Kerajaan dan Kesultanan

Dinasti Sanjaya dan Sumber Sejarah yang Menyingkap Mataram Kuno

Prasasti Canggal, Mantyasih, dan Wanua Tengah III membantu merekonstruksi sejarah Sanjaya, meski hubungan antardinasti masih diperdebatkan.

Oleh Narendra

Dinasti Sanjaya dan Sumber Sejarah yang Menyingkap Mataram Kuno
Prasasti Canggal bertarikh 732 Masehi menjadi sumber penting untuk menelusuri Sanjaya dan sejarah awal kerajaan di Jawa Tengah.dok Wikipedia. Org
Diterbitkan

Nama Sanjaya menempati posisi penting dalam pembahasan sejarah Jawa pada abad ke-8. Namanya dikenal melalui prasasti yang mencatat pendirian lingga, pergantian penguasa, serta silsilah raja-raja yang kemudian memerintah di Jawa Tengah.

Namun, sejarah Dinasti Sanjaya tidak sesederhana daftar raja yang naik takhta secara berurutan. Para sejarawan harus membandingkan sejumlah prasasti yang dibuat pada masa berbeda, karena setiap sumber memiliki tujuan, konteks, dan informasi yang tidak selalu sama.

Prasasti Canggal dan Kemunculan Sanjaya

Prasasti Canggal bertarikh 654 Saka atau 732 Masehi merupakan salah satu sumber paling penting untuk membahas Sanjaya. Prasasti ini ditemukan di kawasan Gunung Wukir, wilayah Magelang, Jawa Tengah. Teksnya menggunakan bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa, dengan isi yang berkaitan dengan pendirian lingga di sebuah bukit.

Prasasti tersebut menyebut Sanjaya sebagai penguasa yang mendirikan lingga untuk kepentingan keagamaan dan keselamatan rakyatnya. Teksnya juga menggambarkan Jawa sebagai wilayah yang subur dan kaya akan hasil bumi. Gambaran itu bukan sekadar keterangan geografis, melainkan bagian dari pujian terhadap negeri dan penguasa yang menerbitkan prasasti.

Nama Sanna muncul dalam uraian mengenai penguasa sebelumnya. Sanjaya disebut sebagai anak Sannaha, saudara perempuan Sanna, dan tampil sebagai penerus kekuasaan tersebut. Informasi ini menjadi dasar penting bagi rekonstruksi hubungan keluarga yang berkaitan dengan awal pemerintahan Sanjaya.

Meski demikian, Prasasti Canggal tidak secara eksplisit menyebut nama Dinasti Sanjaya sebagai nama resmi sebuah wangsa. Istilah Dinasti atau Wangsa Sanjaya merupakan kategori yang digunakan dalam historiografi untuk menjelaskan hubungan politik dan silsilah berdasarkan sejumlah sumber. Pembedaan ini penting agar istilah yang digunakan sejarawan tidak keliru dianggap sebagai nama yang tertulis langsung dalam prasasti.

Asal-Usul dan Pembentukan Kekuasaan

Keterangan mengenai Sanna dan Sanjaya sering dibaca sebagai cerita pergantian kekuasaan setelah masa krisis. Namun, bagian yang dapat dipastikan dari sumber harus dibedakan dari penjelasan yang muncul dalam penafsiran kemudian. Prasasti Canggal memang menempatkan Sanjaya sebagai penerus Sanna, tetapi rincian tentang perang, runtuhnya ibu kota, dan seluruh proses pembentukan kerajaan tidak dapat diperlakukan sebagai fakta pasti tanpa dukungan sumber tambahan.

Prasasti itu juga memuat pujian terhadap kemampuan Sanjaya menghadapi lawan-lawannya. Dalam tradisi prasasti kerajaan di Asia Selatan dan Asia Tenggara, penggambaran raja sebagai penguasa kuat merupakan bagian dari bahasa politik. Karena itu, pujian tentang kemenangan tidak otomatis menjadi catatan lengkap mengenai nama lawan, lokasi peperangan, atau luas wilayah yang berhasil dikuasai.

Untuk memahami pembentukan kekuasaan Sanjaya, peneliti membandingkan Canggal dengan prasasti lain yang menyebut nama raja-raja Medang. Perbandingan tersebut membantu menghubungkan tokoh yang hidup pada abad ke-8 dengan silsilah penguasa yang dikenal dari prasasti abad berikutnya. Meski begitu, hubungan antartokoh tetap harus diuji berdasarkan isi sumber, bukan hanya disusun agar menghasilkan urutan yang tampak mulus.

Mantyasih dan Silsilah Para Raja

Prasasti Mantyasih, yang dikenal pula sebagai Prasasti Kedu, dikeluarkan pada masa Raja Dyah Balitung pada 907 Masehi. Jarak waktunya sekitar 175 tahun dari Prasasti Canggal. Perbedaan masa ini membuat Mantyasih penting sekaligus perlu dibaca secara kritis: prasasti tersebut memberi gambaran mengenai bagaimana penguasa pada awal abad ke-10 menyusun ingatan tentang pendahulunya.

Dalam prasasti Mantyasih, Sanjaya ditempatkan sebagai pangkal daftar raja yang mendahului Balitung. Penyebutan itu menunjukkan bahwa Sanjaya memiliki kedudukan penting dalam legitimasi politik kerajaan. Dengan menghubungkan dirinya pada penguasa terdahulu, Balitung menempatkan pemerintahannya dalam kesinambungan sejarah kerajaan.

Namun, daftar raja dalam sebuah prasasti tidak selalu dapat langsung diperlakukan sebagai silsilah keluarga yang lengkap. Penyebutan seorang penguasa sebagai pendahulu dapat berkaitan dengan hubungan politik, urutan pemerintahan, atau cara kerajaan membangun legitimasi. Untuk menguji hubungan tersebut, sejarawan perlu membandingkannya dengan sumber lain.

Salah satu sumber pembanding yang penting adalah Prasasti Wanua Tengah III. Prasasti ini memuat informasi mengenai raja-raja Medang serta keterangan kronologis yang membantu peneliti menyusun kembali urutan pemerintahan. Kajian modern atas prasasti tersebut bahkan menunjukkan bahwa data di dalamnya dapat mengubah atau memperhalus rekonstruksi yang sebelumnya dianggap mapan.

Sanjaya dan Persoalan Dua Wangsa

Pembahasan Sanjaya tidak dapat dilepaskan dari perdebatan mengenai hubungan Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Sebagian peneliti memandang keduanya sebagai dua wangsa yang memiliki hubungan dan kedudukan politik berbeda di Jawa Tengah. Peneliti lain menilai bahwa sumber yang tersedia juga dapat ditafsirkan sebagai gambaran satu lingkungan dinasti dengan perubahan agama, gelar, dan hubungan kekuasaan.

Prasasti Kalasan tahun 778 Masehi menjadi salah satu sumber penting dalam perdebatan ini. Isinya berkaitan dengan pendirian bangunan suci bagi Dewi Tara dan keterlibatan tokoh-tokoh yang dihubungkan dengan lingkungan Syailendra. Penafsiran mengenai identitas dan kedudukan para tokoh tersebut berbeda di antara para ahli, sehingga prasasti ini tidak cukup dijadikan bukti tunggal untuk menyelesaikan persoalan dua wangsa.

Perbedaan agama juga tidak dengan sendirinya membuktikan adanya dua dinasti yang sepenuhnya terpisah. Dalam sejarah kerajaan Jawa, hubungan antara penguasa, keluarga kerajaan, dan lembaga keagamaan dapat berlangsung dalam susunan politik yang kompleks. Bukti prasasti harus dibaca secara menyeluruh sebelum kesimpulan tentang garis keturunan atau pembagian kekuasaan dibuat.

Kajian Edhie Wurjantoro dan Hasan Djafar mengenai Prasasti Wanua Tengah III menunjukkan bahwa persoalan Sanjaya dan Syailendra belum selesai hanya dengan mengandalkan satu daftar raja. Penelitian Hariani Santiko atas Prasasti Kalasan juga memperlihatkan bahwa perbedaan pembacaan teks menghasilkan rekonstruksi sejarah yang berbeda. Dengan demikian, perdebatan ini merupakan bagian dari proses penelitian sejarah, bukan alasan untuk mengabaikan sumber yang tersedia.

Membaca Sumber Tanpa Melampaui Bukti

Sumber sejarah Sanjaya bukan hanya kumpulan nama dan tanggal. Prasasti Canggal membantu menjelaskan kedudukan Sanjaya pada 732 Masehi, Mantyasih memperlihatkan bagaimana penguasa kemudian menempatkannya dalam urutan raja, sedangkan Wanua Tengah III menyediakan data tambahan untuk menelaah kronologi pemerintahan Medang.

Setiap prasasti memiliki konteks penerbitan yang perlu diperhatikan. Prasasti kerajaan dapat memuat keputusan, pemberian hak, penetapan wilayah, atau pujian kepada penguasa. Informasinya berharga, tetapi tidak selalu memberikan gambaran lengkap tentang kehidupan politik dan masyarakat pada masa tersebut.

Karena itu, sejarah Dinasti Sanjaya sebaiknya dipahami sebagai rekonstruksi berdasarkan bukti yang terus diuji. Sejumlah hal dapat dijelaskan dengan cukup kuat, sementara hubungan antardinasti dan beberapa bagian kronologi masih terbuka untuk perdebatan. Justru dengan memisahkan fakta yang tercatat dari penafsiran, sejarah Mataram Kuno dapat ditulis secara lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

CATATAN REDAKSI 

Artikel ini menggunakan Prasasti Canggal, Mantyasih, dan Wanua Tengah III sebagai landasan utama untuk membahas Sanjaya dan sejarah awal Medang. Ketiga sumber tersebut berasal dari konteks waktu berbeda, sehingga keterangan tentang tokoh, silsilah, dan urutan pemerintahan perlu dibandingkan, bukan langsung digabungkan menjadi satu kronologi yang dianggap pasti.

Istilah Dinasti Sanjaya digunakan dalam historiografi, tetapi hubungan antara Sanjaya dan Syailendra masih menjadi perdebatan akademik. Artikel ini tidak menempatkan salah satu tafsir sebagai kesimpulan final. Penelusuran arsip internal EMMANUS dan pemeriksaan edisi kritis prasasti beserta terjemahannya masih perlu dilakukan sebelum naskah dinyatakan siap terbit.

Tentang Penulis

Narendra

Narendra

Pendiri EMMANUS, platform media dan pengetahuan yang berfokus pada pelestarian, pengembangan, dan pewarisan sejarah serta kebudayaan Nusantara. Berkomitmen menghadirkan informasi, cerita, dan pengetahuan yang bermakna melalui jurnalisme, teknologi digital, dan literasi budaya agar warisan leluhur tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Kerajaan dan Kesultanan

Lainnya dari Narendra

Lihat semua →