Profil

Vickry dan Cerita yang Terdengar dari Kaset Pita

Perjalanan Vickry bersama kaset pita, dari lapak di sekitar kampus hingga D.U. 68 Musik, dan cerita manusia yang tetap hidup dalam rilisan fisik.

Oleh Ridwan

Vickry dan Cerita yang Terdengar dari Kaset Pita
Vickry (Kiri) bersama seorang kolektor musik asal Malaysia menunjukkan CD dan kaset yang tengah dicari di D.U. 68 Musik, Bandung. Foto: Irham Vickry
Diterbitkan

Bagi sebagian orang, kaset pita hanyalah benda untuk menyimpan musik. Bagi Vickry, kaset pita sejak lama bukan sekadar benda untuk menyimpan musik. Dari kaset, ia mengenali musik, menyimpan kenangan, dan menemukan cerita untuk dibagikan kepada orang lain.

Saya masih ingat pertama kali bertemu Irham Vickry, atau Vickry, kemungkinan pada akhir 1994. Saat itu, Vickry masih mahasiswa muda dan sudah berjualan kaset di sekitar lapangan basket kampus Unpad, Dipati Ukur, Bandung.

Kaset-kaset musik Barat dan Indonesia memenuhi lapaknya, termasuk rock dan metal yang ketika itu banyak dicari anak muda. Namun, yang membuat Vickry mudah diingat bukan hanya kaset yang dijualnya. Ia selalu punya cerita tentang kaset-kaset itu untuk dibagikan kepada calon pembelinya.

Lebih dari tiga dekade kemudian, saya kembali beberapa kali datang ke D.U. 68 Musik di Jalan Dipati Ukur 68, Bandung. Nama toko itu merujuk langsung pada alamatnya. Letaknya hanya beberapa ratus meter dari kawasan kampus tempat dulu saya melihat Vickry berjualan kaset.

Jaraknya memang tidak jauh, tetapi perjalanan yang terjadi di antara dua titik itu sangat panjang.

Dari lapak-lapak di sekitar kampus, perjalanan Vickry berlanjut ke D.U. 68 Musik yang berdiri sekitar tahun 2000. Bersamanya, kaset dan rilisan fisik melewati perubahan selera musik dan tren yang silih berganti, sementara cara orang mendapatkan dan mendengarkan musik ikut bergeser, dari membeli kaset secara langsung hingga mengakses musik melalui internet.

Cerita tentang kedekatan Vickry dengan kaset pita ternyata bermula jauh sebelum berjualan di lapak-lapak kampus dan sebelum D.U. 68 Musik berdiri, bahkan sebelum Bandung menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Musik yang datang dari rumah

Musik pertama kali hadir dalam kehidupan Vickry di tanah kelahirannya, Aceh, pada masa ketika musik modern belum terlalu menonjol dalam kehidupan sehari-hari. Gambus, qasidah, barzanji, orkes Melayu, hingga dangdut versi Oma Irama menjadi bunyi-bunyi yang lebih dahulu dikenalnya.

Di lingkungan keluarga, para pekerja di toko dan usaha kerajinan emas milik keluarganya kerap memutar musik melalui tape boombox ketika bekerja pada 1970-an. Bunyi-bunyi itu mungkin awalnya hanya menjadi latar kehidupan sehari-hari, tetapi perlahan mengendap dalam ingatan.

Menjelang akhir 1970-an dan awal 1980-an, ruang dengarnya semakin lebar. Om-om Vickry yang mengontrak di rumah sering menyetel lagu-lagu populer bersama teman-teman sekolahnya. Lagu-lagu Chrisye, Jamal Mirdad, Bee Gees, Boney M, The Beatles, CCR, Tina Charles hingga musik dari film Grease pun mulai akrab di telinganya.

Kaset pertama yang dibeli Vickry dengan uang jajannya sendiri adalah soundtrack Flashdance.

Saat itu ia baru masuk SMP dan tertarik karena tetangga di sebelah toko hampir setiap hari memutar lagu dari kaset tersebut dengan suara keras. Musik disko dan new wave dari soundtrack itu kemudian menjadi salah satu pintu awal Vickry memasuki dunia rilisan fisik.

Setelah itu, musik anak muda semakin banyak masuk ke kehidupannya. Tayangan Betamax dan VHS sewaan ikut memperluas pengetahuannya tentang musik. Pada pertengahan 1980-an, ketika duduk di SMA, Vickry mulai menyukai rock dan metal.

Queen, Scorpions, Madonna, Culture Club, Duran Duran, A-Ha, Alphaville, Michael Jackson, Cyndi Lauper, Iron Maiden, STYX, Kansas dan Deep Purple berada dalam daftar musik yang kemudian dibelinya. Musik Indonesia juga tidak lepas dari perhatiannya, dari Vina Panduwinata, Andi Meriem, K3S, Hari Moekti, Harry Roesli hingga Iwan Fals.

Untuk musik pop yang mendayu-dayu, Vickry mengaku jarang membelinya. Ia lebih menyukai musik yang gembira atau yang keras sekalian. Basis selera itulah yang kemudian dibawanya ketika menjadi anak kos dan mahasiswa di Bandung pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an.

Suasana D.U. 68 Musik ketika penggemar rilisan fisik menelusuri rak, mencari kaset, CD, dan rekaman yang ingin dibawa pulang.

Dari Dewi Sartika ke Dipati Ukur

Sekitar 1992 atau 1993, ketika masih menjadi mahasiswa Sastra Rusia Unpad, Vickry bercerita bahwa dirinya mulai mencoba berjualan kaset bersama seorang teman dari ITB.

Saat mulai berjualan, Vickry dan temannya membuka lapak di Jalan Dewi Sartika, dekat Alun-alun Bandung. Sambutan pembeli ternyata ramai. Dari sana, Vickry mulai mencari barang dagangan ke berbagai tempat. Lapaknya kemudian berpindah ke kawasan Unpad dan ITB, terutama pada hari Jumat.

Sebagai anak kos, hasil berjualan membuatnya tidak terlalu bergantung pada kiriman orang tua. Namun, Vickry juga tidak ingin kegiatan tersebut membuat kuliahnya terbengkalai. Ia tetap menyelesaikan pendidikan dan bahkan membiayai kuliahnya dari hasil berjualan.

Ketika krisis moneter dan ekonomi datang, dunia kerja ikut terpuruk. Banyak pekerja terkena PHK, sementara Vickry memilih terus menjalankan usaha kecil yang sudah ada. Untuk memudahkan membawa barang dari tempat kos ke lapak di Unpad dan ITB, ia bahkan membeli sebuah Jeep tua.

Pada masa itu, kaset pita menjadi barang dagangan utama. CD belum banyak, sementara piringan hitam belum mengalami kebangkitan seperti yang terlihat sekarang. Jika ada kaset bagus yang sesuai dengan seleranya, Vickry memisahkannya untuk koleksi pribadi.

Apa yang semula dilakukan Vickry karena kebutuhan sebagai anak kos dan sedikit iseng itu kemudian berkembang menjadi pekerjaan yang berlangsung puluhan tahun.

D.U. 68 Musik dan perjalanan yang terus berjalan

Dari lapak-lapak di sekitar kampus itu, perjalanan Vickry kemudian menemukan tempat yang lebih permanen. Sekitar 2000, D.U. 68 Musik berdiri di Jalan Dipati Ukur 68, Bandung. Nama tersebut sekaligus menjadi alamat dan identitas toko.

Tempat itu kemudian menjadi ruang yang mempertemukan Vickry dengan semakin banyak orang. Ada yang datang mencari kaset dan CD, ada yang berburu piringan hitam, ada yang ingin menemukan kembali rilisan yang pernah dimiliki, dan ada pula yang datang untuk sekadar berbincang tentang musik.

Cara menjual pun ikut berubah. Jika pada awalnya pembeli datang langsung ke lapak dan toko, perkembangan teknologi kemudian membawa D.U. 68 Musik ke jalur penjualan online. Benda yang sama—kaset, CD, vinyl, dan rilisan fisik lainnya—menempuh jalan yang berbeda untuk sampai kepada pendengarnya.

Bagi Vickry, perubahan itu tidak membuat hubungan dengan rilisan fisik ikut berakhir. Justru dari perjalanan panjang itulah terlihat bahwa kaset memiliki tempat yang berbeda dalam kehidupan pribadinya.

Ketika ditanya tentang perubahan medium musik dari piringan hitam, kaset, CD, MP3 hingga streaming, Vickry mengatakan tidak banyak membeli CD ketika masih menjadi anak kos karena harganya relatif mahal. Piringan hitam baru mulai dikoleksinya belakangan, ketika sudah tinggal di Bandung pada akhir 1990-an atau 2000-an.

Untuk musik digital dan streaming, pilihannya lebih tegas. “MP3, digital, streaming = tidak punya dan tidak ingin punya,” katanya.

Vickry menegaskan bahwa dirinya bukan orang yang anti terhadap perubahan teknologi. Ia tahu kemajuan tidak mungkin dilawan. Namun, secara pribadi, ia merasa lebih nyaman dengan rilisan fisik, terutama yang analog.

“Format kaset pita adalah yang paling manusiawi buat saya,” ujarnya. Harganya terjangkau, terutama jika dibeli di pasar bekas, dan variasi artis serta genre yang tersedia juga lebih banyak.

Vickry berbincang dengan awak televisi tentang perjalanan panjangnya bersama kaset pita dan rilisan musik fisik.

Berdagang untuk mengumpulkan

Hubungan Vickry dengan kaset rupanya tidak pernah sepenuhnya berangkat dari logika perdagangan. Ketika ditanya kapan mulai merasa bahwa rilisan fisik bukan sekadar barang dagangan, jawabannya justru sejak awal.

“Saya bukanlah pedagang murni dan profesional sebagaimana umumnya. Sebenarnya berdagang cuma kedok untuk mengumpulkan koleksi pribadi secara gampang dan murah,” kata Vickry.

Kalimat itu menjelaskan mengapa aktivitas berdagang dan mengoleksi selama bertahun-tahun sulit dipisahkan. Lapak dan kemudian toko menjadi tempat Vickry bertemu dengan benda-benda musik yang dicari orang lain sekaligus menemukan sesuatu yang ingin disimpannya sendiri.

Bagi Vickry, sebuah rilisan fisik menjadi menarik karena bisa memiliki ikatan emosional. Alasannya bisa nostalgia karena pernah mendengarkan dan memilikinya, kualitas album, kelangkaan, bentuk fisik yang artistik, sejarah sebuah album, atau bahkan nilai investasi.

Tidak ada alasan tunggal untuk mengoleksi. Yang penting, menurut Vickry, koleksi tersebut membuat pemiliknya bahagia dan membawa sesuatu yang positif bagi dirinya maupun orang-orang di sekitarnya.

Kaset yang membawa seseorang kembali

Puluhan tahun berinteraksi dengan kolektor membuat Vickry melihat bahwa sebuah kaset kadang dapat membuka kembali sesuatu yang lebih besar daripada musik yang tersimpan di dalamnya.

Pernah seorang profesor senior dari ITB datang ke D.U. 68 Musik mencari kaset Bimbo keluaran 1970-an. Setelah menemukannya, sang profesor meminta kaset tersebut diputar. Sambil membuka cover kaset, ia mendengarkan dalam diam hingga air matanya menetes.

Musik itu membawanya kembali ke Bandung pada masa muda. Ia mengingat kota yang masih sepi, jalan Dago yang belum seramai sekarang, udara yang lebih dingin, perjalanan bersepeda dari daerah atas menuju kota, serta teman-teman yang dahulu mengisi hidupnya.

Sebagian dari mereka sudah meninggal, sebagian tinggal di luar negeri, sementara yang lain tidak lagi diketahui kabarnya. Sebuah kaset kemudian menjadi pintu masuk bagi berbagai ingatan yang bercampur antara kesedihan dan kegembiraan. Menurut sang profesor, pengalaman seperti itu bahkan dapat menjadi semacam terapi agar otak tidak cepat pikun.

Bagi Vickry, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kaset dapat menjadi jembatan antara musik, ingatan dan antargenerasi.

Ada pula ritual kecil yang ikut membuat pengalaman itu berbeda dari streaming: casing mika yang disentuh, cover kertas yang dibolak-balik, pita yang kadang harus diputar kembali menggunakan pensil, sampai aroma kertas tua yang muncul dari dalamnya.

Kaset tidak hanya didengar. Ia dapat disentuh, dilihat, disimpan, dan pada saat tertentu membuka kembali sebuah bagian kehidupan.

Vickry dan para penggemar rilisan fisik berbincang di tengah koleksi kaset dan CD di D.U. 68 Musik, Bandung.

Generasi yang lahir setelah kaset

Yang menarik, pengalaman tersebut kini tidak hanya dimiliki orang-orang yang tumbuh bersama kaset. Vickry justru melihat anak-anak muda datang mencari rilisan fisik dari masa yang tidak mereka alami.

Menurut Vickry, sebagian generasi muda mengenal era kejayaan rilisan fisik dari sejarah, cerita, atau orang-orang yang lebih tua. Mereka kemudian ingin memasuki “lorong waktu” menuju masa tersebut.

Ada pula ketertarikan pada benda fisiknya. Streaming memungkinkan seseorang mengakses jutaan lagu tanpa harus memiliki benda apa pun. Kaset dan piringan hitam menawarkan pengalaman sebaliknya: ada sesuatu yang bisa disentuh dan dirasakan.

Sebagian anak muda yang pernah berbincang dengan Vickry bahkan menganggap suara analog lebih “manusiawi”. Mereka menggambarkan suara streaming seperti suara mesin atau robot, sementara kaset dan piringan hitam dianggap masih memiliki “soul”.

Namun, tidak semua orang datang dengan alasan yang sama. Ada yang mengikuti tren, mengalami fear of missing out (FOMO) atau perasaan takut ketinggalan dari tren yang sedang berlangsung, menyukai barang jadul atau antik, atau memang tertarik pada kelangkaan sebuah rilisan. Musik Indonesia pun kembali dicari karena ada rilisan yang langka dan ada pula yang dianggap memiliki kualitas musik yang kuat.

Ruang yang mempertemukan cerita

Selama bertahun-tahun, D.U. 68 Musik menjadi ruang pertemuan bagi orang-orang dengan hubungan yang berbeda terhadap musik. Ada kolektor senior  yang mencari kembali kaset yang pernah menemani masa mudanya, musisi yang berburu rilisan miliknya atau album tertentu, mahasiswa yang membutuhkan bahan penelitian, hingga anak muda yang ingin mengenal musik dari zaman yang tidak pernah mereka alami.

Orang-orang yang datang pun tidak hanya berasal dari Bandung atau kota-kota lain di Indonesia. Pencinta musik dari berbagai negara cukup sering datang menemui Vickry, mencari rilisan fisik Indonesia yang sulit mereka temukan di tempat lain.

Ada pengunjung dari Jepang yang mengenal D.U. 68 Musik dari cerita teman-temannya, kolektor dari Taiwan yang mencari musik Indonesia, hingga pengunjung dari Malaysia yang datang bukan hanya untuk membeli CD, tetapi juga menghabiskan waktu berbincang tentang musik, kampus, pertunjukan dan kehidupan. Seorang pengunjung Jepang bahkan pernah membawa pulang satu kotak besar berisi ratusan kaset untuk dibawa ke Kyoto.

Vickry bersama sejumlah kolektor musik dari mancanegara di D.U. 68 Musik, tempat pertemuan para pencari rilisan fisik dari berbagai generasi.

Cerita-cerita tersebut menunjukkan bahwa bagi Vickry, D.U. 68 Musik bukan hanya tempat untuk memperjualbelikan rilisan fisik. Rak-rak kaset, CD dan piringan hitam menjadi titik temu orang-orang dengan latar, generasi dan negara yang berbeda.

Sebagian datang dengan daftar rilisan yang ingin dicari, tetapi percakapan sering membawa mereka kepada hal-hal lain yang tidak ada dalam daftar itu.

Di tempat seperti itulah Vickry terus berada. Pengetahuan yang dimilikinya tidak hanya berasal dari benda-benda yang tersimpan di sekelilingnya, tetapi juga dari puluhan tahun berinteraksi dengan pedagang, kolektor, musisi, mahasiswa dan pendengar dari berbagai generasi.

Mahasiswa dari berbagai bidang, seperti sejarah, antropologi, seni musik, DKV, sosiologi dan kajian budaya, juga datang mencari data mengenai perkembangan musik analog dan sejarah musik lokal.

Yang dicari tidak selalu informasi tertulis. Zine lama, artwork kaset, buklet lirik hingga rilisan independen dari era 1990-an dan awal 2000-an dapat menjadi bahan penting karena sebagian tidak pernah masuk ke platform digital.

Pertanyaan mereka membuat Vickry tidak hanya berhadapan dengan orang yang mencari sebuah kaset atau album, tetapi juga dengan generasi yang ingin memahami cerita di balik benda-benda tersebut.

Dari pertemuan semacam itu, pengetahuan Vickry tentang dunia rilisan fisik ikut berpindah melalui percakapan dengan orang-orang dari berbagai generasi yang datang mencari musik, bertanya tentang rilisan lama, atau mencoba memahami sejarah di baliknya.

Orang datang dengan pertanyaan tentang musik dan rilisan yang mereka cari. Percakapan yang terjadi kemudian membawa mereka pulang dengan sesuatu yang lebih dari sekadar kaset atau CD: pengetahuan, kenangan, dan cerita baru tentang musik.

Cerita yang masih terdengar

Medium musik terus berubah. Kaset berganti CD, CD berganti file digital, lalu streaming membuat jutaan lagu dapat diakses tanpa harus memiliki benda fisiknya.

Saat wawancara ini dilakukan dengan Vickry pada 8 Oktober 2026, kaset pita sudah bukan lagi medium utama untuk mendengarkan musik. Namun, kaset justru kembali diproduksi oleh sejumlah musisi dan label, dan dicari oleh orang-orang yang ingin memiliki karya dalam bentuk fisik.

Kaset yang kembali hadir itu pun tidak selalu dibeli untuk menjadi medium utama mendengarkan musik. Sebagian orang mungkin menyimpannya sebagai koleksi, kenang-kenangan, atau cara memiliki sebuah karya dalam bentuk fisik, sementara musiknya lebih sering didengarkan melalui CD, file digital atau layanan streaming.

Di tengah perubahan tersebut, ada sesuatu yang menurut Vickry tidak ikut berubah: alasan manusia mendengarkan musik. “Musik tetap menjadi pelarian, penyembuh luka, pembakar semangat, dan cerminan perasaan pendengarnya,” ujarnya.

Perjalanan Vickry memperlihatkan perubahan itu dengan cara yang sangat personal.

Dari musik yang terdengar dari tape boombox di Aceh, kaset Flashdance yang dibeli dengan uang jajan, lapak mahasiswa di Dewi Sartika hingga D.U. 68 Musik di Jalan Dipati Ukur 68, benda dan medium musik terus berubah, sementara manusia yang mencarinya tetap membawa kebutuhan yang hampir sama: ingin mengingat, merasakan, menemukan, atau sekadar ditemani oleh musik.

Kini, pada usia 57 tahun, Vickry masih berada di tengah perjalanan yang dimulainya dari lapak kaset hingga D.U. 68 Musik. Perjalanan itu menunjukkan bahwa kaset pita bukan sekadar benda yang menyimpan masa lalu.

Setiap kali sebuah pita ditemukan, disentuh, dimasukkan ke pemutar, lalu kembali mengeluarkan suara dari masa yang pernah lewat, ada cerita yang ikut terdengar. Selama masih ada orang yang mencarinya, menyimpannya, atau mendengarkannya, cerita itu akan terus menemukan pendengarnya.

Mungkin, suatu hari, ketika seseorang datang mencari kaset di antara rak-rak D.U. 68 Musik, Vickry masih ada di sana. Lalu sebuah percakapan kembali dimulai, tentang sebuah kaset, sebuah lagu, atau kenangan yang ternyata belum selesai diceritakan.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Baca Selanjutnya

Artikel terkait