Suasana kampung di Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur berubah ketika Ritual Seblang diselenggarakan. Warga berkumpul, menyiapkan perlengkapan upacara, dan mengikuti rangkaian kegiatan yang telah diwariskan dari generasi sebelumnya.
Di tengah kehidupan masyarakat Osing Banyuwangi, Seblang bukan sekadar pertunjukan tari. Tradisi ini menjadi bagian dari hubungan masyarakat dengan leluhur, lingkungan, dan harapan akan keselamatan desa.
Seblang dikenal di dua tempat, yakni Kelurahan Bakungan dan Desa Olehsari. Keduanya berada di Kecamatan Glagah, tetapi memiliki waktu penyelenggaraan dan tata cara yang berbeda.
Seblang Bakungan dilaksanakan sekitar sepekan setelah Iduladha, sedangkan Seblang Olehsari berlangsung setelah Idulfitri.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa Seblang tidak memiliki satu bentuk pelaksanaan yang seragam. Setiap desa mempertahankan aturan dan tradisi yang tumbuh dalam kehidupan masyarakatnya.
Ritual ini juga memperlihatkan bagaimana warisan budaya Osing terus dijaga di tengah perubahan sosial dan perkembangan pariwisata Banyuwangi.
Dua Desa, Dua Tradisi Seblang
Seblang Bakungan dan Seblang Olehsari memiliki karakter yang dapat dikenali dari sosok penarinya.
Di Bakungan, penari Seblang merupakan perempuan paruh baya yang telah memasuki masa menopause. Sementara itu, di Olehsari, penari dipilih dari kalangan perempuan muda yang belum menikah.
Perbedaan juga terlihat dalam waktu pelaksanaan. Seblang Bakungan diselenggarakan pada bulan Zulhijah, sekitar satu pekan setelah Iduladha. Seblang Olehsari berlangsung pada bulan Syawal, setelah Idulfitri, selama tujuh hari berturut-turut.
Riwayat kedua tradisi tersebut juga memiliki penuturan berbeda. Masyarakat Bakungan mempercayai Seblang telah diwariskan sejak 1639.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyebut tahun tersebut dalam dokumentasi penyelenggaraan Seblang Bakungan pada 2025. Angka itu merupakan riwayat yang dipercaya dan diwariskan masyarakat, sehingga perlu dibedakan dari penanggalan yang telah dibuktikan melalui dokumen sejarah.
Untuk Seblang Olehsari, sejumlah penelitian mencatat keberadaan tradisi ini sejak sekitar 1930-an. Salah satu penjelasan mengenai kemunculannya berkaitan dengan pengalaman masyarakat menghadapi pagebluk atau wabah penyakit.
Ritual kemudian dijalankan sebagai bagian dari bersih desa dan ungkapan syukur atas keselamatan yang diharapkan masyarakat. Perbedaan asal-usul dan tata cara tersebut menunjukkan kekayaan tradisi lokal di Banyuwangi.
Seblang Bakungan dan Olehsari memiliki hubungan dalam identitas budaya Osing, tetapi masing-masing tetap mempunyai aturan adat yang perlu dipahami menurut konteks desanya.
Gerak Tari dan Makna Kesakralan
Di Bakungan, rangkaian Seblang tidak dimulai ketika penari memasuki arena. Masyarakat terlebih dahulu melaksanakan kegiatan keagamaan dan persiapan bersama.
Pada penyelenggaraan 2025, warga mengawali rangkaian dengan salat Magrib dan salat hajat di masjid setempat. Setelah itu, masyarakat mengikuti arak-arakan obor yang dikenal sebagai ider bumi, yaitu kegiatan mengelilingi kampung.
Warga juga mengadakan kenduri dengan hidangan khas pecel pitik. Makanan tersebut dinikmati bersama sebagai bagian dari kebersamaan masyarakat dalam menyelenggarakan ritual. Puncak kegiatan berlangsung ketika penari Seblang tampil diiringi gending atau musik tradisional.
Dalam pelaksanaan ritual, penari dapat memasuki kondisi trance atau kehilangan kesadaran. Masyarakat setempat memahami keadaan tersebut melalui kerangka kepercayaan yang diwariskan dalam tradisi Seblang.
Pengalaman itu menjadi bagian dari ritual, bukan sekadar unsur pertunjukan untuk menarik perhatian penonton.
Seblang Olehsari memiliki rangkaian dan perlengkapan tersendiri. Penari mengenakan busana serta hiasan kepala khas yang dikenal sebagai omprok.
Gending pengiring dan gerakan tari juga memiliki makna simbolis bagi masyarakat. Penelitian mengenai Seblang Olehsari mencatat bahwa busana dan gerakan tarian berkaitan dengan nilai kesederhanaan, kedamaian, serta gambaran kehidupan masyarakat.
Setiap unsur dalam ritual memiliki tempat dalam tata cara adat. Oleh sebab itu, pemahaman terhadap Seblang tidak cukup hanya dengan melihat gerak penari atau mendengar musik pengiring.
Konteks kepercayaan, persiapan warga, dan hubungan antargenerasi menjadi bagian penting untuk memahami makna tradisi tersebut.
Eksistensi Tradisi di Tengah Pariwisata
Seblang kini juga dikenal sebagai salah satu daya tarik wisata budaya Banyuwangi. Kehadiran pengunjung memberi kesempatan bagi masyarakat luas untuk mengenal tradisi Osing dan masyarakat setempat memperoleh manfaat ekonomi dari penyelenggaraan acara.
Ketertarikan terhadap Seblang juga datang dari kalangan akademisi. Pada Juni 2025, Sumarsam, Kaplan Professor of Music dari Wesleyan University, Amerika Serikat, berkunjung ke Banyuwangi untuk meneliti kekayaan budaya daerah tersebut.
Selama tiga hari berada di Banyuwangi, Sumarsam menyaksikan Janger Banyuwangi, mendengarkan Mamaca Lontar Yusuf, dan menghadiri Ritual Seblang Bakungan.
“Saya sudah melihat Janger Banyuwangi, mendengarkan Mamaca Lontar Yusuf, dan malam ini melihat Seblang Bakungan. Keanekaragaman budayanya sungguh lengkap Banyuwangi,” ungkap Sumarsam dilansir dari banyuwangikab.go.id.
Kunjungannya memperlihatkan bahwa tradisi Seblang memiliki daya tarik tidak hanya bagi wisatawan, tetapi juga bagi kalangan akademisi yang menaruh perhatian pada seni pertunjukan dan kekayaan budaya Nusantara.
Di sisi lain, perkembangan pariwisata membawa perubahan dalam cara tradisi diperkenalkan kepada publik. Penelitian Iin Isnaini dalam Gondang: Jurnal Seni dan Budaya pada 2025 mengkaji perubahan nilai ritual Seblang Olehsari sepanjang 2002–2021.
Penelitian tersebut menemukan adanya pergeseran dari fungsi bersih desa yang bersifat sakral menuju penyelenggaraan yang juga dikemas sebagai objek wisata. Sejumlah unsur modern turut masuk dalam pertunjukan.
Respons masyarakat terhadap perubahan tersebut tidak sepenuhnya sama. Sebagian melihat pariwisata sebagai peluang untuk mendukung ekonomi warga.
Sebagian lain mengkhawatirkan perubahan yang dapat mengurangi nilai spiritual dan tata cara tradisi. Perbedaan pandangan ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya selalu berkaitan dengan keputusan masyarakat yang menjalankannya.
Kajian mengenai Seblang Bakungan juga memperlihatkan upaya warga mempertahankan keaslian ritual di tengah perubahan sosial dan pengaruh pariwisata.
Regenerasi pelaku, kerja sama dengan pemerintah daerah, serta pengenalan nilai tradisi kepada generasi muda menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungannya.
Pada akhirnya, kelangsungan Seblang tidak hanya ditentukan oleh jumlah wisatawan yang datang atau kemeriahan penyelenggaraan. Tradisi ini tetap memiliki makna karena masyarakat Osing terus menjalankan dan mewariskan tata cara yang mereka yakini.
Pengunjung dapat menyaksikan Seblang sebagai kekayaan budaya Banyuwangi, tetapi penghormatan terhadap aturan adat dan ruang sakral masyarakat tetap menjadi hal utama.
Seblang memperlihatkan bahwa tradisi tidak selalu hadir sebagai peninggalan masa lalu yang berhenti berkembang.
Di Bakungan dan Olehsari, ritual ini terus dijalankan melalui keterlibatan warga, pengetahuan lokal, dan pewarisan antargenerasi. Keberlangsungannya bergantung pada kemampuan masyarakat menjaga makna tradisi di tengah perubahan zaman.








