Di sejumlah permukiman, suara penjual tahu bulat sudah akrab di telinga warga. Dari pengeras suara yang terpasang di mobil, terdengar tawaran tahu bulat yang digoreng saat dipesan, mengundang perhatian orang yang sedang beraktivitas di rumah.
Di balik jajanan sederhana itu, ada pedagang yang setiap hari berusaha mencari nafkah. Mereka membawa persediaan tahu dan perlengkapan memasak, lalu berkeliling mencari pembeli dengan harapan dagangannya habis terjual.
Berjualan dengan Mendatangi Pembeli
Pedagang tahu bulat tidak selalu menunggu pelanggan datang ke satu tempat. Dengan mobil yang dilengkapi tempat menggoreng, mereka dapat berpindah dari satu permukiman ke permukiman lain, mengikuti jalan yang ramai dan tempat yang dinilai memiliki banyak calon pembeli.
Cara berjualan seperti ini membuat pedagang lebih mudah menjangkau warga. Pembeli pun tidak harus pergi jauh untuk mendapatkan camilan hangat, karena penjual bisa datang mendekati tempat tinggal mereka.
Namun, berkeliling juga membutuhkan biaya. Bahan bakar, minyak goreng, gas, perawatan kendaraan, dan persediaan tahu harus diperhitungkan agar uang hasil penjualan tidak habis untuk menutup pengeluaran.
Ada Banyak Tangan di Balik Seporsi Tahu
Usaha tahu bulat tidak hanya melibatkan orang yang berjualan di jalan. Ada produsen yang membuat tahu, pedagang yang menyalurkan barang, serta pengecer yang menjualnya langsung kepada konsumen.
Penelitian mengenai pemasaran tahu bulat di Desa Muktisari, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, yang diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroinfo Galuh pada 2019, mengkaji jalur penjualan yang melibatkan produsen, pedagang besar, dan pengecer. Penelitian tersebut melibatkan 25 responden, terdiri atas satu produsen, tujuh pedagang besar, dan 17 pengecer.
Gambaran itu menunjukkan bahwa usaha jajanan sederhana dapat menghubungkan sejumlah pelaku ekonomi. Setiap orang memiliki pekerjaan dan pengeluaran sendiri, mulai dari membuat produk hingga menjualnya kepada pembeli terakhir.
Suara Khas Belum Cukup untuk Bertahan
Kalimat promosi dari pengeras suara menjadi ciri yang mudah dikenali dari penjual tahu bulat. Cara ini membantu warga mengetahui bahwa penjual sedang melintas, sehingga mereka dapat keluar rumah ketika ingin membeli.
Meski demikian, suara yang dikenal banyak orang belum tentu membuat dagangan selalu ramai. Pedagang tetap perlu menjaga rasa, kebersihan, harga, dan pelayanan, sekaligus memperkirakan jumlah tahu yang dibawa agar tidak terlalu banyak tersisa.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal BisTek pada 2025 membahas motivasi dan pandangan 12 pedagang tahu bulat terhadap usaha mereka sebagai sumber pendapatan. Penelitian tersebut memberikan gambaran tentang pengalaman para pedagang yang diteliti, tetapi hasilnya tidak dapat dianggap mewakili seluruh penjual tahu bulat di Indonesia.
Ramainya pembeli, biaya operasional, ketersediaan barang, dan lokasi berjualan dapat membuat hasil usaha setiap pedagang berbeda. Karena itu, keberhasilan usaha tidak cukup dinilai dari banyaknya orang yang berhenti membeli, tetapi juga dari kemampuan mengelola biaya dan menjaga pendapatan tetap seimbang dengan pengeluaran.
Penghasilan yang Harus Dijaga Setiap Hari
Bagi pedagang kecil, uang hasil penjualan bukan seluruhnya keuntungan. Sebagian harus digunakan kembali untuk membeli persediaan, membayar bahan bakar, dan memenuhi kebutuhan lain yang berkaitan dengan usaha.
Menjalankan usaha keliling juga membutuhkan persiapan setiap hari. Pedagang harus menyiapkan barang, menentukan rute, melayani pembeli, dan memastikan peralatan siap digunakan kembali pada hari berikutnya.
Kisah pedagang tahu bulat memperlihatkan salah satu bentuk ekonomi kerakyatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Usaha ini mungkin terlihat sederhana, tetapi tetap membutuhkan modal, perhitungan, tenaga, dan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Selama masih ada pembeli, peluang untuk berjualan tetap terbuka. Namun, agar usaha dapat terus berjalan, pedagang perlu menjaga mutu dagangan, memperhitungkan biaya, dan menyesuaikan cara berjualan dengan keadaan di lapangan.







