Kerajaan dan Kesultanan

Ho-ling dalam Catatan Tiongkok dan Misteri Kerajaan Jawa

Kronik Dinasti Tang mencatat utusan, kehidupan, dan penguasa Ho-ling, tetapi identitas serta lokasi kerajaannya masih diperdebatkan.

Oleh Narendra

Ho-ling dalam Catatan Tiongkok dan Misteri Kerajaan Jawa
Ilustrasi hubungan diplomatik dan pelayaran antara Jawa dan Tiongkok pada masa Dinasti Tang; bukan dokumentasi langsung Kerajaan Ho-ling.
Diterbitkan

Sejarah kerajaan-kerajaan awal di Jawa tidak selalu dapat disusun dari prasasti yang ditemukan di tempat yang sama dengan pusat kekuasaannya. Untuk sejumlah kerajaan, sejarawan harus membandingkan catatan asing, peninggalan arkeologis, dan naskah yang ditulis pada masa berbeda. Ho-ling, yang dalam historiografi Indonesia kerap disebut Kalingga, merupakan salah satu contoh ketika sumber tertulis membuka informasi sekaligus menyisakan pertanyaan.

Catatan Tiongkok dari masa Dinasti Tang menjadi salah satu rujukan utama untuk menelusuri keberadaan Ho-ling. Berita tersebut menyebut hubungan dengan Tiongkok dan memberikan gambaran mengenai negeri di kawasan yang diidentifikasi sebagai Jawa. Akan tetapi, nama yang tercatat dalam bahasa Tiongkok tidak otomatis membuktikan nama asli kerajaan, letak ibu kota, atau batas wilayah kekuasaannya.

Ho-ling dalam Catatan Dinasti Tang

Dinasti Tang berkuasa di Tiongkok pada 618–907 M. Dalam catatan sejarah yang berkaitan dengan masa dinasti tersebut, Ho-ling muncul sebagai salah satu negeri di kawasan Asia Tenggara yang menjalin hubungan dengan istana Tiongkok. Informasi mengenai negeri-negeri di luar Tiongkok dihimpun melalui catatan diplomatik, laporan perjalanan, serta penyusunan sejarah dinasti.

Sejumlah penelitian menyebut bahwa utusan dari Ho-ling tercatat datang ke Tiongkok pada abad ketujuh. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa penguasa di Jawa telah terlibat dalam jaringan diplomatik lintas kawasan. Namun, pengiriman utusan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa hubungan itu berlangsung secara terus-menerus atau bahwa Ho-ling menguasai seluruh wilayah Jawa.

Catatan semacam ini perlu dibaca sesuai tujuan penulisannya. Sejarah dinasti Tiongkok disusun dalam kerangka pencatatan pemerintahan dan hubungan luar negeri, bukan sebagai kronik lengkap kerajaan-kerajaan di Nusantara. Informasi tentang negeri asing karena itu dapat sangat berguna, tetapi juga mungkin terbatas pada aspek yang dianggap penting oleh lingkungan istana Tiongkok.

Apakah Ho-ling Sama dengan Kalingga?

Dalam banyak buku sejarah Indonesia, Ho-ling disamakan dengan Kalingga. Penyamaan itu didasarkan antara lain pada kemiripan nama dan penafsiran bahwa catatan Tiongkok merujuk pada sebuah kerajaan di Jawa yang kemudian dikenal sebagai Kalingga. Identifikasi tersebut menjadi penjelasan yang luas digunakan dalam penulisan sejarah populer.

Namun, persoalan nama ini telah dibahas oleh para peneliti. Kozo Nakada, dalam kajiannya tentang nama Kerajaan Ho-ling di Jawa yang terbit pada 1972, meninjau teori-teori yang menghubungkan Ho-ling dengan Kalingga maupun pembacaan nama lainnya. Perdebatan tersebut memperlihatkan bahwa kemiripan bunyi saja tidak cukup untuk memastikan identitas sebuah kerajaan.

Kajian mengenai toponim kuno perlu mempertimbangkan cara nama asing ditranskripsikan, perubahan bunyi dari satu bahasa ke bahasa lain, serta konteks geografis dalam sumber. Nama yang dicatat oleh penulis Tiongkok mungkin merupakan penyesuaian bunyi nama setempat, tetapi penetapan bentuk aslinya membutuhkan dukungan bukti tambahan.

Karena itu, istilah “Kerajaan Kalingga” dalam artikel ini digunakan sebagai nama yang lazim dalam historiografi Indonesia, sedangkan Ho-ling dipertahankan ketika membahas nama yang muncul dalam sumber Tiongkok. Pembedaan ini penting agar nama dalam sumber asing tidak langsung diperlakukan sebagai bukti final tentang identitas politik masyarakat yang dicatat.

Jejak Penguasa Perempuan

Catatan yang dikaitkan dengan Ho-ling menyebut seorang penguasa perempuan yang namanya lazim ditranskripsikan sebagai Xi-mo atau Hsi-mo dan di Indonesia dikenal sebagai Ratu Shima. Dalam berbagai tulisan sejarah, pemerintahannya sering ditempatkan sekitar paruh kedua abad ketujuh. Informasi ini menjadikan Ho-ling penting dalam pembahasan mengenai penguasa perempuan pada masa awal sejarah Jawa.

Kisah Ratu Shima yang paling populer berkaitan dengan ketegasan hukum terhadap pencurian. Dalam versi cerita yang beredar luas, sebuah kantong berisi emas diletakkan di jalan untuk menguji kejujuran masyarakat, dan tidak seorang pun berani mengambilnya. Kisah tersebut kemudian berkembang sebagai lambang pemerintahan yang menjunjung ketertiban.

Akan tetapi, rincian kisah kantong emas perlu dipisahkan dari keterangan yang benar-benar tercatat dalam sumber awal. Cerita populer yang berulang dalam buku pelajaran atau tulisan modern belum tentu seluruhnya berasal dari catatan Tiongkok yang paling awal. Untuk menjadikannya fakta sejarah, peneliti perlu menelusuri teks sumber, terjemahan, dan perubahan cerita dalam historiografi berikutnya.

Pembedaan tersebut tidak berarti bahwa seluruh tradisi tentang Ratu Shima harus diabaikan. Tradisi itu dapat dipelajari sebagai bagian dari ingatan sejarah dan pembentukan citra penguasa yang adil. Namun, artikel sejarah perlu menjelaskan apakah suatu keterangan berasal dari catatan sezaman, penafsiran peneliti, atau penceritaan ulang pada masa yang lebih kemudian.

Pendeta Buddha dan Hubungan Antarwilayah

Sumber yang berkaitan dengan perjalanan pendeta Buddha Yijing atau I-Tsing juga menjadi bagian dari pembahasan hubungan antara Tiongkok dan kawasan Asia Tenggara pada abad ketujuh. Catatan perjalanan keagamaan semacam ini penting karena memperlihatkan bahwa perpindahan orang pada masa itu tidak hanya berkaitan dengan perdagangan dan diplomasi, tetapi juga dengan pendidikan serta pertukaran pengetahuan agama.

Dalam literatur mengenai Ho-ling, nama pendeta Tiongkok yang dikenal sebagai Huining atau Hwi-ning dikaitkan dengan kunjungannya ke Jawa dan kegiatan penerjemahan teks Buddha bersama seorang pendeta setempat bernama Jñānabhadra. Rincian nama, tahun kedatangan, dan konteks kegiatannya perlu diperiksa melalui sumber yang membahas catatan Yijing serta penelitian modern mengenai perjalanan tersebut.

Jika keterangan ini dibaca secara hati-hati, ia memberikan petunjuk mengenai hubungan intelektual lintas kawasan. Kehadiran pendeta asing dan kerja penerjemahan mengisyaratkan adanya lingkungan yang memungkinkan pertukaran pengetahuan keagamaan. Namun, bukti tersebut tidak cukup untuk menentukan secara pasti lokasi ibu kota Ho-ling atau menggambarkan seluruh struktur lembaga keagamaannya.

Catatan perjalanan juga memiliki batas. Seorang pendeta biasanya mencatat tempat yang dikunjungi, tokoh yang ditemui, dan informasi yang relevan bagi perjalanan atau kegiatan keagamaannya. Oleh sebab itu, kesaksiannya dapat membantu merekonstruksi hubungan antarwilayah, tetapi tidak otomatis menyediakan gambaran lengkap tentang kehidupan politik dan sosial kerajaan.

Mencari Letak Kerajaan dari Bukti Terbatas

Lokasi pusat Ho-ling atau Kalingga masih menjadi persoalan penelitian. Banyak penjelasan populer menempatkannya di pantai utara Jawa Tengah, dengan perkiraan kawasan yang membentang antara wilayah Jepara dan Pekalongan. Akan tetapi, perkiraan geografis tersebut tidak boleh disajikan seolah-olah lokasi ibu kota telah dipastikan melalui temuan yang tidak terbantahkan.

Prasasti Tuk Mas di kawasan lereng Merbabu dan Prasasti Sojomerto di Jawa Tengah kerap dibicarakan dalam kajian mengenai lingkungan politik serta keagamaan Jawa awal. Keduanya memiliki nilai untuk memahami konteks sejarah kawasan, tetapi menghubungkan suatu prasasti langsung dengan Ho-ling memerlukan argumentasi tersendiri. Sebuah prasasti yang berasal dari periode berdekatan tidak otomatis merupakan peninggalan kerajaan yang disebut dalam catatan Tiongkok.

Penentuan lokasi kerajaan kuno memerlukan perbandingan antara keterangan geografis sumber tertulis, kronologi prasasti, konteks arkeologis, dan hasil penelitian tentang permukiman. Jika unsur-unsur itu belum saling menguatkan, kesimpulan harus tetap terbuka. Ketidakpastian lokasi bukan kelemahan yang perlu ditutupi, melainkan bagian dari keadaan bukti sejarah yang harus dijelaskan kepada pembaca.

Ho-ling akhirnya memperlihatkan bagaimana sejarah awal Jawa disusun melalui pembacaan silang terhadap berbagai jenis sumber. Catatan Tiongkok memberi petunjuk tentang nama, hubungan diplomatik, dan penguasa, sementara penelitian arkeologi serta prasasti membantu menguji konteks wilayahnya. Selama identifikasi nama dan lokasinya belum memperoleh kesepakatan yang kuat, penjelasan paling bertanggung jawab adalah memisahkan apa yang tercatat, apa yang ditafsirkan, dan apa yang masih menjadi pertanyaan penelitian.

CATATAN REDAKSI

Ho-ling dikenal dalam historiografi Indonesia sebagai Kalingga, tetapi penyamaan kedua nama tersebut memiliki persoalan historiografis. Kajian Kozo Nakada tahun 1972 secara khusus membahas teori asal-usul nama Ho-ling dan alternatif identifikasinya. Artikel ini mempertahankan istilah Ho-ling ketika membicarakan sumber Tiongkok dan menggunakan Kalingga sebagai nama yang lazim dalam historiografi Indonesia, tanpa menganggap identifikasi tersebut telah menutup seluruh perdebatan.

Kisah Ratu Shima, hubungan pendeta Buddha, serta perkiraan lokasi kerajaan harus dibaca berdasarkan jenis sumber dan waktu penyusunannya. Rincian yang belum dapat ditelusuri langsung ke sumber awal tidak diperlakukan sebagai fakta pasti. Penetapan lokasi pusat pemerintahan dan hubungan prasasti-prasasti Jawa Tengah dengan Ho-ling memerlukan bukti tambahan dari kajian epigrafi, arkeologi, dan historiografi.

Tentang Penulis

Narendra

Narendra

Pendiri EMMANUS, platform media dan pengetahuan yang berfokus pada pelestarian, pengembangan, dan pewarisan sejarah serta kebudayaan Nusantara. Berkomitmen menghadirkan informasi, cerita, dan pengetahuan yang bermakna melalui jurnalisme, teknologi digital, dan literasi budaya agar warisan leluhur tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari Kerajaan dan Kesultanan

Lainnya dari Narendra

Lihat semua →