Tradisi

Imlek di Indonesia, Dari Larangan Orba ke Hari Libur Nasional

Tahun Baru Imlek, yang dirayakan komunitas Tionghoa di Indonesia, jatuh pada rentang waktu antara 21 Januari hingga 20 Februari. Tahun 2025, Imlek jatuh 29 Januari dan menjadi hari libur nasional. Namun, perjalanan panjang perayaan Imlek di Indonesia tidak mulus. Sebelum akhirnya ditetapkan sebagai hari libur nasional, Imlek melalui sejarah yang penuh dinamika, dengan berbagai pasang […]

Oleh Achmad Aristyan

Imlek di Indonesia, Dari Larangan Orba ke Hari Libur Nasional
Pertunjukan Naga Liong yang biasanya dipentaskan saat perayaan Imlek. Foto: commons.wikimedia.org/Heri Nugroho
Diterbitkan

Tahun Baru Imlek, yang dirayakan komunitas Tionghoa di Indonesia, jatuh pada rentang waktu antara 21 Januari hingga 20 Februari. Tahun 2025, Imlek jatuh 29 Januari dan menjadi hari libur nasional. 

Namun, perjalanan panjang perayaan Imlek di Indonesia tidak mulus. Sebelum akhirnya ditetapkan sebagai hari libur nasional, Imlek melalui sejarah yang penuh dinamika, dengan berbagai pasang surut dan bahkan pelarangan di masa lalu.

Imlek pada Masa Kolonial Belanda

Dilansir dari Indonesia.go.id, perayaan Imlek pertama kali mengalami hambatan pada masa penjajahan Belanda. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda mulai mengendalikan kehidupan sosial masyarakat Tionghoa. 

Salah satu langkah yang diambil adalah melarang perayaan Imlek. Pemerintah kolonial khawatir bahwa kemeriahan perayaan ini bisa menimbulkan kerusuhan etnis. 

Kondisi ini berubah ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942. Pemerintah Jepang mengizinkan perayaan Imlek, bahkan menjadikannya sebagai hari libur resmi melalui Keputusan Osamu Seirei No. 26 pada 1 Agustus 1943.

Imlek pada Era Orde Lama

Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, Imlek mulai mendapat pengakuan resmi. Melalui Penetapan Pemerintah Nomor 2/UM/1946, Imlek diatur sebagai salah satu hari raya di Indonesia, khusus bagi masyarakat Tionghoa. 

Meskipun demikian, peraturan ini hanya berlaku hingga 1953. Pada tahun itu, melalui Keputusan Presiden No. 24/1953, pemerintah membatalkan status libur resmi Imlek. 

Sejak itu, meskipun perayaan Imlek tetap dilaksanakan masyarakat Tionghoa, namun perayaan ini tidak lagi diakui sebagai hari libur nasional.

Imlek pada Era Orde Baru

Pada masa Orde Baru, di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, perayaan Imlek mengalami pelarangan yang ketat. Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 melarang masyarakat Tionghoa untuk merayakan Imlek secara terbuka. 

Dalam peraturan itu, segala bentuk perayaan budaya dan agama Tionghoa dilarang dilakukan di ruang publik. Perayaan Imlek hanya diperbolehkan dilakukan secara pribadi dan tidak mencolok.

Kebijakan ini berlangsung hingga 1998, ketika rezim Soeharto berakhir.

Perayaan Imlek. Foto: commons.wikimedia.org/Rrinaldy

Imlek pada Era Reformasi hingga Sekarang

Dilansir dari kompas.com, setelah jatuhnya Orde Baru, masyarakat Tionghoa mulai merayakan Imlek tanpa lagi harus menyembunyikannya.

Meskipun belum ada payung hukum resmi, Instruksi Presiden No. 26/1998 yang diterbitkan Presiden BJ Habibie memberikan harapan baru bagi masyarakat Tionghoa. 

Pada era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), kebijakan diskriminatif yang melarang perayaan Imlek secara terbuka dicabut melalui Keputusan Presiden No. 6/2000.

Pada tahun 2001, Presiden Gus Dur mengeluarkan Keputusan Presiden No. 19 Tahun 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur bagi etnis Tionghoa. 

Tahun berikutnya, Presiden Megawati Soekarnoputri mengeluarkan Keputusan Presiden No. 9 Tahun 2002 yang menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional.

Sejak saat itu, Imlek menjadi hari libur nasional yang dirayakan masyarakat Indonesia dari berbagai etnis dan latar belakang dengan penuh semangat, serta disemarakkan dengan beragam tradisi dan festival di seluruh Indonesia.

Perjalanan panjang perayaan Imlek di Indonesia menunjukkan betapa perayaan ini mengalami berbagai perubahan dalam menghadapi tantangan politik, sosial, dan budaya.

Kini, Imlek telah menjadi bagian penting dari keragaman budaya Indonesia yang dirayakan semua lapisan masyarakat, menjadikannya bukan hanya sebagai hari kebahagiaan bagi komunitas Tionghoa, tetapi juga sebagai momen untuk merayakan kebersamaan dan toleransi. 

TopikTradisi
Tradisi30 JAN 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan