Berita

Budaya Batang Menelusuri Jejak Mataram

Dialog budaya Batang dan DI Yogyakarta membuka kembali pembahasan hubungan sejarah pesisir utara Jawa dengan Mataram Islam yang menjadi bagian dari upaya penelitian serta pelestarian warisan sejarah.

Oleh Ridwan

Budaya Batang Menelusuri Jejak Mataram
Kompleks Makam Raja-Raja Imogiri di Bantul, Yogyakarta, menjadi salah satu situs penting dalam sejarah Mataram Islam. Foto: jogjacagar.jogjaprov.go.id
Diterbitkan

Sejarah sebuah daerah tidak selalu berhenti pada batas wilayah yang tercantum dalam peta. Hubungan antarmasyarakat, perpindahan manusia, dan pertukaran kebudayaan membuat perjalanan masa lalu saling bersinggungan, bahkan ketika wilayah-wilayah tersebut kini berada dalam administrasi pemerintahan yang berbeda.

Hubungan itu menjadi perhatian dalam dialog budaya antara Pemerintah Kabupaten Batang dan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang dihadiri Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Aula Kantor Bupati Batang, Jawa Tengah, Rabu, 21 Oktober 2026.

Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk membicarakan keterkaitan sejarah Batang dan Yogyakarta, termasuk hubungan wilayah pesisir utara Jawa dengan pusat kekuasaan Mataram Islam. 

Salah satu kisah yang kembali mengemuka ialah Ratu Batang, tokoh yang dikaitkan dengan Sultan Agung Hanyokrokusumo dan kompleks pemakaman raja-raja di Imogiri.

Bagi Sri Sultan, hubungan sejarah dan kebudayaan tidak cukup dipahami melalui batas geografis masa kini. Asal-usul sejumlah tokoh dan peristiwa masa lampau masih menyimpan ruang penafsiran sehingga membutuhkan penelitian yang cermat.

Jejak yang Menghubungkan Pesisir dan Pedalaman

Dalam dialog budaya tersebut, Sri Sultan menyoroti temuan arkeologis di sejumlah wilayah Batang, termasuk Indrajaya dan Degeng. 

Peninggalan bercorak Hindu-Buddha berupa prasasti, arca, dan sisa bangunan keagamaan disebut sebagai petunjuk penting untuk memahami perkembangan kebudayaan di wilayah itu pada masa awal.

“Jejak tersebut menjadi petunjuk penting mengenai perkembangan kebudayaan di Batang pada masa awal, yang perlu dikaji lebih lanjut untuk memahami hubungannya dengan pusat-pusat peradaban lain di Jawa,” jelasnya dilansir dari InfoPublik.id.

Temuan tersebut membuka ruang kajian mengenai hubungan Batang dengan pusat-pusat peradaban lain di Jawa. Meski demikian, hubungan historis itu tidak dapat disimpulkan hanya dari keberadaan peninggalan arkeologis. 

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menjelaskan konteks, masa, dan keterkaitannya dengan perkembangan masyarakat di wilayah lain.

Sri Sultan menekankan bahwa peradaban tidak tumbuh dalam keterasingan. Pertukaran gagasan, perpindahan manusia, dan interaksi antarmasyarakat turut membentuk karakter kebudayaan suatu wilayah.

Dialog budaya Batang dan DIY membuka kembali penelusuran hubungan sejarah pesisir utara Jawa dengan Mataram Islam, termasuk kisah Ratu Batang yang dikaitkan dengan kompleks pemakaman Imogiri. Foto: InfoPublik.id

Pandangan tersebut memberi konteks bagi penelusuran hubungan Batang dengan Mataram Islam. Wilayah pesisir dan pedalaman memiliki pengalaman sejarah serta kondisi geografis yang berbeda, tetapi keduanya dapat terhubung melalui dinamika politik, sosial, dan kebudayaan.

Kisah Ratu Batang menjadi salah satu bagian dari penelusuran tersebut. Namanya dikaitkan dengan kompleks pemakaman Imogiri, tempat Sultan Agung dimakamkan. Sri Sultan pun mengingatkan bahwa asal-usul tokoh dan berbagai versi cerita yang berkembang perlu dikaji lebih jauh sebelum ditarik menjadi kesimpulan sejarah.

Ratu Batang dan Penelitian Sejarah

Hubungan Ratu Batang dengan Sultan Agung juga muncul dalam pementasan Tari Tangguh Mataram yang dibawakan 21 penari dari Keraton Yogyakarta dalam rangkaian Muhibah Budaya Kabupaten Batang 2026.

Tarian itu mengangkat kisah percintaan Sultan Agung Hanyokrokusumo dengan Gusti Kanjeng Ratu Batang, sekaligus menggambarkan perjuangan Sultan Agung dalam memimpin perlawanan terhadap VOC di Batavia dengan dukungan Kanjeng Ratu Batang.

Pementasan tersebut memperlihatkan bagaimana kisah masa lalu dapat diwariskan melalui seni pertunjukan. Namun, narasi dalam sebuah karya seni dan kesimpulan penelitian sejarah memiliki fungsi berbeda. 

Keduanya dapat saling memberi konteks, tetapi cerita yang dipentaskan tetap perlu ditempatkan sesuai sumber dan tradisi yang melandasinya.

Karena itu, penelitian sejarah menjadi salah satu hal penting yang ditekankan dalam dialog budaya Batang–DIY. Sri Sultan mendorong keterlibatan sejarawan, arkeolog, budayawan, dan masyarakat dari kedua daerah agar warisan sejarah dapat dipahami secara lebih utuh.

Penelitian tersebut tidak hanya berkaitan dengan tokoh dan peristiwa, tetapi juga dengan peninggalan material serta tradisi yang masih hidup di masyarakat. Pendokumentasian dan pelestarian menjadi bagian dari upaya memastikan warisan tersebut dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

Kemajuan Batang dan Akar Kebudayaannya

Penelusuran sejarah berlangsung ketika Batang juga mengalami perubahan melalui perkembangan kawasan industri dan aktivitas ekonomi. 

Perubahan itu membawa perjumpaan antara teknologi, investasi, tenaga kerja, dan masyarakat dengan latar belakang yang beragam.

Sri Sultan mengingatkan agar perkembangan tersebut tidak membuat masyarakat kehilangan jati diri budayanya. Bahasa, kesenian, dan kearifan lokal tetap perlu dipahami, terutama oleh generasi muda yang akan menghadapi perubahan zaman.

Bupati Batang M. Faiz Kurniawan juga menilai hubungan sejarah dengan Mataram menyimpan banyak hal yang perlu digali. Menurut dia, pemahaman terhadap masa lalu dapat membantu masyarakat mengenali identitas daerah sekaligus menentukan arah perkembangannya.

Dalam konteks itu, dialog budaya diharapkan menjadi awal penguatan kerja sama antara Batang dan DIY dalam penelitian, pengembangan, serta pelestarian warisan sejarah.

Jejak yang menghubungkan Pantura dengan Imogiri memang belum seluruhnya terungkap. Kisah Ratu Batang, peninggalan arkeologis di Batang, dan hubungan wilayah pesisir dengan pedalaman masih membutuhkan pembacaan berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Justru di situlah pentingnya penelusuran tersebut. Sejarah tidak hanya menghadirkan cerita tentang tokoh dan kekuasaan, tetapi juga membuka kesempatan untuk memahami bagaimana hubungan antardaerah terbentuk dan bagaimana warisan itu dapat dirawat di tengah perubahan zaman.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar sejak tahun 2000, lalu melintasi berbagai media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi untuk program berita, wisata, petualangan, budaya, dan entertainment. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga dinamika politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Berita

Lihat semua →
Pelajar Kei Bersiap Mengenal Hukum Adat

Pelajar Kei Bersiap Mengenal Hukum Adat

Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara menyiapkan kurikulum budaya Kei untuk mengenalkan hukum adat Larvul Ngabal, filosofi Ain Ni Ain, dan tradisi lokal kepada pelajar mulai 2027.

Ridwan

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →