Pariwisata

Eksplorasi Destinasi Wisata Tangsi Belanda di Kabupaten Siak

Bangunan peninggalan masa kolonial Belanda yang populer disebut Tangsi Belanda Siak, sudah lama menjadi destinasi sejarah menarik di provinsi Riau. Meski memiliki nilai sejarah tinggi, bangunan ini sempat lama terabaikan. Sebelum dipugar, bangunan ini tampak tua dan menyeramkan. Dindingnya berwarna putih memudar, ada yang menghitam, serta berlumut di beberapa sisi. Setelah dipugar, Tangsi Belanda itu […]

Oleh Anisa Kurniawati

Eksplorasi Destinasi Wisata Tangsi Belanda di Kabupaten Siak
Tangsi Belanda di Siak, Riau, ditetapkan sebagai situs cagar budaya tahun 2017. Foto: Wikimedia Commons/Taufik Hadris
Diterbitkan

Bangunan peninggalan masa kolonial Belanda yang populer disebut Tangsi Belanda Siak, sudah lama menjadi destinasi sejarah menarik di provinsi Riau. 

Meski memiliki nilai sejarah tinggi, bangunan ini sempat lama terabaikan. Sebelum dipugar, bangunan ini tampak tua dan menyeramkan. Dindingnya berwarna putih memudar, ada yang menghitam, serta berlumut di beberapa sisi.

Setelah dipugar, Tangsi Belanda itu kemudian menjadi magnet wisata baru di daerah Siak. Letak tangsi berada di tepi Sungai Siak, Kampung Benteng Hulu, Mempura, Kabupaten Siak.

Bangunan Bernilai Tinggi

Tangsi Belanda dibangun abad ke-19, di masa Kesultanan Siak. Terutama usai Traktat Siak ditandatangani di pemerintahan Sultan Asy-Syaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Jalaluddin (1827-1864).

Bangunan ini bernilai sejarah tinggi. Hal ini dikarenakan pada masa kolonial Belanda, pernah berfungsi sebagai zona perlindungan dan pertahanan tentara Belanda.

Luasnya 2.710 meter persegi, terdiri dari penjara, asrama, kantor, gudang senjata dan logistik. 

Tangsi Belanda Siak terdiri enam unit bangunan dengn formasi melingkar, menciptakan halaman di tengahnya. Bangunan utama terdiri dua lantai sepanjang 18 meter dan lebar 9,6 meter.

Bangunan utama ini ada yang berfungsi sebagai ruang jaga, kantor, ruang tahanan, kamar mayat, dan rumah sakit. Dua unit bangunan di belakangnya difungsikan sebagai kantor di lantai bawah serta asrama di lantai atas. 

Di ujung selatan halaman dalam terdapat sisa-sisa bangunan. Dulunya sisa bangunan ini berfungsi sebagai tempat makan tentara Belanda. 

Foto bersejarah terkait eksistensi tangsi Belanda Foto: Wikimedia Commons/Taufik Hadris

Keunikan Arsitektur Tangsi

Bangunan-bangunan ini memperlihatkan keunikan arsitektur kolonial dengan fondasi berbentuk setengah lingkaran. Kemungkinan besar bentuk ini dirancang untuk menyesuaikan dengan kondisi tanah gambut di daerah tersebut.

Keunikan Tangsi Belanda adalah tata letaknya yang menghadap ke Sungai Siak, menerapkan konsep water front city. Hal ini memungkinkan Belanda mengawasi kapal-kapal yang masuk muara sungai.

Struktur fondasi dan tata letak ini menunjukkan betapa fungsionalnya bangunan tangsi Belanda ini serta kemiripannya dengan bangunan kolonial di Eropa.

Pemugaran dan Pelestarian

Bangunan ini telah mengalami beberapa kali pemugaran. Namun, karena tidak dimanfaatkan secara maksimal, beberapa bagian kembali rusak.

Pada tahun 2017, Tangsi Belanda telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya. Setahun kemudian, bangunan direvitalisasi, yang meliputi Gedung I dan Gedung VI.

Proses pemugaran ini melibatkan berbagai tim ahli dan menggunakan teknologi mutakhir. Tujuannya supaya untuk mengetahui struktur asli bangunan dan meminimalkan keusakan akibat revitalisasi.

Gedung VI yang awalnya hanya tersisa fondasinya, dibangun kembali dan dikemas dengan pencahayaan estetik. Pemugaran ini berhasil mengubah citra bangunan yang menyeramkan menjadi tempat yang layak dikunjungi. 

Kini, Tangsi Belanda menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik di Siak. Terutama saat menjelang senja ketika sinar matahari menciptakan pemandangan eksotik di atas Sungai Siak.

Dengan arsitektur kolonialnya yang khas dan lokasinya yang strategis di tepi Sungai Siak, Tangsi Belanda memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai destinasi wisata yang memadukan nilai sejarah dan keindahan alam.

TopikPariwisata
Pariwisata11 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Pariwisata

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati