Tradisi

Gawia Sowa Menautkan Dayak Bidayuh di Perbatasan

Tradisi adat Dayak Bidayuh Bijagoi di Jagoi Babang, Bengkayang, mempertemukan masyarakat dari Indonesia dan Sarawak, Malaysia, sekaligus menjadi ruang untuk merawat hubungan kekerabatan lintas batas.

Oleh Ridwan

Gawia Sowa Menautkan Dayak Bidayuh di Perbatasan
Perayaan Gawia Sowa Dayak Bidayuh Bijagoi menjadi ruang pertemuan masyarakat di perbatasan Indonesia–Malaysia. Foto: BNPP
Diterbitkan

Batas negara tidak selalu memisahkan orang-orang yang memiliki ikatan sejarah, bahasa, dan adat istiadat. Di kawasan perbatasan Kalimantan Barat dan Sarawak, Malaysia, hubungan itu tetap terpelihara melalui tradisi yang mempertemukan masyarakat dari kedua wilayah. Salah satunya adalah Gawia Sowa Adat Dayak Bidayuh Bijagoi.

Pada 3 Juni 2026, masyarakat Dayak Bidayuh berkumpul di Kampung Adat Bung Kapuak, wilayah Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Perayaan yang memasuki penyelenggaraan ke-186 itu dihadiri masyarakat dari Jagoi Babang serta Serikin dan Bau di Sarawak, Malaysia.

Menurut pemberitaan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), ribuan masyarakat Dayak Bidayuh datang untuk mengikuti rangkaian perayaan sekaligus bersilaturahmi dengan sanak keluarga. Pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan masyarakat di kawasan perbatasan tidak hanya terbentuk melalui administrasi negara, tetapi juga melalui kekerabatan dan tradisi yang terus dijalankan.

Tradisi yang Mempertemukan Keluarga

Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan, hubungan antarkeluarga dapat melampaui garis geografis. Perayaan Gawia Sowa menyediakan ruang untuk bertemu, bersilaturahmi, dan memperkuat hubungan sosial yang telah terjalin turun-temurun.

Kehadiran masyarakat dari wilayah Indonesia dan Malaysia menjadi bagian penting dari perayaan tersebut. Mereka datang bukan semata-mata sebagai pengunjung sebuah acara, melainkan juga untuk bertemu kerabat dan menjaga hubungan yang terpelihara melalui kesamaan identitas budaya.

BNPP mencatat bahwa masyarakat yang hadir berasal dari Jagoi Babang di Kabupaten Bengkayang serta Serikin dan Bau di Sarawak. Pertemuan ini memperlihatkan bagaimana tradisi dapat menjadi penghubung di antara komunitas yang hidup di dua negara.

Kesamaan adat dan bahasa tidak menghapus kenyataan bahwa mereka berada dalam wilayah administrasi yang berbeda. Namun, perbedaan itu tidak serta-merta menghilangkan ikatan kekeluargaan yang telah terbentuk selama beberapa generasi.

Gawia Sowa dalam Kehidupan Perbatasan

Perayaan Gawia Sowa Adat Dayak Bidayuh Bijagoi ke-186 juga dihadiri sejumlah pejabat dari Indonesia dan Malaysia. Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan membuka perayaan tersebut. Delegasi Sarawak dipimpin Timbalan Menteri Pengangkutan Sarawak Datuk Henry Harry Jinep.

Kehadiran para pejabat dan tokoh masyarakat menempatkan Gawia Sowa dalam ruang perjumpaan yang lebih luas. Meski demikian, inti penting tradisi ini tetap terletak pada keterlibatan masyarakat yang menjalankannya dan hubungan sosial yang tumbuh di sekitar perayaan.

Masyarakat Dayak Bidayuh mengikuti perayaan Gawia Sowa di Jagoi Babang, Bengkayang. Foto: BNPP

Dalam kegiatan tersebut, Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Jagoi Babang turut mendukung kelancaran mobilitas peserta. Bersama unsur Customs, Immigration, Quarantine (CIQ), PLBN memberikan pelayanan perlintasan, mengatur arus kendaraan, serta menyediakan fasilitas pendukung bagi masyarakat yang menghadiri kegiatan.

Dukungan tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan kawasan perbatasan juga bersentuhan dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Infrastruktur perlintasan tidak hanya digunakan untuk menunjang mobilitas, tetapi dapat membantu masyarakat menjalankan kegiatan yang mempertemukan kerabat di kedua sisi negara.

Menjaga Tradisi, Memelihara Ikatan

Keberlangsungan Gawia Sowa menunjukkan pentingnya ruang pertemuan bagi masyarakat yang memiliki ikatan budaya lintas batas. Tradisi tidak hanya hadir dalam bentuk rangkaian acara, tetapi juga melalui kesempatan untuk memperbarui hubungan keluarga dan mempererat kehidupan bersama.

Penyelenggaraan ke-186 yang diberitakan BNPP menjadi penanda panjangnya perjalanan perayaan ini. Namun, angka tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh sejarah, perubahan, maupun makna setiap unsur ritual Gawia Sowa. Pemahaman yang lebih lengkap memerlukan keterangan dari tetua adat dan masyarakat Dayak Bidayuh yang menjalankannya.

Hal yang tampak jelas dari perayaan pada Juni 2026 adalah keterlibatan masyarakat dari Indonesia dan Sarawak. Mereka berkumpul dalam satu tradisi yang memberi ruang bagi hubungan kekeluargaan dan identitas budaya untuk terus hadir di tengah kehidupan perbatasan.

Dari Kampung Adat Bung Kapuak, Gawia Sowa memperlihatkan bahwa hubungan masyarakat tidak selalu berhenti pada garis batas negara. Ada ikatan yang terus dipelihara melalui pertemuan, adat, dan kesediaan untuk kembali berkumpul.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar sejak tahun 2000, lalu melintasi berbagai media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi untuk program berita, wisata, petualangan, budaya, dan entertainment. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga dinamika politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →