Profil

Filosofi Cantik Nusantara di Tangan Martha Tilaar

Dari manuskrip keraton dan ramuan jamu hingga industri kosmetik modern, Martha Tilaar menempuh perjalanan untuk mengembangkan pengetahuan kecantikan tradisional Indonesia.

Oleh Ridwan

Martha Tilaar, tokoh industri kecantikan Indonesia yang mengembangkan jamu dan kosmetik berbasis kekayaan alam serta budaya lokal.
Martha Tilaar mengembangkan kecantikan modern dengan mengambil inspirasi dari jamu, bahan alam, dan budaya Indonesia. Foto: Instagram martha_tilaar
Diterbitkan

Kecantikan perempuan Nusantara tidak bermula dari industri kosmetik. Jauh sebelum produk perawatan modern hadir di pasaran, masyarakat telah mengenal beragam cara merawat tubuh dengan memanfaatkan tumbuhan, rempah, dan ramuan tradisional. Pengetahuan itu tumbuh melalui pengalaman, kebiasaan keluarga, serta praktik yang diwariskan antargenerasi.

Jamu menjadi salah satu bagian dari khazanah tersebut. Selain digunakan untuk menjaga kebugaran, sejumlah ramuan tradisional juga berkaitan dengan perawatan tubuh perempuan. Pengetahuan mengenai bahan, cara meracik, dan penggunaannya berkembang dalam lingkungan masyarakat yang memiliki tradisi berbeda-beda.

Martha Tilaar termasuk tokoh yang berusaha membawa sebagian pengetahuan tersebut ke dalam dunia kecantikan modern. Ia tidak menciptakan tradisi kecantikan Indonesia, tetapi menelusuri sejumlah warisan yang telah ada, mempelajarinya, lalu mengembangkannya melalui layanan perawatan dan produk kosmetik.

Ketika Martha meninggal dunia pada 14 Oktober 2026 dalam usia 89 tahun, warisannya tidak hanya berkaitan dengan perusahaan yang dibangun sejak 1970. Perjalanannya juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan tradisional dapat menjadi sumber pengembangan industri sekaligus pintu masuk untuk mengenali kembali kekayaan budaya Indonesia.

Menelusuri Pengetahuan dari Keraton

Lahir di Gombong, Kebumen, pada 4 September 1937, Martha menempuh pendidikan di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta sebelum memperdalam ilmu kecantikan di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, Amerika Serikat.

Pengalamannya mempelajari kecantikan di luar negeri mendorongnya melihat kembali potensi pengetahuan dari tanah kelahirannya. Ia menyadari bahwa kecantikan Indonesia memiliki sumber yang tidak selalu ditemukan dalam buku-buku kecantikan modern.

Martha kemudian menelusuri tradisi perawatan perempuan Jawa, termasuk melalui manuskrip lama yang berkaitan dengan lingkungan keraton. Ia mempelajari resep kecantikan dari Keraton Mangkunegaran di Solo dan Keraton Yogyakarta. Dalam prosesnya, ia juga belajar dari orang-orang yang memahami tradisi perawatan tersebut.

Dalam wawancara dengan detikNews pada 2010, Martha mengenang perjalanannya ke Mangkunegaran untuk meminta izin mempelajari resep kecantikan keraton. Ia juga mendalami pengetahuan di Yogyakarta bersama BRA Muryuwati Suyono.

Penelusuran tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan kecantikan tradisional tidak cukup dipahami sebagai kumpulan resep. Ada sejarah, pengalaman, dan konteks budaya yang menyertainya. Manuskrip menjadi salah satu sumber untuk mengenali praktik masa lalu, sementara orang-orang yang menguasai tradisi berperan dalam meneruskan pengetahuan melalui pengalaman langsung.

Martha Tilaar menghadiri pertemuan Leader Summit 2018 di New York setelah menerima pengakuan sebagai SDG Pioneers 2018. Foto: Martha Tilaar Group

Tradisi keraton Jawa tentu bukan gambaran keseluruhan kecantikan perempuan Nusantara. Berbagai daerah memiliki bahan, praktik, dan pemahaman sendiri mengenai perawatan tubuh. Namun, bagi Martha, penelusuran tersebut menjadi salah satu jalan untuk mengembangkan pendekatan kecantikan yang bertumpu pada pengetahuan Indonesia.

Jamu Bukan Sekadar Produk

Jamu menjadi salah satu bagian penting dalam kiprah Martha Tilaar di dunia kecantikan. Ketertarikannya pada bahan alami dan ramuan tradisional kemudian berkembang dalam pendekatannya terhadap produk kecantikan berbasis kekayaan alam Indonesia. Bagi Martha, jamu tidak semata-mata berkaitan dengan produk yang dipasarkan, melainkan juga pengetahuan yang perlu dikembangkan dan dilestarikan.

Dalam wawancara dengan Liputan6 pada 2013, Martha menyampaikan keprihatinannya terhadap jamu yang dicampur bahan kimia obat. Ia juga menyoroti keinginan sebagian masyarakat untuk memperoleh hasil secara instan. Persoalan tersebut memperlihatkan pentingnya pemahaman mengenai bahan yang digunakan serta keamanan produk yang dikonsumsi.

Perhatiannya terhadap jamu juga tercermin dalam pengembangan Kampoeng Djamoe. Dalam wawancara Enam+ Liputan6 SCTV pada 2022, Martha menceritakan upayanya mengembangkan kawasan tersebut sebagai bagian dari ikhtiar mempertahankan kekayaan tanaman Indonesia. Ia menyebut hampir 700 jenis tanaman berada di sana dan menceritakan upayanya mengenalkan kepedulian terhadap lingkungan kepada anak-anak. 

Martha juga menekankan pentingnya riset, ilmu pengetahuan, dan teknologi dalam mengembangkan kekayaan alam Indonesia. 

Dalam wawancara yang sama, ia menceritakan perjuangannya bersama Profesor Gumilar untuk mengembangkan pendidikan herbal medicine. Baginya, pelestarian pengetahuan tradisional perlu berjalan bersama penelitian dan kerja sama agar dapat berkembang serta diteruskan kepada generasi berikutnya.

Pandangan tersebut memberi dimensi lain pada kiprah Martha. Jamu bukan hanya bahan yang dapat dikembangkan menjadi produk komersial, tetapi juga bagian dari pengetahuan budaya yang membutuhkan pemahaman, penelitian, dan penggunaan yang bertanggung jawab. Nilai tradisi tetap penting, sementara klaim manfaat kesehatan perlu didukung bukti ilmiah dan memperhatikan keamanan.

Pada 2016, Martha Tilaar menerima Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Joko Widodo. Penghargaan tersebut merupakan pengakuan atas kontribusinya di bidang kebudayaan. Dalam konteks kiprahnya, pengembangan jamu dan pemanfaatan bahan alami menjadi salah satu bagian dari upayanya menghubungkan pengetahuan tradisional dengan kehidupan modern.

Martha Tilaar menerima Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Joko Widodo atas kontribusinya mengembangkan jamu sebagai bagian dari budaya hidup sehat Indonesia. Foto: Martha Tilaar Group

Dari Salon Menjadi Industri Kecantikan

Martha mulai merintis usaha kecantikan pada 1970 dengan membuka salon di garasi rumah orang tuanya di kawasan Menteng, Jakarta. Dari layanan salon, usahanya berkembang dengan memasukkan perawatan berbasis bahan herbal tradisional.

Pada 1977, Martha bersama mitra usahanya mendirikan PT Martina Berto dan mengembangkan Sariayu, merek yang kemudian menjadi salah satu identitas utama bisnisnya. Perusahaan itu memperluas kegiatan ke produksi kosmetik, produk perawatan tubuh, dan jamu modern.

Seiring waktu, kelompok usaha Martha Tilaar berkembang dengan berbagai merek, antara lain Biokos, Caring Colours, Belia, dan PAC. Usahanya juga mencakup layanan salon dan spa, manufaktur, distribusi, serta pendidikan kecantikan melalui Puspita Martha International School.

Perkembangan bisnis tersebut penting dalam membaca warisan Martha. Ia membangun jalur yang memungkinkan sebagian inspirasi dari tradisi perawatan Indonesia hadir dalam bentuk produk dan layanan modern. Bahan alami dan unsur budaya lokal memperoleh ruang dalam industri yang juga diisi berbagai produk dari luar negeri.

Pada 1987, Sariayu memperkenalkan tren warna yang terinspirasi keragaman budaya Nusantara. Pendekatan tersebut memperlihatkan upaya menjadikan kekayaan Indonesia sebagai sumber inspirasi, bukan sekadar mengikuti kecenderungan kecantikan dari pasar internasional.

Di sinilah bisnis menjadi bagian dari warisan Martha: bukan hanya sebagai perusahaan yang berkembang, tetapi juga sebagai jalur untuk memperkenalkan sebagian pengetahuan kecantikan Indonesia kepada konsumen yang lebih luas.

Kecantikan sebagai Pengetahuan dan Pendidikan

Martha juga menghubungkan kecantikan dengan pemahaman mengenai keseimbangan lahiriah dan batiniah. Salah satu konsep yang dikaitkan dengan pendekatannya ialah Rupasampat Wahyabiantara, yang dipahaminya sebagai perpaduan kecantikan luar dan dalam.

Gagasan itu memperlihatkan bahwa pembahasan kecantikan tidak selalu terbatas pada penampilan fisik. Akan tetapi, konsep tersebut perlu ditempatkan sesuai konteks budaya yang dirujuknya, bukan dianggap mewakili seluruh pandangan masyarakat Nusantara mengenai kecantikan.

Selain mengembangkan produk dan layanan, Martha membangun pendidikan kecantikan melalui Puspita Martha. Pendidikan ini menjadi bagian lain dari perjalanan usahanya: keterampilan profesional dapat dipelajari dan diteruskan melalui lembaga, bukan hanya melalui pengalaman kerja.

Martha Tilaar meluncurkan kembali buku Kecantikan Perempuan Timur, yang merangkum pengalaman dan kiprahnya selama setengah abad di dunia kecantikan. Foto: Martha Tilaar Group

Melalui Puspita Martha, Martha Tilaar turut membuka ruang bagi generasi berikutnya untuk mempelajari keterampilan di bidang kecantikan. Upaya ini melengkapi kiprahnya dalam mengembangkan produk dan layanan yang terinspirasi oleh tradisi Indonesia. 

Di sisi lain, warisan kecantikan Nusantara tidak berhenti pada apa yang dikembangkan Martha. Pengetahuan tentang bahan alami, cara meracik, dan praktik perawatan tubuh juga hidup di tengah masyarakat dengan tradisi yang beragam.

Melalui usaha dan pendidikan kecantikan, Martha Tilaar membuka salah satu jalan agar keterampilan tersebut berkembang di tengah perubahan zaman. 

Melalui Puspita Martha, Martha Tilaar turut membuka ruang bagi generasi berikutnya untuk mempelajari keterampilan di bidang kecantikan. Pendidikan ini melengkapi kiprahnya dalam mengembangkan produk dan layanan yang terinspirasi oleh tradisi Indonesia. 

Di sisi lain, pengetahuan kecantikan Nusantara tidak hanya hidup dalam industri, tetapi juga diwariskan melalui praktik perawatan tubuh dan pemanfaatan bahan alami di berbagai lingkungan masyarakat.

Warisan yang Lebih Luas dari Sebuah Merek

Martha Tilaar meninggalkan jejak dalam perkembangan industri kecantikan Indonesia. Ia mengembangkan usaha yang memperkenalkan produk berbasis bahan alami, sekaligus membawa sebagian inspirasi dari tradisi kecantikan Indonesia ke pasar modern. 

Ketertarikannya pada jamu dan pengetahuan kecantikan keraton menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Namun, tradisi kecantikan perempuan Nusantara jauh lebih luas daripada produk yang beredar di pasaran.

Pengetahuan tentang bahan alami, racikan, dan perawatan tubuh tumbuh dalam beragam kebudayaan serta diwariskan melalui pengalaman antargenerasi. Karena itu, keberlanjutannya tidak cukup bergantung pada industri, tetapi juga memerlukan penelitian, dokumentasi, dan keterlibatan masyarakat yang menjalankan tradisi tersebut.

Kiprah Martha Tilaar memperlihatkan salah satu cara tradisi dapat memperoleh ruang dalam kehidupan modern. Sementara itu, menjaga keberlanjutan warisan kecantikan Nusantara berarti memastikan pengetahuan yang melandasinya tetap dipahami dan diwariskan, melampaui keberadaan sebuah produk atau merek.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar sejak tahun 2000, lalu melintasi berbagai media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi untuk program berita, wisata, petualangan, budaya, dan entertainment. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga dinamika politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Profil

Lihat semua →
Rock in Peace, Doddy Katamsi

Rock in Peace, Doddy Katamsi

Musisi yang dikenal lewat Elpamas dan formasi awal Voodoo ini membimbing penyanyi lintas generasi, dari Ari Lasso dan Ariel NOAH hingga Pamungkas dan Nadin Amizah.

Ridwan

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →
Perjalanan ke Kei Tidak Berakhir di Pantai

Perjalanan ke Kei Tidak Berakhir di Pantai

Hamparan pasir putih, laut jernih, dan kehidupan masyarakat pesisir menjadi daya tarik utama Kepulauan Kei di Maluku Tenggara. Lebih dari keindahan alamnya, kepulauan ini menyimpan kekayaan tradisi bahari, kesenian, dan kuliner lokal yang memperkaya pengalaman berwisata.

Ridwan