Ada masa ketika pencak silat tidak dipelajari melalui gedung olahraga, kejuaraan, atau kurikulum latihan seperti sekarang. Ilmunya berpindah dari guru kepada murid, hidup di kampung-kampung dan perguruan, lalu diteruskan kepada generasi berikutnya.
Jejak panjang semacam itulah yang berada di belakang kelahiran Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Ketika perguruan ini resmi berdiri di Kauman, Yogyakarta, pada 31 Juli 1963, sejarah keilmuannya sebenarnya telah berjalan jauh sebelumnya.
Ada perguruan yang mendahului, guru-guru yang menjaga ilmu, dan generasi pesilat yang memastikan pengetahuan itu tidak berhenti pada satu zaman. Di tengah mata rantai tersebut muncul Muhammad Barie Irsyad, sosok yang kemudian mempunyai peran penting dalam lahir dan berkembangnya Tapak Suci.
Tumbuh di Tengah Tradisi Pencak Kauman
Muhammad Barie Irsyad lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 3 Agustus 1934. Ia tumbuh di sebuah kampung yang mempunyai kedudukan penting dalam sejarah Muhammadiyah sekaligus menyimpan tradisi pencak silat yang kuat.
Lingkungan itu membentuk perjalanan Barie sejak muda. Sumber Muhammadiyah mencatatnya sebagai murid generasi keenam pencak Kauman yang sejak kecil telah berlatih di Perguruan Cikauman.
Bakat Barie dalam pencak membuatnya dipersiapkan sebagai salah satu penerus tradisi tersebut. Setelah masa perang kemerdekaan, ia semakin mendalami pencak di tengah kondisi ketika tradisi bela diri Kauman sempat mengalami pelemahan akibat sejumlah pendekarnya gugur.
Namun Barie bukan awal dari perjalanan itu. Untuk memahami dari mana ilmu yang diterimanya berasal, sejarah Tapak Suci harus ditarik beberapa generasi ke belakang.
Sebelum Tapak Suci, Ada Mata Rantai Panjang
Sejarah Tapak Suci tidak dimulai pada 1963. Jauh sebelum nama itu digunakan, telah berkembang mata rantai pencak yang kelak menjadi bagian dari fondasi keilmuannya.
Dalam historiografi perguruan, salah satu jejak tersebut berhubungan dengan aliran Banjaran dan nama KH Busyro Syuhada. Dari jalur pewarisan inilah pengetahuan pencak kemudian berkembang dan bersentuhan dengan lingkungan Kauman, Yogyakarta.
Pola pewarisannya mencerminkan karakter banyak tradisi pencak Nusantara pada masa itu. Seorang guru mengajarkan pengetahuan kepada murid, lalu murid yang dinilai matang mendapat kepercayaan untuk mengajar dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Karena itu, sejarah sebuah perguruan tidak selalu dimulai ketika nama organisasi ditetapkan. Di belakangnya sering terdapat lapisan pengetahuan yang telah berpindah dari tubuh seorang guru ke tubuh muridnya selama puluhan tahun.
Cikauman dan Pencak di Kampung Muhammadiyah
Pada 1925, mata rantai tersebut memperoleh bentuk baru melalui Perguruan Cikauman di Kauman. Achmad Dimyati dan M. Wahib menjadi dua tokoh penting yang disebut dalam sejarah perkembangannya.
Cikauman kemudian menjadi salah satu akar utama keilmuan Tapak Suci. Di perguruan inilah pencak diwariskan melalui latihan, disiplin, hubungan guru-murid, serta nilai yang menyertai proses pembelajarannya.
Dari lingkungan tersebut lahir generasi pesilat berikutnya, salah satunya M. Syamsuddin. Ia kemudian mengembangkan perguruan yang dikenal sebagai Seranoman atau Siranoman pada dekade 1930-an.
Mata rantai itu terus bergerak dan melahirkan generasi baru. Salah satu nama yang kemudian muncul adalah M. Zahid, yang menjadi bagian dari jalur guru tempat Barie Irsyad memperdalam ilmu pencaknya.
Ilmu yang Berpindah Melalui Manusia
Hubungan antara Cikauman, Seranoman, dan generasi Barie memperlihatkan cara pencak bertahan sebelum organisasi bela diri modern berkembang luas. Pengetahuan tidak disimpan dalam gedung atau arsip semata, tetapi berada pada manusia yang menguasainya.
Seorang murid belajar gerakan melalui pengulangan yang panjang, memahami kegunaan teknik, lalu menerima nilai yang menyertainya. Ketika ia dianggap cukup matang, ilmu tersebut dapat dipercayakan kepadanya untuk diteruskan.
Dalam proses itu, perubahan tetap terjadi. Seorang pendekar dapat mempertahankan dasar yang diterimanya sekaligus mengembangkan metode baru sesuai pengalaman dan pemikirannya.
Barie tumbuh di dalam pola pewarisan semacam ini. Ia menerima tradisi pencak Kauman, tetapi kelak tidak sekadar mengulang apa yang telah diajarkan kepadanya.
Kasegu dan Jalan Baru Barie Irsyad
Pada 1957, setelah menyelesaikan serangkaian ujian dari guru-gurunya, Barie memperoleh izin untuk menerima murid. Ketika itu usianya sekitar 23 tahun dan ia kemudian mendirikan Perguruan Kasegu atau Kauman Serba Guna.
Kasegu menjadi salah satu fase penting sebelum kelahiran Tapak Suci. Di sinilah gagasan Barie mengenai pencak sebagai ilmu gerak yang rasional, metodis, dan dapat diuji semakin terlihat.
Ia tidak menginginkan kemampuan seorang pesilat bergantung pada klaim kesaktian. Menurut catatan Muhammadiyah, Barie justru mengembangkan pencak melalui latihan fisik dan pertukaran pengetahuan antarpesilat yang dikenal sebagai “adu kaweruh”.
Barie juga mengembangkan senjata yang dikenal sebagai Segu atau Kasegu. Senjata tersebut kemudian menjadi bagian yang dikenal dalam sistem keilmuan Tapak Suci.
Pencak Tanpa Mengejar Kesaktian
Pandangan Barie tidak dapat dilepaskan dari lingkungan keagamaan tempat ia tumbuh. Ia berusaha menempatkan pencak sebagai keterampilan yang dapat dipelajari melalui latihan, metode, disiplin, dan pembinaan manusia.
Pada masa ketika sebagian praktik bela diri bersinggungan dengan keyakinan mengenai kekebalan, kesaktian, atau praktik mistik, Barie mengambil jalan berbeda. Kemampuan fisik seorang pesilat, dalam pandangannya, harus dapat diuji melalui kemampuan yang nyata.
Namun pencak bagi Barie juga tidak berhenti pada kemampuan tubuh. Pendidikan mental dan agama ditempatkan berdampingan dengan pendidikan ragawi.
Dua unsur tersebut kemudian menjadi bagian penting dari karakter Tapak Suci. Seorang pesilat tidak hanya dituntut menguasai teknik, tetapi juga membangun sikap dan akhlak.
Ketika Tiga Perguruan Bertemu
Menjelang awal 1960-an, terdapat tiga jalur perguruan pencak di Kauman yang mempunyai hubungan keilmuan: Cikauman, Seranoman, dan Kasegu. Kemudian muncul gagasan untuk menyatukan ketiganya dalam sebuah perguruan.
Barie mempunyai peranan penting dalam proses tersebut, tetapi kelahiran Tapak Suci bukan pekerjaan seorang tokoh saja. Sejumlah pendekar, ulama, dan tokoh Muhammadiyah ikut mengambil bagian dalam membangun organisasi serta identitas perguruan.
Proses penyatuan tersebut juga menunjukkan perubahan penting dalam pewarisan pencak. Ilmu yang sebelumnya berkembang melalui beberapa perguruan mulai disusun dalam sebuah wadah yang memungkinkan pendidikan dan kaderisasi berlangsung lebih teratur.
Dari sinilah Tapak Suci mulai menemukan bentuknya. Tradisi lama tidak dihapus, tetapi dihimpun dan dikembangkan dalam sistem baru.
Tapak Suci Lahir di Kauman
Pada 31 Juli 1963 atau 10 Rabiul Awal 1383 Hijriah, Tapak Suci resmi berdiri di Kauman, Yogyakarta. Sejarah resmi Tapak Suci UMJ menyebut perguruan ini sebagai gabungan dari Cikauman, Seranoman, dan Kasegu.
Tanggal tersebut menjadi tonggak berdirinya Tapak Suci, tetapi bukan titik nol keilmuannya. Di belakang 1963 terdapat perjalanan panjang para guru dan perguruan yang telah lebih dahulu menjaga tradisi pencak Kauman.
Barie kemudian mencurahkan perhatian pada pengembangan teknik, metode pendidikan, dan kaderisasi pesilat. Perguruan yang baru lahir itu perlahan membangun struktur agar ilmu tidak hanya bergantung kepada keberadaan seorang pendekar.
Tapak Suci kemudian berkembang di bawah naungan Muhammadiyah dan membuka cabang di berbagai daerah. Konferensi Nasional I pada 1966 menjadi salah satu fase penting konsolidasi organisasi secara nasional.
Dari Perguruan Menjadi Organisasi
Perkembangan Tapak Suci berlangsung cepat setelah kelahirannya. Permintaan untuk membuka cabang mulai datang dari berbagai daerah ketika usia perguruan masih sangat muda.
Muhammadiyah mencatat proses kelembagaan itu berlangsung bertahap pada pertengahan 1960-an. Dalam Tanwir Muhammadiyah 1967, Tapak Suci kemudian memperoleh kedudukan resmi sebagai organisasi otonom Muhammadiyah.
Perubahan tersebut membuat Tapak Suci tidak lagi hanya menjadi perguruan lokal di Kauman. Sistem kaderisasi, kepemimpinan, pendidikan, dan jaringan organisasi memungkinkan pencak yang sebelumnya tumbuh di lingkungan terbatas bergerak melintasi daerah.
Di sinilah perjalanan kebudayaan dan organisasi bertemu. Sebuah tradisi dapat bertahan bukan hanya karena gerakannya terus dihafalkan, tetapi karena tersedia sistem yang membuat generasi berikutnya dapat mempelajarinya.
Pencak Bukan Sekadar Pertarungan
Melihat Tapak Suci hanya sebagai organisasi bela diri membuat sebagian kisahnya terlewat. Pencak silat sendiri mempunyai lapisan kebudayaan yang jauh lebih luas daripada kemampuan memukul, menendang, menghindar, atau menggunakan senjata.
UNESCO memasukkan Traditions of Pencak Silat ke Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2019. Dalam penjelasannya, UNESCO menyebut tradisi pencak silat mencakup unsur olahraga, bela diri, seni, serta aspek mental-spiritual.
Setiap wilayah dapat memiliki gerakan, gaya, perlengkapan, musik, senjata, dan tradisi yang berbeda. Pengetahuan serta keterampilan pencak juga lazim diwariskan melalui pendidikan nonformal dan hubungan langsung antara praktisi.
Karena itu, pencak tidak hanya hidup ketika dipertandingkan. Ia juga hidup ketika seorang guru berdiri di hadapan murid dan mengajarkan sesuatu yang pernah diterimanya dari generasi sebelumnya.
Tubuh Menjadi Tempat Menyimpan Ingatan
Benda bersejarah dapat disimpan di museum dan manuskrip dapat ditempatkan di ruang konservasi. Gerakan mempunyai cara berbeda untuk bertahan karena ia membutuhkan manusia.
Sebuah jurus tetap hidup selama ada orang yang menguasainya dan ada orang lain yang bersedia mempelajarinya. Tubuh menjadi tempat penyimpanan pengetahuan, sementara latihan menjadi cara untuk meneruskannya.
Dari sudut inilah perjalanan Cikauman, Seranoman, Kasegu, hingga Tapak Suci mempunyai arti kebudayaan yang lebih dalam. Nama perguruan dapat berubah dan metode latihan dapat berkembang, tetapi pengetahuan terus bergerak melalui hubungan guru dan murid.
Apa yang dipelajari Barie dari generasi sebelumnya tidak berhenti pada dirinya. Pengetahuan itu disusun kembali, dikembangkan, lalu diwariskan kepada jumlah manusia yang jauh lebih besar.
Iman, Akhlak, dan Pendidikan Pesilat
Identitas Tapak Suci juga dibentuk oleh hubungan eratnya dengan Muhammadiyah. Perguruan ini berasas Islam, bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta menempatkan persaudaraan sebagai bagian dari kehidupan organisasinya.
Pandangan tersebut terangkum dalam semboyan yang terus dikenal anggotanya: “Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat, tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah.” Kalimat itu menunjukkan bahwa kemampuan fisik bukan satu-satunya ukuran seorang pesilat.
Latihan pun mempunyai tata nilai yang mengikuti identitas perguruan. Sejarah Tapak Suci UMJ mencatat latihan diawali dengan doa pembuka dan diakhiri dengan doa penutup.
Di sini pencak menjadi bagian dari proses pendidikan manusia. Tubuh dilatih, tetapi sikap orang yang memiliki kemampuan bela diri juga berusaha dibentuk.
Dari Kauman Menuju Dunia
Tapak Suci kemudian berkembang jauh melampaui kampung tempat ia dilahirkan. Jaringannya tumbuh melalui Muhammadiyah di berbagai wilayah Indonesia dan pada perkembangan berikutnya menjangkau sejumlah negara.
Perubahan skalanya sangat besar jika dibandingkan dengan masa ketika pencak masih diwariskan dalam lingkungan perguruan di Kauman. Namun semakin jauh sebuah tradisi berjalan, semakin penting pula ingatan terhadap tempat dan manusia yang menjadi akarnya.
Tapak Suci bukan hanya nama organisasi yang berdiri pada 1963. Di belakangnya terdapat lapisan sejarah perguruan, nama para guru, hubungan antargenerasi, nilai keagamaan, serta pencak silat sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia.
Sejarah itu membuat Kauman tidak hanya menjadi alamat kelahiran sebuah organisasi. Ia menjadi salah satu ruang tempat tradisi pencak diwariskan, diperdebatkan, dikembangkan, lalu menemukan jalan menuju generasi yang lebih luas.
Warisan Muhammad Barie Irsyad
Muhammad Barie Irsyad berpulang di Yogyakarta pada 2003 dalam usia 68 tahun. Namun jejaknya tidak berhenti bersama berakhirnya kehidupan sang pendekar.
Lebih dari enam dekade setelah Tapak Suci berdiri, masih ada generasi baru yang datang untuk belajar. Ada anak-anak yang baru mengenakan seragam latihan, kader yang mulai menerima tanggung jawab mengajar, serta para pendekar yang menjaga dan mengembangkan keilmuan perguruan.
Di belakang mereka terdapat sejarah yang lebih panjang daripada usia Tapak Suci sendiri. Ada KH Busyro Syuhada, Achmad Dimyati, M. Wahib, M. Syamsuddin, M. Zahid, Barie Irsyad, dan tokoh-tokoh lain yang berada dalam mata rantai perjalanan pencak tersebut.
Barie menempati salah satu titik penting dalam perjalanan itu. Ia menerima warisan pencak Kauman, mengembangkannya, lalu ikut membangun sebuah sistem yang memungkinkan pengetahuan tersebut diteruskan kepada jauh lebih banyak orang.
Pada akhirnya, mungkin begitulah sebuah tradisi bertahan. Bukan hanya karena nama para pendekarnya masih disebut, tetapi karena seorang guru hari ini masih berdiri di hadapan muridnya, mengajarkan gerakan yang kelak akan diwariskan kembali.
CATATAN REDAKSI
Artikel ini menempatkan sejarah Tapak Suci dalam konteks pencak silat, hubungan guru-murid, perkembangan perguruan, dan pewarisan kebudayaan. Sejumlah bagian sejarah awal serta silsilah keilmuan bersumber dari historiografi dan dokumentasi internal Tapak Suci dan Muhammadiyah, sehingga ditempatkan sebagai sejarah yang diwariskan dan dicatat oleh lingkungan perguruan.
Pencak silat dalam berbagai masyarakat dapat bersinggungan dengan spiritualitas maupun cerita mengenai kesaktian. EMMANUS mendokumentasikan unsur tersebut sesuai konteks sejarah dan kebudayaannya tanpa menempatkan klaim supernatural sebagai fakta objektif.






