Bayangkan Singkawang, Kalimantan Barat pada masa ketika perjalanan menuju kawasan pertambangan emas Monterado masih menjadi bagian dari denyut ekonomi wilayah ini.
Di bawah pemerintahan Kesultanan Sambas, Singkawang mulanya merupakan sebuah desa yang disinggahi para pedagang dan penambang sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke pedalaman.
Di antara mereka terdapat banyak pendatang dari Tiongkok. Singkawang menjadi tempat untuk melepas lelah sekaligus titik transit pengangkutan hasil tambang berupa serbuk emas.
Dari persinggahan itulah, jejak awal hubungan Singkawang dengan perdagangan emas dan pergerakan manusia di Kalimantan Barat dapat ditelusuri.
Hubungan dengan Monterado memberi konteks penting untuk memahami perkembangan awal Singkawang. Kegiatan pertambangan di pedalaman membutuhkan jalur pergerakan manusia dan barang, termasuk tempat persinggahan dan distribusi.
Singkawang menjadi salah satu titik yang menghubungkan aktivitas di kawasan pedalaman dengan wilayah pesisir.
Sebagian penambang kemudian beralih profesi menjadi pedagang dan petani. Mereka tidak lagi sekadar melewati Singkawang, tetapi menetap dan membangun kehidupan di wilayah tersebut.
Perubahan itu menunjukkan bahwa pertumbuhan permukiman tidak hanya berkaitan dengan kedatangan penduduk, tetapi juga dengan berkembangnya kegiatan ekonomi. Ketika orang mulai menetap, kebutuhan terhadap tempat tinggal, perdagangan, dan hubungan sosial ikut membentuk perkembangan suatu wilayah.
Di sisi lain, sejarah Singkawang tidak dapat dijelaskan hanya melalui perdagangan emas dan kedatangan penduduk dari luar. Hubungan wilayah ini dengan Kesultanan Sambas serta keberadaan berbagai kelompok masyarakat juga menjadi bagian dari konteks sejarah yang perlu ditelusuri.
San Keuw Jong dan Asal-usul Nama Singkawang
Nama Singkawang memiliki penjelasan yang berkaitan dengan penuturan masyarakat Hakka. Dalam laman sejarah resminya, Pemerintah Kota Singkawang menyebut bahwa orang Tionghoa mengenal wilayah tersebut dengan sebutan San Keuw Jong.
Penjelasan pemerintah daerah menghubungkan sebutan itu dengan kondisi geografis Singkawang yang memiliki kawasan pesisir, pegunungan, dan sungai. Aliran air dari kawasan pegunungan menuju muara menjadi bagian dari keterangan mengenai sebutan tersebut.
Keterangan itu merupakan salah satu versi asal-usul nama yang dicatat pemerintah daerah. Untuk memastikan arti linguistiknya secara lebih tepat, diperlukan kajian bahasa Hakka dan sumber sejarah yang dapat menjelaskan perubahan penyebutan nama dari masa ke masa.
Asal-usul nama tempat dapat membantu menelusuri hubungan masyarakat dengan lingkungan dan bahasa yang digunakan. Namun, penjelasan mengenai arti sebuah nama perlu dibedakan dari fakta sejarah yang telah didukung dokumen atau penelitian.
Dalam penulisan sejarah Singkawang, keterangan mengenai San Keuw Jong karena itu perlu ditempatkan sebagai narasi asal-usul yang tercatat, sembari membuka ruang bagi pemeriksaan lebih lanjut melalui sumber linguistik dan sejarah.
Perubahan Tata Pemerintahan pada Masa Kolonial
Perkembangan Singkawang tidak hanya berkaitan dengan perdagangan dan permukiman. Wilayah ini juga mengalami perubahan kedudukan dalam tata pemerintahan, terutama ketika pemerintah kolonial Belanda menyusun administrasi wilayah di Kalimantan Barat.

Publikasi sejarah mengenai Singkawang mencatat sejumlah perubahan struktur pemerintahan sejak abad ke-19. Dalam periode tersebut, Singkawang pernah berada dalam struktur Afdeeling Sambas, kemudian menjadi bagian dari Afdeeling Monterado bersama sejumlah wilayah lain.
Pada 1880, Singkawang menjadi ibu kota Afdeeling Monterado, menggantikan Monterado. Perubahan tersebut memperlihatkan pergeseran kedudukan Singkawang dalam struktur administrasi kolonial.
Keterangan ini penting untuk membedakan dua hal dalam perjalanan sejarah kota. Pertumbuhan Singkawang sebagai permukiman berkaitan dengan kegiatan ekonomi dan kehidupan masyarakat, sedangkan kedudukannya sebagai pusat administrasi berkaitan dengan kebijakan pemerintahan pada masa tertentu.
Keduanya dapat saling berhubungan, tetapi tidak selalu berjalan melalui proses yang sama. Perubahan kedudukan administratif perlu dibaca berdasarkan struktur pemerintahan pada zamannya, bukan disamakan dengan status pemerintahan daerah yang berlaku sekarang.
Kronologi lebih terperinci mengenai perubahan administrasi Singkawang pada masa kolonial perlu merujuk pada publikasi sejarah dan arsip yang mendasarinya.
Dari Kecamatan Menjadi Kota Otonom
Setelah Indonesia merdeka, Singkawang menjadi bagian dari Kabupaten Sambas. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959, wilayah ini berstatus Kecamatan Singkawang. Singkawang juga menjadi tempat kedudukan ibu kota Kabupaten Sambas.
Perubahan penting terjadi pada 1981. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 1981, Singkawang ditetapkan sebagai Kota Administratif Singkawang. Pembentukan kota administratif bertujuan meningkatkan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan mendorong pembangunan wilayah.
Status tersebut belum menjadikan Singkawang sebagai daerah otonom. Pembentukan pemerintahan kota tersendiri masih harus melalui proses pemekaran wilayah.
Pada 1999, pemekaran Kabupaten Sambas melahirkan Kabupaten Bengkayang melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1999. Pembentukan Kota Singkawang belum direalisasikan pada tahap tersebut. Wilayah Kota Administratif Singkawang kemudian menjadi bagian dari Kabupaten Bengkayang, sedangkan ibu kota Kabupaten Sambas dipindahkan ke Sambas.
Perubahan itu tidak menghentikan aspirasi masyarakat untuk membentuk daerah otonom. Pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dan berbagai unsur lokal terlibat dalam proses pengkajian serta perjuangan pemekaran Singkawang.
Perjalanan tersebut mencapai tahap penting melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Singkawang. Pemerintah Kota Singkawang mencatat peresmian kota otonom ini berlangsung pada 17 Oktober 2001 di Jakarta oleh Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah atas nama Presiden Republik Indonesia.
Pembentukan kota otonom menandai perubahan kedudukan Singkawang dalam tata pemerintahan Indonesia. Wilayah yang sebelumnya menjadi bagian dari kabupaten memperoleh pemerintahan daerah tersendiri untuk menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan sesuai kewenangannya.
Dengan demikian, tahun 2001 menjadi penanda penting dalam sejarah administratif Singkawang, tetapi bukan awal sejarah wilayah tersebut. Perkembangannya telah berlangsung jauh sebelumnya melalui kegiatan ekonomi, pertumbuhan permukiman, dan perubahan tata pemerintahan.
Jejak Sejarah dalam Wajah Singkawang Hari Ini
Jejak perkembangan Singkawang tidak hanya terlihat dari perubahan status wilayahnya, tetapi juga dari kehidupan budaya yang mewarnai kota ini. Kelenteng dan perayaan Cap Go Meh menjadi bagian dari wajah Singkawang masa kini.
Julukan Kota Seribu Kelenteng pun digunakan dalam berbagai publikasi pariwisata, termasuk materi Kementerian Pariwisata. Tradisi budaya Singkawang juga mendapat tempat dalam pembicaraan mengenai pembangunan daerah.

Pada 16 Oktober 2026, Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) menggelar Rembuk Sektor Kebudayaan di Singkawang. Dilansir dari ANTARA, Ketua Dewan Pengurus APEKSI, Eri Cahyadi, menyebut Singkawang sebagai contoh kota yang dapat mengembangkan kebudayaan untuk memperkuat persaudaraan, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan mendukung pembangunan daerah.
Menurut Eri, perayaan Cap Go Meh menjadi salah satu contoh kegiatan budaya yang turut menggerakkan perekonomian setempat. Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie menyampaikan bahwa hasil rembuk tersebut akan menjadi catatan bagi pemerintah kota dalam mengembangkan kebudayaan daerah.
Perhatian terhadap kebudayaan itu memperlihatkan salah satu sisi Singkawang pada masa kini. Tradisi hadir dalam kehidupan sosial masyarakat sekaligus menjadi bagian dari kegiatan ekonomi kota.
Namun, wajah Singkawang hari ini merupakan hasil perjalanan panjang yang tidak hanya berkaitan dengan kebudayaan, tetapi juga perdagangan, perpindahan penduduk, dan perubahan pemerintahan.
Perjalanan Singkawang memperlihatkan bahwa sebuah kota dibentuk bukan hanya oleh perubahan status pemerintahan, melainkan juga oleh kehidupan masyarakat yang terus berkembang.
Perdagangan, perpindahan penduduk, dan tradisi budaya meninggalkan lapisan sejarah yang berbeda-beda dalam wajah kota.
Jalan persinggahan yang dahulu menghubungkan Singkawang dengan kawasan pertambangan kini menjadi bagian dari cerita masa lalunya. Singkawang telah tumbuh menjadi kota dengan pemerintahan sendiri, sementara jejak perjalanan panjang masyarakatnya tetap hadir dalam kehidupan kota hari ini.
CATATAN REDAKSI
Penulisan sejarah Singkawang perlu membedakan perkembangan permukiman awal, aktivitas perdagangan emas yang berkaitan dengan Monterado, perubahan tata pemerintahan, dan pembentukan Kota Singkawang sebagai daerah otonom pada 2001. Keterangan bahwa Singkawang bermula sebagai tempat persinggahan pedagang dan penambang emas merujuk pada narasi sejarah yang dipublikasikan pemerintah daerah. Sementara itu, penjelasan mengenai asal-usul nama San Keuw Jong perlu ditempatkan sebagai keterangan yang tercatat dalam sumber tersebut, bukan sebagai kesimpulan linguistik yang telah terkonfirmasi secara independen.
Artikel ini menggunakan perkembangan perdagangan, permukiman, dan pemerintahan sebagai kerangka untuk menelusuri perubahan Singkawang dari masa ke masa. Kronologi pemerintahan kolonial, hubungan historis dengan Monterado dan Kesultanan Sambas, serta peran berbagai kelompok masyarakat perlu ditautkan pada sumber sejarah yang dapat diperiksa. Narasi resmi pemerintah daerah menjadi salah satu rujukan, tetapi harus dibedakan dari hasil penelitian sejarah dan penafsiran yang masih memerlukan penguatan bukti. Perkembangan kebudayaan dan ekonomi Singkawang pada masa kini ditempatkan sebagai konteks kontemporer, bukan sebagai bukti langsung mengenai keadaan pada masa lampau.







