Cerita Rakyat

Filosofi Di Balik Keindahan Batik Rereng Ciwangi Sukabumi

Batik Rereng Ciwangi tidak hanya simbol keindahan seni tetapi penjaga warisan budaya di Sukabumi. Di sebuah desa subur makmur bernama Kampung Ciwangi, yang terletak di kaki Gunung Arca, penduduk hidup sejahtera dari hasil bertani dan berkebun. Desa ini dikenal dengan limpahan air yang mengalir dari gunung, memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari. Namun, kedamaian desa itu terganggu […]

Oleh Achmad Aristyan

Filosofi Di Balik Keindahan Batik Rereng Ciwangi Sukabumi
Motif Batik Rereng Ciwangi yang jadi salah satu motif khas dari Sukabumi. Foto: lokatmala.com
Diterbitkan

Batik Rereng Ciwangi tidak hanya simbol keindahan seni tetapi penjaga warisan budaya di Sukabumi.

Di sebuah desa subur makmur bernama Kampung Ciwangi, yang terletak di kaki Gunung Arca, penduduk hidup sejahtera dari hasil bertani dan berkebun. Desa ini dikenal dengan limpahan air yang mengalir dari gunung, memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari. 

Namun, kedamaian desa itu terganggu ketika hadir sesosok raksasa yang merusak alam.  Raksasa bernama Buto Ijo itu menghancurkan pepohonan di Gunung Arca, menyebabkan penduduk kehilangan sumber air utama mereka. 

Saat penduduk dilanda kekhawatiran, seorang perempuan pemberani bernama Nyimas Ciwangi muncul sebagai penyelamat. Nyimas Ciwangi, seorang pembuat tenun dari serat Suji, mengambil tindakan untuk melawan raksasa. 

Berbekal kain tenun hasil karyanya, ia menebarkan kain dari lereng hingga puncak Gunung Arca. Keajaiban pun terjadi dari kain itu tumbuh pohon Suji yang menjulang tinggi.  Buto Ijo, yang melihat keajaiban itu, marah dan berusaha mengejar Nyimas Ciwangi.

Namun, batang pohon Suji membelit tubuh raksasa itu. Akibat gesekan dengan batang pohon, tubuhnya berubah menjadi hijau. Raksasa itu akhirnya melarikan diri, meninggalkan desa. 

Baca juga: Mengenali Batik Nganjuk yang Terinspirasi Prasasti Anjuk Ladang

Warisan Legenda

Legenda Buto Ijo yang menjadi bagian penting dari sejarah Kampung Ciwangi kini diabadikan dalam motif batik khas bernama Batik Rereng Ciwangi.

Batik Rereng Ciwangi tidak hanya menjadi simbol keindahan seni tetapi juga penjaga warisan budaya di Sukabumi, Jawa Barat. 

Legenda Buto Ijo yang terlukis dalam setiap helai kainnya menjadi pengingat akan keberanian, kreativitas, dan hubungan erat antara manusia dengan alam.

Filosofi yang terkandung dalam motif batik Rereng Ciwangi adalah pengingat atau pesan moral, siapa pun yang dengan sengaja merusak alam akan dianggap sebagai sosok raksasa jahat. 

Pada akhirnya, tindakan itu tidak akan membawa kebaikan, melainkan mendatangkan konsekuensi buruk bagi pelakunya sendiri.

Dengan kisahnya yang kaya dan filosofinya yang mendalam, Batik Rereng Ciwangi terus menginspirasi generasi masa kini untuk menghargai warisan budaya yang tak ternilai. (Dari berbagai sumber)

TopikCerita Rakyat
Cerita Rakyat24 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan