Pameran There Was Something Here Before karya Zahira Asmal di Erasmus Huis, Jakarta, mengajak pengunjung melihat kembali hubungan panjang Indonesia dan Cape Town melalui perpindahan manusia melintasi Samudra Hindia. Berlangsung pada 3 Oktober hingga 23 Desember 2026, pameran ini menghadirkan sejarah masyarakat asal Indonesia yang turut membentuk kehidupan dan kebudayaan Cape Town.
Dalam pembukaannya pada 2 Oktober 2026, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menempatkan pameran tersebut sebagai ruang untuk membaca kembali sejarah bersama melalui seni, kajian, dan dialog. Baginya, kehadiran Afrika Selatan memperluas percakapan kebudayaan yang selama ini menghubungkan Indonesia dan Belanda.
“Pameran There Was Something Here Before mengajak kita melihat kembali sejarah bersama melalui seni, kajian, dan dialog. Karya ini mempertemukan Indonesia, Belanda, dan Afrika Selatan dalam satu kerangka sejarah dan kebudayaan yang saling terhubung,” ujar Fadli Zon.
Syekh Yusuf dan Jejak Indonesia di Cape Town
Salah satu lapisan sejarah yang menjadi perhatian dalam pembukaan pameran adalah perjalanan Syekh Yusuf al-Makassari.
Menurut Kementerian Kebudayaan, Syekh Yusuf mendukung Sultan Ageng Tirtayasa dalam perlawanan terhadap perluasan kekuasaan VOC di Banten. Ia ditangkap pada 1683, diasingkan ke Sri Lanka pada 1684, kemudian dipindahkan pemerintah kolonial Belanda ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan, pada 1693.
Pengasingan tersebut tidak memutus pengaruh Syekh Yusuf. Di Cape Town, ia terus mengajar dan menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual serta komunitas setempat.
“Pengasingan Syekh Yusuf dimaksudkan untuk memisahkannya dari masyarakat dan jaringan yang selama ini mendukung perjuangannya. Namun, gagasan dan pengaruhnya tidak pernah terputus,” kata Fadli Zon.
Warisan tersebut, menurutnya, masih dapat dilihat melalui keberadaan makam keramat Syekh Yusuf serta masyarakat yang tumbuh di sekitar sejarah dan ingatannya. Sejarah Syekh Yusuf kemudian menjadi salah satu landasan yang disebut pemerintah untuk memperkuat kerja sama kebudayaan Indonesia dan Afrika Selatan.
Kementerian Kebudayaan juga tengah menyiapkan pameran Sacred Journey of Sheikh Yusuf Al Makasari: Legacy of Knowledge, Freedom, and Humanity di Indonesia House Amsterdam, Belanda, yang akan dilengkapi seminar ilmiah internasional dan program pemutaran film.
Selain itu, terdapat rencana pengembangan rumah budaya dan museum Indonesia di Cape Town.
Dari Arsip ke Ingatan dan Dokumentasi
Bagi Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen, sejarah yang dihadirkan pameran ini tidak hanya berada di dalam dokumen dan arsip. Ingatan, benda, suara, dan fotografi juga menjadi cara untuk memahami pengalaman masyarakat lintas generasi.
Pameran tersebut mempertemukan Indonesia, Afrika Selatan, Sri Lanka, dan Belanda dalam sebuah bentang sejarah yang menunjukkan bahwa perpindahan manusia meninggalkan jejak yang panjang.
“Sejarah memiliki banyak cerita, tetapi tidak semua cerita disampaikan dengan suara yang sama atau didengar secara setara,” ujar Marc Gerritsen.
Dalam konteks itulah There Was Something Here Before menjadi ruang refleksi.
Kisah Syekh Yusuf dan masyarakat Cape Malay memperlihatkan bahwa hubungan antarkawasan tidak hanya terbentuk melalui hubungan politik atau perdagangan, tetapi juga melalui kehidupan manusia yang berpindah, menetap, bekerja, membangun komunitas, dan membawa ingatan dari tempat asalnya.
Mereka yang Membentuk Sebuah Kota
Zahira Asmal, kurator sekaligus penggagas pameran, memulai proyek ini dari pertanyaan sederhana sekaligus mendasar: siapa yang membangun, merawat, dan membentuk sebuah kota?
Pertanyaan tersebut membawa perhatian pada masyarakat yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan kepulauan lainnya. Mereka membawa pengetahuan, kepercayaan, bahasa, makanan, keterampilan, dan tradisi yang kemudian turut membentuk kehidupan masyarakat Cape Town.
“Pameran ini mengajak kita memikirkan siapa sebenarnya yang membentuk sebuah kota. Siapa yang membangunnya, merawatnya, membawa pengetahuan, menciptakan kebudayaan, dan berjuang untuk menjadikannya rumah,” tutur Zahira.
Bagi Zahira, keberadaan komunitas tersebut bukan sekadar catatan masa lalu. Kontribusi mereka terus menjadi bagian dari kehidupan Cape Town hingga hari ini.
Dengan demikian, kota dalam pameran ini tidak dipahami sebagai ruang yang selesai. Ia merupakan hasil dari lapisan kehidupan manusia yang terus bertambah dari waktu ke waktu.

Kota yang Dibentuk oleh Perpindahan
There Was Something Here Before merupakan pameran multimedia interaktif yang memadukan penelitian, materi arsip, fotografi, suara, seni, kesaksian personal, dan desain interaktif.
Keragaman medium tersebut digunakan untuk memperlihatkan bagaimana sebuah kota dibentuk oleh perpindahan manusia, kerja keras, perjuangan, kepedulian, dan upaya pemulihan.
Pameran ini diselenggarakan oleh Erasmus Huis, pusat kebudayaan Belanda di Indonesia, dan menjadi bagian dari proyek Zahira Asmal bertajuk See. Proyek tersebut memperluas kajian mengenai berbagai kondisi yang membentuk kota-kota yang diwariskan kepada generasi saat ini.
Pendekatan ini membuat sejarah tidak berhenti sebagai kumpulan tanggal atau nama. Arsip bertemu suara, fotografi bertemu kesaksian personal, sementara pengalaman masyarakat menjadi bagian dari cara membaca kota.
Di titik ini, pameran membawa pembaca pada pertanyaan yang lebih luas: berapa banyak sejarah sebuah kota yang sebenarnya dibentuk oleh orang-orang yang kisahnya tidak selalu hadir dalam narasi utama?
Menghubungkan Jakarta Amsterdam dan Cape Town
Zahira Asmal merupakan urbanis sekaligus direktur The City, lembaga penelitian, penerbitan, dan place-making independen yang didirikan pada 2010. Praktiknya berfokus pada pembentukan kota, hak atas kota, serta peran desain dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap ruang perkotaan.
Di Jakarta, proyek tersebut mempertemukan kembali berbagai lapisan hubungan sejarah yang membentang dari Indonesia menuju Afrika Selatan, dengan Belanda dan Sri Lanka turut berada dalam jalur perjalanan tersebut.
Kehadiran pameran ini juga ditempatkan dalam konteks diplomasi kebudayaan. Fadli Zon menyampaikan harapan agar rangkaian program kebudayaan dapat membangun kesinambungan dialog dari Jakarta, Amsterdam, hingga Cape Town.
“Kita ingin membangun kesinambungan dialog kebudayaan dari Jakarta, Amsterdam, hingga Cape Town,” ujarnya.
Hadir dalam pembukaan pameran Duta Besar Afrika Selatan untuk Indonesia Mpetjane Kgaogelo Lekgoro dan Plt. Direktur Erasmus Huis Nassim Abba. Turut hadir jajaran Kementerian Kebudayaan, termasuk Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T. D. Retnoastuti, Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan Anindita Kusuma Listya, serta Direktur Kerja Sama Kebudayaan Mardisontori.
Merawat Sejarah yang Pernah Berpindah
Pada akhirnya, There Was Something Here Before tidak hanya berbicara tentang apa yang pernah terjadi. Pameran ini mengajak pengunjung melihat bagaimana sesuatu yang pernah terjadi tetap hidup melalui manusia, komunitas, ingatan, dan kebudayaan.
Jejak Indonesia di Cape Town tidak hadir sebagai satu cerita tunggal. Ia terbentuk dari perjalanan panjang, pengasingan, perpindahan, pengetahuan, kepercayaan, kerja, dan kehidupan bersama yang berlangsung lintas generasi.
Bagi Fadli Zon, sejarah semacam itu perlu terus dihadirkan agar dapat dikenali, dilestarikan, dan dimaknai oleh generasi baru. Pameran ini sekaligus menjadi momentum untuk membuka percakapan lebih luas antara Indonesia, Belanda, dan Afrika Selatan.
“Selalu ada sesuatu yang hadir sebelum apa yang kita lihat hari ini. Ada kehidupan, perjalanan, perjuangan, dan komunitas. Tanggung jawab kita adalah menghadirkan sejarah tersebut agar dapat dikenali, dilestarikan, dan dimaknai oleh generasi baru,” pungkasnya.
Di situlah barangkali makna paling penting dari judul There Was Something Here Before: sebelum sebuah kota terlihat seperti hari ini, selalu ada manusia yang datang lebih dulu, meninggalkan pengetahuan, ingatan, dan kehidupan yang kemudian menjadi bagian dari tempat tersebut.






