Prasasti dan Manuskrip

Mengembalikan Perpustakaan Sultan Palembang yang Hilang

Penjarahan kolonial membuat koleksi perpustakaan Sultan Palembang tercerai-berai. Penelitian BRIN menelusuri kembali naskah yang tersisa, termasuk yang diselamatkan keluarga-keluarga setempat.

Oleh Ridwan

Syair Perang Palembang
Halaman Pertaman & Kedua Naskah Kuno Syair Perang Palembang menjadi salah satu jejak tertulis yang berkaitan dengan sejarah Kesultanan Palembang. Sumber: Sutanadil Institute via Kompasiana
Diterbitkan

Pada awal abad ke-19, Kesultanan Palembang di Sumatera Selatan menyimpan kekayaan intelektual dalam sebuah perpustakaan kerajaan yang dikenal memiliki koleksi sangat besar. 

Catatan komisaris Belanda Sevenhoven dan asistennya pada 1822 menggambarkan perpustakaan milik Sultan sebagai koleksi yang luar biasa luas. Kini, bangunan perpustakaan tersebut telah hilang. 

Koleksi yang pernah tersimpan di dalamnya mengalami nasib berbeda. Sebagian dijarah dan dibawa keluar dari Palembang, sementara sebagian lainnya berhasil diselamatkan oleh keluarga-keluarga setempat. 

Naskah, buku, dan dokumen yang tersisa kemudian tersebar di berbagai lembaga penyimpanan di dalam maupun luar negeri.

Jejak perpustakaan Kesultanan Palembang menjadi perhatian peneliti Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Alan Darmawan. 

Melalui penelitian bertajuk Reconstructing a Sumatran Royal Manuscript Library: Thinking Through Landscapes, Objects, and Performances, Alan berupaya menyusun kembali gambaran perpustakaan kerajaan yang pernah menjadi bagian penting kehidupan intelektual Kesultanan Palembang.

Penelitian tersebut dipaparkan dalam Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara (SIPN) XX pada 16 Oktober 2025. 

Hasil penelusuran memperlihatkan bahwa sejarah sebuah perpustakaan kerajaan tidak hanya dapat dibaca dari isi naskah, tetapi juga dari perjalanan benda, tempat penyimpanan, dan tradisi masyarakat yang masih bertahan.

Perpustakaan Kerajaan yang Tercerai-berai

Keberadaan perpustakaan Kesultanan Palembang diketahui melalui catatan sejarah, salah satunya laporan Sevenhoven pada 1822. 

tentang koleksi yang sangat besar menunjukkan bahwa lingkungan kesultanan memiliki tradisi penyimpanan dan pengembangan pengetahuan melalui naskah serta dokumen tertulis.

Perpustakaan tersebut mengalami kehancuran seiring serangan Inggris dan Belanda terhadap Kesultanan Palembang pada abad ke-18 hingga awal abad ke-19. 

Istana diserang, sementara sejumlah naskah berharga dijarah dan dibawa oleh tentara maupun anggota keluarga kerajaan yang menyelamatkan diri.

Peristiwa tersebut menyebabkan koleksi perpustakaan tidak lagi berada dalam satu tempat. Sebagian naskah berpindah ke luar wilayah Palembang dan kemudian masuk ke berbagai lembaga penyimpanan. 

Bangunan fisik perpustakaan pun tidak lagi dapat ditemukan.

Penelusuran Alan Darmawan berhasil mengidentifikasi 144 item yang masih dapat dilacak. Jumlah tersebut terdiri atas campuran manuskrip, buku, dan dokumen. Angka ini masih sangat kecil dibandingkan gambaran mengenai besarnya koleksi perpustakaan berdasarkan catatan sejarah.

Sebagian koleksi yang terlacak berada di Royal Asiatic Society, Perpustakaan Nasional Indonesia, Leiden, dan Oxford. 

Sejumlah naskah dibawa oleh Thomas Stamford Raffles dan kemudian tersimpan di Royal Asiatic Society. Surat-surat resmi kerajaan, termasuk surat dari Gubernur Jenderal Belanda kepada Sultan pada dekade 1780-an, juga menjadi bagian dari bukti keberadaan arsip Kesultanan Palembang.

Sebaran tersebut memperlihatkan bagaimana koleksi kerajaan mengalami perpindahan lintas wilayah dan negara. Penelitian terhadap perpustakaan Kesultanan Palembang pun harus mengikuti jejak naskah yang kini tersimpan di tempat berbeda.

Lawang Borotan dan Penyelamatan Naskah

Tidak semua naskah Kesultanan Palembang hilang melalui penjarahan kolonial. Penelusuran etnografis menemukan cerita turun-temurun mengenai keluarga-keluarga Palembang yang berhasil menyelamatkan sejumlah manuskrip ketika istana menghadapi serangan.

Dalam cerita masyarakat, naskah-naskah tersebut dibawa keluar melalui Lawang Borotan, yaitu pintu belakang istana. 

Naskah kemudian diangkut menggunakan perahu menyusuri kanal untuk disimpan dan dijaga oleh keluarga-keluarga setempat. Kisah tersebut memberikan sudut pandang lain dalam sejarah perpustakaan kerajaan. 

Di tengah konflik dan penjarahan, masyarakat memiliki peran dalam menjaga sebagian warisan intelektual yang terancam hilang.

Menurut Alan, pada dekade 1980-an dan 1990-an, para ahli filologi belum memperkirakan masih terdapat banyak naskah yang tersimpan di tangan masyarakat. 

Penemuan koleksi yang berada di rumah-rumah warga semakin terlihat setelah berkembangnya proyek digitalisasi pada awal abad ke-21.

Program seperti DreamSea dan Endangered Archives Programme (EAP) membantu mengungkap keberadaan manuskrip yang sebelumnya belum banyak diketahui. Sejumlah naskah, terutama yang bertema Islam, ternyata masih tersimpan dengan baik dalam lingkungan keluarga Palembang.

Temuan ini memperlihatkan bahwa sejarah penyelamatan manuskrip tidak hanya berlangsung melalui lembaga resmi. 

Keluarga dan masyarakat juga menjadi penjaga warisan naskah, termasuk ketika keberadaan koleksi tersebut belum tercatat dalam penelitian akademik.

Ciri Khas Manuskrip Palembang

Penelitian terhadap koleksi yang tersisa tidak hanya memperhatikan isi tulisan. Material naskah, sampul, dan teknik penjilidan juga menjadi sumber informasi untuk mengenali karakter produksi manuskrip Palembang.

Alan menemukan bahwa jilidan naskah Palembang memiliki karakter kuat dan solid dengan penggunaan lem. 

Ciri lainnya terlihat pada sampul kulit bermotif medali yang konsisten. Karakteristik tersebut menjadi pembeda jika dibandingkan dengan gaya penjilidan manuskrip dari Aceh maupun Minangkabau.

Salah satu contoh yang diteliti adalah manuskrip Ihya Ulumuddin. Naskah tersebut memiliki sampul kulit berwarna cokelat kemerahan dengan hiasan cap berbentuk medali intan bermotif floral. Empat sudut sampul juga dihiasi motif serupa.

Analisis material kertas menunjukkan bahwa naskah tersebut menggunakan kertas Utsmaniyah yang berasal dari akhir abad ke-17, sekitar 1692–1695. 

Kepemilikannya ditelusuri hingga Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo yang memerintah pada 1724–1757. Keterangan tersebut tercantum dalam kolofon naskah.

Temuan ini memberikan gambaran mengenai hubungan Kesultanan Palembang dengan jaringan pengetahuan dan produksi manuskrip yang lebih luas. 

Penggunaan kertas dari wilayah Utsmaniyah juga memperlihatkan bahwa kajian manuskrip dapat mengungkap perjalanan material dan hubungan antarkawasan pada masa lampau.

Sampul, jenis kertas, teknik penjilidan, dan kolofon menjadi bagian penting dalam penelitian. Unsur-unsur tersebut membantu peneliti memahami asal-usul, perkiraan waktu penulisan, kepemilikan, serta perjalanan sebuah naskah.

Manuskrip dan Sejarah Perlawanan

Warisan intelektual Kesultanan Palembang tidak hanya tersimpan dalam bentuk naskah yang kini berada di berbagai perpustakaan. Sebagian pengetahuan juga tetap hidup melalui tradisi keagamaan dan praktik budaya masyarakat.

BRIN menyoroti tradisi Zikir Ratib Saman di Palembang yang dipimpin tokoh masyarakat seperti Kemas Andi Syarifuddin. Tradisi tersebut memiliki kaitan dengan ingatan masyarakat mengenai semangat perlawanan terhadap penjajah.

Naskah yang disimpan para tokoh masyarakat menjadi sumber cerita mengenai peran ulama dan masjid dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan. 

Hubungan antara manuskrip dan tradisi yang masih berlangsung memperlihatkan bahwa warisan pengetahuan tidak selalu berhenti sebagai benda koleksi.

Upaya merekonstruksi perpustakaan Kesultanan Palembang masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Sebanyak 144 item yang berhasil diidentifikasi baru memberikan sebagian gambaran dari koleksi yang pernah dimiliki kerajaan. 

Naskah lain mungkin masih tersimpan di berbagai lembaga atau lingkungan keluarga yang belum terjangkau penelitian.

Perjalanan perpustakaan tersebut memperlihatkan bagaimana warisan intelektual dapat tercerai-berai akibat konflik, tetapi sebagian tetap bertahan melalui upaya penyelamatan masyarakat. 

Penelusuran terhadap naskah yang tersisa bukan hanya mengembalikan informasi tentang sebuah perpustakaan kerajaan, melainkan juga membuka kembali jejak pengetahuan, tradisi, dan kehidupan intelektual Kesultanan Palembang.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar, lalu melintasi media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Prasasti dan Manuskrip

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →