Di sebuah rumah, malam mungkin menjadi satu-satunya waktu ketika seluruh anggota keluarga berkesempatan bertemu. Seorang ayah baru pulang bekerja. Anak-anak telah menyelesaikan tugas sekolah. Ada yang ingin bercerita, ada pula yang terlalu lelah untuk memulai percakapan.
Di rumah lain, keadaan bisa berbeda. Orang tua bekerja bergantian, anak tinggal bersama kakek dan nenek, atau seluruh keluarga menghabiskan sebagian besar hari dalam kesibukan masing-masing.
Tidak ada satu gambaran yang mewakili kehidupan semua keluarga. Namun, keadaan tersebut menghadirkan pertanyaan yang dekat dengan pendidikan budi pekerti: di antara berbagai tanggung jawab sehari-hari, bagaimana anak belajar memperlakukan orang lain?
Nasihat tentang kejujuran, kesopanan, dan kepedulian dapat disampaikan kapan saja. Tetapi anak juga perlu menyaksikan bagaimana nilai itu dijalankan, terutama oleh orang-orang yang paling dekat dengannya.
Waktu Bersama dan Kesempatan untuk Didengar
Kesibukan orang tua tidak selalu dapat dihindari. Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, perjalanan panjang menuju tempat kerja, serta tanggung jawab lain yang menyita tenaga dan perhatian.
Karena itu, persoalan pengasuhan tidak cukup dijawab dengan meminta setiap orang tua menyediakan waktu lebih banyak. Tidak semua keluarga mempunyai keleluasaan yang sama.
Kehadiran fisik pun tidak selalu berarti terjadinya hubungan yang hangat. Orang tua dan anak dapat berada dalam satu ruangan tanpa saling berbicara. Sebaliknya, keluarga yang terpisah oleh pekerjaan masih dapat berusaha menjaga hubungan melalui komunikasi yang konsisten.
Kerangka Nurturing Care for Early Childhood Development yang diterbitkan WHO, UNICEF, Bank Dunia, dan mitra pada 2018 menempatkan pengasuhan responsif sebagai salah satu unsur penting perkembangan anak usia dini.
Pengasuhan responsif berkaitan dengan kemampuan pengasuh mengenali kebutuhan dan isyarat anak, kemudian memberikan tanggapan yang sesuai. Pedoman WHO tahun 2020 secara khusus merekomendasikan pengasuhan responsif dan kesempatan belajar dini bagi anak dalam tiga tahun pertama kehidupan.
Rujukan tersebut tidak membuktikan bahwa semakin sedikit waktu bersama orang tua akan menyebabkan semakin buruknya budi pekerti anak. Namun, ia memberikan dasar untuk memahami pentingnya hubungan yang memperhatikan kebutuhan anak, terutama pada masa awal pertumbuhan.
Dalam kehidupan keluarga, perhatian dapat hadir melalui tindakan sederhana. Mendengarkan cerita tanpa segera menyela, menanggapi pertanyaan dengan sungguh-sungguh, atau mengetahui kapan anak membutuhkan bantuan.
Bagi keluarga dengan waktu yang terbatas, kesempatan semacam itu mungkin tidak berlangsung lama. Yang perlu dijaga adalah agar anak tetap mempunyai ruang untuk menyampaikan apa yang dialaminya.
Teladan yang Tidak Selalu Disadari
Seorang anak dapat diminta berkata jujur. Namun, ia juga memperhatikan bagaimana orang dewasa menepati janji.
Ia diajarkan meminta maaf, tetapi mungkin bertanya dalam hati mengapa orang yang lebih tua jarang mengakui kesalahan.
Di rumah, pendidikan nilai tidak hanya berlangsung ketika nasihat diberikan. Anak menyaksikan bagaimana anggota keluarga menyelesaikan perbedaan pendapat, berbagi pekerjaan, dan memperlakukan orang yang sedang mengalami kesulitan.
Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan belajar. Ketika seseorang mengakui kesalahan, anak melihat bahwa kejujuran bukan kewajiban satu pihak. Ketika pekerjaan rumah dibagi secara wajar, ia mengenal tanggung jawab sebagai bagian dari kehidupan bersama.
Namun, keteladanan tidak berarti orang dewasa harus selalu benar. Justru kesediaan memperbaiki kesalahan dapat memperlihatkan bagaimana tanggung jawab dijalankan.
Pendidikan budi pekerti juga perlu dibedakan dari tuntutan kepatuhan tanpa batas. Menghormati orang tua tidak menghilangkan hak anak untuk bertanya, berbeda pendapat, atau menyampaikan bahwa sesuatu membuatnya takut.
Ancaman dan perlakuan yang merendahkan tidak dapat dibenarkan atas nama pembentukan karakter.
Dalam keluarga yang sehat, anak memperoleh kesempatan memahami alasan suatu aturan, bukan hanya takut terhadap akibat jika melanggarnya. Ia belajar bahwa tindakannya dapat memengaruhi orang lain dan bahwa perbedaan pendapat dapat diselesaikan tanpa saling menyakiti.
Cara belajar seperti ini membutuhkan kesabaran. Tidak semua percakapan berakhir dengan kesepakatan, sebagaimana tidak semua kesalahan dapat diselesaikan melalui satu nasihat.
Tetapi dari pengalaman yang berulang, anak mempunyai kesempatan mengenal hubungan antara perkataan, tindakan, dan akibatnya.
Ketika Pengasuhan Memerlukan Dukungan
Tanggung jawab mendidik anak sering diletakkan sepenuhnya pada keluarga. Padahal, keadaan yang dihadapi setiap keluarga tidak sama.
Ada orang tua yang bekerja dengan jadwal bergilir. Ada keluarga yang tidak memiliki kerabat dekat untuk membantu mengasuh anak. Ada pula yang menghadapi tekanan ekonomi atau kesulitan memperoleh layanan pendidikan dan pengasuhan.
Dalam keadaan seperti itu, nasihat tentang pentingnya kebersamaan perlu disertai perhatian terhadap dukungan yang tersedia.
UNICEF melalui Global Parenting Support Framework menekankan bahwa dukungan pengasuhan perlu melibatkan berbagai sektor, termasuk kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial, perlindungan anak, dan layanan berbasis komunitas.
Kerangka tersebut menempatkan kebutuhan keluarga dalam lingkungan yang lebih luas. Orang tua dan pengasuh tetap mempunyai tanggung jawab, tetapi mereka juga memerlukan kesempatan, pengetahuan, dan bantuan agar dapat menjalankannya.
Di Indonesia, sekolah, keluarga besar, dan lingkungan masyarakat dapat menjadi bagian dari ruang belajar anak. Guru dapat memperlihatkan cara menyelesaikan perselisihan dengan adil. Kakek dan nenek dapat mengenalkan pengalaman serta pengetahuan keluarga. Kegiatan kesenian atau komunitas dapat memberi kesempatan belajar bekerja sama.
Namun, keberadaan orang dewasa atau lembaga tidak otomatis menjamin lingkungan yang aman. Anak tetap memerlukan perlindungan dari kekerasan, penghinaan, dan perlakuan yang mengabaikan kebutuhannya.
Pewarisan budi pekerti karena itu tidak dapat hanya dibebankan kepada ibu atau ayah. Ia membutuhkan hubungan yang saling mendukung antara keluarga dan lingkungan tempat anak tumbuh.
Menghidupkan Percakapan di Rumah
Tidak semua keluarga dapat berkumpul setiap sore. Tidak semua orang tua mempunyai tenaga untuk menemani anak dalam waktu panjang setelah bekerja.
Namun, pendidikan budi pekerti tidak harus menunggu keadaan yang sempurna.
Percakapan dapat dimulai dari pengalaman yang benar-benar dihadapi anak. Ketika ia bertengkar dengan teman, orang tua dapat membantunya memahami persoalan dari lebih dari satu sudut pandang. Ketika ia melakukan kesalahan, pembicaraan dapat diarahkan pada akibat tindakan dan cara memperbaikinya.
Anak juga dapat dilibatkan dalam tanggung jawab rumah tangga sesuai usia dan kemampuannya. Bukan sebagai hukuman, melainkan kesempatan memahami bahwa kehidupan bersama memerlukan kontribusi setiap orang.
Bagi keluarga yang tinggal berjauhan, telepon atau pesan dapat membantu menjaga komunikasi. Bagi keluarga yang berada dalam satu rumah, kebiasaan mendengarkan tanpa gangguan dapat menjadi awal yang sederhana.
Langkah-langkah tersebut bukan resep yang pasti berhasil bagi semua keluarga. Keadaan anak, usia, hubungan dengan pengasuh, serta tekanan yang dihadapi keluarga perlu dipertimbangkan.
Yang penting, budi pekerti tidak hanya hadir sebagai tuntutan agar anak berperilaku baik. Nilai yang sama juga perlu terlihat dalam cara orang dewasa memperlakukannya.
Seorang anak tidak selalu membutuhkan jawaban panjang ketika pulang membawa cerita. Kadang ia hanya ingin mengetahui bahwa ada orang yang bersedia mendengar sampai selesai.
Di tengah kehidupan yang bergerak cepat, kesempatan seperti itu mudah dianggap kecil. Padahal, dari percakapan, permintaan maaf, dan perhatian yang berulang, anak dapat belajar bahwa penghormatan bukan hanya sesuatu yang diucapkan.
Ia adalah sesuatu yang dialami, sebelum kelak diberikan kepada orang lain.
CATATAN REDAKSI
Artikel ini merupakan analisis editorial tentang pewarisan budi pekerti melalui hubungan keluarga, pengasuhan, dan kehidupan sehari-hari. Pembahasan tidak menyatakan bahwa waktu kebersamaan keluarga Indonesia secara nasional telah menurun.
Rujukan WHO dan kerangka Nurturing Care digunakan untuk menjelaskan pentingnya pengasuhan responsif pada masa perkembangan anak usia dini. Pedoman WHO tahun 2020 secara khusus memuat rekomendasi bagi anak dalam tiga tahun pertama kehidupan, sehingga tidak dijadikan bukti langsung tentang perilaku moral seluruh kelompok usia.
Global Parenting Support Framework dari UNICEF digunakan sebagai dasar pembahasan mengenai perlunya dukungan lintas sektor bagi orang tua dan pengasuh.
Gambaran keluarga dan percakapan dalam artikel merupakan ilustrasi editorial, bukan hasil wawancara atau peliputan lapangan EMMANUS.
Usulan mengenai komunikasi, keteladanan, pembagian tanggung jawab, dan dukungan komunitas bukan metode yang diklaim berhasil pada seluruh keluarga. Penerapannya perlu mempertimbangkan usia anak, kondisi pengasuhan, serta keselamatan dan hak anak.
EMMANUS tidak menyalahkan orang tua yang bekerja atau keluarga dengan keterbatasan ekonomi sebagai penyebab kemunduran bud i pekerti.






