By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
emmanusemmanusemmanus
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya
  • Cerita Rakyat
  • Pariwisata
Reading: Mengenal Museum Rumah Cut Nyak Dhien di Tanah Rencong
Share
Font ResizerAa
emmanusemmanus
Search
  • Berita Kategori
    • Berita
    • Profil
    • Event
    • Tradisi
    • Pariwisata
    • Cerita Rakyat
    • Warisan Budaya
Follow US
©2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
emmanus > Blog > Pariwisata > Mengenal Museum Rumah Cut Nyak Dhien di Tanah Rencong
Pariwisata

Mengenal Museum Rumah Cut Nyak Dhien di Tanah Rencong

Anisa Kurniawati
Last updated: 15/01/2025 14:35
Anisa Kurniawati
Share
Foto: GoogleMaps/Tjiunggu Tjermin
SHARE

Berwisata ke Tanah Rencong, Aceh, rasanya belum lengkap jika belum mengunjungi Rumah Cut Nyak Dhien. Bangunan ini adalah replika dari rumah asli yang sudah dibakar.

Meski begitu, tempat ini menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Aceh melawan penjajahan Belanda. 

Lokasinya berada di Desa Lampisang, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Rumah ini dibangun ulang pada tahun 1981 dan diresmikan pada tahun 1987 untuk dijadikan tujuan wisata. Bangunannya terbuat dari kayu ulin berkualitas tinggi. 

Cut Nyak Dhien adalah pahlawan nasional yang lahir 1848 di Aceh Besar. Setelah suaminya, Teuku Ibrahim Lam Nga, gugur dalam pertempuran, ia menikah dengan Teuku Umar. 

Setelah Teuku Umar gugur, Cut Nyak Dhien melanjutkan perang gerilya. Namun, akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Sumedang, di mana ia menghabiskan sisa hidupnya dengan mengajar agama hingga wafat pada 1908.

Bangunan Replika

Meskipun dikenal sebagai tempat tinggal Cut Nyak Dhien, bangunan ini sebenarnya adalah replika. Rumah aslinya sendiri dibakar Belanda pada tahun 1896. Awalnya rumah ini merupakan hadiah dari Belanda untuk Teuku Umar. 

Ruang utama di Rumah Cut Nyak Dhien, Aceh Besar. Foto: GoogleMaps/Fauzi ST

Belanda mengira Teuku Umar berada di pihaknya. Padahal Teuku Umar membangun strategi dan mengelabui Belanda untuk mengambil persenjataan Belanda. Setelah mengetahui hal itu, Belanda kemudian membakar rumah pemberiannya. 

Satu-satunya bagian yang tersisa dari rumah asli adalah sumur setinggi dua meter di sisi kiri. Bangunan ini tetap berdiri kokoh meski diterjang gempa dan tsunami tahun 2004. Bahkan menjadi tempat perlindungan bagi masyarakat sekitar.

Koleksi Rumah Bersejarah

Ruangan utama Rumah Cut Nyak Dhien, dulunya digunakan merencanakan strategi melawan Belanda. Ruangan ini dipenuhi foto-foto perjuangan rakyat Aceh, termasuk foto asli Cut Nyak Dhien di pengasingan di Sumedang, Jawa Barat. 

Salah satu hal yang menarik dari Rumah bersejarah ini adalah letak dua kamar dayang-dayang di sisi depan rumah. Sedangkan kamar Cut Nyak Dhien sendiri berada di bagian belakang rumah. Hal ini merupakan taktik supaya Cut Nyak Dhien dapat cepat melarikan diri sewaktu Belanda menyerang.

Rumah ini juga menampilkan koleksi senjata tradisional Aceh dan sumur asli sebagai salah satu peninggalan. Sumur ini dibangun tinggi untuk mencegah Belanda meracuni airnya.

Meski sudah berusia puluhan tahun, rumah ini masih tetap terawat karena dijaga penuh perhatian. Rumah ini dibuka setiap hari dari pukul 09.00 hingga 17.00.

Mengunjungi Rumah Cut Nyak Dhien memberikan wisatawan kesempatan untuk belajar lebih dalam tentang sejarah perjuangan rakyat Aceh dan semangat gigih Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar melawan penjajah Belanda. (Dari berbagai sumber)

You Might Also Like

Geopark Bogor Halimun Salak Siap Dikembangkan

Peran Gereja Kristen Wonosobo dalam Kehidupan Masyarakat

Museum Airlangga, Harta Karun Purbakala di Kediri

6 Destinasi Museum Unik Indonesia, Dari Naga Hingga Nyamuk

Monumen Nosarara Nosabatutu, Ikon Perdamaian Di Palu

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Share
By Anisa Kurniawati
Content Writer
Previous Article Perjalanan Sejarah Wayang Golek Purwa di Tatar Sunda 
Next Article Gambang Semarang, Kolaborasi Apik Musik, Tari dan Humor
Leave a comment Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media

2kFollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Berita Terbaru

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar
Berita 30/05/2025
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik
Berita 29/05/2025
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto
Berita 29/05/2025
penulisan ulang sejarah Indonesia
DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027
Berita 28/05/2025
- Advertisement -

Quick Link

  • Kontak Kami
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Top Categories

  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya

Stay Connected

200FollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
emmanusemmanus
Follow US
© 2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna atau Alamat Email
Kata Sandi

Lupa kata sandi Anda?