Di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, sebuah lokomotif uap menyimpan cerita panjang tentang perkembangan pertambangan dan teknologi perkeretaapian. Namanya Mak Itam.
Lokomotif bernomor E1060 ini memiliki roda gigi khusus yang dirancang untuk membantu kereta melintasi jalur menanjak di kawasan Pegunungan Bukit Barisan.
Mak Itam merupakan bagian dari sejarah tambang batu bara Ombilin yang pernah menjadi pusat kegiatan industri di Sawahlunto.
Kehadirannya berkaitan dengan pembangunan jaringan kereta api yang menghubungkan kawasan pertambangan di pedalaman dengan wilayah pesisir Sumatera Barat.
Kini, Mak Itam tidak lagi melayani perjalanan kereta wisata di Sawahlunto. Lokomotif tersebut tetap menjadi peninggalan penting dalam sejarah perkeretaapian dan industri Ombilin.
Perjalanannya memperlihatkan perubahan fungsi sebuah teknologi transportasi, dari sarana pengangkutan hasil tambang menjadi bagian dari warisan sejarah yang perlu dilestarikan.
Batu Bara yang Mengubah Sawahlunto
Sejarah perkeretaapian di kawasan Ombilin berawal dari penemuan cadangan batu bara di Sawahlunto. Sekitar 1868, ahli geologi Belanda, Willem Hendrik de Greve, menemukan potensi batu bara di wilayah tersebut.
Penemuan itu mendorong pemerintah kolonial Hindia Belanda melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan kegiatan pertambangan. Persoalan berikutnya adalah bagaimana mengangkut batu bara dari kawasan pegunungan menuju pantai barat Sumatera.
Lokasi tambang berada jauh dari pelabuhan, sementara kondisi geografis Bukit Barisan menghadirkan medan terjal yang tidak mudah dilalui. Pembangunan jalan biasa dinilai tidak memadai untuk mengangkut hasil tambang dalam jumlah besar.
Pada 1875, J.L. Cluysenaer mengajukan kajian mengenai jalur pengangkutan batu bara dari Muaro Kalaban menuju Padang.
Rencana tersebut kemudian berkembang melalui beberapa penelitian dan perubahan rancangan. Salah satu solusi teknis yang digunakan adalah pembangunan rel bergerigi untuk mengatasi lintasan dengan kemiringan tinggi.
Jaringan kereta api menjadi bagian dari sistem industri yang menghubungkan kawasan tambang dengan fasilitas pengolahan, penyimpanan, dan pelabuhan.
Menurut UNESCO, sistem Warisan Tambang Batu Bara Ombilin mencakup jaringan rel pegunungan sepanjang sekitar 155 kilometer, dilengkapi jembatan dan terowongan yang melintasi medan Sumatera Barat.
Pembangunan industri tambang juga membentuk permukiman perusahaan, fasilitas sosial, dan pusat kegiatan ekonomi. Perkembangan tersebut menjadi salah satu dasar pertumbuhan Sawahlunto sebagai kota industri pada masa kolonial.
Rel Pegunungan dan Teknologi Mak Itam
Kondisi geografis Sumatera Barat menuntut teknologi perkeretaapian yang mampu menghadapi tanjakan. Salah satu solusinya adalah sistem rel bergerigi atau rack railway.
Pada jalur tertentu, rel tambahan dengan bentuk bergerigi dipasang di antara dua rel utama. Roda gigi pada lokomotif mengait bagian tersebut untuk membantu kereta bergerak di lintasan menanjak.
Teknologi itu menjadi bagian penting dalam pengangkutan batu bara Ombilin. Salah satu lokomotif yang menggunakan sistem tersebut adalah seri E10.
Lokomotif jenis ini didatangkan dalam beberapa tahap, termasuk dari pabrik Esslingen di Jerman dan SLM di Swiss. Mak Itam merupakan lokomotif uap E1060 buatan Esslingen yang didatangkan ke Indonesia pada 1966.
KAI mencatat lokomotif ini memiliki tenaga sekitar 750 tenaga kuda dan dilengkapi roda gigi khusus untuk beroperasi pada jalur bergerigi. Kehadiran teknologi tersebut memperlihatkan bagaimana sarana transportasi disesuaikan dengan kondisi alam.
Jalur pegunungan membutuhkan perencanaan khusus, mulai dari konstruksi rel hingga kemampuan lokomotif. Jembatan dan terowongan juga menjadi bagian penting agar jaringan perkeretaapian dapat melewati medan yang sulit.
Era lokomotif uap di Indonesia kemudian berakhir secara bertahap pada 1981–1984, seiring penggunaan lokomotif diesel. Mak Itam tidak lagi menjalankan tugas pengangkutan seperti pada masa sebelumnya.
Lokomotif ini kemudian dimanfaatkan untuk perjalanan wisata di jalur kereta api bergigi Sumatera Barat.
Dari Jalur Tambang Menjadi Kereta Wisata
Perjalanan Mak Itam memasuki babak baru ketika lokomotif tersebut dipindahkan ke Museum Kereta Api Ambarawa, Jawa Tengah, pada 1998 dalam kondisi rusak.
Setelah diperbaiki, E1060 sempat melayani perjalanan wisata rute Ambarawa–Jambu. Mak Itam tidak digunakan pada jalur bergerigi menuju Bedono karena konfigurasi roda giginya tidak sesuai dengan sistem rel di jalur tersebut.
Pada Desember 2008, Mak Itam kembali ke Sawahlunto atas permintaan pemerintah kota. Lokomotif ini kemudian dimanfaatkan untuk perjalanan wisata di jalur Sawahlunto–Muaro Kalaban sepanjang sekitar tujuh kilometer.
Kehadirannya menjadi bagian dari pengembangan wisata sejarah pertambangan dan kawasan kota tua.
Pada 2017, Mak Itam ditetapkan sebagai benda cagar budaya melalui Keputusan Wali Kota Sawahlunto Nomor 188.45/327/WAKO-SWL/2017.
Penetapan tersebut memberikan landasan perlindungan terhadap lokomotif sebagai peninggalan sejarah perkeretaapian.
Operasional kereta wisata Mak Itam sempat berhenti pada 2014. Setelah melalui proses perbaikan sarana dan prasarana, layanan kereta wisata Sawahlunto kembali diresmikan pada 20 Desember 2022.
Pengaktifan tersebut melibatkan sinergi empat BUMN, yakni PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Bio Farma (Persero).
Pekerjaan reaktivasi mencakup perbaikan lokomotif dan gerbong, jalur rel, terowongan Lubang Kalam, stasiun, serta depo.
Pada saat peresmian, KAI menyampaikan rencana layanan wisata reguler dengan Mak Itam dan lokomotif diesel sebagai sarana penarik kereta.
Pengaktifan kembali tersebut sempat membuka harapan bagi keberlanjutan wisata sejarah perkeretaapian di Sawahlunto.
Akan tetapi, operasional Mak Itam tidak berlanjut secara reguler. Hingga November 2026, lokomotif ini belum kembali melayani perjalanan wisata di Sawahlunto.
Warisan Dunia dan Masa Depan Mak Itam
Sejarah pertambangan batu bara membentuk identitas Sawahlunto sejak akhir abad ke-19. Kehadiran industri tambang mendorong pembangunan permukiman, fasilitas pengolahan, jaringan transportasi, dan berbagai sarana pendukung kehidupan masyarakat.
Kereta api menjadi bagian penting dari perkembangan tersebut karena menghubungkan kawasan tambang di pedalaman dengan pelabuhan di pesisir barat Sumatera.
Setelah kegiatan pertambangan mengalami perubahan, Sawahlunto terus mengembangkan identitasnya melalui peninggalan sejarah dan warisan industri. Bangunan kolonial, kawasan tambang, museum, serta jaringan perkeretaapian menjadi bagian dari kekayaan sejarah kota.
Pada 6 Juli 2019, UNESCO menetapkan Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto sebagai Situs Warisan Dunia.
Pengakuan tersebut diberikan kepada keseluruhan sistem pertambangan batu bara Ombilin, bukan kepada Mak Itam sebagai objek tunggal.
Kawasan warisan ini mencakup tiga bagian yang saling terhubung, yakni kawasan pertambangan dan kota perusahaan di Sawahlunto, jaringan kereta api pegunungan yang menghubungkan tambang dengan wilayah pesisir, serta fasilitas pelabuhan di Emmahaven atau Teluk Bayur.
Keseluruhan sistem tersebut memperlihatkan perpaduan pengetahuan lokal dan teknologi rekayasa Eropa pada masa industrialisasi.
Dalam konteks sejarah tersebut, Mak Itam menjadi salah satu peninggalan yang memperlihatkan cara kerja teknologi perkeretaapian di kawasan Ombilin.
Lokomotif ini merepresentasikan kebutuhan transportasi pada masa pertambangan sekaligus kemampuan rekayasa untuk menghadapi kondisi geografis Sumatera Barat.
KAI dalam publikasinya pada 23 Oktober 2026 menyebut Mak Itam masih berada di Depo Sawahlunto dan dapat bergerak di emplasemen museum.
Akan tetapi, sejumlah pipa api pada ketel uap mengalami kebocoran sehingga memerlukan perawatan dan perbaikan sebelum lokomotif dapat beroperasi secara optimal.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian lokomotif bersejarah membutuhkan penanganan teknis yang berkelanjutan.
Perawatan harus memperhatikan karakter asli mesin, keamanan operasional, serta ketersediaan tenaga ahli yang memahami teknologi lokomotif uap.
Bagi Sawahlunto, Mak Itam merupakan bagian dari identitas sejarah kota yang tumbuh bersama industri batu bara.
Perjalanannya menghubungkan sejarah pertambangan, pembangunan jalur pegunungan, dan perkembangan teknologi transportasi di Sumatera Barat.
Belum beroperasinya Mak Itam sebagai kereta wisata menjadi pengingat bahwa pengakuan warisan budaya perlu diikuti langkah pelestarian yang nyata.
Lokomotif ini masih menyimpan pengetahuan tentang cara manusia mengatasi medan alam melalui teknologi. Cerita tersebut layak terus diperkenalkan agar sejarah perkeretaapian Ombilin tidak berhenti sebagai catatan masa lalu.








