Suara melengking, gaya ceplas-ceplos, dan karakter perempuan Betawi yang jenaka membuat Mpok Nori dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Namun di balik sosok komedian yang populer di televisi, perempuan bernama asli Nuri Sarinuri itu menjalani perjalanan panjang sebagai seniman tradisi yang tumbuh bersama tari topeng, lenong, dan kehidupan kesenian Betawi.
Lahir pada 10 Agustus 1930, Mpok Nori berasal dari keluarga seniman Betawi Pinggiran yang akrab dengan pertunjukan rakyat. Kedua orang tuanya, Baba Kenan dan Mak Kemah, berkecimpung dalam kesenian topeng dan mewariskan lingkungan kesenian tersebut kepada anak-anak mereka.
Tumbuh Bersama Panggung Rakyat Betawi
Sejak remaja, Mpok Nori telah mengenal kerasnya kehidupan seniman pertunjukan yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ia belajar menyanyi dan menari dengan mengamati ibunya, sebelum kemudian menjadi ronggeng atau penari utama perempuan dalam pertunjukan topeng Betawi.
Pada usia sekitar 14 tahun, Nori meninggalkan sekolah dan lebih banyak membantu kelompok kesenian keluarganya yang kemudian dikenal sebagai Grup Topeng Gang Makyong. Mereka tampil dalam berbagai hajatan masyarakat, mulai dari perkawinan, khitanan, kaulan, sedekah bumi hingga perayaan Tahun Baru Cina.
Ketika tidak memperoleh tanggapan untuk sebuah hajatan, keluarganya membentuk rombongan kecil untuk menggelar pertunjukan keliling di kampung maupun sekitar stasiun. Kehidupan panggung membuat Nori terbiasa menempuh perjalanan jauh, membawa perlengkapan pertunjukan, dan bekerja semalam suntuk.
Kemampuan tari topengnya kemudian semakin berkembang setelah ia berguru kepada seniman topeng Na’ih bin Dji’un, kakak Haji Bokir sekaligus ayah Mandra. Dari lingkungan kesenian inilah Nori memperoleh dasar kuat yang kelak membentuk perjalanan panjangnya sebagai seniman Betawi.
Belajar Melawak Bersama Haji Bokir
Komedi yang kemudian melekat kuat pada sosok Mpok Nori ternyata bukan kemampuan yang sejak awal menjadi bagian utama penampilannya. Dalam kehidupan sehari-hari, ia justru dikenal kalem, serius, dan tidak banyak berbicara, berbeda dengan karakternya ketika berada di atas panggung.
Perubahan terjadi ketika Mpok Nori bergabung dengan Grup Topeng Setia Warga yang didirikan Haji Bokir di kawasan Pasar Rebo sekitar akhir 1960-an. Selain membawakan topeng Betawi, kelompok tersebut juga memainkan lenong yang ketika itu mulai mendapatkan ruang pertunjukan lebih luas.
Mpok Nori kemudian didorong untuk mempelajari bodoran atau bagian komedi dalam pertunjukan lenong. Perkembangan lenong pada akhir 1960-an turut membuka ruang lebih besar bagi pemain perempuan untuk membawakan dialog jenaka yang sebelumnya lebih banyak dimainkan laki-laki.
Dari proses itulah karakter komedi Mpok Nori perlahan terbentuk, meski akar pertunjukannya tetap berada pada seni tradisi Betawi. Kemampuan improvisasi menjadi salah satu kekuatannya ketika memainkan dialog, sindiran, maupun nasihat yang disampaikan dengan cara jenaka.
Perjalanan tersebut akhirnya mengantarkan Mpok Nori memperoleh pengakuan di dunia komedi Indonesia. Ia menerima KOMBRED Award dari Yayasan Komedi Betawi pada 2011 dan penghargaan Persatuan Seniman Komedi Indonesia pada 2013 atas pengabdiannya dalam dunia komedi.
Dari Jalanan Menuju Panggung Besar
Perubahan penting dalam perjalanan kesenian Mpok Nori terjadi ketika lenong mulai memperoleh tempat di panggung-panggung kesenian Jakarta. Pada masa pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, kesenian Betawi mendapatkan ruang melalui berbagai pertunjukan dan festival, termasuk di Taman Ismail Marzuki.
Pertunjukan lenong kemudian mengalami penyesuaian dari tradisi panggung rakyat yang biasanya berlangsung berjam-jam hingga semalam suntuk. Durasi dipersingkat dan unsur teater modern mulai masuk, termasuk penggunaan skenario yang mengharuskan pemain mengikuti alur pertunjukan secara lebih terstruktur.
Bagi Mpok Nori yang memiliki keterbatasan membaca naskah, perubahan tersebut menjadi tantangan tersendiri. Ia mengatasinya dengan memahami jalan cerita dan mengandalkan ingatan serta improvisasi, sebuah metode yang kemudian menjadi ciri kuat permainannya.
Kemampuannya dalam tari topeng juga membawa Nori memasuki lingkungan pendidikan seni ketika Julianti Parani mengundangnya mengajar tari topeng. Pada 1988, Mpok Nori menjadi pengajar luar biasa dengan memberikan materi dasar tari topeng yang kemudian dapat dikembangkan menjadi tari Betawi kreasi.
Televisi Membawa Mpok Nori ke Generasi Baru
Memasuki era televisi, karakter panggung Mpok Nori menemukan penonton yang jauh lebih luas. Namanya semakin dikenal melalui serial komedi Pepesan Kosong pada 1993 hingga 1995 bersama sejumlah pelawak Betawi seperti Malih Tong Tong dan Bolot.
Karakter perempuan tua bersuara melengking, tomboi, gaul, dan spontan kemudian menjadi persona yang melekat pada dirinya. Meski memasuki medium hiburan modern, unsur Betawi tetap terlihat melalui bahasa, gestur, pakaian, hingga cara Nori membangun komedi.
Popularitas itu kemudian membawanya ke layar lebar, termasuk melalui film Cinta 24 Karat pada 2003 dan sejumlah produksi berikutnya. Ia kerap tampil dengan karakter yang menyerupai dirinya sendiri, lengkap dengan kebaya, kain jarik, kupluk rajut, serta gaya bicara khas yang mudah dikenali.
Di balik persona komedinya, kemampuan Mpok Nori sebagai pemain peran tidak terbatas pada satu karakter. Ia pernah memainkan berbagai jenis peran, sementara pengalaman panjang di panggung tradisional memberinya kemampuan beradaptasi dengan beragam situasi pertunjukan.
Si Noray dan Warisan untuk Generasi Berikutnya
Pengalaman puluhan tahun sebagai seniman kemudian diteruskan Mpok Nori melalui sebuah sanggar yang dibentuk pada 1993. Kelompok tersebut pada perkembangannya dikenal sebagai Si Noray, nama yang berasal dari plesetan panggilan Nori yang digunakan Haji Bokir ketika mereka tampil bersama.
Di sanggar tersebut, generasi berikutnya mempelajari berbagai unsur kesenian Betawi yang selama bertahun-tahun dikuasai Mpok Nori. Tari topeng, lenong, gambang kromong, lawak, dan kemampuan improvisasi menjadi bagian dari pengetahuan yang diteruskan kepada para anggota.
Pewarisan itu memperlihatkan bahwa perjalanan Mpok Nori tidak berhenti pada popularitas sebagai komedian televisi. Jauh sebelum dikenal melalui layar kaca, ia telah menjalani kehidupan sebagai pekerja seni tradisi yang tumbuh dari panggung kampung, pertunjukan keliling, hingga ruang kesenian Jakarta.
Mpok Nori meninggal dunia pada 3 April 2015 dalam usia 84 tahun, tetapi jejaknya terus mendapat tempat dalam ingatan masyarakat Betawi. Pada 2022, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengabadikan namanya menjadi Jalan Mpok Nori, menggantikan nama Jalan Bambu Apus di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.
Perjalanan Mpok Nori menunjukkan perubahan kesenian Betawi ketika bergerak dari lingkungan masyarakat menuju panggung besar, pendidikan seni, televisi, dan perfilman. Di tengah perubahan medium tersebut, ia tetap membawa karakter Betawi yang dibentuk melalui pengalaman panjang sebagai ronggeng, pemain lenong, pelawak, sekaligus pengajar seni.
Warisan Mpok Nori karena itu tidak hanya berada pada suara melengking dan kelucuan yang dikenang penonton televisi. Jejak yang lebih panjang berada pada keberhasilannya menjaga seni Betawi tetap bergerak mengikuti zaman, sekaligus meneruskan pengetahuan panggung kepada generasi setelahnya.






