Indonesia membawa pendekatan baru dalam memperkenalkan pariwisata nasional kepada pasar internasional. Melalui World Travel Market (WTM) London 2026, yang berlangsung pada 3–5 November di ExCeL London, Inggris, Kementerian Pariwisata menghadirkan Paviliun Wonderful Indonesia sebagai ruang pengalaman yang mempertemukan keindahan bahari, kekayaan budaya, gastronomi, dan kreativitas seni.
Mengusung kampanye Go Beyond Ordinary, paviliun seluas 352,75 meter persegi tersebut tidak hanya menjadi tempat pertemuan pelaku industri pariwisata Indonesia dengan pembeli internasional.
Ruang ini dirancang untuk memperkenalkan Indonesia melalui pengalaman visual, aroma, cita rasa, dan suara Nusantara.
Pendekatan tersebut memperlihatkan perubahan cara promosi pariwisata. Indonesia tidak hanya menawarkan gambar pantai, pegunungan, atau destinasi populer, tetapi juga mengajak calon wisatawan mengenal cerita, tradisi, karya seni, dan pengalaman yang menyertai perjalanan.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut pendekatan tersebut sejalan dengan upaya menghadirkan Indonesia sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman autentik, berkualitas, dan berkelanjutan.
Bahari Menjadi Inspirasi
Kekayaan laut Indonesia menjadi inspirasi utama desain Paviliun Wonderful Indonesia. Tema bawah laut dipilih untuk memperlihatkan salah satu kekuatan alam Nusantara sekaligus membuka ruang bagi seni kontemporer dan pesan pelestarian lingkungan.
Salah satu daya tariknya adalah instalasi karya Mulyana, seniman yang dikenal dengan nama Mang Moel. Seniman asal Bandung yang berkarya di Yogyakarta ini menghadirkan karya rajutan berskala besar bertema kehidupan bawah laut.
Melalui teknik rajutan yang antara lain memanfaatkan material benang sisa, Mang Moel menggambarkan keindahan sekaligus kerapuhan ekosistem laut. Karyanya mempertemukan kreativitas, seni, dan perhatian terhadap lingkungan dalam satu pengalaman visual.
Kehadiran Mang Moel juga memperlihatkan bahwa promosi pariwisata dapat melibatkan praktik seni kontemporer.
Karya seniman Indonesia tidak hanya menjadi elemen dekoratif dalam sebuah paviliun, tetapi dapat membawa pesan tentang kekayaan alam dan persoalan keberlanjutan.
Pengunjung juga diperkenalkan pada kekayaan budaya melalui pertunjukan seni tradisional dan permainan sasando. Aktivasi wellness berbasis aroma minyak atsiri Indonesia melengkapi pengalaman tersebut.
Unsur-unsur ini memperlihatkan bahwa daya tarik Indonesia tidak hanya terletak pada lanskap alam, tetapi juga pada ekspresi budaya dan pengetahuan yang berkembang di masyarakat.
Lima Produk Wisata untuk Pasar Internasional
Dalam WTM London 2026, Indonesia memperkenalkan lima produk wisata unggulan, yakni wisata bahari, gastronomi, wellness, wastra Nusantara, dan pariwisata ramah Muslim.
Kelima produk tersebut menjadi bagian dari strategi Pariwisata Naik Kelas. Kementerian Pariwisata mengarahkan promosi untuk menarik wisatawan yang tinggal lebih lama dan memiliki pengeluaran lebih tinggi.
Strategi ini menempatkan kualitas pengalaman dan nilai ekonomi perjalanan sebagai bagian penting dari pengembangan pasar.
Eropa menjadi salah satu pasar jarak jauh yang dinilai strategis. Wisatawan dari kawasan ini memiliki potensi melakukan perjalanan berdurasi lebih panjang dan menikmati pengalaman di beberapa destinasi dalam satu perjalanan.
Di tengah dinamika geopolitik, tantangan ekonomi, dan perubahan perilaku perjalanan internasional, kehadiran Indonesia di WTM London menjadi bagian dari upaya mempertahankan daya saing.
Pameran tersebut juga menjadi ruang negosiasi, pembentukan jejaring distribusi, serta penjajakan kontrak bisnis antara pelaku industri dari berbagai negara.
Partisipasi Indonesia tahun ini melibatkan 65 pelaku industri pariwisata, baik peserta langsung maupun pelaku usaha yang tergabung dalam mitra resmi.
Empat desa wisata turut menjadi peserta, yaitu Desa Wisata Teluk Harapan, Desa Wisata Candirejo, Desa Wisata Walian Satu, dan Desa Wisata Hijau Bilebante.
Keterlibatan desa wisata membuka ruang bagi destinasi berbasis masyarakat untuk diperkenalkan kepada mitra internasional.
Promosi pariwisata tidak hanya diarahkan kepada destinasi yang telah dikenal luas, tetapi juga memberi kesempatan bagi pengalaman lokal untuk masuk ke jaringan pasar yang lebih besar.
WTM London 2026 menghadirkan 389 booth dari berbagai kawasan dunia. Eropa dan Mediterania mendominasi dengan 140 booth, disusul Asia sebanyak 99 booth, Amerika 56 booth, Afrika 50 booth, Timur Tengah 27 booth, serta Britania Raya dan Irlandia 17 booth.
Di tengah persaingan berbagai negara dan pelaku industri pariwisata internasional, Paviliun Wonderful Indonesia mendapat pengakuan sebagai desain terbaik di kawasan Asia mengalahkan 98 booth lainnya.
Jakarta, Gastronomi, dan Peluang Kemitraan
Rangkaian kegiatan Indonesia di London juga memperlihatkan beragam cara memperkenalkan destinasi. Salah satunya melalui peluncuran awal Monopoly: Jakarta Edition, hasil kolaborasi dengan Willing Moves UK dan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta.
Permainan tersebut mengangkat representasi destinasi wisata, ikon kota, kawasan perkotaan, jenama, dan komunitas lokal.
Penggunaan permainan populer sebagai medium promosi menjadi pendekatan lain untuk memperkenalkan Jakarta kepada masyarakat internasional.
Promosi juga menjangkau dunia gastronomi. Menteri Pariwisata mengunjungi restoran SAMBEL! di Kensington, London, yang memperkenalkan masakan Indonesia melalui konsep modern Indonesian grill and smokehouse.
Restoran yang didirikan oleh tiga sahabat asal Semarang ini menyajikan antara lain nasi bakar, ayam bakar, se'i sapi, dan beragam sambal.
Gastronomi memiliki hubungan erat dengan perjalanan wisata. Pengalaman mencicipi makanan dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal budaya, tradisi, dan daerah asal sebuah hidangan.
Bagi masyarakat internasional, sajian Indonesia di luar negeri dapat membangkitkan rasa ingin tahu untuk mengunjungi langsung tempat dan masyarakat yang melahirkan kekayaan kuliner tersebut.
Di sisi bisnis, Paviliun Indonesia menjadi tempat penyelenggaraan Indonesia Networking Event yang mempertemukan pelaku usaha nasional dengan calon pembeli dan mitra strategis internasional.
Pertemuan ini melibatkan sektor akomodasi, operator perjalanan, pengelola destinasi, lembaga pemerintah, dan mitra promosi.
Kementerian Pariwisata juga menjajaki peluang kolaborasi dengan Forbes Travel Guide, terutama untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar luxury tourism.
Pembahasan mencakup kemungkinan partisipasi sebagai mitra destinasi dalam Forbes Travel Guide Summit 2027 di Monaco, penguatan standar layanan hospitality, promosi destinasi premium, serta pengembangan pengalaman wellness.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa WTM London bukan hanya panggung untuk memperkenalkan destinasi, melainkan juga ruang membangun hubungan bisnis yang diharapkan menghasilkan paket perjalanan baru dan memperluas jaringan pemasaran.
Pariwisata Berkualitas dan Manfaat bagi Masyarakat
Pada 4 November 2026, Menteri Pariwisata juga berpartisipasi dalam WTM London Ministers' Summit yang diselenggarakan bersama UN Tourism dan World Travel & Tourism Council (WTTC).
Forum bertema Strengthening Tourism for a Resilient and Regenerative Future tersebut mempertemukan lebih dari 50 menteri dan pejabat senior pemerintahan dari berbagai negara.
Indonesia mengangkat empat pilar pembangunan pariwisata, yaitu penguatan tata kelola destinasi, investasi inklusif dan regeneratif, pemberdayaan masyarakat dan pengembangan sumber daya manusia, serta pemanfaatan data dan inovasi digital.
Salah satu perhatian yang disampaikan adalah mengurangi konsentrasi kunjungan wisatawan di sejumlah destinasi utama.
Pengembangan destinasi prioritas dan desa wisata diharapkan dapat memperluas sebaran manfaat ekonomi sekaligus mendukung kelestarian alam dan budaya.
Gagasan tersebut menjadi penting ketika promosi pariwisata semakin diarahkan pada kualitas pengalaman.
Pertumbuhan tidak cukup diukur dari jumlah kedatangan wisatawan, tetapi juga dari lama tinggal, pengeluaran, kualitas layanan, serta manfaat yang diterima masyarakat setempat.
Melalui WTM London 2026, Indonesia mempertemukan berbagai kekuatan pariwisatanya dalam satu panggung: laut, seni, gastronomi, wastra, wellness, dan pengalaman berbasis komunitas.
Upaya memperkenalkan kekayaan tersebut ke pasar Eropa sekaligus membuka kesempatan bagi pelaku industri dan destinasi lokal untuk membangun hubungan yang lebih luas.
Wajah baru promosi pariwisata pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh tampilan paviliun atau kampanye internasional.
Nilainya juga bergantung pada kemampuan destinasi menghadirkan pengalaman yang dijanjikan, menjaga kualitas lingkungan dan budaya, serta memastikan masyarakat lokal memperoleh manfaat dari perkembangan pariwisata.








