Setiap hari, orang Bandung melewati jalan yang sama. Ada yang menggunakannya untuk pergi bekerja, mengantar anak sekolah, mencari makan, berbelanja, atau sekadar menuju tempat yang sudah begitu akrab. Nama-nama jalan pun menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.
Kita menyebut Dago, Braga, Tamansari, Sukajadi, atau Asia Afrika tanpa perlu lagi memikirkan dari mana nama itu berasal. Ia sudah menjadi bagian dari cara kita mengenali kota.
Padahal, sebuah nama jalan bisa menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada yang terlihat di papan penunjuk arah. Di Bandung, nama-nama jalan memperlihatkan bagaimana kota ini tumbuh, berubah, dan pada berbagai masa memilih apa yang hendak ditampilkan di ruang publik.
Ada nama yang berkaitan dengan lingkungan dan tempat setempat, ada yang berasal dari sungai, tumbuhan, tokoh, maupun khazanah budaya Sunda. Ada pula nama yang berubah mengikuti pergantian zaman dan cara pemerintah serta masyarakat memandang sejarahnya.
Kajian tentang riwayat jalan Bandung menunjukkan bahwa penamaan dan perubahan nama jalan bahkan berkaitan erat dengan perkembangan pembangunan kota sejak awal abad ke-20.
Karena itu, membaca nama jalan sebenarnya juga merupakan salah satu cara membaca Bandung.
Kita Melewati Sejarah Setiap Hari
Sejarah tersebut kadang tersembunyi dalam nama yang terasa sangat biasa. Di sekitar Tamansari dan Lebak Siliwangi, misalnya, terdapat nama-nama seperti Jalan Mundinglaya, Dayang Sumbi, Ciung Wanara, Siliwangi, dan Sumur Bandung.
Nama-nama itu memperlihatkan bagaimana legenda dan sejarah Sunda digunakan untuk memberi identitas pada ruang kota. Di kawasan lain, sejumlah jalan mengambil nama sungai, seperti Citarum, Cimanuk, Ciliwung, Cipunagara, Cisanggarung, dan Ciujung.
Ada pula kawasan yang memperlihatkan perubahan cara sebuah kota memberi nama pada ruangnya. Sejumlah jalan yang pada masa kolonial menggunakan nama-nama berbahasa Belanda kemudian berganti menjadi nama tokoh-tokoh Indonesia atau nama yang lebih dekat dengan identitas lokal.
Perubahan itu bukan sekadar pergantian tulisan pada papan jalan. Ia merupakan bagian dari perubahan Bandung dan Indonesia dalam melihat dirinya sendiri.
Sejarah perubahan tersebut sudah banyak ditelusuri melalui peta lama, koran, arsip, dan penelitian. Ada yang bahkan dapat menunjukkan kapan sebuah nama mulai digunakan, mengapa sebuah ruas jalan berganti nama, serta bagaimana penamaan itu berkaitan dengan pembangunan kawasan.
Namun, mungkin ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: setelah sejarah itu diketahui, apa artinya bagi warga Bandung hari ini?
Sebab nama jalan bukan hanya sesuatu yang tercatat dalam arsip. Nama itu terus digunakan, diucapkan, dan diwariskan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika Nama Lama Tetap Hidup
Nama resmi dan nama yang hidup di tengah masyarakat tidak selalu berjalan beriringan. Sebuah nama bisa saja berubah secara administratif, tetapi nama yang sudah lama digunakan warga tetap bertahan dalam percakapan sehari-hari. Di sinilah nama jalan menjadi lebih dari sekadar identitas yang tercantum di papan.
Contoh yang mudah ditemukan di Bandung adalah Jalan Ir. H. Juanda yang hingga kini lebih dikenal banyak orang sebagai Jalan Dago. Nama resmi dan sebutan yang hidup di masyarakat berjalan berdampingan. Ketika seseorang mengatakan akan pergi ke Dago, misalnya, yang dimaksud bukan sekadar sebuah ruas jalan, melainkan kawasan yang sudah memiliki tempat tersendiri dalam ingatan dan keseharian warga Bandung.
Fenomena semacam ini menunjukkan bahwa nama jalan tidak hanya ditentukan oleh keputusan administratif. Ia juga dibentuk oleh kebiasaan, ingatan, dan penggunaan sehari-hari. Nama yang sudah berakar dalam percakapan masyarakat dapat terus hidup bahkan ketika nama resminya telah berubah.
Karena itu, ketika membaca sejarah nama jalan Bandung, kita tidak selalu harus memilih antara nama lama atau nama baru. Keduanya dapat menjadi lapisan yang sama-sama penting untuk memahami bagaimana kota tumbuh dan bagaimana warganya mengingat ruang yang mereka tinggali.

Siapa yang Kita Ingat?
Hal yang sama berlaku ketika sebuah jalan menggunakan nama seseorang.
Nama tokoh pada sebuah papan jalan pada dasarnya adalah bentuk sederhana dari penghormatan sekaligus pengingat. Tetapi penghormatan itu akan menjadi lebih bermakna jika masyarakat mengetahui siapa orang yang namanya mereka sebut.
Ketika seseorang melewati Jalan Inggit Garnasih, misalnya, nama itu sebenarnya bisa menjadi pintu untuk mengenal kembali sosok Inggit Garnasih dan bagian dari sejarah yang berkaitan dengannya. Begitu pula ketika warga melewati jalan yang menggunakan nama tokoh lain.
Papan nama tersebut memberi kesempatan kepada kota untuk mengatakan kepada generasi berikutnya: orang ini pernah menjadi bagian penting dari perjalanan kita.
Persoalannya, kehidupan kota sering membuat nama-nama itu menjadi begitu biasa. Kita terbiasa menyebut alamat tanpa lagi bertanya siapa tokoh di baliknya. Nama menjadi penanda lokasi, sementara ceritanya perlahan menjauh.
Padahal, tidak semua orang akan datang ke museum, membaca buku sejarah, atau sengaja mencari arsip kota. Tetapi hampir setiap warga akan melewati jalan.
Karena itu, nama jalan sebenarnya memiliki potensi menjadi salah satu media sejarah yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Perubahan Nama dan Ingatan Kota
Tentu saja, bukan berarti setiap nama lama harus dipertahankan dan setiap perubahan nama harus ditolak. Kota selalu berubah. Pemerintah memiliki alasan dan pertimbangan ketika menetapkan nama ruang publik, sementara masyarakat juga terus mengalami perubahan nilai dan cara memandang sejarah.
Yang penting adalah memastikan bahwa perubahan nama tidak membuat cerita tentang nama sebelumnya ikut hilang.
Sebab nama lama dapat menyimpan informasi tentang perkembangan suatu kawasan, masyarakat yang pernah tinggal di sana, bahasa yang digunakan, bentang alam, maupun cara sebuah pemerintahan pada masa tertentu memandang kotanya.
Ketika nama itu berganti, informasi tersebut tetap merupakan bagian dari sejarah Bandung. Dengan cara pandang seperti itu, perubahan nama tidak harus diperlakukan sebagai pertentangan antara nama lama dan nama baru.
Keduanya dapat dibaca sebagai lapisan sejarah. Nama baru menunjukkan apa yang hendak dikenang pada suatu masa, sedangkan nama lama membantu kita memahami bagaimana kota pernah dibentuk dan dijalani oleh generasi sebelumnya.
Barangkali justru di situlah kedewasaan sebuah kota dalam menjaga ingatannya: bukan dengan membuat masa lalu tidak berubah, melainkan dengan memastikan perubahan itu tetap memiliki cerita.
Pembicaraan tentang toponimi juga masih berlangsung dalam agenda kebudayaan Kota Bandung.
Pada 25 September 2026, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung menggelar “Ngobrol di Museum” bertajuk Toponimi Taman dan Jalan di Kota Bandung di Museum Sejarah Kota Bandung. Forum tersebut mempertemukan sejarawan, akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk membahas kembali sejarah, identitas lokal, serta cerita yang melekat pada nama-nama ruang publik Bandung.
Agar Nama Jalan Tidak Sekadar Menjadi Alamat
Bandung sebenarnya memiliki bahan yang sangat kaya untuk menjaga cerita tersebut. Peta lama, surat kabar, arsip pemerintah, foto, penelitian sejarah, serta kesaksian masyarakat dapat membantu menjelaskan asal-usul nama yang sekarang kita temui di berbagai sudut kota.
Penelusuran sejarah jalan Bandung menunjukkan betapa banyak lapisan yang dapat dibaca dari nama-nama tersebut, mulai dari perkembangan kawasan hingga perubahan politik dan kebudayaan.
Tantangannya adalah bagaimana pengetahuan itu kembali mendekat kepada masyarakat.
Sebuah papan nama jalan mungkin tidak harus berubah menjadi papan sejarah yang panjang. Tetapi informasi sederhana mengenai asal-usul nama, misalnya melalui kode QR, situs pemerintah, arsip digital, atau papan interpretasi di kawasan tertentu, dapat membuat warga dan pengunjung memiliki kesempatan untuk mengenali cerita di balik alamat yang mereka tuju.
Dengan begitu, toponimi tidak hanya menjadi urusan administratif tentang bagaimana sebuah jalan diberi nama. Ia dapat menjadi bagian dari literasi kota—cara sederhana untuk mengenalkan sejarah kepada orang yang bahkan mungkin tidak merasa sedang belajar sejarah.
Seorang anak yang setiap hari melewati sebuah jalan dapat mengetahui siapa tokoh yang namanya digunakan. Seorang pengunjung dapat memahami mengapa sebuah kawasan menggunakan nama tertentu. Sementara warga yang sudah lama tinggal di sana dapat menemukan kembali cerita yang mungkin selama ini hanya tersimpan dalam ingatan orang tua atau percakapan antarwarga.
Belajar Membaca Kota Sendiri
Mungkin itu sebabnya nama jalan layak dilihat dengan sedikit lebih banyak rasa ingin tahu.
Ketika melewati Jalan Citarum, misalnya, kita tidak hanya sedang mengikuti petunjuk menuju suatu alamat. Nama itu membawa kita pada hubungan Bandung dengan sungai dan bagaimana unsur geografis digunakan dalam penamaan ruang.
Ketika melewati kawasan dengan nama-nama yang berasal dari legenda Sunda, kita menemukan jejak bagaimana kebudayaan lokal ditempatkan di tengah kota. Ketika melihat nama tokoh pada sebuah papan jalan, kita mendapat kesempatan untuk bertanya kembali siapa orang tersebut dan mengapa ia dianggap layak dikenang.
Kita tidak harus menghafal seluruh sejarah nama jalan di Bandung. Cukup mulai dengan satu pertanyaan sederhana: mengapa jalan ini bernama demikian?
Pertanyaan itu bisa membawa kita pada cerita tentang sebuah kampung, sungai, tokoh, bahasa, kebudayaan, bahkan perubahan cara sebuah kota melihat dirinya sendiri.
Pada akhirnya, kota tidak hanya diwariskan melalui bangunan tua, museum, arsip, atau monumen. Kota juga diwariskan melalui kata-kata yang terus diucapkan warganya. Nama jalan adalah salah satunya.
Maka, lain kali ketika melewati jalan yang sama seperti kemarin, mungkin kita bisa melihat papan namanya sedikit berbeda. Di sana bukan sekadar alamat yang membantu kita menemukan tujuan, melainkan sepotong ingatan yang masih berjalan bersama kehidupan kota.






