Kesenian

Jatilan Bayu Kusumo dan Tiga Dekade Perjalanannya

Tiga puluh tahun berkesenian menjadi perjalanan Jatilan Bayu Kusumo di Sleman untuk merawat tradisi sekaligus membuka ruang bagi keterlibatan generasi muda.

Oleh Ridwan

Pertunjukan Jatilan Bayu Kusumo dalam perayaan 30 tahun di Pogung Kidul, Sleman
Jatilan Bayu Kusumo menggelar pertunjukan untuk menandai tiga dekade perjalanan kelompok kesenian di Pogung Kidul, Sleman, pada 25 Oktober 2026. Foto: InfoPublik.id
Diterbitkan

Warga Padukuhan Pogung Kidul, Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, berkumpul menyaksikan pertunjukan jatilan pada Minggu, 25 Oktober 2026. 

Bagi kelompok kesenian Jatilan Bayu Kusumo, pementasan tersebut memiliki arti khusus karena menandai tiga dekade perjalanan sejak kelompok itu berdiri.

Para penari tampil dengan kostum khas dan properti kuda kepang. Gerakan mereka mengikuti iringan musik tradisional, menghadirkan pertunjukan yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat. 

Di balik perayaan itu, ada perjalanan sebuah kelompok kesenian yang bertahan selama 30 tahun dan keinginan untuk meneruskan tradisi kepada generasi berikutnya.

Dipimpin Purwanto, Jatilan Bayu Kusumo kini memiliki sekitar 60 anggota aktif. Kelompok ini juga telah mengantongi Nomor Induk Kesenian sebagai identitas dalam pendataan kebudayaan daerah.

Bagi Purwanto, keberadaan kelompok tersebut tidak hanya berkaitan dengan pertunjukan. Jatilan menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan warga sekaligus merawat warisan budaya leluhur. 

"Perayaan tiga dekade ini menjadi momentum bagi kami untuk terus merawat kesenian tradisional serta mendorong keterlibatan generasi muda agar budaya Jawa tetap lestari dari masa ke masa," urai Purwanto dikutip dari InfoPublik.id

Jatilan dalam Kehidupan Masyarakat

Jatilan, yang juga dikenal melalui sebutan jathilan atau kuda kepang, merupakan kesenian rakyat yang memadukan gerak tari dengan properti berbentuk kuda. Musik pengiring, kostum, dan pola gerak menjadi bagian dari penyajian pertunjukannya.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, jatilan berkembang dalam beragam bentuk. Penelitian Luvita Pradana P. di Universitas Gadjah Mada pada 2018, misalnya, membahas perbedaan pola garap jatilan tradisional dan jatilan kreasi melalui studi terhadap kelompok Bekso Sekar Merapi dan Putri Larasati di Sleman. 

Penelitian itu memperlihatkan bahwa lingkungan sosial, kebiasaan masyarakat, dan kreativitas pelaku turut memengaruhi perkembangan pertunjukan.

Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa jatilan bukan kesenian yang berhenti pada satu bentuk penyajian. Kelompok-kelompok di dalamnya memiliki pengalaman, pilihan artistik, dan lingkungan pendukung yang berbeda.

Keberlangsungan kesenian rakyat tidak hanya bergantung pada pertunjukan, tetapi juga pada orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Latihan bersama, persiapan pementasan, dan keterlibatan warga menjadi bagian dari proses yang membuat sebuah kelompok kesenian tetap hidup.

Pengalaman Jatilan Bayu Kusumo selama tiga dekade menunjukkan perjalanan sebuah kelompok kesenian yang tumbuh di tengah masyarakat Pogung Kidul. 

Selama itu pula, jatilan menjadi bagian dari aktivitas budaya yang berkembang di lingkungan setempat.

Regenerasi Tidak Berhenti pada Pertunjukan

Tantangan berikutnya adalah memastikan jatilan tetap memiliki pelaku yang bersedia mempelajari dan meneruskannya. 

Harapan ini disampaikan Purwanto dalam perayaan ulang tahun kelompoknya. Ia ingin keterlibatan generasi muda terus tumbuh agar kesenian Jawa dapat bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Persoalan tersebut bukan hanya menjadi perhatian Bayu Kusumo. Penelitian pengabdian masyarakat yang diterbitkan Universitas Mercu Buana Yogyakarta pada 2024 membahas kebutuhan regenerasi kesenian jathilan di Desa Kadirojo, Sleman. 

Program yang dikaji mencakup pelatihan tari, sinden, gamelan, tata rias, dan kreativitas tari bagi peserta berusia 4–15 tahun.

Contoh itu memperlihatkan bahwa proses regenerasi dapat berlangsung melalui pembelajaran keterampilan yang mendukung sebuah pertunjukan.

Keterlibatan anak-anak dan remaja menjadi salah satu harapan dalam keberlanjutan kesenian jatilan. Melalui latihan dan kesempatan terlibat dalam pertunjukan, generasi muda dapat mengenal gerak, iringan musik, serta tata cara pementasan yang diwariskan oleh para pendahulu.

Bagi Jatilan Bayu Kusumo, regenerasi menjadi bagian dari perjalanan panjang yang perlu terus diupayakan. 

Setelah tiga dekade tumbuh di Pogung Kidul, keberlanjutan kelompok ini tidak hanya bergantung pada anggota yang masih aktif, tetapi juga pada kesempatan bagi generasi berikutnya untuk belajar dan terlibat. 

Dukungan masyarakat serta ruang pertunjukan yang berkelanjutan turut menentukan apakah kesenian ini dapat terus hadir di lingkungan tempatnya tumbuh.

Melanjutkan Perjalanan

Usia 30 tahun memberikan Jatilan Bayu Kusumo kesempatan untuk menengok perjalanan kelompok sekaligus memikirkan langkah selanjutnya.

Nomor Induk Kesenian menjadi bagian dari identitas formal kelompok, sementara dukungan masyarakat memberi ruang bagi kesenian untuk tetap hadir dalam kehidupan lokal.

Namun, keberlanjutan tidak cukup diukur melalui usia kelompok atau banyaknya anggota. Ada proses yang perlu berlangsung terus-menerus: keterampilan yang diwariskan, pengalaman yang dibagikan, dan kesempatan bagi generasi baru untuk mengambil bagian.

Dalam konteks itu, perayaan tiga dekade bukanlah garis akhir. Ia menjadi penanda perjalanan yang masih berlanjut. Jatilan Bayu Kusumo memiliki modal berupa kelompok yang tetap aktif dan lingkungan masyarakat yang menyaksikan pertunjukannya.

Keberlanjutan tradisi tersebut bergantung pada hadirnya generasi penerus yang mau mengenal, mempelajari, dan mengembangkan kesenian jatilan.

Harapan itu sejalan dengan pesan Purwanto dalam perayaan kelompoknya: kesenian tradisional perlu terus dirawat dan melibatkan generasi muda. Seberapa jauh harapan tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari Bayu Kusumo masih menjadi kisah yang layak ditelusuri lebih dalam.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar, lalu melintasi media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Kesenian

Lihat semua →

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →
Pranatacara menggunakan bahasa Jawa dalam kegiatan pelestarian tradisi bertutur di Sleman.

Bahasa Krama dan Masa Depan Tradisi Jawa

Paguyuban pranatacara di Sleman merawat bahasa Jawa krama melalui seni bertutur dan tata krama, sekaligus mendorong generasi muda memperoleh ruang untuk belajar dan mempraktikkannya.

Ridwan
Pameran topeng tradisional Indonesia dan Korea Selatan bertajuk Dua Wajah, Satu Jiwa di Museum Nasional Indonesia.

Dua Wajah, Satu Jiwa Indonesia-Korea

Pameran topeng tradisional Indonesia dan Korea Selatan di Museum Nasional mempertemukan dua tradisi melalui kemiripan karakter, kisah kehidupan, dan nilai budaya.

Ridwan