Tradisi

Horja Bius, Cara Masyarakat Batak Menyelesaikan Permasalahan

Horja Bius adalah salah satu tradisi musyawarah ala masyarakat Batak Toba, Sumatera Utara. Tujuannya untuk mencapai mufakat dalam menyelesaikan permasalahan bersama. Tradisi yang berkembang khususnya di Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara ini dilakukan dengan mempersembahkan kerbau sebagai ungkapan syukur. Upacara ini dahulu selalu disertai dengan ritual Mangalahat Horbo, yaitu persembahan berupa kerbau pilihan […]

Oleh Anisa Kurniawati

Horja Bius, Cara Masyarakat Batak Menyelesaikan Permasalahan
Foto: infobudaya.net
Diterbitkan

Horja Bius adalah salah satu tradisi musyawarah ala masyarakat Batak Toba, Sumatera Utara. Tujuannya untuk mencapai mufakat dalam menyelesaikan permasalahan bersama.

Tradisi yang berkembang khususnya di Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara ini dilakukan dengan mempersembahkan kerbau sebagai ungkapan syukur. 

Upacara ini dahulu selalu disertai dengan ritual Mangalahat Horbo, yaitu persembahan berupa kerbau pilihan sebagai ungkapan syukur kepada leluhur. 

Dilansir dari infobudaya.net, sebelum masuknya agama Kristen, masyarakat Batak Toba banyak yang menganut kepercayaan Parmalim. Horja Bius memiliki keterkaitan erat dengan ajaran ini.

Meskipun kini hanya sebagian kecil masyarakat yang masih mempraktikkannya. Khususnya mereka yang tinggal di sekitar Pulau Samosir.

Rangkaian Ritual Horja Bius

Dalam kehidupan sosial masyarakat Batak Toba, terdapat tiga elemen penting dalam sistem musyawarah, yaitu Huta, Horja, dan Bius.

Huta merujuk pada kelompok perkampungan yang dipimpin seorang Raja Huta, biasanya berkaitan dengan garis keturunan marga. 

Dalam Horja Bius, salah satu ritual penting yang dilaksanakan adalah Hahomion. Ritual ini adalah upacara pemujaan terhadap roh leluhur dan kekuatan gaib sebagai bentuk penghormatan dan permohonan restu.

Horja Bius terdiri dari beberapa tahapan ritual. Pertama, Ulaon Hahomion, yaitu ziarah ke makam Dolok Ompu Raja Sidabutar untuk memohon berkat dan perlindungan dalam upacara.

Dalam pelaksanaannya, ritual ini biasanya di barengi dengan Tari tortor tunggal panaluan dan tortor parsiarabu. Kemudian ada prosesi simbolis sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, yaitu Marjoting da Pajongjong Borotan. 

Prosesi yang menarik dalam upacara ini adalah Mangalahat Horbo. Prosesi ini melibatkan seekor kerbau liar yang ditangkap dari hutan diarak menuju tiang tambat sebelum disembelih. 

Tujuannya supaya melambangkan harapan agar tanah tetap subur, hewan ternak berkembang biak, serta kesejahteraan masyarakat tetap terjaga.

Sajian Tradisional dalam Upacara

Upacara Horja Bius juga melibatkan berbagai perlengkapan. Beberapa diantaranya yaitu, daging kambing putih dan ayam putih jantan yang dimasak dan dipotong sesuai aturan adat.

Ada juga ayam jantan merah panggang, hanya boleh dimasak dan dikonsumsi kaum laki-laki.

Selain makanan juga ada sagu-sagu dan itak nani hopingan. Sajian ini berupa kue berbahan tepung beras yang melambangkan semangat dan doa restu.

Makanan lain yaitu, Ihan Batak, ikan khas Danau Toba yang dimasak secara khusus.

Untuk penyucian, terdapat air campuran jeruk purut yaitu anggir pangurason. Tradisi ini juga diiringi dengan alat musik tradisional gondang sabangunan dan dupa. 

Horja Bius kini telah menjadi bagian dari Horas Samosir Festival. Dengan segala keunikannya, tradisi ini dapat menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.

Dengan format teater kolosal, tradisi ini tetap terjaga tanpa kehilangan nilai sakralnya. 

Dua desa yang masih rutin menggelar upacara ini adalah Desa Tuktuk dan Desa Simanindo. Melalui Horja Bius, masyarakat Batak Toba tidak hanya menjaga warisan leluhur mereka tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada dunia. (Dari berbagai sumber)

TopikTradisi
Tradisi13 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati