Kerajaan dan Kesultanan

Ekspedisi Pamalayu dan Strategi Politik Kertanegara

Ekspedisi Singhasari ke Sumatra pada abad ke-13 memperlihatkan persilangan kepentingan militer, diplomasi, dan persaingan kekuasaan regional.

Oleh Narendra

Ekspedisi Pamalayu dan Strategi Politik Kertanegara
Ilustrasi artistik hubungan politik Singhasari dan Melayu pada masa Ekspedisi Pamalayu. Adegan ini merupakan rekonstruksi interpretatif, bukan dokumentasi autentik peristiwa sejarah.
Diterbitkan

Pada akhir abad ke-13, Raja Kertanegara dari Singhasari mengarahkan perhatian politiknya melampaui Pulau Jawa. Salah satu langkah yang paling dikenal adalah Ekspedisi Pamalayu, pengiriman kekuatan Singhasari menuju wilayah Melayu di Sumatra yang kemudian menjadi bagian penting dalam pembahasan hubungan antarkerajaan di Nusantara.

Ekspedisi ini kerap dijelaskan sebagai usaha menghadapi ancaman Mongol sekaligus memperluas pengaruh Singhasari. Namun, untuk memahami kepentingan politik di baliknya, bukti sejarah perlu dibaca secara hati-hati. Prasasti, kakawin, dan kronik tidak selalu memberikan gambaran yang sama lengkapnya tentang tujuan maupun hasil ekspedisi.

Kertanegara dan Politik ke Luar Jawa

Kertanegara memerintah Singhasari pada 1268–1292. Pada masa pemerintahannya, orientasi politik kerajaan tidak hanya tertuju pada konsolidasi kekuasaan di Jawa, tetapi juga pada hubungan dengan wilayah-wilayah di seberang laut.

Kebijakan tersebut dikenal melalui gagasan perluasan mandala kekuasaan, yakni jaringan pengaruh yang dapat melampaui batas pusat kerajaan. Dalam lingkungan politik Asia Tenggara masa itu, pengaruh tidak selalu diwujudkan melalui penguasaan administratif langsung. Hubungan dengan penguasa lain, pengiriman utusan, pemberian benda berharga, serta pengakuan atas kedudukan politik dapat menjadi bagian dari hubungan antarkerajaan.

Ekspedisi Pamalayu secara umum ditempatkan pada 1275, ketika Singhasari mengirim kekuatan menuju wilayah Melayu. Informasi mengenai pelaksanaannya tidak selengkap catatan ekspedisi militer modern, sehingga detail jalur perjalanan, jumlah pasukan, dan rangkaian peristiwa di lapangan harus diperlakukan dengan hati-hati.

Nama Pamalayu sendiri sering dihubungkan dengan makna peperangan melawan Melayu. Namun, nama tersebut tidak cukup untuk membuktikan bahwa seluruh ekspedisi berlangsung melalui pertempuran besar atau bahwa penaklukan militer merupakan satu-satunya tujuannya.

Ancaman Yuan dan Kepentingan Regional

Latar geopolitik Asia pada abad ke-13 membantu menjelaskan mengapa Kertanegara memperhatikan wilayah di luar Jawa. Kubilai Khan membangun Dinasti Yuan di Tiongkok dan memperluas tuntutan politiknya terhadap sejumlah kerajaan serta penguasa di kawasan Asia.

Singhasari kemudian menghadapi tuntutan dari pihak Yuan agar mengakui kewibawaan kaisar. Tradisi sejarah menyebut penolakan Kertanegara terhadap tuntutan tersebut sebagai salah satu bagian penting dalam hubungannya dengan kekuatan Mongol.

Dalam konteks itu, membangun hubungan dengan kerajaan di Sumatra dapat dipahami sebagai upaya memperluas ruang diplomasi dan memperkuat posisi strategis Singhasari. Wilayah Melayu berada dalam jaringan perdagangan maritim yang menghubungkan berbagai pelabuhan di Asia Tenggara, sehingga hubungan politik di sana memiliki arti lebih luas daripada urusan perbatasan semata.

Meski demikian, hubungan langsung antara setiap keputusan dalam Pamalayu dan ancaman Yuan tidak selalu dapat dibuktikan secara terperinci oleh sumber sezaman. Penjelasan tentang ekspedisi sebagai strategi untuk menghadapi Mongol merupakan interpretasi historis yang didukung konteks geopolitik, tetapi tidak boleh diperlakukan sebagai satu-satunya motivasi yang telah terbukti secara mutlak.

Prasasti Padang Roco dan Arca Amoghapasa

Salah satu bukti utama yang menghubungkan Singhasari dengan Melayu adalah prasasti pada alas arca Amoghapasa yang dikenal sebagai Prasasti Padang Roco. Prasasti tersebut bertarikh 1208 Saka atau 1286 Masehi dan mencatat pengiriman arca dari Jawa ke Dharmasraya di wilayah Sumatra.

Prasasti itu menyebut Kertanegara serta penguasa Melayu, Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa, dan mencatat keterlibatan sejumlah pejabat dalam pengiriman arca. Informasi ini memberikan bukti material bahwa hubungan politik antara kedua kawasan masih berlangsung lebih dari satu dasawarsa setelah ekspedisi biasanya ditempatkan pada 1275.

Arca Amoghapasa memiliki arti keagamaan sekaligus politik. Pengiriman benda suci yang disertai pejabat kerajaan dapat dibaca sebagai tindakan diplomatik yang memperlihatkan hubungan antara penguasa, patronase keagamaan, dan kewibawaan politik.

Namun, makna hubungan tersebut masih menjadi bahan pembahasan. Sebagian penafsiran melihatnya sebagai tanda pengakuan Melayu terhadap dominasi Singhasari, sedangkan pendekatan lain menekankan pentingnya diplomasi dan hubungan antarpenguasa. Prasasti merupakan sumber primer yang sangat penting, tetapi penafsirannya harus memperhatikan bahasa gelar, konteks pemberian, dan tradisi politik pada masa itu.

Hasil Politik dan Batas Bukti

Ekspedisi Pamalayu sering ditempatkan sebagai bagian dari proses yang memperkuat hubungan antara Jawa dan Melayu sebelum munculnya Majapahit. Hubungan ini kemudian dikenang dalam historiografi sebagai salah satu episode penting dalam pembentukan jaringan kekuasaan antarpulau.

Akan tetapi, perkembangan setelah ekspedisi tidak berarti bahwa seluruh wilayah Nusantara telah berada di bawah satu pemerintahan terpusat. Kekuasaan pada masa itu lebih tepat dipahami melalui hubungan yang beragam, mulai dari aliansi, diplomasi, pengaruh keagamaan, hingga kemungkinan subordinasi politik.

Kertanegara sendiri tidak menyaksikan perkembangan Majapahit dalam jangka panjang. Pada 1292, pemerintahannya berakhir setelah serangan Jayakatwang, penguasa Gelang-Gelang, yang mengguncang Singhasari. Setahun kemudian, ekspedisi Yuan yang dikirim ke Jawa menghadapi situasi politik yang telah berubah dan kemudian terlibat dalam rangkaian peristiwa yang membuka jalan bagi berdirinya Majapahit.

Dengan demikian, Pamalayu tidak tepat dipahami hanya sebagai kisah penaklukan atau semata-mata misi persahabatan. Bukti yang tersedia menunjukkan adanya strategi politik lintas pulau, hubungan dengan penguasa Melayu, dan pemanfaatan simbol keagamaan dalam diplomasi. Seberapa jauh ekspedisi itu menghasilkan kendali langsung atas Dharmasraya tetap harus dinilai berdasarkan prasasti dan kajian sejarah, bukan hanya dari narasi nasional yang muncul kemudian.

Nilai penting Pamalayu terletak pada cara kerajaan di Nusantara merespons perubahan kekuatan regional melalui gabungan langkah militer, diplomasi, dan simbol kekuasaan. Sejarahnya memperlihatkan bahwa politik antarkerajaan pada abad ke-13 bergerak dalam jaringan kepentingan yang rumit, sementara bukti yang bertahan hingga sekarang hanya memberi sebagian gambaran tentang keputusan para penguasa saat itu.

CATATAN REDAKSI

EMMANUS membahas Ekspedisi Pamalayu sebagai bagian dari sejarah politik Singhasari dan hubungan antarkerajaan di Nusantara pada abad ke-13. Prasasti Padang Roco bertarikh 1286 Masehi menjadi salah satu pijakan utama karena mencatat pengiriman arca Amoghapasa ke Dharmasraya serta menyebut Kertanegara dan penguasa Melayu, Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa. Sumber ini penting untuk memahami hubungan kedua kerajaan, tetapi penafsiran mengenai bentuk kendali politik Singhasari atas Melayu tetap memerlukan pembacaan kritis.

Penjelasan mengenai kepentingan ekspedisi, termasuk hubungannya dengan kekuatan Yuan, ditempatkan dalam konteks geopolitik Asia pada abad ke-13. EMMANUS membedakan informasi yang tercatat dalam prasasti dari interpretasi sejarawan mengenai tujuan dan hasil ekspedisi. Pendekatan ini bertujuan menjaga agar sejarah politik Nusantara disajikan berdasarkan bukti, tanpa menyederhanakan hubungan antarkerajaan menjadi klaim penaklukan atau persatuan wilayah yang belum sepenuhnya dapat dibuktikan.

Tentang Penulis

Narendra

Narendra

Pendiri EMMANUS, platform media dan pengetahuan yang berfokus pada pelestarian, pengembangan, dan pewarisan sejarah serta kebudayaan Nusantara. Berkomitmen menghadirkan informasi, cerita, dan pengetahuan yang bermakna melalui jurnalisme, teknologi digital, dan literasi budaya agar warisan leluhur tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Kerajaan dan Kesultanan

Lainnya dari Narendra

Lihat semua →