AKAR

Gorengan, Bertahan di Tengah Selera yang Berubah

Di tengah menjamurnya makanan modern, pedagang gorengan mengandalkan harga terjangkau, kedekatan sosial, dan pelanggan yang kembali.

Oleh Narendra

Gorengan, Bertahan di Tengah Selera yang Berubah
Ilustrasi Pedagang gorengan menyiapkan camilan di pinggir jalan, bagian dari usaha kecil yang menghidupi masyarakat setiap hari. Photo pexel
Diterbitkan

Di tepi jalan, dekat gerbang sekolah, di persimpangan gang, atau di depan pasar, aroma gorengan kerap menyambut orang yang sedang melintas. Bakwan, tempe goreng, tahu isi, dan pisang goreng menjadi pemandangan akrab yang bertahan di tengah perubahan wajah kota dan kebiasaan makan masyarakat.

Sementara kedai kopi modern, gerai makanan cepat saji, dan berbagai jajanan kekinian menawarkan pengalaman baru, pedagang gorengan tetap memiliki tempat dalam keseharian banyak orang. Mereka tidak selalu membutuhkan ruang berpendingin udara, kemasan menarik, atau papan nama bercahaya. Sebuah gerobak, wajan berisi minyak panas, dan dagangan yang baru diangkat dari penggorengan sudah cukup untuk memulai usaha.

Harga yang Dekat dengan Kantong

Salah satu kekuatan gorengan terletak pada kemampuannya menjangkau pembeli dengan daya beli berbeda. Orang dapat membeli satu atau beberapa potong sesuai uang yang tersedia, tanpa harus mengeluarkan biaya seperti ketika memesan makanan lengkap di sebuah restoran.

Gorengan juga mudah menyesuaikan diri dengan waktu dan kebutuhan. Ada yang membelinya sebagai teman minum teh, pengganjal perut saat bekerja, bekal perjalanan, atau suguhan sederhana untuk tamu di rumah. Fleksibilitas inilah yang membuat gorengan memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar makanan ringan.

Meski begitu, harga murah bukan berarti usaha ini selalu mudah dijalankan. Minyak goreng, tepung, kedelai, pisang, gas, dan biaya transportasi dapat menggerus keuntungan. Pedagang harus memperhitungkan modal, jumlah produksi, barang yang tidak terjual, serta harga yang masih sanggup dibayar pelanggan.

Persaingan Tidak Hanya Datang dari Restoran

Pilihan makanan masyarakat semakin beragam. Ayam goreng dengan berbagai varian rasa, kentang goreng, roti, makanan beku, dan jajanan yang dipasarkan melalui media sosial menawarkan pilihan berbeda kepada konsumen. Sebagian usaha memiliki keunggulan dalam kemasan, promosi, tempat yang nyaman, atau layanan pesan antar.

Namun, persaingan tidak selalu berarti pedagang gorengan kehilangan pembeli. Konsumen memiliki kebutuhan dan pertimbangan yang beragam. Orang yang mencari tempat berkumpul mungkin memilih kafe, sedangkan mereka yang ingin membeli camilan cepat dalam perjalanan bisa saja berhenti di gerobak pinggir jalan.

Penelitian antropologi Universitas Gadjah Mada pada 2024 tentang pedagang gorengan di Pantai Drini, Gunungkidul, memberi gambaran mengenai daya tahan usaha kecil. Penelitian tersebut mendokumentasikan pedagang yang mampu bertahan hingga 12 tahun, termasuk melewati pandemi, meskipun menghadapi persaingan dan perubahan jumlah wisatawan.

Temuan itu tidak berarti semua pedagang gorengan memiliki nasib serupa. Akan tetapi, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa usaha dengan produk sederhana dapat bertahan melalui kondisi yang tidak selalu menguntungkan.

Pelanggan, Kepercayaan, dan Cara Bertahan

Hubungan antara pedagang dan pembeli menjadi bagian penting dari ekonomi rakyat. Pembeli mungkin kembali karena sudah mengenal penjualnya, mengetahui rasa dagangannya, atau terbiasa membeli di tempat yang sama setiap sore. Hubungan semacam ini tumbuh melalui pertemuan berulang, bukan hanya melalui promosi.

Konsistensi rasa, kebersihan, keramahan, dan ketersediaan dagangan turut menentukan apakah pelanggan akan kembali. Pedagang yang memahami kebiasaan pembelinya dapat menyesuaikan jumlah produksi dengan jam ramai, mengurangi sisa dagangan, atau menawarkan variasi yang sesuai dengan permintaan.

Perubahan zaman juga membuka peluang untuk beradaptasi. Informasi lokasi dan menu dapat dibagikan melalui media sosial atau grup percakapan warga. Pembayaran digital bisa memudahkan transaksi, sementara pencatatan sederhana membantu pedagang mengetahui apakah hasil penjualan benar-benar menutup biaya dan menghasilkan keuntungan.

Inovasi tidak harus mengubah gerobak menjadi gerai modern. Bagi usaha kecil, perbaikan yang tepat justru dapat dimulai dari hal mendasar: bahan yang terjaga, pelayanan yang baik, pengelolaan modal, serta keputusan produksi yang lebih cermat.

Usaha Kecil dalam Perekonomian Besar

Data Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 4,85 juta usaha penyediaan makanan dan minuman di Indonesia pada 2023. Angka tersebut meliputi beragam jenis usaha, sehingga tidak dapat digunakan untuk menghitung jumlah pedagang gorengan. Namun, data itu memperlihatkan luasnya kegiatan ekonomi yang bertumpu pada penyediaan makanan.

Di balik setiap gerobak gorengan, ada perputaran uang yang menghubungkan pedagang dengan pemasok bahan, produsen minyak, penggiling tepung, hingga rumah tangga yang bergantung pada hasil penjualan. Nilainya mungkin kecil dalam satu transaksi, tetapi usaha tersebut menjadi sumber penghidupan bagi orang yang menjalankannya.

Gorengan tentu tidak kebal terhadap perubahan selera maupun tekanan biaya. Ada pedagang yang berkembang, ada pula yang harus berpindah tempat atau berhenti berjualan. Karena itu, ketahanan usaha rakyat tidak seharusnya hanya dipuji sebagai kisah kegigihan, tetapi juga dipahami melalui kondisi yang memungkinkan mereka bertahan.

Pada akhirnya, gerobak gorengan mengingatkan kita bahwa ekonomi tidak hanya bergerak di pusat perbelanjaan, restoran besar, atau perusahaan dengan merek terkenal. Di pinggir jalan, melalui transaksi sederhana yang berlangsung setiap hari, masyarakat juga membangun penghidupan. Selama kebutuhan, kepercayaan, dan kemampuan beradaptasi tetap bertemu, usaha kecil ini masih memiliki ruang untuk tumbuh di tengah perubahan zaman.

Tentang Penulis

Narendra

Narendra

Pendiri EMMANUS, platform media dan pengetahuan yang berfokus pada pelestarian, pengembangan, dan pewarisan sejarah serta kebudayaan Nusantara. Berkomitmen menghadirkan informasi, cerita, dan pengetahuan yang bermakna melalui jurnalisme, teknologi digital, dan literasi budaya agar warisan leluhur tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT

Lainnya dari AKAR

Lihat semua →

Lainnya dari Narendra

Lihat semua →