Profil

Aman Datuk Madjoindo, Pengarang di Balik Tokoh Si Doel

Dari Balai Pustaka, Aman Datuk Madjoindo menulis, menyadur, dan menerjemahkan cerita yang memperkaya khazanah sastra anak Indonesia.

Oleh Ridwan

Potret Aman Datuk Madjoindo, pengarang novel Si Dul Anak Jakarta
Aman Datuk Madjoindo (1896–1969), sastrawan asal Solok yang dikenal melalui novel Si Doel Anak Jakarta dan kiprahnya dalam perkembangan sastra anak Indonesia. Foto: ensiklopedia.kemdikbud.go.id
Diterbitkan

Tokoh Si Doel telah melewati perjalanan panjang dalam kebudayaan populer Indonesia. 

Berawal dari novel Si Doel Anak Betawi karya Aman Datuk Madjoindo, kisah seorang anak Betawi ini kemudian diangkat ke layar lebar dan berkembang menjadi sinetron yang dikenal oleh beberapa generasi pembaca dan penonton.

Popularitas Si Doel membuat tokohnya lebih mudah dikenali dibandingkan sosok pengarang yang melahirkannya. Padahal, Aman memiliki perjalanan panjang dalam dunia sastra dan penerbitan. 

Karya-karyanya tidak hanya berkisah tentang kehidupan masyarakat Betawi, tetapi juga memperlihatkan perhatian terhadap bacaan anak dan perkembangan sastra Indonesia.

Lahir di Supayang, Solok, Sumatera Barat, pada 1896, Aman Datuk Madjoindo menjadi salah satu nama penting dalam perkembangan sastra anak Indonesia. 

Peringatan 130 tahun kelahirannya pada 2026 menjadi momentum untuk mengenali kembali perjalanan kepengarangan serta warisan karya yang ditinggalkannya.

Dari Supayang Menuju Balai Pustaka

Pendidikan dasar Aman ditempuh di Inlandsche School atau Sekolah Bumiputera pada 1906–1911. 

Sejak muda, Aman memiliki cita-cita menjadi pengarang. Keinginan tersebut mendorong Aman mempelajari bahasa Belanda melalui kursus sore di Meester Cornelis, kawasan yang sekarang dikenal sebagai Jatinegara, Jakarta.

Penguasaan bahasa menjadi bekal penting bagi perjalanan kepengarangannya. Aman tidak hanya ingin menulis, tetapi juga bercita-cita menjadi redaktur dan penerjemah buku anak-anak ke dalam bahasa Melayu.

Setelah menyelesaikan kursus, Aman memperoleh kesempatan bekerja sebagai redaktur. Pekerjaan tersebut memberinya ruang untuk menyadur, menerjemahkan, dan menghasilkan karya sendiri.

Sebelum menetap dalam dunia penerbitan, perjalanan hidup Aman tidak selalu berjalan mulus. Aman pernah menjadi guru di Solok pada 1912–1914, kemudian mengajar di Sulit Air, Padang, pada 1914–1919.

Pada 1919, Aman merantau ke Jakarta dan bekerja di sebuah toko buku. Setelah keluar dari pekerjaan tersebut, Aman sempat bekerja sebagai kuli di Tanjung Priok.

Tahun berikutnya menjadi titik penting dalam perjalanan kariernya. Pada 1920, Aman bergabung dengan Balai Pustaka yang ketika itu masih berkaitan dengan lembaga kesenian Kunstring di Gondangdia Lama.

Aman bekerja di bagian redaksi bahasa Melayu bersama sejumlah sastrawan dan redaktur, antara lain Nur Sutan Iskandar, Tulis Sutan Sati, Sutan Muhammad Zein, dan Sutan Pamuntjak.

Lingkungan penerbitan tersebut memberi kesempatan bagi Aman untuk mengembangkan kemampuan menulis dan mengolah cerita. Dalam riwayat hidupnya, Aman menyebut Sutan Pamuntjak sebagai sosok yang membimbing dan mendorong perjalanan kepengarangannya.

Aman mengakhiri pekerjaannya di Balai Pustaka pada 30 Juni 1958. Sehari kemudian, Aman mulai bekerja di Penerbit Djambatan yang dipimpin Sutan Pamuntjak.

Pengalaman panjang di dua lingkungan penerbitan tersebut memperlihatkan keluasan kerja Aman. Kepengarangannya tidak hanya berkaitan dengan penciptaan cerita, tetapi juga penyuntingan, penerjemahan, dan pengembangan bahan bacaan.

Si Doel dan Kehidupan Masyarakat Betawi

Karya yang paling melekat dengan nama Aman adalah Si Doel Anak Betawi. Novel ini pertama kali diterbitkan Balai Pustaka pada 1932. Pada penerbitan berikutnya, judulnya berubah menjadi Si Doel Anak Djakarta.

Ceritanya berpusat pada Abdul Hamid atau Si Dul, seorang anak dengan berbagai kenakalan dan pengalaman keseharian dalam lingkungan masyarakat Betawi sebelum perang.

Aman menggunakan dialek Betawi dalam cerita tersebut. Pilihan bahasa itu bukan sekadar cara membangun percakapan tokoh, melainkan juga menjadi bagian dari upayanya memperkenalkan kehidupan masyarakat Betawi kepada pembaca di luar lingkungan budaya tersebut.

Dalam keterangan riwayat kepengarangannya, Aman menjelaskan bahwa penggunaan dialek Betawi dimaksudkan agar pembaca di luar Betawi, baik di Jakarta maupun daerah lain, dapat mengenal bahasa tersebut. 

Pilihan ini membuat Si Doel Anak Betawi memiliki kedekatan dengan kehidupan sosial dan kebahasaan masyarakat yang menjadi latar ceritanya.

Kisah Si Doel kemudian berkembang melampaui bentuk buku. 

Pada 1972, cerita tersebut diangkat menjadi film layar lebar berjudul Si Doel Anak Betawi yang disutradarai Sjumandjaja. Pada dasawarsa 1990-an, tokoh Si Doel kembali dikenal luas melalui sinetron Si Dul Anak Sekolahan di RCTI.

Perjalanan dari novel menuju film dan sinetron memperlihatkan daya hidup sebuah tokoh sastra dalam medium berbeda. Nama Si Doel tetap dikenal oleh masyarakat, meskipun tidak semua penonton mengenal Aman sebagai pengarang yang menciptakannya.

Menulis, Menyadur, dan Mengolah Cerita

Produktivitas Aman tidak berhenti pada kisah Si Doel. Daftar karya yang tercatat dalam dokumentasi Badan Bahasa menunjukkan ragam kegiatan kepengarangannya, mulai dari novel dan cerita anak hingga karya saduran dan terjemahan.

Beberapa judul yang dikenal antara lain Rusmala Dewi, Menebus Dosa, Si Cebol Rindukan Bulan, Perbuatan Dukun, dan Sampaikan Salamku Kepadanya.

Dalam bidang cerita anak, Aman menghasilkan Sepuluh Cerita Kanak-kanak, Pak Janggut dan Bujang Bingung, Srigunting, Kuntum Melati, serta Putri Rimba Larangan.

Aman juga dikenal melalui karya yang berhubungan dengan cerita dan tradisi Minangkabau, antara lain Cindur Mata dan Tambo Minangkabau dan Adatnya. 

Ragam karya tersebut memperlihatkan perhatiannya terhadap bahan cerita yang berasal dari lingkungan budaya dan tradisi berbeda.

Kegiatan menyadur dan menerjemahkan menjadi bagian penting dari kiprah Aman di Balai Pustaka. Melalui pekerjaan tersebut, cerita dari berbagai sumber dapat diolah kembali untuk pembaca berbahasa Melayu. 

Peran ini menempatkan Aman tidak hanya sebagai pencipta cerita, tetapi juga sebagai penghubung antara bahan bacaan dari berbagai latar dengan pembaca pada masanya.

Kegiatan penerbitan pada periode itu memiliki konteks tersendiri. Balai Pustaka menjadi salah satu lembaga penting dalam penerbitan bacaan berbahasa Melayu pada masa kolonial. 

Di lingkungan tersebut, pengarang, penerjemah, dan redaktur bekerja dalam proses penyusunan serta penyebaran bacaan. Pengalaman Aman di dalamnya menjadi bagian dari perjalanan sastra Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan.

Warisan bagi Sastra Anak Indonesia

Perhatian Aman terhadap bacaan anak menjadi salah satu sisi penting dalam perjalanan kepengarangannya.

Melalui cerita dengan tokoh dan pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, Aman menghadirkan bahan bacaan yang dapat diakses pembaca muda.

Buku biografi Aman Datuk Madjoindo: Si Doel Anak Betawi karya Dina Saputri, diterbitkan UNJ Press pada 2023, mencatat bahwa Aman menghasilkan beragam karya, termasuk kumpulan cerita pendek, saduran, terjemahan, dan buku teka-teki.

Ragam tersebut menunjukkan bahwa aktivitas Aman dalam dunia literasi anak tidak terbatas pada cerita fiksi. Karya-karyanya menjadi bagian dari usaha memperluas pilihan bacaan bagi pembaca muda pada masanya.

Menghidupkan Kembali Warisan Cerita Anak

Upaya mengenalkan kembali karya Aman mulai dilakukan melalui Yayasan Aman Datuk Madjoindo. Dalam pemberitaan RRI pada 5 November 2026, Ketua Yayasan Aman Datuk Madjoindo, Boy Rafli Amar, menyebut terdapat hampir 50 karya peninggalan Aman. 

Sekitar 80 persen di antaranya mengangkat kehidupan anak-anak. Selain Si Doel Anak Betawi, sejumlah karya yang disebut antara lain Si Cebol, Merimbun Tak Berdaun, dan Si Penidur.

Yayasan berupaya mengomunikasikan pemanfaatan karya-karya tersebut dengan Balai Pustaka, Kementerian Kebudayaan, dan Kementerian Pendidikan. 

Langkah ini diharapkan membuka peluang dokumentasi, penerbitan kembali, serta pengenalan karya Aman melalui kegiatan literasi dan pendidikan.

Nilai kerja keras, kegigihan, gotong royong, cinta tanah air, dan penghormatan kepada orang tua menjadi bagian dari pesan yang terkandung dalam karya-karya tersebut. 

Pengenalan kembali cerita Aman dapat membuka kesempatan bagi pembaca muda untuk berjumpa dengan nilai-nilai tersebut melalui sastra.

Upaya pelestarian juga direncanakan melalui seni pertunjukan. Dalam laporan RRI yang sama, Rano Karno menyampaikan rencana menghadirkan Si Doel Musikal pada Januari 2027 sebagai bentuk penghormatan kepada Aman. 

Rencana tersebut membuka kemungkinan karya sastra lama hadir kembali melalui medium yang dapat menjangkau penonton masa kini.

Aman meninggal di Surukan, Solok, pada 6 Desember 1969. Lebih dari setengah abad setelah kepergiannya, karya-karyanya masih memiliki ruang untuk diperkenalkan kepada pembaca baru.

Pelestarian warisan Aman tidak cukup hanya dengan mengenang tokoh Si Doel. Dokumentasi, penerbitan ulang, dan pengenalan karya-karya lainnya menjadi bagian penting agar sumbangan Aman bagi sastra anak Indonesia tetap dapat dibaca dan dipelajari oleh generasi berikutnya.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar, lalu melintasi media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Profil

Lihat semua →

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →
Temerodok, jajanan tradisional khas Sakra, Lombok Timur

Jejak Rasa dan Tradisi Temerodok dari Sakra

Temerodok bukan sekadar jajanan manis dari Sakra, NTT. Di balik bentuknya tersimpan jejak pertemuan budaya, tradisi sosial, dan keterampilan perajin yang kini diakui sebagai warisan budaya Indonesia.

Ridwan