Budaya

Gambang Semarang, Kolaborasi Apik Musik, Tari dan Humor

Gambang Semarang adalah kesenian musik tradisional yang berasal dari Kota Semarangm Jawa Tengah. Seni ini merupakan gabungan yang harmonis antara musik, vokal, tari, dan lawakan. Keunikan daari kesenian tradisional ini, terletak pada alunan musik yang mengiringi gerakan dinamis telapak kaki para penari, yang disesuaikan dengan irama lagu. Ciri Khas dan Instrumen Musik Dilansir dari banggasemarang.id, […]

Oleh Achmad Aristyan

Gambang Semarang, Kolaborasi Apik Musik, Tari dan Humor
Pertunjukan Gambang Semarang yang memadukan musik, tari dan humor. Foto: radarsemarang.jawapos.com
Diterbitkan

Gambang Semarang adalah kesenian musik tradisional yang berasal dari Kota Semarangm Jawa Tengah. Seni ini merupakan gabungan yang harmonis antara musik, vokal, tari, dan lawakan. 

Keunikan daari kesenian tradisional ini,  terletak pada alunan musik yang mengiringi gerakan dinamis telapak kaki para penari, yang disesuaikan dengan irama lagu.  

Ciri Khas dan Instrumen Musik  

Dilansir dari banggasemarang.id, Gambang Semarang menggunakan beragam alat musik tradisional, seperti bonang, gambang, gong suwuk, kempul, peking, saron, kendang, dan ketipung.

Alat-alat ini bersama-sama menciptakan harmoni khas yang menjadi ciri utama pertunjukan. Irama musiknya mengiringi tarian jenaka dengan gerak-gerik penuh semangat yang memikat penonton.

Tidak hanya itu, unsur humor yang disisipkan dalam setiap pertunjukan membuatnya semakin menghibur dan menyenangkan untuk disaksikan.  

Akulturasi Budaya  

Melansir dari regional.espos.id, Gambang Semarang adalah hasil dari akulturasi budaya antara etnis Tionghoa dan Jawa. Pada awalnya, kesenian ini merupakan adaptasi dari Gambang Kromong Betawi, yang terkait erat budaya Tionghoa. 

Tokoh-tokoh perintisnya seperti Lie Ho Sun dan Oey Yok Siang juga berasal dari etnis Tionghoa. Dalam perkembangannya, unsur kejawaan mulai mengisi Gambang Semarang, termasuk melalui lagu-lagu pop Jawa yang dimainkan. 

Kolaborasi ini menciptakan kesenian yang khas dan unik bagi masyarakat Semarang.  

Lirik Lagu Gambang Semarang  

Dilansir dari Wikipedia, lagu Gambang Semarang menjadi salah satu identitas kesenian ini. Berikut adalah liriknya:  

Empat penari kian kemari  

 Jalan berlenggang, aduhh  

Langkah gayanya  

Menurut suara irama gambang  

Sambil bernyanyi jongkok berdiri  

 Kaki melintang, aduh  

Sungguh jenaka tari mereka  

Tari berdendang..  

Bersuka ria gelak tertawa  

Semua orang karena  

Hati tertarik gerak-gerik  

Si tukang gendang  

Empat penari membikin hati  

Menjadi senang, aduh  

Itulah dia malam gembira  

Gambang Semarang 

Sejarah Gambang Semarang  

Kesenian ini bermula pada tahun 1930 sebagai gagasan Lie Ho Sun, seorang anggota Volksraad yang gemar bermain keroncong. Ia mengusulkan pengembangan Gambang Kromong di Semarang kepada Burgermeester (wali kota) saat itu. 

Usulannya didukung wali kota. Lie Ho Sun lalu membeli peralatan Gambang Kromong dari Batavia.

Kelompok Gambang Semarang awalnya terdiri dari pemain kelompok Gambang Kromong “Kedaung” yang melatih seniman baru dari grup keroncong “Irama Indonesia”. 

Namun, tahun 1942, aktivitas kesenian ini terhenti akibat perang dengan Jepang. Tahun 1949, Cik Boen dan The Lian Kian berupaya menghidupkannya kembali, meskipun hanya sebentar.  

Kesenian ini bangkit lagi pada tahun 1957 dengan tokoh Yaw Tia Boen, yang memperkenalkan kolaborasi Gambang Semarang dengan musik jazz, keroncong, dangdut, dan lagu barat. 

Pada tahun 1974, generasi ketiga penerus kesenian tradisional ini dipelopori Sunoto, Bah Kalud, dan Jayadi, yang mendirikan Paguyuban Gambang Semarang.

Paguyuban ini resmi diakui Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah tahun 1979 sebagai bagian dari kesenian rakyat.  

Sebagai informasi, lagu “Aksi Kucing” karya Oey Yok Siang, dipopulerkan kembali band White Shoes & The Couples Company pada tahun 2007, memperkenalkan karya musisi Gambang Semarang kepada generasi baru.  (Dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya15 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan