Bila ada musisi Indonesia yang tetap produktif berkarya dari usia belia hingga sudah tidak muda, salah satunya adalah Indra Lesmana. Dikenal luas sebagai maestro musik jazz, Indra juga musisi lengkap dari penulis lagu, komposer, arranger produser hingga menjadi penyanyi.
Deretan rekamannya terentang panjang, sejak merilis album Ayahku Sahabatku (1978) hingga album Sydney Reunion (2024). Menarik dicatat, album yang dirilis terakhir ini menjadi penanda karirnya yang sukses merilis 100 album.
Dalam rekaman berisi 10 lagu instrumental ini Indra Lesmana berkolaborasi dengan musisi ternama asal Sydney, Australia yakni, Steve Hunter, Dale Barlow, dan Andy Gander. Ketiga musisi dari Aussie itu merupakan teman Indra saat belajar di negeri Kangguru.
Album jazz fusion Indra itu diluncurkan secara terbatas di gedung Sydney Opera House, 23 September 2024. Semua lagu ditulis Indra dan direkam selama dua hari di Rancom St Studio, Sydney New South Wales, Australia, awal Mei 2024. Album ini dihadirkan di platform pemutaran musik digital dan disediakan dalam format vinyl (piringan hitam).
*
Indra Lesmana, komposis dan musisi jazz telah bermusik sejak usia 10 tahun. Selama kariernya, Indra sudah menghasilkan ratusan komposisi original, puluhan album, dan belasan album solo serta aktif menjadi produser beberapa album artis kenamaan Indonesia.
Pria kelahiran Jakarta 28 Maret 1966, ini telah memperlihatkan bakatnya sedari kecil. Ayah Indra, Jack Lesmana, dikenal lama sebagai musisi jazz ternama Indonesia. Pentas perdana Indra terjadi di Bandung, Maret 1976, ketika dipercaya ayahnya untuk tampil memainkan keyboard.
Tak berapa lama kemudian, Indra kembali tampil sebagai keyboardist pada sebuah konser jazz. Pertunjukan itu melibatkan musisi kondang seperti Jack Lesmana, Benny Likumahuwa dan penyanyi Broery Marantika. Pada tahun 1978, Indra merilis album pertamanya “Ayahku Sahabatku”
Di tahun yang sama, Indra dan ayahnya berkesempatan pergi ke Australia untuk tampil dalam pekan budaya ASEAN Trade Fair. Saat itulah, Indra mendapatkan beasiswa penuh untuk sekolah di New South Wales Conservatory School of Music di Sydney. Selama menempuh pendidikan musik di negeri Kangguru itu, karier musiknya semakin berkembang.
Baca juga: Iwan Fals, Musisi “Wakil Rakyat” Legendaris
Musisi Dunia
Sekembalinya ke Australia, Indra dan Jack kembali membentuk band jazz yang dikombinasikan dengan irama latin dan fusion. Band itu pernah menyambangi Indonesia bulan Agustus 1982 dan melakukan tur di 13 kota.
Indra dan ayahnya sempat membentuk band bernama Jack and Indra Lesmana Quartet bersama Karim Suweileh dan James Morrison. Hasil kolaborasi itu kemudian dimuat dalam album berjudul Children of Fantasy (1981) saat berkunjung ke IndonEsia. Indra pun sempat berkolaborasi dengan Sandy Evans, Tony Buck dan Steve Elphick. Keempatnya membentuk band beraliran jazz modern bernama Women and Children First.
Indra terus mengembangkan aliran jazz-fusion-nya. Pada tahun 1982, ia membentuk band baru, bernama Nebula dan merilis album pertamanya yang diberi tajuk No Standing. Album direkam di Zebra Records, perusahaan rekaman bagian dari MCA RecordsAmerika Serikat. Setahun setelah debut albumnya rilis, ia memutuskan untuk pindah ke Amerika.
Indra merilis album keduanya yang bertajuk “For Earth and Heaven” dirilis (1986). Kedua singlenya, No Standing dari album No Standing dan Stephanie dari album For Earth and Heaven berhasil menduduki Billboard Charts untuk kategori Jazz dan nomor satu di charts radio di Amerika Serikat.
Baca juga: Gombloh, Seniman Musik Legendaris Kota Pahlawan
Tidak hanya bekerja sama dengan musisi jazz dunia, Indra juga berkolaborasi dengan musisi jazz tanah air. Seperti Gilang Ramadan yang telah berkolaborasi dalam PIG (bersama Pra Budi Dharma), serta Java Jazz (bersama Mates, Donny Suhendra dan Embong Rahardjo). Di tahun 1988, Indra bersama band jazz Krakatau merilis album Kau Datang, sebuah album dan lagu legendaris dalam sejarah musik Indonesia.
Selain memproduksi akbum jazz dan etnik, Indra Lesmana pun berulangkali merilis album pop sukses di era 90a antara lain Aku Ingin dan Cerita Lalu. Sejumlah lagu dari album itu hits dan merajai tangga lagu populer di Indonesia. Di era itu, Indra sempat berkolaborasi dengan penyanyi beken Titi DJ dan Sophia Latjuba. Sementara duetnya bersama Gilang Ramadhan lewat album Selamat Tinggal (1997) dan bersama band Adegan menjadikan nama Indra kian populer.
Sedikitnya 20 album milik artis Indonesia telah hadir dari kreasinya. Selain itu, ia juga pernah terlibat dalam penggarapan album soundtrack Rumah ke Tujuh. Usai merilis album Sydney Reunion, tentu Indra ingin memecahkan rekornya sendiri dengan merilis lebih dari 100 album. Kita Tunggu. (Dari berbagai sumber)