Sebuah pesan dikirim dalam hitungan detik. Barangkali hanya candaan di antara teman, mungkin pula luapan kemarahan yang belum sempat dipikirkan. Namun, ketika kalimat itu sampai kepada penerimanya, tidak selalu ada nada suara yang menjelaskan maksud atau wajah yang memperlihatkan penyesalan.
Di ruang digital, manusia dapat berbicara tanpa saling berhadapan. Jarak menjadi lebih dekat, tetapi akibat sebuah ucapan tidak selalu lebih mudah dipahami.
Bagi anak-anak dan remaja, ruang ini telah menjadi bagian dari pergaulan. Mereka membangun pertemanan, menemukan pengetahuan, mengikuti kegiatan belajar, dan menyampaikan pendapat melalui perangkat yang berada dalam genggaman.
Perubahan tersebut membawa pertanyaan yang sebenarnya telah lama dikenal dalam pendidikan budi pekerti: bagaimana memperlakukan orang lain dengan hormat?
Dahulu, pertanyaan itu banyak dipelajari melalui hubungan langsung di rumah, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Kini, jawabannya juga diperlukan ketika seseorang menulis komentar, membagikan foto, atau menanggapi orang yang tidak pernah ditemuinya.
Sopan Santun Ketika Wajah Tak Lagi Berhadapan
Dalam percakapan langsung, manusia membaca lebih dari sekadar kata-kata. Ada perubahan nada, gerak tubuh, dan raut wajah yang membantu seseorang memahami tanggapan lawan bicara.
Pesan tertulis tidak selalu memiliki petunjuk tersebut. Ungkapan yang dimaksudkan sebagai gurauan dapat diterima sebagai penghinaan. Sebaliknya, kalimat singkat yang tampak dingin belum tentu ditulis dengan maksud merendahkan.
Karena itu, perubahan gaya komunikasi tidak dapat langsung dijadikan ukuran kemunduran sopan santun. Bahasa pergaulan, singkatan, dan kebiasaan baru dalam berkomunikasi tidak dengan sendirinya menunjukkan hilangnya penghormatan.
Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang memahami batas tindakannya.
Mengkritik pendapat berbeda dari menyerang martabat orang yang menyampaikannya. Menolak permintaan bukan berarti tidak menghormati orang lain. Sebaliknya, membagikan foto pribadi tanpa izin atau mengajak orang ramai-ramai mempermalukan seseorang dapat menimbulkan kerugian meskipun dilakukan tanpa kata-kata kasar.
Di sinilah budi pekerti perlu diterjemahkan ke dalam kehidupan digital. Menghormati orang lain tidak cukup dengan memilih bahasa yang halus. Penghormatan juga mencakup persetujuan, privasi, kejujuran, dan kesadaran terhadap akibat tindakan.
Nilai yang diajarkan dalam pergaulan sehari-hari masih mempunyai tempat. Namun, penerapannya harus menjawab keadaan yang belum tentu pernah dialami generasi sebelumnya.
Ketika Layar Menyimpan Luka
Persoalan hubungan digital tidak hanya muncul dari kesalahpahaman dalam percakapan.
Kajian dasar UNICEF Indonesia tahun 2023, yang dipublikasikan pada Februari 2025, mencatat bahwa 42 persen anak yang diteliti pernah merasa tidak nyaman atau takut akibat pengalaman daring. Dalam kajian yang sama, 37,5 persen anak dilaporkan telah menerima informasi mengenai cara menjaga keamanan diri saat menggunakan internet.
Angka tersebut tidak menunjukkan bahwa 42 persen anak mengalami perundungan siber. Pengalaman yang membuat anak takut atau tidak nyaman dapat berkaitan dengan berbagai risiko. UNICEF juga menyoroti paparan konten yang tidak pantas, perundungan, serta eksploitasi dan pelecehan seksual daring.
Temuan itu mengingatkan bahwa kemampuan mengakses internet tidak selalu diikuti pengetahuan yang memadai untuk menghadapi persoalan di dalamnya.
Perundungan siber sendiri perlu dibedakan dari pertengkaran biasa. UNICEF menjelaskannya sebagai perilaku perundungan melalui teknologi digital yang berulang dan ditujukan untuk menakuti, membuat marah, atau mempermalukan seseorang.
Sebuah komentar yang tidak menyenangkan belum tentu memenuhi pengertian tersebut. Namun, ancaman, penyebaran informasi pribadi, dan tindakan mempermalukan orang lain tetap dapat membahayakan meskipun tidak seluruhnya dapat disebut perundungan.
Dampak komunikasi digital juga mempunyai karakter tersendiri. Sebuah gambar dapat disalin, percakapan dapat diteruskan, dan penghinaan dapat menjangkau orang-orang di luar hubungan awal pelaku dengan korbannya.
Bagi anak yang mengalaminya, persoalan tidak selalu berakhir ketika telepon genggam dimatikan. Rasa takut menghadapi teman, malu bertemu orang lain, atau kekhawatiran bahwa materi yang merugikannya akan kembali beredar dapat terbawa ke kehidupan sehari-hari.
Karena itu, pendidikan budi pekerti di ruang digital perlu berjalan bersama perlindungan anak. Kesopanan tidak boleh digunakan untuk meminta korban diam, memaafkan pelaku tanpa penanganan, atau menanggung sendiri perlakuan yang membahayakan.
Dari Nasihat di Rumah hingga Percakapan di Sekolah
Anak mungkin telah berulang kali mendengar nasihat agar menjaga ucapan. Namun, ketika menyaksikan seorang teman dipermalukan dalam grup percakapan, ia membutuhkan lebih dari sekadar ingatan tentang larangan berkata kasar.
Ia perlu memahami bahwa ikut menyebarkan penghinaan dapat memperbesar kerugian. Ia juga perlu mengetahui bahwa membantu teman tidak harus dilakukan dengan membalas pelaku secara agresif.
Di rumah, pendidikan dapat dimulai melalui percakapan sederhana. Orang tua dapat mengajak anak mempertimbangkan apakah sebuah foto boleh diunggah, mengapa informasi pribadi perlu dijaga, atau apa yang sebaiknya dilakukan ketika menerima pesan yang mengancam.
Pembicaraan semacam itu membutuhkan kepercayaan. Anak yang takut langsung disalahkan mungkin enggan menceritakan pengalaman buruknya. Sebaliknya, kesempatan untuk berbicara tanpa segera dihakimi dapat membuka jalan bagi pendampingan.
Sekolah mempunyai peran yang tidak kalah penting. Peserta didik dapat diajak membahas contoh percakapan digital, membedakan kritik dari penghinaan, dan memahami kapan suatu persoalan memerlukan bantuan guru atau orang dewasa yang dipercaya.
Pembelajaran juga perlu menyentuh tanggung jawab orang yang menyaksikan tindakan merugikan. Tidak ikut menyebarkan materi yang mempermalukan seseorang, mendukung teman yang menjadi sasaran, dan melaporkan ancaman melalui jalur yang aman merupakan tindakan yang dapat dipelajari.
Namun, anak tidak seharusnya dibebani tanggung jawab menyelesaikan kekerasan digital sendirian. Keluarga, sekolah, penyelenggara platform, dan lembaga perlindungan mempunyai peran yang berbeda dalam mencegah serta menangani risiko.
Teladan orang dewasa pun menjadi bagian dari persoalan. Nasihat agar anak tidak menghina orang lain akan kehilangan kekuatannya apabila orang dewasa justru membiasakan penghinaan dalam percakapan daring.
Budi pekerti tidak hanya diwariskan melalui kalimat yang diajarkan. Ia juga dipelajari dari cara seseorang menggunakan kewenangan, mengakui kesalahan, dan memperlakukan orang yang berbeda pendapat.
Menjaga Nilai di Tengah Perubahan
Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, penghormatan, tenggang rasa, tanggung jawab, dan kepedulian dikenal melalui berbagai tradisi serta lingkungan keluarga. Istilah dan bentuk penerapannya dapat berbeda, tetapi persoalan hubungan antarmanusia tetap hadir dalam kehidupan bersama.
Teknologi tidak menghapus kebutuhan tersebut. Ia menghadirkan keadaan baru yang menuntut pertimbangan berbeda.
Meminta izin sebelum membagikan foto merupakan salah satu bentuk menghormati batas pribadi. Memeriksa kebenaran informasi sebelum meneruskannya berkaitan dengan tanggung jawab terhadap orang yang mungkin terdampak. Menghentikan ejekan dalam percakapan kelompok dapat menjadi tindakan kepedulian.
Semua itu tidak memerlukan anak untuk meninggalkan kehidupan digital. Justru mereka perlu dibekali kemampuan agar dapat menggunakan teknologi dengan aman, kritis, dan bertanggung jawab.
Pendidikan budi pekerti juga harus memberi tempat bagi keberanian menyampaikan pendapat. Menghormati orang yang lebih tua tidak berarti anak kehilangan hak untuk menolak perlakuan yang tidak aman. Menjaga kesopanan tidak mengharuskannya diam ketika melihat ketidakadilan.
Nilai yang diwariskan tidak harus membeku dalam cara berkomunikasi masa lalu. Ia dapat menemukan bentuk baru selama penghormatan terhadap martabat manusia tetap dijaga.
Sebuah pesan mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk ditulis. Tetapi sebelum dikirim, selalu ada kesempatan untuk memikirkan orang yang akan menerimanya.
Di balik layar itu, ada manusia yang tidak seluruh kisah hidupnya kita ketahui. Kesadaran sederhana tersebut dapat menjadi awal bagi budi pekerti yang tetap hidup, sekalipun cara manusia saling menyapa terus berubah.
CATATAN REDAKSI
Artikel ini merupakan analisis editorial mengenai perubahan komunikasi digital dan pewarisan budi pekerti, dengan perhatian khusus pada pengalaman anak dan remaja.
Data yang digunakan berasal dari laporan UNICEF Indonesia, Pengetahuan dan Kebiasaan Daring Anak di Indonesia: Sebuah Kajian Dasar 2023, yang diterbitkan pada Februari 2025. Persentase dalam laporan merujuk pada anak yang diteliti, bukan ukuran kemunduran sopan santun seluruh masyarakat Indonesia.
Artikel membedakan perundungan siber dari kritik, perbedaan pendapat, dan pertengkaran biasa. Tindakan yang membahayakan tetap perlu ditangani meskipun tidak memenuhi seluruh karakteristik perundungan.
Contoh percakapan keluarga, interaksi sekolah, dan pengalaman anak merupakan ilustrasi analitis. EMMANUS tidak melakukan wawancara atau peliputan lapangan khusus untuk artikel ini.
Rekomendasi mengenai pendampingan keluarga, pendidikan digital di sekolah, perlindungan privasi, dan penanganan kekerasan merupakan usulan editorial, bukan hasil pengujian efektivitas program tertentu.
EMMANUS tidak menempatkan teknologi maupun generasi muda sebagai penyebab tunggal persoalan perilaku. Perlindungan anak, penghormatan terhadap martabat manusia, dan hak menyampaikan pendapat menjadi bagian dari pertimbangan editorial.






