Profil

Dewi Sartika Pelopor Pendidikan Perempuan di Tanah Sunda

Raden Dewi Sartika lahir 4 Desember 1884 di Cicalengka, Jawa Barat. Ia adalah putri Raden Somanagara dan Raden Ayu Rajapermas. Dari usia muda, Dewi telah menunjukkan kecerdasannya. Setelah menempuh pendidikan di Cicalengka, ia sering mengajak anak-anak gadis di sekitar rumahnya untuk bermain “sekolah-sekolahan,” menandakan minat awalnya dalam pendidikan. Namun, perjalanan hidup Dewi berubah setelah ayahnya […]

Oleh Achmad Aristyan

Pahlawan Nasional Dewi Sartika
Pahlawan Nasional Dewi Sartika (Kiri-Foto Wikipedia) dan Sakola Kautamaan Istri, sekolah perempuan pertama di Bandung gagasan Dewi Sartika. (dok. Pemkot Bandung)
Diterbitkan

Raden Dewi Sartika lahir 4 Desember 1884 di Cicalengka, Jawa Barat. Ia adalah putri Raden Somanagara dan Raden Ayu Rajapermas. Dari usia muda, Dewi telah menunjukkan kecerdasannya.

Setelah menempuh pendidikan di Cicalengka, ia sering mengajak anak-anak gadis di sekitar rumahnya untuk bermain “sekolah-sekolahan,” menandakan minat awalnya dalam pendidikan.  

Namun, perjalanan hidup Dewi berubah setelah ayahnya meninggal dunia. Ibunya membawa Dewi ke Bandung, di mana ia mulai serius memikirkan cita-citanya untuk mendirikan sekolah khusus bagi anak-anak perempuan.

Melansir dari budaya.jogjaprov.go.id, idenya itu tidak mendapat dukungan penuh dari lingkungan terdekatnya. Namun, Dewi mendapatkan dorongan dari kakeknya, R.A.A. Martanegara, Bupati Bandung, dan Den Hamer, Inspektur Kantor Pengajaran. Dengan dukungan itu, Dewi membuka sekolah yang ia impikan, bernama “Sekolah Isteri.”  6 Januari 1904.

Perjuangan dalam Pendidikan  

Pada awalnya, “Sekolah Isteri” hanya memiliki fasilitas sederhana, dengan salah satu ruang kantor kabupaten dijadikan kelas. Dewi Sartika mengajarkan membaca, menulis, berhitung, dan agama, dibantu Purmo dan Uwit. 

Sekolah ini kemudian mendapat perhatian luas, dan jumlah murid terus bertambah. Pada 1908, Dewi menikah dengan Raden Kanduran Agah Suriawinata, seorang guru yang mendukung penuh perjuangannya di bidang pendidikan.  

Pada 1910, sekolah ini berganti nama menjadi “Sekolah Keutamaan Isteri” dan menambahkan pelajaran keterampilan seperti memasak, menyeterika, mencuci, dan membatik.

Dewi bersama suaminya menghadapi tantangan keuangan, namun pemerintah memberikan subsidi untuk membantu operasional sekolah. Pada 1911, sekolah ini diperluas dua bagian, dengan bahasa pengantar Sunda, Belanda, dan Melayu.  

Masa Sulit 

Dewi Sartika terus mengembangkan sekolahnya meskipun menghadapi tantangan besar, termasuk dampak Perang Dunia I yang menyebabkan kenaikan harga kebutuhan sekolah. Perjuangan keras Dewi dan suaminya membuahkan hasil, dan pada 1939, sekolah ini merayakan ulang tahun ke-35 dengan dukungan luas dari masyarakat dan pemerintah. 

Namun, tahun 1939 juga membawa duka mendalam bagi Dewi karena suaminya meninggal dunia. Pada masa penjajahan Jepang dan pasca-kemerdekaan, sekolah yang dirintis Dewi mengalami banyak kesulitan, termasuk kekurangan dana dan peralatan. 

Situasi di Bandung yang tidak stabil memaksa Dewi mengungsi ke berbagai daerah hingga ke CineaK, di mana ia akhirnya jatuh sakit dan meninggal dunia pada 11 September 1947.  

Pahlawan Nasional

Dewi Sartika dimakamkan di pemakaman Cigagadon, Desa Rahayu Kecamatan Cineam, Tasikmalaya, Jawa Barat. Tahun 1950, dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung.

Pemerintah Indonesia menghargai jasa-jasanya dengan menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 1966 melalui Keputusan Presiden RI No. 252 Tahun 1966.  

Raden Dewi Sartika tidak hanya mewariskan sebuah institusi pendidikan, tetapi juga semangat perjuangan untuk kesetaraan pendidikan bagi perempuan. Namanya dikenang sebagai pelopor pendidikan perempuan di Jawa Barat, yang visinya tetap relevan hingga kini.  (Diolah dari berbagai sumber)

TopikProfil
Profil13 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Profil

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan