Tradisi

Bahasa Krama dan Masa Depan Tradisi Jawa

Paguyuban pranatacara di Sleman merawat bahasa Jawa krama melalui seni bertutur dan tata krama, sekaligus mendorong generasi muda memperoleh ruang untuk belajar dan mempraktikkannya.

Oleh Ridwan

Pranatacara menggunakan bahasa Jawa dalam kegiatan pelestarian tradisi bertutur di Sleman.
Paguyuban Pranatacara Yogyakarta Kapanewon Tempel mendorong penggunaan bahasa Jawa krama dan pewarisan keterampilan bertutur kepada generasi muda. Foto: InfoPublik.id
Diterbitkan

Di tengah perubahan pola komunikasi masyarakat, kemampuan menggunakan bahasa Jawa krama menjadi perhatian para pelaku tradisi di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Bagi mereka, bahasa bukan hanya alat untuk menyampaikan maksud, melainkan juga bagian dari tata krama yang membentuk hubungan antarmanusia.

Persoalan tersebut mengemuka dalam peringatan ulang tahun keempat Paguyuban Pranatacara Yogyakarta (PPY) Kapanewon Tempel di Warung Kopi Sormindi, Kalurahan Sumberrejo, Sleman, pada Minggu, 25 Oktober 2026. 

Pertemuan itu menjadi ruang bagi para pegiat budaya untuk membicarakan keberlanjutan bahasa Jawa, khususnya kemampuan menggunakan ragam krama di kalangan generasi muda.

Dalam pemberitaan InfoPublik pada 26 Oktober 2026, para pelaku budaya menyoroti dominasi bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari yang dinilai turut mengurangi kesempatan anak-anak dan remaja berlatih menggunakan bahasa krama.

Perhatian mereka tidak hanya tertuju pada kemampuan berbahasa, tetapi juga pada keberlanjutan tata krama dan kesantunan dalam kehidupan masyarakat. 

Bahasa Jawa krama menjadi salah satu sarana untuk menyampaikan penghormatan, terutama dalam hubungan sosial yang mempertimbangkan usia, kedudukan, dan situasi percakapan.

Panewu Tempel, Rasyid Ratnadi Sosiawan, mendorong masyarakat menyediakan ruang bagi generasi muda untuk mencoba menggunakan bahasa Jawa tanpa takut melakukan kesalahan.

Sementara itu, penasihat PPY Kapanewon Tempel, Abdullah Shodiq, mengingatkan bahwa pelestarian budaya tidak seharusnya berhenti pada penyelenggaraan pertunjukan seremonial. 

Nilai yang diwariskan perlu tercermin dalam perilaku dan penghormatan terhadap orang lain. Bagi PPY Kapanewon Tempel, perhatian terhadap bahasa dan tata krama merupakan bagian dari pelestarian budaya. 

Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan masyarakat dan dukungan agar kegiatan komunitas dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Pranatacara Lebih dari Pembawa Acara

Dalam tradisi masyarakat Jawa, pranatacara atau panatacara bertugas memandu jalannya acara melalui tuturan yang disesuaikan dengan susunan kegiatan dan situasinya. 

Peran ini dapat dijumpai dalam perhelatan keluarga, upacara adat, maupun berbagai acara resmi masyarakat. Pekerjaan pranatacara tidak cukup mengandalkan keberanian berbicara di depan orang banyak. 

Seorang pranatacara perlu memahami urutan acara, memilih kata secara tepat, mengatur intonasi, serta menyesuaikan cara bertutur dengan suasana dan orang-orang yang hadir. Penguasaan bahasa menjadi bagian penting dari keterampilan tersebut.

Dalam acara adat, misalnya, tuturan perlu disesuaikan dengan tujuan penyampaian, hubungan dengan pendengar, serta tingkat formalitas acara. Ketepatan berbahasa membantu pesan tersampaikan tanpa mengabaikan penghormatan kepada hadirin.

Melalui perannya, pranatacara turut mempertahankan keterampilan bertutur dalam tradisi Jawa. Keterampilan tersebut dipelajari dan digunakan dalam situasi nyata, bukan hanya melalui hafalan kosakata atau aturan tata bahasa.

Seorang calon pranatacara perlu membiasakan diri menyusun kalimat, memahami urutan tuturan, dan berlatih menyampaikan pesan di hadapan orang lain. 

Latihan dan pengalaman membantu pengetahuan bahasa berkembang menjadi kecakapan yang dapat digunakan dalam berbagai kegiatan masyarakat.

Paguyuban pranatacara menyediakan ruang untuk bertukar pengalaman, mempelajari keterampilan, dan mempertahankan praktik budaya yang memerlukan pewarisan antargenerasi. 

Melalui komunitas, anggota dapat saling belajar mengenai penggunaan bahasa, tata cara memandu acara, dan kesesuaian tuturan dengan konteks kegiatan.

Bahasa Krama Memerlukan Ruang Praktik

Bahasa Jawa memiliki ragam penggunaan yang berkaitan dengan konteks sosial dan hubungan antara penutur dengan lawan bicara. 

Salah satunya ialah ragam krama, yang digunakan untuk menyampaikan penghormatan dalam situasi tertentu.

Penggunaannya tidak hanya bergantung pada penguasaan kosakata. Penutur juga perlu memahami kapan suatu ragam bahasa sesuai digunakan, bagaimana menyusun tuturan, dan bagaimana menjaga kesantunan tanpa kehilangan kejelasan pesan.

Keluarga, lingkungan pergaulan, sekolah, dan kegiatan kemasyarakatan dapat menjadi ruang untuk mengenal serta menggunakan bahasa Jawa dalam berbagai situasi. 

Kesempatan berlatih membantu anak-anak dan remaja memahami penggunaan bahasa krama secara bertahap.

Persoalan ruang praktik inilah yang mendapat perhatian dalam pertemuan PPY Kapanewon Tempel. Rasyid Ratnadi Sosiawan mendorong masyarakat agar tidak membuat generasi muda takut mencoba berbicara karena khawatir salah menggunakan bahasa.

Kesempatan untuk mencoba menjadi bagian penting dalam proses belajar. Jika bahasa krama hanya dituntut sebagai bentuk kepatuhan tanpa disertai kesempatan berlatih, generasi muda akan lebih sulit mengembangkan kecakapan bertutur secara alami.

Pelestarian bahasa karena itu tidak cukup dilakukan melalui imbauan agar masyarakat lebih sering menggunakan bahasa Jawa. Upaya tersebut juga memerlukan contoh penggunaan, kesempatan belajar, dan lingkungan yang mendukung praktik berbahasa.

Bahasa Indonesia dan bahasa Jawa tidak harus dipertentangkan. Keduanya memiliki fungsi dalam kehidupan masyarakat. 

Tantangannya adalah menyediakan ruang agar bahasa Jawa tetap dipelajari dan digunakan sesuai konteks, tanpa mengabaikan kebutuhan masyarakat untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia maupun bahasa lainnya.

Pelatihan dan Tantangan Pewarisan

Perhatian terhadap regenerasi pranatacara juga terlihat dalam kegiatan lain di Kabupaten Sleman. Pada 19 Oktober 2026, 

Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo mengadakan pelatihan panatacara dan sesorah atau pidato tradisional Jawa. Kegiatan tersebut diikuti 25 peserta dari unsur Karang Taruna, pengurus lingkungan, dan kader PKK Padukuhan Kromodangsan.

Pelatihan yang didukung melalui Alokasi Dana Desa tersebut menghadirkan instruktur dari Paguyuban Panatacara Yogyakarta.

Materinya mencakup teknik dasar memandu acara dan menyampaikan pidato dalam bahasa Jawa. Kegiatan ini mempertemukan pengetahuan tradisional dengan kebutuhan belajar masyarakat.

Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman juga mengadakan pelatihan bahasa dan sastra, adiwicara, serta pranatacara pada 20–21 Oktober 2026. Kegiatan tersebut menekankan pentingnya pemilihan kata, kesantunan, dan kemampuan menyesuaikan tuturan dengan situasi.

Kegiatan di Lumbungrejo dan program Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman menunjukkan adanya upaya memperluas kesempatan belajar keterampilan bertutur Jawa. 

Melalui pelatihan, peserta dapat mempelajari teknik yang kemudian diterapkan dalam kegiatan keluarga, lingkungan, maupun acara adat. Meski demikian, pelatihan saja belum menjamin keberlanjutan penggunaan bahasa krama. 

Pengetahuan yang diperoleh perlu diterapkan kembali dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam keluarga, kegiatan masyarakat, dan berbagai peristiwa yang membutuhkan keterampilan bertutur.

Ketua PPY Kapanewon Tempel, Sih Budi Daryanto, menyampaikan harapan agar pemerintah daerah memberikan dukungan kepada organisasi kebudayaan sehingga program pelestarian dapat berjalan lebih lancar.

Menurut pemberitaan InfoPublik, selama ini kegiatan komunitas tersebut ditopang melalui pendanaan swadaya anggota.

Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya kerja bersama dalam pelestarian tradisi. Komunitas menyediakan ruang belajar dan pengalaman, sedangkan dukungan kelembagaan dapat membantu menjaga keberlangsungan kegiatan.

Menjaga Tradisi Lewat Penggunaan Bahasa

Bahasa krama dan keterampilan pranatacara merupakan bagian dari tradisi bertutur masyarakat Jawa. Keduanya memperlihatkan hubungan antara penggunaan bahasa, tata krama, dan cara masyarakat menyampaikan penghormatan kepada orang lain.

Pelestarian bahasa tidak hanya menjadi tanggung jawab pranatacara atau komunitas kebudayaan. Penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat seseorang tumbuh, belajar, dan berinteraksi.

Upaya PPY Kapanewon Tempel membuka pembicaraan tentang peran masyarakat dalam menyediakan ruang bagi generasi muda untuk belajar. Keberanian mencoba, kesempatan berlatih, dan dukungan lingkungan menjadi bagian dari proses pewarisan tradisi bertutur.

Peringatan empat tahun PPY Kapanewon Tempel pada Oktober 2026 menjadi momentum untuk menegaskan pentingnya kegiatan pelestarian yang berkelanjutan. 

Mempertahankan warisan leluhur tidak cukup melalui perayaan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan generasi baru dalam praktik budaya.

Masa depan tradisi bertutur Jawa tidak hanya bergantung pada kemampuan seseorang menggunakan bahasa krama dengan tepat.

Pemahaman mengenai konteks, kesantunan, dan penghormatan yang menyertai penggunaannya juga menjadi bagian penting dari pewarisan budaya.

Ketika generasi muda memiliki ruang untuk mempelajari dan mempraktikkan bahasa tersebut, tradisi bertutur Jawa dapat terus digunakan dalam kehidupan masyarakat yang berkembang.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar, lalu melintasi media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →
Pameran topeng tradisional Indonesia dan Korea Selatan bertajuk Dua Wajah, Satu Jiwa di Museum Nasional Indonesia.

Dua Wajah, Satu Jiwa Indonesia-Korea

Pameran topeng tradisional Indonesia dan Korea Selatan di Museum Nasional mempertemukan dua tradisi melalui kemiripan karakter, kisah kehidupan, dan nilai budaya.

Ridwan