisi kepada generasi muda. Foto: InfoPublik.id
Diterbitkan

Tari tradisional tidak selalu harus hadir dengan bentuk pertunjukan yang sama dari satu generasi ke generasi berikutnya. Gerak, iringan musik, dan cara penyajian dapat dikembangkan untuk menjangkau penonton yang berbeda. 

Di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, upaya tersebut terlihat melalui Tari Kopyah Ajaga, sebuah kreasi yang memadukan gerak khas Tari Kopyah dengan koreografi modern dan nuansa musik rock.

Karya ini digarap Sanggar Tari Diamond Arts Performance bersama Ksatria Pinandhita dari SMA Negeri 2 Lumajang. 

Kolaborasi tersebut mempertemukan pegiat seni dengan pelajar dalam sebuah proses kreatif yang bertumpu pada kesenian daerah. 

Gerak tradisional tetap menjadi dasar, sementara musik dan koreografi dikembangkan untuk menghadirkan pengalaman pertunjukan yang berbeda.

Pegiat seni Tari Kopyah Lumajang, Rian Ariandi, menjelaskan bahwa pengembangan tersebut tidak dimaksudkan untuk meninggalkan karakter asli tarian. Gerak khas Lumajang tetap menjadi pijakan dalam penyusunan koreografi Tari Kopyah Ajaga.

Upaya kreatif ini memperlihatkan bahwa kreativitas dan pelestarian dapat berjalan beriringan. Tradisi mendapat ruang untuk disajikan dalam bentuk baru, sementara generasi muda berkesempatan mengenali sekaligus mengembangkan kesenian yang tumbuh di lingkungan mereka.

Berangkat dari Tradisi Jaran Kencak

Untuk memahami Tari Kopyah Ajaga, perhatian perlu diarahkan pada Tari Kopyah yang berkembang dalam pertunjukan Jaran Kencak. 

Kesenian Jaran Kencak dikenal sebagai salah satu tradisi pertunjukan masyarakat Lumajang yang menampilkan kuda berhias dengan iringan musik.

Dalam pertunjukan tersebut, Tari Kopyah menjadi bagian yang memperkaya penyajian. Penari memainkan kopiah atau kopyah melalui gerakan kepala dan tubuh mengikuti irama musik. 

Kemampuan mempertahankan kopiah agar tetap berada di kepala ketika bergerak menjadi salah satu daya tariknya.

Penelitian Yuarini Triwulandari yang diterbitkan dalam APRON: Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan pada 2016 mendokumentasikan Tari Kopyah dalam pertunjukan Jaran Kencak di Desa Ledoktempuro, Kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang. 

Kajian tersebut menjelaskan karakter gerakan kepala yang mengangguk-angguk serta permainan kopiah yang menjadi ciri penyajiannya.

Penelitian itu juga memperlihatkan pentingnya dokumentasi untuk mengenalkan Tari Kopyah kepada masyarakat yang lebih luas. 

Kesenian yang tumbuh melalui praktik pertunjukan dan pewarisan antarpelaku membutuhkan upaya pencatatan agar bentuk dan karakteristiknya dapat terus dipelajari.

Di sisi lain, Tari Kopyah tidak dapat dilepaskan dari lingkungan pertunjukan masyarakat yang membentuk perkembangannya.

Keterkaitan Tari Kopyah dengan Jaran Kencak menunjukkan bahwa kesenian ini memiliki konteks budaya yang lebih luas daripada sekadar gerak tari yang menggunakan kopiah sebagai properti.

Pemahaman terhadap akar budaya tersebut menjadi penting dalam pengembangan Tari Kopyah ke dalam bentuk pertunjukan baru, agar pembaruan tetap mempertimbangkan konteks tradisi yang melahirkannya.

Inovasi dapat dilakukan dengan tetap mengenali unsur yang membentuk identitas kesenian, termasuk karakter gerak dan permainan propertinya.

Gerak Tradisional Bertemu Musik Rock

Dalam Tari Kopyah Ajaga, pertemuan gerak tradisional dan musik rock menjadi salah satu unsur yang membedakan penyajiannya. 

Musik memberikan warna baru pada pertunjukan, sementara koreografi dikembangkan dengan tetap menjadikan gerak khas Tari Kopyah sebagai dasar.

Perpaduan tersebut bukan sekadar mengganti iringan musik. Pengembangan sebuah pertunjukan tari juga berkaitan dengan pengolahan gerak, penataan koreografi, dan hubungan antara gerakan penari dengan irama yang mengiringinya.

Rian Ariandi menegaskan bahwa kreasi Tari Kopyah Ajaga tetap berangkat dari karakter gerak yang telah dikenal dalam Tari Kopyah Lumajang. Pengembangan dilakukan tanpa melepaskan identitas kesenian yang menjadi sumber penciptaannya.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa pengembangan seni tradisi perlu mempertimbangkan karakter kesenian yang menjadi sumbernya. 

Unsur baru dapat memperkaya bentuk pertunjukan, tetapi pemahaman terhadap akar budaya tetap diperlukan agar pembaruan tidak mengaburkan identitas kesenian tersebut.

Musik rock juga membuka kemungkinan pertemuan dengan selera penonton yang lebih beragam. 

Bagi sebagian penonton muda, iringan yang akrab dengan perkembangan musik populer dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal tari tradisional yang sebelumnya belum banyak mereka perhatikan.

Namun, daya tarik pertunjukan tidak hanya ditentukan oleh musik. Gerak khas, keterampilan penari, dan penguasaan properti tetap menjadi bagian penting yang membuat Tari Kopyah memiliki karakter tersendiri.

Karena itu, Tari Kopyah Ajaga dapat dipahami sebagai upaya mengolah kembali unsur-unsur yang telah ada melalui kreatifitas penyajian yang berbeda. 

Tradisi menjadi sumber penciptaan, sedangkan kreativitas memberi ruang bagi kesenian untuk hadir dalam konteks pertunjukan masa kini.

Anak Muda Mengambil Bagian

Kolaborasi Sanggar Tari Diamond Arts Performance dengan Ksatria Pinandhita SMA Negeri 2 Lumajang memberikan dimensi lain pada pengembangan Tari Kopyah Ajaga. 

Keterlibatan pelajar menempatkan generasi muda sebagai bagian dari proses kreatif, bukan semata-mata penonton yang menerima hasil pertunjukan.

Melalui keterlibatan tersebut, kesenian daerah dapat dipelajari melalui praktik. Gerakan, irama, penggunaan properti, dan karakter pertunjukan menjadi bagian dari pengalaman berkesenian yang tidak seluruhnya dapat diperoleh melalui pembacaan atau pengenalan teori.

Kolaborasi antargenerasi juga membuka kesempatan bagi pegiat seni untuk berbagi pengetahuan mengenai kesenian yang mereka tekuni. 

Pada saat bersamaan, generasi muda dapat menyumbangkan gagasan mengenai cara penyajian yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Regenerasi seni tradisi tidak cukup hanya dengan melibatkan anak muda dalam sebuah pertunjukan. 

Keberlanjutan membutuhkan kesempatan untuk berlatih, ruang untuk tampil, serta proses belajar yang memungkinkan pengetahuan tentang kesenian diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tari Kopyah Ajaga memperlihatkan bagaimana kerja kreatif dapat mendekatkan generasi muda dengan warisan budaya daerah. 

Keterlibatan mereka tidak berhenti pada mempelajari bentuk kesenian yang telah berkembang sebelumnya, tetapi juga mencakup upaya mengolah dan menyajikannya kepada penonton masa kini.

Bagi Rian, transformasi merupakan bagian dari perkembangan kesenian. Bentuk klasik bukan satu-satunya cara untuk menampilkan tradisi. Hal yang perlu dipertahankan ialah karakter dan identitas yang membedakan kesenian tersebut dari bentuk pertunjukan lainnya.

Pandangan ini menempatkan pelestarian sebagai proses yang berlangsung melalui praktik, pembelajaran, dan penciptaan. 

Tradisi tetap memiliki akar budaya yang menjadi pijakan, sementara generasi penerus memperoleh ruang untuk memahami dan mengembangkannya sesuai dengan konteks zaman.

Menjaga Identitas, Membuka Ruang Baru

Menurut Rian, Tari Kopyah yang sebelumnya lekat dengan pertunjukan jalanan dan hajatan masyarakat kini memperoleh ruang penyajian yang lebih luas melalui panggung modern. 

Perubahan ruang pertunjukan tersebut membuka kemungkinan bagi kesenian lokal untuk dikenal oleh kelompok penonton yang berbeda.

Perkembangan itu tidak serta-merta menghapus konteks sosial yang membentuk Tari Kopyah. 

Pertunjukan di tengah masyarakat tetap menjadi bagian dari lingkungan kesenian, sementara panggung modern menawarkan kesempatan untuk mengolah penyajian dan menjangkau audiens baru.

Kedua ruang tersebut dapat saling melengkapi. Pertunjukan dalam lingkungan masyarakat menjaga hubungan kesenian dengan kehidupan sehari-hari, sedangkan pengembangan koreografi memberi kesempatan untuk mengeksplorasi kemungkinan artistik yang berbeda.

Tari Kopyah Ajaga memperlihatkan salah satu cara generasi muda Lumajang mengambil bagian dalam proses tersebut. 

Gerak tradisional tetap menjadi pijakan, tetapi musik rock dan koreografi modern memberikan pilihan penyajian yang berbeda.

Pada akhirnya, keberlanjutan seni tradisi tidak hanya bergantung pada upaya mempertahankan bentuk yang telah dikenal. 

Keterlibatan pelaku seni, proses pewarisan pengetahuan, dan kesempatan untuk terus berkarya turut menentukan apakah kesenian itu tetap dipelajari dan dipertunjukkan.

Melalui Tari Kopyah Ajaga, tradisi Lumajang memperoleh ruang untuk berkembang melalui kreativitas generasi muda. 

Pembaruan ini memperlihatkan bagaimana kesenian tradisional dapat hadir dalam bentuk pertunjukan baru tanpa melepaskan hubungan dengan akar budaya yang membentuknya.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar, lalu melintasi media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Kesenian

Lihat semua →

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →
Pranatacara menggunakan bahasa Jawa dalam kegiatan pelestarian tradisi bertutur di Sleman.

Bahasa Krama dan Masa Depan Tradisi Jawa

Paguyuban pranatacara di Sleman merawat bahasa Jawa krama melalui seni bertutur dan tata krama, sekaligus mendorong generasi muda memperoleh ruang untuk belajar dan mempraktikkannya.

Ridwan