Prasasti dan Manuskrip

Bujangga Manik dan Cara Orang Sunda Mengenali Dunia

Sebuah naskah Sunda kuna merekam pengembaraan lintas wilayah, pengetahuan geografis, dan pencarian religius pada abad ke-15.

Oleh Ridwan

Bujangga Manik dan Cara Orang Sunda Mengenali Dunia
Naskah Bujangga Manik berbahasa Sunda kuna yang tersimpan di Bodleian Library, University of Oxford. Manuskrip ini merekam kisah perjalanan seorang tokoh religius dan menjadi sumber penting kajian sastra serta geografi Sunda kuna. Foto: Digital Bodleian, Bodleian Libraries, University of Oxford, melalui Wikimedia Commons, Bujangga Manik.jpg, CC BY 4.0.
Diterbitkan

Nama Bujangga Manik kembali menjadi perhatian setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjalani seminar usulan riset doktoral Ilmu Politik di Universitas Padjadjaran pada 21 Oktober 2026. 

Proposalnya berjudul Transformasi Ideologi Politik Tradisionalisme Sunda: Dari Si Kabayan Menuju Bujangga Manik.

Di luar pembahasan mengenai gagasan politik tersebut, nama Bujangga Manik membawa kita kepada sebuah karya sastra Sunda kuna yang menyimpan kisah pengembaraan seorang tokoh religius. 

Bujangga berjalan melintasi berbagai wilayah, menyebut tempat-tempat yang dilaluinya, dan menjalani pencarian spiritual yang menjadi inti ceritanya.

Kisah itu menarik karena perjalanan tokohnya tidak hanya membuka gambaran tentang ruang geografis. Di dalamnya terdapat pula pengetahuan tentang lingkungan, kehidupan sehari-hari, dan hubungan manusia dengan keyakinan. 

Melalui satu karya sastra, pembaca dapat mendekati sebagian dunia yang dikenal dan dibayangkan oleh masyarakat penuturnya pada masa lampau.

Naskah yang Membawa Kisah Masa Lalu

Naskah Bujangga Manik tersimpan di Bodleian Library, University of Oxford, Inggris, dengan nomor koleksi MS. Jav. b.3 (R). 

Ditulis dalam bahasa Sunda kuna menggunakan aksara pada daun lontar, naskah ini menjadi salah satu sumber penting untuk mempelajari sastra dan kebudayaan Sunda pada masa lampau.

Karya tersebut berbentuk puisi naratif. Tokoh utamanya adalah seorang bangsawan muda yang berasal dari Pakañcilan, di wilayah yang kini termasuk Jawa Barat. 

Ia memilih meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjalani kehidupan religius. Pilihan itu menggerakkan kisah perjalanan yang membawanya melintasi Pulau Jawa dan Bali, melalui jalur darat maupun laut.

Dalam edisi ilmiahnya, Bujangga Manik: Or, Java in the Fifteenth Century, yang diterbitkan Brill pada 2025, Alex West mengkaji teks tersebut melalui pembahasan bahasa, aksara, isi cerita, nama tempat, tokoh, perjalanan laut, hingga benda-benda yang digambarkan di dalamnya.

Pendekatan itu memperlihatkan bahwa Bujangga Manik bukan hanya bahan kajian sastra. Naskah tersebut juga menyimpan informasi yang dapat diteliti dari sudut pandang sejarah geografis dan kebudayaan material.

Rumah, peralatan, wewangian, kapal, dan berbagai unsur kehidupan yang hadir dalam cerita turut memperluas gambaran tentang dunia yang digambarkan pengarangnya.

Tentu saja, informasi dalam karya sastra perlu dipahami sesuai bentuk dan konteksnya. Cerita ini bukan laporan perjalanan modern yang disusun untuk mencatat setiap peristiwa secara administratif. 

Nilainya justru terletak pada pertemuan antara kisah sastra, gambaran ruang, dan perjalanan spiritual tokohnya.

Nama Tempat dan Pengetahuan Geografis

Salah satu kekayaan Bujangga Manik ialah banyaknya nama tempat yang disebut dalam perjalanan tokohnya. 

Pada 1982, filolog J. Noorduyn menerbitkan kajian Bujangga Manik’s Journeys through Java: Topographical Data from an Old Sundanese Source. Ia menelaah keterangan topografi dalam naskah untuk memahami rute perjalanan dan mengidentifikasi tempat-tempat yang disebutkan.

Nama tempat menjadi penting karena dapat menghubungkan teks lama dengan kajian geografis masa kini. 

Peneliti dapat membandingkan bentuk nama dalam naskah dengan nama wilayah yang dikenal kemudian, menelusuri perubahan penyebutannya, serta menguji kemungkinan lokasi berdasarkan konteks perjalanan.

Pekerjaan itu tidak selalu sederhana. Nama yang terdengar serupa belum tentu menunjuk lokasi yang sama. Perubahan bahasa, ejaan, dan batas wilayah dapat mempersulit identifikasi. 

Penelusuran nama tempat pun perlu memperhitungkan konteks teks dan dibandingkan dengan sumber lain.

Meski demikian, urutan perjalanan dalam Bujangga Manik memberi bahan yang kaya untuk memahami bagaimana ruang geografis disajikan dalam sastra Sunda kuna. 

Pegunungan, sungai, pesisir, permukiman, dan wilayah lain bukan sekadar latar yang dilewati tokoh. Semua itu membentuk dunia cerita dan memberi peneliti petunjuk untuk mengajukan pertanyaan tentang pengetahuan geografis pada masa tersebut.

Dari sinilah naskah itu memiliki arti lebih luas. Ia memperlihatkan bahwa karya sastra dapat menjadi sumber penelitian lintas disiplin. Namun, kesimpulan mengenai jalur perjalanan, identitas tempat, atau keadaan suatu wilayah tetap harus dibangun melalui pemeriksaan bukti, bukan hanya berdasarkan satu penyebutan dalam cerita.

Pengembaraan yang Memiliki Tujuan Spiritual

Perjalanan Bujangga Manik tidak berhenti pada perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ia memilih jalan religius dan menjalani proses spiritual yang membentuk perkembangan tokohnya. 

Pengembaraan geografis dan pencarian batin berjalan bersama dalam struktur cerita.

Hubungan tersebut membuat kisahnya menarik dibaca dari sisi pengalaman manusia. Perjalanan menjadi bagian dari pilihan hidup, bukan sekadar cara untuk mencapai tujuan geografis. 

Tempat-tempat yang dikunjungi hadir dalam rangkaian pengalaman yang membawa tokoh semakin jauh dari kehidupan yang sebelumnya ia tinggalkan.

Karya ini juga mengingatkan bahwa tradisi intelektual Sunda kuna tidak hanya dapat ditelusuri melalui teks yang berisi petunjuk moral atau aturan kehidupan. 

Sastra naratif seperti Bujangga Manik menyampaikan gagasan melalui tokoh, perjalanan, dan pengalaman religius. Cara tersebut berbeda dari teks didaktis, tetapi sama-sama memberi bahan untuk memahami ragam pemikiran dalam tradisi tulis Sunda.

Sebagai pembanding, Sanghyang Siksa Kandang Karesian memuat pedoman moral, etika, dan pengetahuan praktis untuk kehidupan bermasyarakat. 

Perbedaan bentuk dan tujuan kedua karya itu memperlihatkan bahwa khazanah Sunda kuna memiliki ragam cara dalam menyimpan serta menyampaikan pengetahuan.

Keduanya tidak harus dianggap mewakili seluruh pemikiran masyarakat Sunda pada zamannya. Masing-masing memiliki konteks, bentuk, dan tujuan tersendiri. 

Justru dengan menempatkan setiap naskah sesuai karakteristiknya, penelitian dapat menghindari penyederhanaan terhadap tradisi yang kompleks.

Membuka Kembali Warisan Intelektual Sunda

Perhatian baru terhadap Bujangga Manik memberi kesempatan untuk memperkenalkan naskah Sunda kuna kepada khalayak yang lebih luas. Akan tetapi, warisan semacam ini tidak cukup hanya diangkat sebagai simbol kebanggaan budaya. 

Teksnya perlu terus dibaca, diterjemahkan, diteliti, dan diperbincangkan berdasarkan bukti.

Kisah Bujangga Manik menawarkan satu jalan untuk mendekati dunia Sunda pada masa lampau melalui perjalanan seorang tokoh. Nama tempat memberi bahan bagi penelitian geografis, sementara perkembangan tokoh membuka ruang untuk mengkaji pengalaman religius dan cara sastra membentuk makna perjalanan.

Namun, satu naskah tidak dapat berdiri sebagai wakil tunggal seluruh masyarakat Sunda. Pemahaman yang lebih menyeluruh membutuhkan perbandingan dengan sumber-sumber lain, termasuk naskah sezaman, kajian sejarah, penelitian bahasa, dan bukti arkeologis yang relevan.

Di situlah arti penting Bujangga Manik bagi pembaca masa kini. Naskah ini bukan jawaban akhir mengenai cara orang Sunda memandang dunia, melainkan sumber yang memungkinkan pertanyaan itu terus diteliti.

Melalui pembacaan yang cermat, warisan sastra tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi menjadi bagian dari pengetahuan yang terus berkembang.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar sejak tahun 2000, lalu melintasi berbagai media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi untuk program berita, wisata, petualangan, budaya, dan entertainment. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga dinamika politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Prasasti dan Manuskrip

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →
Budaya Batang Menelusuri Jejak Mataram

Budaya Batang Menelusuri Jejak Mataram

Dialog budaya Batang dan DI Yogyakarta membuka kembali pembahasan hubungan sejarah pesisir utara Jawa dengan Mataram Islam yang menjadi bagian dari upaya penelitian serta pelestarian warisan sejarah.

Ridwan