Event

Rail Heritage Forum 2026, Menelusuri Jejak Sejarah Kereta Api

Lawang Sewu menjadi ruang pertemuan sejarah, edukasi, arsitektur, dan wisata heritage dalam rangkaian kegiatan 9–15 November 2026.

Oleh Ridwan

Museum Lawang Sewu di Semarang
Museum Lawang Sewu di Semarang menjadi lokasi penyelenggaraan Rail Heritage Forum 2026 pada 9–15 November. Foto: kai.id
Diterbitkan

Sejarah perkeretaapian Indonesia akan menjadi perhatian publik melalui penyelenggaraan Rail Heritage Forum 2026 di Museum Lawang Sewu, Semarang, pada 9–15 November 2026. 

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menghadirkan forum ini untuk memperkenalkan peninggalan sejarah kereta api sekaligus membuka ruang diskusi mengenai pelestarian dan pemanfaatan aset heritage.

Mengusung tema “1867 & Beyond: Preserving the Past, Shaping the Future”, kegiatan tersebut mengajak masyarakat melihat perkeretaapian tidak hanya sebagai bagian dari perkembangan transportasi, tetapi juga sebagai unsur sejarah yang berkaitan dengan pertumbuhan kota, kegiatan ekonomi, teknologi, dan kehidupan sosial.

Tahun 1867 menjadi penanda penting karena pada 10 Agustus tahun tersebut jalur kereta api Semarang–Tanggung mulai beroperasi. 

Peristiwa itu menjadi bagian awal perkembangan jaringan kereta api di Indonesia yang kemudian menghubungkan berbagai wilayah dan mendukung mobilitas masyarakat.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa sejarah kereta api memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat Indonesia selama 159 tahun. 

Melalui Rail Heritage Forum 2026, KAI ingin mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, mengenal cerita di balik peninggalan perkeretaapian dan melihat potensinya sebagai ruang belajar serta destinasi wisata edukasi.

Simposium dan Pameran Sejarah Perkeretaapian

Rangkaian kegiatan dibuka pada 9 November melalui Simposium Nasional Cagar Budaya Perkeretaapian Indonesia 2026. 

Forum ini mempertemukan pemangku kepentingan untuk membahas sejarah perkeretaapian, pelestarian bangunan dan infrastruktur bersejarah, serta pemanfaatan aset heritage dalam pengembangan kawasan perkotaan berkelanjutan.

Sepanjang 9–15 November, pengunjung juga dapat melihat pameran foto sejarah perkeretaapian dan miniatur lokomotif di Museum Lawang Sewu. 

Bekerja sama dengan Indonesian Railway Preservation Society (IRPS), KAI menghadirkan 150 foto bersejarah dan 31 miniatur lokomotif, termasuk miniatur lokomotif legendaris Si Gombar (DD5208).

Koleksi tersebut memperlihatkan perkembangan perkeretaapian dari berbagai masa. Dokumentasi foto dan miniatur menjadi cara untuk mengenalkan perubahan teknologi, bentuk lokomotif, serta perjalanan jaringan rel kepada pengunjung dari berbagai generasi.

Edukasi, Kreativitas, dan Penelusuran Jalur Bersejarah

Aspek pendidikan mendapat tempat dalam agenda pada 10–11 November melalui program Edutrip dan KAI Mengajar yang bekerja sama dengan IRPS. 

Para pelajar diajak mengenal peninggalan sejarah, perkembangan teknologi kereta api, serta pentingnya memahami warisan budaya perkeretaapian.

Kegiatan kreatif berlangsung pada 10–12 November. Agenda tersebut meliputi pertunjukan teatrikal pada 10 November, peragaan busana pelajar pada 11 November, serta sesi berbagi mengenai safety hunting dan lomba fotografi on the spot pada 12 November.

Pada hari yang sama, KAI juga menjadwalkan seminar arsitektur bertajuk “Heritage Reimagined: Architecture, Conservation & the Future of Historic Places”. 

Diskusi ini membahas pendekatan pelestarian bangunan bersejarah, termasuk pembiayaan, konservasi berkelanjutan, pemanfaatan aset, peluang investasi, dan kerja sama pengelolaan.

Perhatian terhadap sejarah kawasan berlanjut pada 13 November melalui kegiatan Jejak Sejarah Kedungjati–Tuntang–Ambarawa. Peserta diajak mengenal lintasan yang berkaitan dengan perkembangan awal perkeretaapian di Jawa Tengah. 

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Overland Tour Community pada 14 November, menyusuri kawasan dari Stasiun Kedungjati hingga Museum Kereta Api Ambarawa.

Rangkaian acara ditutup melalui Heritage Run pada 15 November di kawasan Museum Lawang Sewu. Event olahraga ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan komunitas dan masyarakat dengan lingkungan bangunan bersejarah.

Aset Perkeretaapian sebagai Sumber Pengetahuan

Selain menyelenggarakan forum, KAI mengelola 656 aset heritage yang telah berstatus cagar budaya maupun masih dalam proses penetapan. 

Aset tersebut mencakup stasiun, bangunan, jembatan, sarana perkeretaapian, dan berbagai peninggalan bersejarah lainnya. Sejumlah museum yang dikelola KAI juga menyimpan cerita dengan karakter berbeda. 

Museum Lawang Sewu dan Museum Kereta Api Ambarawa berada di Jawa Tengah, sedangkan Museum Kereta dan Jalur Bondowoso berada di Jawa Timur serta Museum Kereta Api Sawahlunto berada di Sumatra Barat.

Masing-masing tempat menghadirkan jejak perkembangan teknologi lokomotif, pembangunan jaringan rel, sejarah pertambangan, hingga peran kereta api dalam perjuangan kemerdekaan. 

Keberadaan museum dan aset bersejarah tersebut memperlihatkan bahwa sejarah perkeretaapian juga berkaitan dengan perkembangan wilayah dan kehidupan masyarakat.

Melalui Rail Heritage Forum 2026, KAI membuka kesempatan bagi publik untuk mengenal peninggalan tersebut melalui diskusi, pameran, kegiatan edukasi, dan kunjungan ke kawasan bersejarah. 

Rangkaian kegiatan di Lawang Sewu ini sekaligus mengajak masyarakat melihat sejarah kereta api sebagai bagian dari perjalanan Indonesia yang dapat dipelajari dari generasi ke generasi.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar, lalu melintasi media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Event

Lihat semua →
Pameran topeng tradisional Indonesia dan Korea Selatan bertajuk Dua Wajah, Satu Jiwa di Museum Nasional Indonesia.

Dua Wajah, Satu Jiwa Indonesia-Korea

Pameran topeng tradisional Indonesia dan Korea Selatan di Museum Nasional mempertemukan dua tradisi melalui kemiripan karakter, kisah kehidupan, dan nilai budaya.

Ridwan

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →
Temerodok, jajanan tradisional khas Sakra, Lombok Timur

Jejak Rasa dan Tradisi Temerodok dari Sakra

Temerodok bukan sekadar jajanan manis dari Sakra, NTT. Di balik bentuknya tersimpan jejak pertemuan budaya, tradisi sosial, dan keterampilan perajin yang kini diakui sebagai warisan budaya Indonesia.

Ridwan