Peradaban Nusantara

Riset Arkeologi Membuka Jejak Sejarah Manusia

Perkembangan riset arkeologi Indonesia dan temuan prasejarah yang memperluas pemahaman tentang evolusi, migrasi, serta kebudayaan manusia di kawasan Indo-Pasifik.

Oleh Ridwan

Cap tangan berusia sedikitnya 67.800 tahun di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara
Cap tangan berusia sedikitnya 67.800 tahun di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, menjadi salah satu bukti arkeologis penting yang memperkaya penelitian tentang perjalanan panjang sejarah dan kebudayaan manusia. Foto: brin.go.id
Diterbitkan

Indonesia memiliki sejumlah temuan arkeologi yang membantu menjelaskan perjalanan panjang manusia di kawasan Indo-Pasifik. 

Artefak batu yang diperkirakan berusia lebih dari satu juta tahun, lukisan gua berusia puluhan ribu tahun, hingga stensil tangan prasejarah menjadi bukti penting untuk menelusuri kehidupan, kemampuan adaptasi, dan perkembangan budaya manusia pada masa lampau.

Temuan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam The 23rd Congress of the Indo-Pacific Prehistory Association (IPPA) di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada 2–7 November 2026. 

Kongres bertema Tomorrow and Beyond ini mempertemukan lebih dari 850 peneliti, akademisi, dan praktisi dari 42 negara untuk membahas perkembangan penelitian prasejarah, arkeologi, dan warisan budaya kawasan Indo-Pasifik.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memandang penelitian arkeologi Indonesia memiliki kontribusi penting dalam memperluas pemahaman tentang evolusi, migrasi, dan perkembangan kebudayaan manusia. 

Berbagai temuan di Nusantara juga menunjukkan bahwa sejarah manusia tidak dapat dipahami hanya melalui satu wilayah atau disiplin ilmu.

Temuan Arkeologi Mengungkap Kehidupan Prasejarah

Salah satu bukti penting berasal dari penelitian seni cadas di Sulawesi Selatan. Lukisan gua yang dipublikasikan pada 2024 diperkirakan berusia sedikitnya 51.200 tahun. 

Temuan ini memberikan informasi mengenai kemampuan manusia prasejarah dalam mengembangkan simbol dan mengekspresikan gagasan melalui karya visual.

Penelitian lain yang dipublikasikan pada Januari 2026 mengungkap usia minimum stensil tangan prasejarah mencapai 67.800 tahun. Penentuan usia tersebut menggunakan metode Laser Ablation-Inductively Coupled Plasma-Mass Spectrometry (LA-ICP-MS). 

Hasil penelitian ini memperluas pemahaman tentang perkembangan seni cadas dan mobilitas manusia pada masa prasejarah. 

Salah satu temuannya adalah stensil tangan berusia sedikitnya 67.800 tahun di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, sebagaimana diidentifikasi oleh Kementerian Kebudayaan.

Temuan tersebut melengkapi bukti seni cadas prasejarah lainnya di Sulawesi yang diperkirakan berusia 51.200 tahun. 

Meski terdapat perbedaan penyebutan lokasi dalam sumber BRIN dan Kementerian Kebudayaan, kedua penelitian ini menegaskan pentingnya kawasan Sulawesi dalam mengungkap jejak seni dan kehidupan manusia pada masa lampau

Bukti kehidupan yang lebih tua ditemukan melalui artefak batu dari Kala Pleistosen Awal di Pulau Sulawesi. 

Penelitian yang dipublikasikan pada 2025 memperkirakan artefak tersebut berusia sedikitnya 1,04 juta tahun dan berpotensi mencapai hampir 1,5 juta tahun.

Temuan artefak batu membuka pertanyaan mengenai keberadaan, persebaran, dan kemampuan adaptasi manusia purba di kawasan kepulauan Asia Tenggara. 

Bukti tersebut juga memperlihatkan bahwa wilayah kepulauan memiliki peran dalam sejarah panjang kehidupan manusia, bukan sekadar menjadi ruang yang menerima pengaruh dari wilayah daratan.

Membaca Sejarah dari Perspektif Kepulauan

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengajak komunitas akademik internasional memperluas perspektif dalam memahami sejarah manusia. 

Menurut Fadli, kajian sejarah kawasan Indo-Pasifik perlu memberikan perhatian lebih besar kepada masyarakat kepulauan dan lingkungan maritim. Selama ini, pembacaan sejarah sering bertumpu pada perspektif kontinental atau wilayah daratan. 

Fadli mendorong agar jaringan migrasi, interaksi, dan pertukaran budaya antarpulau turut menjadi bagian penting dalam penelitian. Pembahasan tersebut dapat memperkaya pemahaman mengenai posisi Nusantara dalam perjalanan sejarah manusia.

Fadli juga menilai masyarakat kepulauan bukan sekadar penerima pengaruh dari pusat-pusat peradaban di daratan. Mereka mengembangkan inovasi, kemampuan beradaptasi, dan jaringan pertukaran budaya sesuai lingkungan tempat tinggalnya.

Riset Arkeologi Membutuhkan Kolaborasi Ilmu

Untuk memahami temuan prasejarah secara lebih menyeluruh, BRIN mendorong penguatan penelitian multidisiplin dan kolaborasi internasional. 

Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Herry Yogaswara, menyebut sejumlah bidang keilmuan yang dapat diintegrasikan dengan arkeologi, antara lain bioarkeologi, genetika, geosains, ilmu lingkungan, ilmu material, teknologi nuklir, dan teknologi digital.

Pendekatan lintas disiplin diperlukan untuk menjawab berbagai pertanyaan yang belum terungkap melalui bukti arkeologis semata. 

Penelitian dapat mengkaji pergerakan populasi manusia, perkembangan teknologi, interaksi antarmasyarakat, serta kemampuan manusia beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.

“Catatan arkeologi kawasan Indo-Pasifik bukan sekadar kumpulan sejarah nasional yang terpisah, melainkan merepresentasikan proses yang saling terhubung dan melampaui batas-batas politik modern,” jelas Herry dilansir dari brin.go.id.

Migrasi dan pertukaran budaya pada masa lampau berlangsung melintasi wilayah yang kini dibatasi oleh batas politik negara modern. 

Kolaborasi antarpakar dan antarnegara memungkinkan temuan dari berbagai kawasan dibaca sebagai bagian dari proses sejarah yang saling terhubung.

Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Danang Sri Hadmoko, menyebut Indonesia sebagai laboratorium alam untuk memahami migrasi manusia, evolusi budaya, dan adaptasi terhadap perubahan lingkungan. 

Keberadaan lebih dari 17.000 pulau serta keragaman kelompok etnis dan bahasa menyediakan sumber data yang luas bagi penelitian lintas disiplin.

Sementara Presiden IPPA, Prof. Anggraeni dari UGM, juga menekankan fungsi kongres sebagai ruang pertukaran hasil penelitian, pengembangan metodologi, dan penguatan jejaring akademik internasional. 

Pertemuan tersebut membuka kesempatan bagi para peneliti untuk membahas perkembangan arkeologi, sejarah, budaya, dan warisan kawasan Indo-Pasifik.

Jejak Arkeologi dan Warisan Ilmiah Indonesia

Penyelenggaraan kongres IPPA di Indonesia memiliki latar sejarah tersendiri. 

Herry Yogaswara mengingatkan bahwa arkeolog Indonesia, almarhum Prof. R.P. Soejono, pernah menjabat sebagai Presiden IPPA pada 1990. Kongres tahun ini juga bertepatan dengan peringatan satu abad kelahiran Soejono pada November 2026.

Selama kongres, peserta mengikuti sesi ilmiah paralel pada 3–4 dan 6–7 November, serta kunjungan lapangan ke sejumlah situs arkeologi dan budaya pada 5 November. 

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mempertemukan hasil penelitian dengan kekayaan situs prasejarah dan warisan budaya Indonesia.

Bagi BRIN, penguatan riset multidisiplin dan kerja sama internasional menjadi bagian dari upaya meningkatkan kontribusi Indonesia dalam kajian sejarah manusia di kawasan Indo-Pasifik. 

Hasil penelitian tidak hanya memperkaya pengetahuan tentang masa lampau, tetapi juga menyediakan landasan ilmiah bagi pelestarian warisan budaya dan pemahaman tentang hubungan manusia dengan lingkungannya.

Temuan arkeologi di Nusantara memperlihatkan bahwa sejarah manusia memiliki perjalanan yang panjang dan beragam. 

Penelitian yang terus berkembang membuka kesempatan untuk memahami kembali posisi masyarakat kepulauan dalam sejarah tersebut, sekaligus memperluas pengetahuan tentang kebudayaan yang eksis di wilayah Indonesia.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar, lalu melintasi media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Peradaban Nusantara

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →