Suara hitungan terdengar dari sudut halaman. Seorang anak berdiri menghadap tembok, menutup kedua mata, lalu mulai menghitung. Teman-temannya bergegas mencari tempat persembunyian.
Ada yang menyelinap di balik pohon, berjongkok di samping rumah, atau bersembunyi di antara pagar dan tumpukan barang. Setelah hitungan selesai, pencarian dimulai.
Suasana seperti itu pernah menjadi bagian dari keseharian anak-anak di banyak lingkungan permukiman Indonesia.
Itulah permainan petak umpet yang tidak membutuhkan peralatan khusus. Cukup beberapa anak, ruang untuk bersembunyi, dan kesepakatan mengenai tempat yang menjadi batas permainan.
Di lingkungan kampung Betawi, permainan ini dikenal sebagai salah satu aktivitas bermain anak-anak. Halaman rumah, gang, kebun, dan sudut permukiman dapat berubah menjadi arena permainan.
Anak-anak berkumpul, menentukan siapa yang bertugas mencari, kemudian memulai permainan dengan aturan yang disepakati bersama.
Petak umpet dikenal luas di berbagai daerah Indonesia. Permainan sejenis juga ditemukan dalam kebudayaan masyarakat di berbagai negara dengan nama hide-and-seek.
Kesederhanaan aturan membuat permainan ini mudah diterima dan dimainkan oleh anak-anak dari berbagai latar belakang.
Menghitung, Bersembunyi, dan Mencari Teman
Petak umpet biasanya dimainkan oleh sedikitnya tiga orang. Semakin banyak peserta, semakin ramai pula suasana permainan.
Sebelum dimulai, anak-anak menentukan siapa yang mendapat giliran menjadi pencari melalui undian sederhana, hompimpa, atau cara lain yang disepakati.
Anak yang bertugas mencari harus berdiri menghadap tembok, tiang, pohon, atau tempat yang telah ditentukan.
Kedua mata ditutup, kemudian pencari mulai menghitung sampai angka yang disepakati. Sementara itu, pemain lain bergegas mencari tempat persembunyian.
Setelah hitungan selesai, pencari mulai mencari teman-temannya. Setiap pemain berusaha tetap tersembunyi selama mungkin. Ada yang memilih tempat dekat, tetapi sulit terlihat. Ada pula yang mencari sudut lebih jauh agar tidak mudah ditemukan.
Permainan menjadi semakin menarik ketika pencari mulai menemukan satu per satu pemain yang bersembunyi. Pemain yang ditemukan biasanya menjadi calon penjaga pada putaran berikutnya, bergantung pada aturan kelompok.
Dalam variasi lain, petak umpet menggunakan tempat khusus yang disebut benteng atau home base. Tempat tersebut dapat berupa pohon, tiang, tembok, atau benda lain yang sudah disepakati sebagai titik aman.
Pemain yang bersembunyi tidak hanya berusaha menghindari pencarian, tetapi juga memiliki kesempatan berlari menuju benteng. Jika berhasil menyentuh tempat tersebut sebelum pencari menemukannya atau menyebut namanya, pemain dinyatakan aman.
Aturan mengenai siapa yang menjadi pencari berikutnya dapat berbeda di setiap lingkungan. Ada kelompok yang menetapkan pemain pertama yang ditemukan sebagai penjaga berikutnya. Ada pula yang menentukan pemain yang gagal menyentuh benteng sebagai orang yang harus berjaga.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa petak umpet tidak selalu memiliki satu aturan baku. Anak-anak dapat menyesuaikan cara bermain berdasarkan jumlah peserta, luas tempat, dan kesepakatan bersama.
Belajar Berhitung dan Berinteraksi
Kesederhanaan petak umpet menyimpan pengalaman belajar yang cukup beragam. Anak-anak harus menghitung angka secara berurutan, mengingat jumlah hitungan, memahami giliran, dan mengikuti aturan yang telah dibuat bersama.
Penelitian Marini, Nerru Pranuta Murnaka, dan Dyah Kusbiantari berjudul Analisis Permainan Petak Umpet dalam Meningkatkan Kemampuan Matematika pada Anak Usia Dini, yang diterbitkan dalam Jurnal Obsesi pada 2023, membahas hubungan permainan ini dengan kemampuan matematika anak.
Penelitian tersebut melibatkan anak usia dini di Semarang, Bekasi, dan Pekalongan. Hasilnya menunjukkan bahwa petak umpet dapat digunakan sebagai sarana mengenalkan konsep bilangan, termasuk menghitung secara berurutan dari satu sampai sepuluh, membilang benda, serta memahami konsep banyak dan sedikit.
Aktivitas menghitung ketika menutup mata menjadi salah satu bagian yang memperkenalkan anak pada urutan angka. Proses tersebut berlangsung secara alami di tengah permainan, tanpa harus selalu menggunakan metode pembelajaran formal.
Aspek sosial juga menjadi bagian penting. Penelitian Intan Zahra Anisa, Annisa Purwani, dan Yuwan Fijar Anugrah yang diterbitkan dalam PIJAR: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran pada 2024 mengkaji pengaruh permainan petak umpet terhadap perkembangan perilaku sosial anak usia empat hingga lima tahun.
Penelitian yang melibatkan 20 anak di KB Azzahra tersebut menemukan peningkatan skor perkembangan perilaku sosial setelah peserta mengikuti empat sesi permainan. Aspek yang diamati mencakup interaksi, kerja sama, dan komunikasi antaranak.
Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa petak umpet dapat menjadi salah satu aktivitas yang mendukung perkembangan sosial anak. Ketika bermain, anak belajar menerima giliran, mengikuti kesepakatan, berkomunikasi, dan menghadapi hasil permainan.
Petak umpet juga melibatkan aktivitas fisik. Anak-anak berlari, berjongkok, menghindar, mengubah arah gerak, dan memperkirakan jarak ketika mencari tempat persembunyian. Gerakan tersebut menjadi bagian dari pengalaman bermain yang melatih koordinasi tubuh.
Halaman Kampung sebagai Ruang Bermain
Petak umpet memiliki hubungan erat dengan ruang tempat anak-anak tumbuh. Lingkungan permukiman menyediakan berbagai kemungkinan tempat persembunyian. Pohon, pagar, halaman, gang, dan sudut rumah menjadi bagian dari arena yang digunakan bersama.
Anak-anak juga belajar mengenali lingkungan melalui permainan. Mereka mengingat sudut yang dapat digunakan untuk bersembunyi, memahami batas wilayah permainan, dan mengetahui tempat yang aman untuk berlari.
Pengalaman tersebut membuat ruang sehari-hari memiliki fungsi lain. Halaman rumah tidak hanya menjadi tempat berkumpul keluarga.
Gang yang biasanya digunakan untuk berjalan dapat berubah menjadi lintasan permainan. Pepohonan dan pagar menjadi bagian dari strategi untuk menghindari pencarian.
Dalam lingkungan kampung, permainan seperti ini juga membuka kesempatan bagi anak-anak dari rumah yang berbeda untuk saling mengenal. Mereka bertemu, menyepakati aturan, dan membangun hubungan melalui aktivitas bersama.
Kebiasaan bermain di ruang terbuka turut membentuk pengalaman sosial anak. Tidak semua keputusan ditentukan oleh orang dewasa. Anak-anak belajar membuat kesepakatan sendiri, menyelesaikan perselisihan kecil, dan menentukan apakah sebuah permainan perlu diulang atau diubah aturannya.
Petak Umpet di Tengah Perubahan Zaman
Perubahan lingkungan permukiman dan perkembangan teknologi turut memengaruhi kebiasaan bermain anak.
Ruang terbuka di sejumlah kawasan semakin terbatas, sementara permainan digital menawarkan berbagai pilihan hiburan yang dapat diakses melalui perangkat elektronik.
Penelitian Muharrahman dan rekan-rekan berjudul Implementasi Permainan Tradisional Petak Umpet pada Anak Usia Dini di Era Society 5.0, yang diterbitkan dalam Jurnal Obsesi pada 2023, membahas keberadaan permainan ini di tengah perkembangan teknologi.
Penelitian deskriptif kualitatif tersebut menggunakan observasi dan wawancara melalui Google Form terhadap 30 responden.
Sebanyak 96,7 persen responden menyatakan petak umpet mulai jarang ditemukan seiring hadirnya gadget. Temuan ini menggambarkan pandangan responden dalam penelitian tersebut, bukan gambaran statistik seluruh anak Indonesia. Petak umpet sebenarnya tidak membutuhkan fasilitas yang rumit untuk dimainkan kembali.
Anak-anak hanya memerlukan ruang yang aman, beberapa teman, dan waktu untuk bermain bersama. Orang tua maupun lingkungan sekitar dapat membantu menyediakan kesempatan tersebut.
Permainan ini juga dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Area bermain perlu memiliki batas yang jelas, jauh dari lalu lintas kendaraan, saluran air terbuka, dan tempat yang berisiko bagi keselamatan anak.
Petak umpet mungkin terlihat sederhana dibandingkan berbagai permainan digital yang berkembang sekarang.
Pengalaman berlari mencari tempat persembunyian, menahan tawa ketika hampir ditemukan, dan mendengar teman memanggil dari balik pagar menghadirkan kegembiraan tersendiri dalam kehidupan bermain anak-anak.
Lebih dari sekadar hiburan, petak umpet memberi kesempatan kepada anak-anak untuk berinteraksi, membangun kebersamaan, dan mengenal lingkungan sekitar.
Kesederhanaan permainan ini menyimpan pengalaman sosial yang tetap relevan bagi tumbuh kembang anak.
Di halaman kampung, permainan ini pernah mempertemukan banyak anak dalam satu aktivitas sederhana. Mereka belajar menghitung, berlari, bekerja sama, dan memahami aturan melalui pengalaman langsung.
Petak umpet bukan hanya tentang siapa yang paling pandai bersembunyi atau paling cepat menemukan teman. Permainan ini juga menyimpan cerita tentang pergaulan anak-anak dan ruang bersama yang pernah menjadi bagian penting dari kehidupan sebuah kampung.







