Pariwisata

Geopark Ijen, Lebih dari Keindahan Kawah

Intip keunikan Geopark Ijen yang diakui UNESCO! Temukan keindahan alam, fenomena geologi langka, serta keanekaragaman hayati dan budaya masyarakatnya.

Oleh Ridwan

Kawah Ijen
Kawah Ijen menjadi salah satu geosite ikonik dalam kawasan UNESCO Global Geopark Ijen yang membentang di Banyuwangi dan Bondowoso. Foto: Lim Jia Le/Pexels
Diterbitkan

Kawah Ijen selama ini dikenal melalui danau kawah berwarna hijau toska dan fenomena api biru atau blue fire. Pemandangan tersebut menjadikan kawasan di perbatasan Banyuwangi dan Bondowoso , Jawa Timur sebagai salah satu tujuan wisata alam yang dikenal hingga mancanegara. 

Di balik daya tarik itu, Ijen memiliki bentang alam yang jauh lebih luas daripada sebuah kawah.

Kawasan tersebut menyimpan jejak aktivitas vulkanik, formasi batuan, kekayaan hayati, serta hubungan panjang antara manusia dan lingkungan. 

Berbagai unsur itu menjadi bagian dari identitas Geopark Ijen, kawasan yang sejak 2023 memperoleh pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark.

Pengakuan tersebut kembali dipertahankan pada November 2026. Geopark Ijen memperoleh Green Card dalam Sidang Dewan UNESCO Global Geoparks ke-11 di Paris, Prancis, pada 3 November 2026. 

Hasil revalidasi ini menandakan bahwa pengelolaan kawasan dinilai memenuhi kriteria untuk mempertahankan status geopark dunia. Capaian tersebut bukan hanya kabar baik bagi pariwisata Banyuwangi dan Bondowoso. 

Green Card juga menjadi pengingat bahwa pengakuan internasional membawa tanggung jawab untuk merawat warisan bumi, mengembangkan pengetahuan, dan memastikan masyarakat sekitar memperoleh manfaat dari keberadaan geopark.

Pengakuan Dunia untuk Warisan Ijen

Geopark Ijen pertama kali ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark pada 2023. Tiga tahun kemudian, kawasan ini menjalani proses revalidasi yang berlangsung pada Agustus 2026. 

Tim asesor meninjau berbagai aspek, mulai dari kekayaan geologi, pengelolaan kawasan, konservasi, pendidikan, hingga keterlibatan masyarakat.

Dalam sidang di Paris pada 3 November 2026, seluruh 12 anggota Dewan UNESCO Global Geoparks menyepakati pemberian Green Card kepada Ijen. Keputusan tersebut membuat status UNESCO Global Geopark Ijen berlanjut untuk periode empat tahun berikutnya.

Dalam sistem UNESCO, Green Card diberikan kepada geopark yang tetap memenuhi kriteria setelah melalui evaluasi. Status ini bukan penghargaan yang berlaku tanpa batas. 

Setiap geopark harus menjalani penilaian berkala untuk memastikan kualitas pengelolaan dan komitmen terhadap perlindungan warisan geologi tetap terjaga.

Prinsip pengelolaan geopark dunia juga tidak hanya bertumpu pada keunikan alam. UNESCO menempatkan perlindungan, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan sebagai satu kesatuan. 

Warisan geologi perlu dihubungkan dengan kekayaan alam dan budaya, sekaligus memberi ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam pengembangan wilayahnya.

Bagi Ijen, pengakuan tersebut mencakup kawasan yang berada di Banyuwangi dan Bondowoso. Kolaborasi lintas wilayah menjadi bagian penting karena bentang alam dan kehidupan masyarakat tidak berhenti pada batas administrasi kabupaten.

Jejak Vulkanik yang Membentuk Lanskap

Kekuatan utama Geopark Ijen terletak pada bentang geologi yang terbentuk melalui proses alam dalam waktu panjang. 

Aktivitas vulkanik membentuk kaldera, kawah, aliran lava, dan berbagai formasi batuan yang kini menjadi bagian dari kekayaan geologi kawasan. Kawah Ijen menjadi salah satu geosite paling dikenal. 

Danau kawahnya memiliki warna hijau toska yang khas, sementara fenomena blue fire muncul dari pembakaran gas belerang yang keluar melalui rekahan di kawasan vulkanik. Fenomena ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dan peneliti.

Di luar Kawah Ijen, terdapat sejumlah situs yang memperlihatkan keragaman bentang geologi. Kawah Wurung dan Aliran Lava Plalangan di Bondowoso, misalnya, memperlihatkan bentuk lanskap yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik. 

Situs lain seperti Taman Batu So'on, Lava Blawan, dan Dinding Kaldera Ijen Megasari menambah kekayaan geologi yang dapat dipelajari di kawasan tersebut.

Daftar geosite Geopark Ijen juga mencakup lokasi dengan karakter berbeda, seperti Batuan Terobosan Teluk Hijau, Goa Istana, Sedimen Kendenglembu, Watudodol, dan Pantai Grajagan. 

Keberagaman lokasi tersebut memperlihatkan bahwa geopark bukan sekadar kawasan wisata dengan satu objek utama. Setiap situs menyimpan informasi tentang proses pembentukan bumi dan perubahan bentang alam.

Kekayaan geologi ini memiliki nilai pendidikan. Pengunjung dapat mengenal proses alam melalui lanskap yang dijumpai langsung, sedangkan kegiatan penelitian membantu menjelaskan sejarah geologi kawasan dengan pendekatan ilmiah. 

Geopark pada dasarnya menjadi ruang belajar terbuka yang menghubungkan pengetahuan bumi dengan kehidupan sehari-hari.

Alam dan Budaya dalam Satu Kawasan

Bentang geologi Ijen juga berhubungan dengan kehidupan hayati dan kebudayaan masyarakat. Hutan, perkebunan, sumber air, serta lingkungan pegunungan membentuk ruang hidup bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa. 

Kekayaan alam tersebut menjadi bagian dari identitas kawasan yang perlu diperhatikan bersama dengan perlindungan situs geologi. Di Banyuwangi, tradisi masyarakat Osing menjadi salah satu unsur budaya yang memperkaya kawasan. 

Seni tari Gandrung, kerajinan, kuliner, serta tradisi lokal memperlihatkan hubungan masyarakat dengan lingkungan dan sejarah wilayahnya. Kopi dari kawasan dataran tinggi juga menjadi bagian dari kehidupan ekonomi dan identitas lokal. 

Kesenian tradisional Osing
Kesenian tradisional Osing menjadi bagian dari kekayaan budaya Banyuwangi yang turut memperkaya identitas Geopark Ijen, tempat warisan alam dan tradisi masyarakat hidup berdampingan. Foto: InfoPublik.id

Kehidupan para penambang belerang di Kawah Ijen memperlihatkan hubungan manusia dengan sumber daya geologi secara lebih langsung. Aktivitas tersebut telah menjadi bagian dari gambaran kehidupan di kawasan kawah. 

Pemandangan para pekerja membawa belerang dari area penambangan sekaligus mengingatkan bahwa sumber daya alam memiliki nilai ekonomi, tetapi pemanfaatannya perlu memperhatikan keselamatan kerja dan kelestarian lingkungan.

Keterkaitan alam dan budaya inilah yang membedakan konsep geopark dari pengembangan destinasi wisata biasa. 

Lanskap tidak dipandang sebagai pemandangan semata, melainkan sebagai ruang yang membentuk mata pencaharian, pengetahuan lokal, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakat.

Geopark dan Kehidupan Masyarakat

Pengakuan UNESCO akan memiliki arti lebih luas apabila sejalan dengan manfaat yang dirasakan masyarakat. Pengembangan geowisata, pendidikan lingkungan, usaha lokal, dan pelestarian budaya perlu berjalan bersama. 

Masyarakat bukan sekadar penerima kunjungan wisatawan, melainkan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kawasan. Salah satu contoh kegiatan pemberdayaan di sekitar kawasan Ijen terlihat di Desa Kalianyar, Bondowoso. 

Melalui program UNESA International Community Development 2026, Universitas Negeri Surabaya mendorong penguatan potensi desa melalui pertanian dan peternakan berkelanjutan, pengolahan limbah ternak menjadi kompos, penguatan rantai pasok, serta pelatihan pemasaran digital bagi pelaku UMKM dan pemuda.

Program tersebut memperlihatkan bentuk pengembangan kapasitas ekonomi masyarakat yang dapat mendukung kehidupan desa. 

Kegiatan ini bukan bukti bahwa seluruh manfaat ekonomi geopark telah dirasakan warga, tetapi menjadi contoh upaya pemberdayaan yang relevan dengan semangat pembangunan berkelanjutan.

Pendidikan juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan geopark. Program seperti Geopark Goes to School, School Goes to Geopark, dan Geopark Corner membuka kesempatan bagi pelajar untuk mengenal warisan geologi melalui pembelajaran yang lebih dekat dengan lingkungan mereka.

Keberlanjutan Geopark Ijen pada akhirnya bergantung pada kemampuan berbagai pihak menjaga keseimbangan antara perlindungan alam, kegiatan ekonomi, pendidikan, dan pelestarian budaya. 

Pemerintah daerah, pengelola, akademisi, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat memiliki peran yang saling berkaitan.

Green Card pada 2026 menegaskan bahwa Geopark Ijen masih memenuhi standar UNESCO. Pengakuan tersebut menjadi modal untuk memperkuat pengelolaan kawasan, sekaligus mengingatkan bahwa warisan bumi tidak cukup hanya diperkenalkan kepada dunia. 

Kawah Ijen mungkin menjadi wajah yang paling mudah dikenali. 

Di balik kawah tersebut terbentang cerita yang lebih luas tentang proses bumi, kekayaan alam, tradisi, dan kehidupan manusia. Itulah alasan Geopark Ijen layak dilihat lebih dari sekadar destinasi wisata.

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar, lalu melintasi media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Pariwisata

Lihat semua →

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →