Budaya

Jaranan Mataraman, Representasi Prajurit Mataram dari Blitar 

Kota Blitar, Jawa Timur memiliki warisan budaya tak ternilai yakni Jaranan Mataraman. Kesenian ini menggambarkan latihan perang prajurit Mataram. Tidak sekadar pertunjukan seni, namun kesenian tradisional ini juga memiliki nilai spiritual, serta mencerminkan identitas masyarakat setempat. Salah satu aspek unik dari Jaranan Mataraman adalah peran penari yang tidak hanya melambangkan prajurit yang menunggang kuda, tetapi […]

Oleh Anisa Kurniawati

Jaranan Mataraman, Representasi Prajurit Mataram dari Blitar 
Ilustrasi Kesenian Jaranan Mataraman. Foto: Tangkapan layar Youtube Visart Channel
Diterbitkan

Kota Blitar, Jawa Timur memiliki warisan budaya tak ternilai yakni Jaranan Mataraman. Kesenian ini menggambarkan latihan perang prajurit Mataram.

Tidak sekadar pertunjukan seni, namun kesenian tradisional ini juga memiliki nilai spiritual, serta mencerminkan identitas masyarakat setempat.

Salah satu aspek unik dari Jaranan Mataraman adalah peran penari yang tidak hanya melambangkan prajurit yang menunggang kuda, tetapi juga merepresentasikan kuda itu sendiri. 

Pakem dan Aliran dalam Jaranan

Pada masa kolonial, kuda dianggap sebagai simbol kekuasaan Belanda. Masyarakat pun menggunakan kesenian ini sebagai bentuk perlawanan terselubung agar tidak dicurigai oleh penguasa kolonial.

Jaranan memiliki berbagai aliran dengan pakem yang berbeda-beda. Secara umum, di Blitar terdapat tiga aliran utama dalam seni jaranan. Pertama ada pakem aliran Pegon, yaitu menggunakan kepang yang kaku dalam pertunjukan.

Ada juga aliran Senterewe yang dipengaruhi gerakan tari Remo, yang lebih dinamis. Kemudian, aliran Mataraman yang memiliki pakem lebih unik, mengandung nilai moral dan identitas budaya yang kuat.

Dalam pertunjukan Jaranan Mataraman, setiap gerakan dan kostumnya memiliki makna tersendiri.

Kostumnya terdiri dari blangkon Jogja, lurik, selempang, celana kombor kethok bumbung, jarik motif parang barong, kaos motif Sakera, dan centing bergagang hitam.

Kostum ini memiliki kesamaan dengan prajurit Mataram dalam buku “The History of Jawa” karya Thomas Stamford Raffles semakin menguatkan identitas historisnya. 

Nilai Budaya dan Spiritual 

Jaranan Mataraman bukan sekadar hiburan, tetapi juga memiliki unsur spiritual dan mistisisme. Kepercayaan abangan dalam masyarakat Jawa turut memengaruhi eksistensi kesenian ini. Sebelum pementasan, ritual tertentu dilakukan.

Biasanya dengan menyiapkan sesaji yang berisi candu, kembang telon wangi, merang, menyan, rokok klobot, ayam, serta dawet. Sesaji ini diberikan kepada danyang di Sumber Sanan sebagai bentuk penghormatan kepada roh leluhur yang diyakini melindungi desa dan sumber air.

Jaranan Mataraman tidak hanya sekadar pertunjukan tari, tetapi juga menjadi media pembelajaran tentang sejarah dan identitas budaya Jawa.

Dengan terus menjaga dan menghargainya, kita dapat memastikan bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kesenian ini tetap hidup dan dikenal banyak orang.

TopikBudaya
Budaya21 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Budaya

Lihat semua →
Tradisi makan bajamba

Makan Bajamba di Meja Diplomasi

Makan bajamba bukan sekadar tradisi bersantap bersama, melainkan cerminan kebersamaan dan penghormatan yang dapat menginspirasi jamuan diplomatik.

Ridwan
ampilan gim Kenupi karya U-Lika Studio yang mengangkat budaya Dayak Kenyah melalui seni piksel.

Petualangan Dayak Kenyah di Kenupi

Kenupi menghadirkan budaya Dayak Kenyah melalui gim berbasis seni piksel yang dikembangkan U-Lika Studio sebagai bagian dari kampanye Jejak: Jelajah Dayak Kenyah

Ridwan

Lainnya dari Anisa Kurniawati

Lihat semua →
penulisan ulang sejarah Indonesia

DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027

Proyek penulisan ulang sejarah Indonesia resmi mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Persetujuan ini diumumkan dalam Rapat Kerja bersama Komisi X yang digelar di Gedung Nusantara I, mayoritas fraksi menyatakan dukungan terhadap langkah strategis Kementerian Kebudayaan tersebut. Langkah besar ini menandai akhir dari kevakuman penulisan sejarah bangsa selama lebih dari dua

Anisa Kurniawati
Festival Karawitan Putri Gunungkidul

Festival Karawitan Putri Gunungkidul 2025, Ruang Ekspresi Generasi Muda

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten Gunungkidul tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung pada Selasa (27/5) di Taman Budaya Gunungkidul turut dihadiri Wakil Ketua I TP PKK DIY, GKBRAyA Paku Alam. Dalam sambutannya, Gusti Putri mengungkapkan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam

Anisa Kurniawati
Pentas Seni Selasa Wagen

Pentas Seni Selasa Wagen DIY, unjukkan Komitmen Lestarikan Kearifan Lokal

Pentas Seni Selasa Wagen kembali digelar, Selasa (27/05) di Amphitheater Teras Malioboro 1, Yogyakarta. Acara menjadi wujud nyata pengabdian para pelaku budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tradisi. Dalam sambutan pembukaan yang dibacakan Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintahan dan Politik, Sukamto, mewakili Sekretaris Daerah DIY, disampaikan bahwa kegiatan

Anisa Kurniawati