Budaya

GPIB Immanuel Probolinggo dengan Keindahan Arsitektur Gothic

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) “Immanuel” Probolinggo, yang lebih dikenal dengan sebutan Gereja Merah, menjadi salah satu ikon bersejarah di Kota Probolinggo, Jawa Timur. Bangunan ini berada di Jalan Suroyo 32, gereja ini tidak hanya melayani fungsi religius tetapi juga menjadi cagar budaya dan daya tarik wisata yang memikat banyak pengunjung. Sistem Knock […]

Oleh Achmad Aristyan

GPIB Immanuel Probolinggo dengan Keindahan Arsitektur Gothic
Gereja Merah di Probolinggo yang jadi salah satu bangunan cagar budaya bersejarah. Foto: Wikipedia/Ferry Pepenk Hidayat
Diterbitkan

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) “Immanuel” Probolinggo, yang lebih dikenal dengan sebutan Gereja Merah, menjadi salah satu ikon bersejarah di Kota Probolinggo, Jawa Timur.

Bangunan ini berada di Jalan Suroyo 32, gereja ini tidak hanya melayani fungsi religius tetapi juga menjadi cagar budaya dan daya tarik wisata yang memikat banyak pengunjung.

Sistem Knock Down

Melansir dari Wikipedia, gereja ini didirikan tahun 1862. Gereja Merah memiliki gaya arsitektur gothic yang khas dengan struktur bangunan yang seluruhnya terbuat dari baja. Keunikan lainnya adalah metode pembangunannya yang menggunakan sistem “knock down”. 

Seluruh komponen gereja ini diproduksi di Belanda, kemudian diangkut melalui jalur laut menuju Pelabuhan Tanjung Tembaga, Probolinggo, dan dirakit kembali di lokasi. Sistem ini memberikan sentuhan khas pada bangunan yang terlihat megah dan kokoh hingga saat ini.

Hingga kini, Gereja Merah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan dikelola pemerintah kota setempat ini tetap aktif digunakan sebagai tempat ibadah. Ibadah rutin digelar setiap Minggu pagi. 

Arsitektur GPIB Immanuel Probolinggo.Foto: GoogleMaps/essy Novalia Darumba

Namun, dalam perjalanannya, gereja ini pernah mengalami masa kelam ketika pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun 1942-1945, bangunan ini sempat dialihfungsikan menjadi gudang senjata.

Warna Filosofis

Seorang saksi sejarah, Cornelis Kippuw, yang kisahnya diceritakan putranya Huibert Esser Kippuw, mengungkapkan bahwa pendeta jemaat pertama yang diingat adalah Pdt. Deutz, seorang pendeta berkebangsaan Belanda. 

Fakta menarik lainnya, Gereja Merah Probolinggo memiliki kemiripan dengan satu bangunan lain di dunia, yakni sebuah gereja di Den Haag, Belanda.

Namun, hanya Gereja Merah di Probolinggo yang tetap berfungsi sebagai gereja aktif. Bangunan serupa di Belanda telah beralih fungsi menjadi sebuah bar.

Warna merah mencolok yang mendominasi eksterior gereja bukanlah sekadar pilihan estetika. Bagi jemaat, warna ini menyimpan makna filosofis yang mendalam, melambangkan darah Kristus yang tertumpah untuk menyelamatkan dosa-dosa umat manusia.

Simbolisme ini menegaskan peran penting gereja tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pengingat akan pengorbanan dan kasih yang suci.

Simbol Persatuan

Selain fungsinya sebagai tempat ibadah, Gereja Merah menjadi salah satu destinasi wisata religi di Kota Probolinggo. Turis dari berbagai daerah sering mengunjungi gereja ini untuk melihat arsitekturnya yang memikat serta merasakan atmosfer sejarah yang kental. 

Popularitasnya sebagai tempat berfoto juga meningkat, terutama untuk sesi pre-wedding, di mana calon pengantin memanfaatkan latar gereja yang unik dan bersejarah ini sebagai elemen pemanis dalam dokumentasi momen spesial mereka.

GPIB Immanuel Probolinggo berdiri sebagai simbol persatuan antara warisan budaya Eropa dan kekayaan sejarah lokal. Keberadaannya hingga kini menjadi saksi bisu perjalanan waktu, menjaga keaslian cerita dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, sambil terus menjadi bagian penting dari identitas Kota Probolinggo. (Dari berbagai sumber)

TopikBudaya
Budaya17 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan