Berita

Sport Tourism Membuka Jalan Baru Pariwisata Indonesia

Pemerintah menyusun desain besar industri olahraga untuk memperkuat sport tourism dan mendorong dampaknya bagi ekonomi daerah.

Oleh Ridwan

Sport Tourism Membuka Jalan Baru Pariwisata Indonesia
Balapan MotoGP di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, menjadi salah satu contoh pengembangan sport tourism Indonesia yang turut menggerakkan aktivitas pariwisata dan ekonomi daerah. Foto: Kemenpar
Diterbitkan

Olahraga tidak lagi sekadar tentang pertandingan, skor, atau siapa yang berdiri di podium. Ketika ribuan orang datang untuk menonton atau mengikuti sebuah event, ada hotel yang terisi, restoran yang ramai, transportasi yang bergerak, dan usaha masyarakat sekitar yang ikut mendapatkan peluang.

Potensi itulah yang kini ingin diperkuat pemerintah melalui pengembangan sport tourism sebagai bagian dari ekosistem industri olahraga dan Pariwisata Indonesia. Langkah tersebut ditandai dengan kick-off penyusunan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga yang digelar di Ruang BSM Bappenas, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026).

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir hadir bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, serta Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana. Secara simbolis, kick-off ditandai dengan pengibaran bendera balap.

Bagi Erick, pengembangan industri olahraga membutuhkan kerja bersama lintas kementerian dan lembaga, terutama untuk mengoptimalkan potensi sport tourism sebagai bagian dari pengembangan ekonomi.

“Saya sebagai Menpora dan Bu Widi sebagai Menteri Pariwisata, kami benar-benar sekarang bersinergi mengenai pembangunan sport tourism atau wisata olahraga,” ujar Erick selepas acara.

Menurut Erick, sinergi tersebut diarahkan untuk menggali berbagai potensi olahraga dan menghasilkan kegiatan yang memberikan dampak bagi masyarakat.

Dari Arena Olahraga ke Ekonomi Daerah

Sport tourism pada dasarnya mempertemukan dua aktivitas: olahraga dan perjalanan.

Menurut UN Tourism, wisata olahraga mencakup kegiatan wisata ketika seseorang bepergian untuk mengikuti atau menyaksikan sebuah event olahraga. Karena itu, dampaknya tidak berhenti pada arena pertandingan.

Ketika sebuah event mendatangkan ribuan peserta dan penonton, kebutuhan mereka ikut tumbuh. Penginapan, makanan, transportasi, pusat belanja, hingga destinasi wisata di sekitar lokasi dapat menjadi bagian dari pergerakan ekonomi tersebut.

Mandalika menjadi salah satu contoh yang tengah dikembangkan pemerintah.

Kawasan di Nusa Tenggara Barat itu memantapkan posisinya sebagai destinasi sport tourism melalui penyelenggaraan MotoGP. Menurut Indonesia Tourism Outlook, tingkat okupansi hotel berbintang di kawasan tersebut meningkat dari 33,51 persen pada 2021 menjadi 40,39 persen pada 2024. Sementara okupansi hotel nonbintang naik dari 14,61 persen menjadi 28,16 persen.

Erick menyebut penyelenggaraan MotoGP di Indonesia telah memberikan dampak ekonomi hampir Rp5 triliun. Pemerintah juga menargetkan jumlah pengunjung pada penyelenggaraan tahun ini mencapai 145 ribu orang.

Namun, bagi Erick, event olahraga tidak seharusnya hanya menghasilkan keramaian di dalam venue. “Jangan juga sebuah event ini hanya melambung sendiri tetapi tanpa memayungi seluruh kegiatan masyarakat daerah,” katanya.

Pesan tersebut menempatkan masyarakat lokal sebagai bagian penting dari ekosistem sport tourism. Event olahraga diharapkan tidak hanya mendatangkan penonton, tetapi juga membuka ruang bagi usaha dan aktivitas ekonomi di daerah penyelenggara.

Menpora RI Erick Thohir melakukan kick-off penyusunan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga yang peluncuran buku Dampak MotoGP Mandalika, Rabu (30/9/2026). Foto: Humas Kemenpora

Mandalika dan Ragam Wajah Sport Tourism

Mandalika sendiri tidak hanya menjadi rumah bagi MotoGP.

Pada 2025, kawasan Sirkuit Mandalika menjadi lokasi Pocari Sweat Run. Event tersebut menghadirkan sejumlah kategori lomba, mulai dari 4,3 kilometer mengelilingi sirkuit hingga marathon.

Sekitar 70 persen peserta disebut berasal dari luar Lombok. Event tersebut juga dilaporkan menghasilkan dampak ekonomi sekitar Rp85,5 miliar.

Di destinasi lain, sport tourism hadir dalam bentuk berbeda.

Danau Toba menjadi lokasi F1 Powerboat Lake Toba dan Aquabike Jetski World Championship pada 2025. Jakarta memiliki BTN Jakarta International Marathon yang diikuti lebih dari 30 ribu pelari. Sementara Lombok menghadirkan Paragliding Accuracy World Cup.

Ada pula trail running yang membawa peserta menikmati jalur alam di berbagai wilayah Indonesia, dari kawasan pegunungan hingga destinasi yang memiliki karakter lanskap khas.

Ragam tersebut memperlihatkan bahwa sport tourism tidak selalu identik dengan event olahraga internasional berskala besar. Aktivitas lari, olahraga air, paragliding, hingga trail running juga dapat menjadi alasan seseorang melakukan perjalanan.

Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Event

Dorongan terhadap sport tourism juga tidak berdiri sendiri.

Pada penghujung 2025, Kementerian Pariwisata dan Kementerian Pemuda dan Olahraga menandatangani Nota Kesepahaman Bersama sebagai langkah memperkuat sinergi pengembangan sport tourism Indonesia.

Kini, pemerintah melanjutkannya melalui penyusunan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga.

Bagi Erick, koordinasi lintas kementerian diperlukan agar pengembangan industri olahraga tidak berjalan sendiri-sendiri dan berbagai hambatan dapat diminimalkan. Tantangannya kemudian bukan sekadar memperbanyak event.

Yang lebih penting adalah bagaimana sebuah pertandingan dapat terhubung dengan sektor pariwisata dan ekonomi lokal—sehingga orang yang datang untuk menonton atau bertanding juga memiliki alasan untuk tinggal lebih lama, mengenal daerah, dan berbelanja di sana.

Dengan pendekatan itu, lintasan balap, jalan raya, danau, gunung, maupun langit tidak lagi hanya menjadi tempat berlangsungnya kompetisi.

Semuanya dapat menjadi pintu masuk bagi perjalanan dan pengalaman baru. Dan ketika wisatawan bergerak, ekonomi di sekitarnya ikut menemukan ruang untuk tumbuh.

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT