Kabupaten Kutai Timur resmi terbentuk pada 1999. Namun, sejarah wilayah ini jauh melampaui usia administrasinya. Di kawasan karst Sangkulirang–Mangkalihat, lukisan pada dinding gua menjadi jejak budaya manusia prasejarah di Kalimantan Timur.
Perjalanan sejarah Kutai Timur mencakup masa prasejarah, perkembangan kerajaan di kawasan Kutai, perubahan pemerintahan lokal, hingga pembentukan kabupaten modern. Setiap periode meninggalkan jejak berbeda yang membantu menjelaskan bagaimana wilayah ini berkembang.
Gua yang merekam masa prasejarah
Kawasan karst Sangkulirang–Mangkalihat membentang di Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Berau. Kawasan ini memiliki gua dan ceruk yang menyimpan lukisan cadas berupa cap tangan, figur manusia, serta gambar hewan.
Pada 2015, UNESCO memasukkan kawasan tersebut ke dalam Daftar Tentatif Warisan Dunia sebagai salah satu kawasan seni cadas prasejarah yang penting.
Lukisan-lukisan itu menjadi sumber kajian tentang kehidupan manusia masa lampau, lingkungan, dan sistem simbol yang mereka gunakan. Peneliti menelaah bentuk gambar, lokasi, serta konteks arkeologisnya untuk memahami masyarakat yang menghasilkan karya tersebut.
Penanggalan seni cadas di kawasan ini juga menjadi perhatian penelitian. Sejumlah kajian memperkirakan tradisi lukisan tersebut telah berlangsung selama ribuan tahun. Namun, usia setiap gambar tidak selalu sama dan perlu merujuk pada hasil penelitian yang sesuai dengan situsnya.
Keberadaan lukisan cadas menempatkan Sangkulirang–Mangkalihat dalam peta penting prasejarah Kalimantan. Temuan ini memperlihatkan bahwa kawasan yang kini sebagian termasuk Kutai Timur telah menjadi ruang aktivitas budaya manusia jauh sebelum batas administrasi kabupaten dikenal.

Kerajaan Kutai dan batas wilayah sejarah
Sejarah Kalimantan Timur juga berkaitan dengan kerajaan yang dikenal dalam historiografi sebagai Kerajaan Kutai.
Salah satu sumber penting untuk menelusuri periode awalnya ialah prasasti yupa yang ditemukan di Muara Kaman, wilayah yang kini termasuk Kabupaten Kutai Kartanegara.
Prasasti berbahasa Sanskerta dengan aksara Pallawa tersebut menyebut Kudungga, Aswawarman, dan Mulawarman. Isinya antara lain mencatat silsilah penguasa serta pemberian hadiah kepada kaum brahmana.
Catatan tertulis ini menjadi sumber utama untuk memahami kehidupan politik dan keagamaan di pusat kekuasaan tersebut.
Nama Kutai sendiri merupakan istilah yang digunakan dalam penulisan sejarah, bukan nama kerajaan yang secara langsung tercantum dalam prasasti yupa.
Kajian historiografi juga membahas penggunaan nama Martapura berdasarkan sumber lain. Perbedaan penamaan ini memperlihatkan bagaimana sejarah kerajaan direkonstruksi melalui pembacaan prasasti dan naskah.
Kutai Martapura perlu dibedakan dari Kutai Kartanegara, entitas politik lain yang berkembang di kawasan Mahakam dan kemudian berhubungan dengan sejarah kesultanan di Kalimantan Timur. Keduanya memiliki riwayat yang tidak dapat disatukan begitu saja.
Bagi sejarah Kutai Timur, kerajaan-kerajaan tersebut memberikan konteks tentang perkembangan kekuasaan di Kalimantan Timur. Namun, pusat Kerajaan Kutai di Muara Kaman tidak dengan sendirinya menjelaskan sejarah seluruh wilayah yang kini menjadi Kabupaten Kutai Timur. Untuk itu, riwayat setiap kawasan perlu ditelusuri melalui sumber lokalnya.
Sangkulirang dan sejarah pemerintahan lokal
Sangkulirang menjadi salah satu wilayah penting untuk menelusuri sejarah pemerintahan lokal di kawasan Kutai Timur.
Dalam pemberitaan Warta Kutim pada September 2026, Camat Sangkulirang Cipto Buntoro menyebut sejarah pemerintahan Sangkulirang telah berlangsung lebih dari 100 tahun. Pernyataan itu disampaikan dalam pembahasan usulan pembentukan Daerah Otonom Baru Kabupaten Sangkulirang.
Artikel Kabar Intens pada April 2026 menguraikan riwayat pemerintahan Sangkulirang pada awal abad ke-20. Artikel tersebut menyebut Mas Patih Abdul Manaf, Kampung Godang, serta perpindahan pusat pemerintahan ke Benua Baru di Pulau Sangkuang. Informasi ini menjadi petunjuk untuk menelusuri perubahan pemerintahan di kawasan pesisir tersebut.
Pada masa kolonial, tata pemerintahan di Kalimantan Timur mengalami perubahan seiring perluasan pengaruh Belanda dan penataan administrasi wilayah. Sangkulirang kemudian dikenal melalui struktur pemerintahan lokal yang berkembang hingga menjadi kecamatan.
Riwayat ini memperlihatkan bahwa sejarah Kutai Timur tidak hanya berpusat pada kerajaan atau pembentukan kabupaten, tetapi juga pada perjalanan wilayah-wilayah penyusunnya.

Sejarah pemerintahan Sangkulirang juga muncul dalam wacana pemekaran wilayah pada masa kini. Bagi masyarakat pendukung pembentukan Kabupaten Sangkulirang, sejarah lokal menjadi salah satu pertimbangan yang disampaikan kepada publik.
Di sisi lain, wacana pembentukan daerah baru merupakan perkembangan politik dan administratif tersendiri, berbeda dari kronologi sejarah yang mendasarinya.
Kabupaten baru pada 1999
Babak baru pemerintahan modern dimulai melalui Undang-Undang Nomor 47 Tahun 1999, yang menjadi dasar pembentukan Kabupaten Kutai Timur bersama sejumlah kabupaten dan kota lain. Undang-undang tersebut ditetapkan pada 4 Oktober 1999. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur mencatat peresmian kabupaten pada 12 Oktober tahun yang sama.
Pada awal pembentukannya, Kutai Timur terdiri atas lima kecamatan: Sangatta, Sangkulirang, Muara Wahau, Muara Ancalong, dan Muara Bengkal. Wilayah administrasinya kemudian berkembang melalui pemekaran kecamatan. Pada 2000, enam kecamatan baru dibentuk, disusul tujuh kecamatan pada 2005 berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Timur Nomor 12 Tahun 2005.
Perubahan itu menjadi bagian dari proses penataan pemerintahan di kabupaten yang baru terbentuk. Kecamatan-kecamatan tersebut menjadi unit administrasi dalam pemerintahan modern, sementara masing-masing wilayah tetap memiliki riwayat lokal yang dapat ditelusuri lebih jauh.
Tahun 1999 menandai lahirnya Kabupaten Kutai Timur dalam sistem pemerintahan Indonesia, bukan awal seluruh sejarah wilayahnya. Jauh sebelumnya, kawasan ini telah menyimpan jejak budaya prasejarah dan mengalami berbagai perubahan kekuasaan serta tata pemerintahan.
Lukisan cadas Sangkulirang–Mangkalihat dan sejarah pemerintahan Sangkulirang menunjukkan dua sisi perjalanan panjang tersebut. Keduanya mengingatkan bahwa sejarah sebuah kabupaten tidak hanya dibentuk oleh tanggal pendiriannya, tetapi juga oleh jejak manusia dan perkembangan wilayah yang mendahuluinya.








