Apa yang terjadi setelah sebuah kirab budaya selesai?
Ketika ribuan orang telah kembali ke rumah dan iring-iringan tidak lagi memenuhi jalan, sebuah pusaka kembali ke tempat penyimpanannya. Namun, bagi Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, perjalanan itu tidak berhenti ketika kirab berakhir.
Ia justru meninggalkan pertanyaan yang lebih panjang: bagaimana sebuah mahkota yang dikaitkan dengan perjalanan sejarah Sunda dapat bertahan melewati perubahan zaman, berpindah dari satu lingkungan kekuasaan ke lingkungan lainnya, dan tetap memiliki arti bagi masyarakat Jawa Barat hari ini?
Pada Mei 2026, Mahkota Binokasih dibawa keluar dari Sumedang dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda dan diperlihatkan kepada masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat. Kirab dimulai dari Sumedang pada 2 Mei dan berlanjut ke sejumlah daerah sebelum berakhir di Bandung pada pertengahan Mei. Setelah rangkaian tersebut selesai, mahkota dikembalikan ke Museum Prabu Geusan Ulun di Sumedang.
Tetapi Mahkota Binokasih bukan sekadar benda yang dipamerkan dalam sebuah kirab. Di balik bentuknya terdapat sejarah pewarisan, naskah kuno, penelitian mengenai artefak, dan penafsiran tentang nilai-nilai kebudayaan Sunda.
Untuk memahaminya, kita perlu melihat bukan hanya ke mana mahkota itu dibawa, tetapi juga dari mana ia berasal, bagaimana kisahnya diwariskan, dan mengapa pusaka tersebut masih relevan untuk dibicarakan pada masa kini.
Dari Sanghyang Pake hingga Mahkota Binokasih
Salah satu sumber penting dalam pembahasan mengenai mahkota ini adalah Carita Parahyangan, naskah Sunda yang memuat kisah dan silsilah sejumlah penguasa.
Dalam tradisi naskah tersebut, nama yang muncul adalah Sanghyang Pake. Sejumlah kajian mengaitkannya dengan Bunisora Suradipati atau Batara Guru di Jampang, yang disebut membuat mahkota untuk penobatan Niskala Wastu Kancana.
Dari sinilah muncul hubungan antara nama Sanghyang Pake dalam sumber tertulis dan artefak yang kini dikenal luas sebagai Mahkota Binokasih Sanghyang Pake.
Hubungan tersebut perlu dibaca dengan hati-hati. Sejarah sebuah pusaka tidak selalu hadir melalui satu sumber yang berdiri sendiri. Ada naskah, tradisi lisan, sejarah pewarisan, penelitian terhadap benda, dan penafsiran budaya yang berkembang dari masa ke masa.
Karena itu, Mahkota Binokasih sebaiknya tidak hanya dibaca sebagai benda yang memiliki satu cerita tunggal. Ia merupakan pertemuan antara artefak, teks, ingatan sejarah, dan tradisi.
Jejak Pajajaran dan Sumedang Larang
Dalam sejarah Sumedang, Mahkota Binokasih kemudian dikaitkan dengan perpindahan pusaka dari lingkungan Pajajaran menuju Sumedang Larang pada masa Prabu Geusan Ulun.
Narasi tersebut menjadi bagian penting dalam ingatan sejarah Sumedang. Mahkota dipandang sebagai salah satu pusaka yang melanjutkan jejak kebesaran Sunda ketika pusat kekuasaan mengalami perubahan. Di sinilah menjadi konteks penting untuk memahami perjalanan mahkota.
Namun, hubungan antara Pajajaran dan Sumedang tidak perlu disederhanakan sebagai perpindahan seluruh kerajaan secara utuh. Yang dapat dilihat adalah adanya narasi kesinambungan kekuasaan, pusaka, dan identitas yang kemudian berkembang kuat dalam tradisi sejarah Sumedang.
Mahkota Binokasih menjadi salah satu simbol yang berada di tengah narasi tersebut.
Sebagai benda budaya, ia memiliki sejarah material. Sebagai pusaka, ia memiliki sejarah pewarisan. Sementara sebagai simbol, ia memperoleh makna melalui cara masyarakat memahami sejarah dan identitasnya.

Tiga Tingkat Mahkota dan Gagasan Tri Tangtu
Salah satu aspek yang membuat Mahkota Binokasih menarik adalah bentuknya yang bertingkat.
Sebuah penelitian mengenai Makuta Binokasih menghubungkan struktur tiga tingkat mahkota dengan konsep Tri Tangtu atau Tri Tangtu di Buana dalam kebudayaan Sunda. Penelitian tersebut membaca unsur visual dan ornamen mahkota sebagai bagian dari gagasan mengenai keseimbangan peran dalam kehidupan masyarakat.
Dalam kerangka tersebut dikenal tiga peranan yang sering dirumuskan sebagai Rama, Resi, dan Prabu. Ketiganya tidak semata-mata dipahami sebagai tiga jabatan, tetapi sebagai pembagian fungsi yang saling berhubungan.
Rama berkaitan dengan masyarakat dan nilai-nilai yang hidup di dalamnya. Resi berkaitan dengan pengetahuan, kebijaksanaan, serta kelompok yang memberikan pertimbangan. Sementara Prabu berkaitan dengan kepemimpinan dan penyelenggaraan pemerintahan.
Kajian tentang Makuta Binokasih membaca struktur tiga tingkat tersebut sebagai representasi dari gagasan Tri Tangtu. Dengan demikian, bentuk mahkota tidak hanya dipahami dari sisi estetika, tetapi juga sebagai bahasa simbolik yang merekam cara pandang tertentu dalam kebudayaan Sunda.
Dalam penafsiran terhadap struktur tersebut, bagian-bagian mahkota dikaitkan dengan fungsi yang berbeda.
Bagian atas dikaitkan dengan sumber kebijaksanaan. Bagian tengah berhubungan dengan kepemimpinan dan tindakan. Sementara bagian bawah berhubungan dengan penerapan nilai dan pengetahuan dalam kehidupan.
Pembacaan tersebut memperlihatkan satu gagasan penting: kepemimpinan tidak berdiri sendirian. Ia membutuhkan pengetahuan, masyarakat, pertimbangan, serta nilai yang menjadi landasannya.
Karena itu, Tri Tangtu dapat dibaca bukan sebagai sistem yang menempatkan satu unsur untuk menguasai unsur lainnya, melainkan sebagai gagasan tentang keterhubungan dan keseimbangan.
Penafsiran ini merupakan hasil kajian terhadap bentuk dan simbol budaya, sehingga penting membedakannya dari fakta sejarah mengenai tujuan asli setiap ornamen. Makna simbolik dapat menjadi cara untuk memahami sebuah artefak, tetapi tetap terbuka terhadap penelitian dan tafsir akademik berikutnya.
Bahasa Simbol dalam Sebuah Pusaka
Mahkota Binokasih juga memiliki sejumlah ornamen yang kemudian menjadi objek pembacaan simbolik.
Kajian tentang makuta tersebut menghubungkan unsur seperti stupa, Garuda Mungkur, bentuk segitiga, dan ornamen lainnya dengan gagasan estetika serta kosmologi Sunda. Pola tiga menjadi salah satu karakter penting dalam pembacaan tersebut.
Dalam diskusi kebudayaan di Bogor pada Mei 2026, ahli arkeometalurgi BRIN Harry Octavianus Sofian juga menjelaskan pembacaan Mahkota Binokasih melalui konsep Tri Tangtu dan tiga peranan Rama, Ratu/Prabu, serta Resi.
Pendekatan semacam ini menarik karena membuat mahkota dapat dibaca bukan hanya sebagai benda masa lalu, tetapi sebagai media untuk memahami gagasan masyarakat yang melahirkannya.
Dengan kata lain, ornamen pada sebuah pusaka tidak selalu harus dilihat sebagai hiasan. Ia dapat menjadi pintu untuk bertanya: nilai apa yang hendak diwakili? Bagaimana masyarakat masa itu membayangkan seorang pemimpin? Bagaimana hubungan antara pengetahuan, masyarakat, dan kekuasaan dipahami?
Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang membuat sebuah artefak tetap relevan jauh setelah konteks politik yang melahirkannya berubah.
Prasasti Batutulis dan Ingatan tentang Kerajaan Sunda
Mahkota Binokasih kembali mendapatkan perhatian bersamaan dengan pembahasan mengenai Prasasti Batutulis di Bogor.
Dalam diskusi Batutulis dalam Sudut Pandang Teknokratis pada Mei 2026, ahli epigrafi Titi Surti Nastiti menjelaskan bahwa Prasasti Batutulis dibuat atas perintah Surawisesa untuk memperingati jasa Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi. Prasasti tersebut menjadi salah satu sumber penting untuk memahami sejarah Pakuan sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Sunda.
Jika Prasasti Batutulis di Bogor memberikan jejak sejarah melalui tulisan, Mahkota Binokasih menawarkan sumber pengetahuan melalui bentuk, material, ornamen, fungsi, serta sejarah pewarisannya.
Keduanya memang berbeda jenis sumber. Prasasti berbicara melalui aksara dan konteks epigrafis. Mahkota berbicara melalui benda dan simbol.
Namun keduanya memiliki satu kesamaan: sama-sama membantu masyarakat masa kini memahami bahwa sejarah Sunda dapat dipelajari melalui peninggalan konkret, bukan hanya melalui cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketika Pusaka Kembali ke Ruang Publik
Pada 2026, Mahkota Binokasih tidak hanya berada di ruang penyimpanan.
Melalui rangkaian Milangkala Tatar Sunda, pusaka tersebut diperlihatkan kepada masyarakat di berbagai wilayah Jawa Barat. Di Sumedang, ribuan warga mengikuti kirab “Binokasih Mulang Salaka”. Rangkaian kemudian bergerak ke sejumlah daerah dan mencapai Bandung pada 16 Mei 2026.
Kehadiran mahkota di ruang publik mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan warisan budaya.
Bagi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, kirab tersebut merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali ingatan masyarakat terhadap sejarah dan kebudayaan Sunda. Ia menilai Mahkota Binokasih tidak semestinya berhenti sebagai pusaka yang disimpan, tetapi perlu dikenalkan kepada masyarakat melalui pendekatan kebudayaan dan pengetahuan.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, ia juga mendorong agar peninggalan sejarah seperti Mahkota Binokasih dan Prasasti Batutulis dikaji secara akademik, sehingga masyarakat dapat memahami warisan leluhurnya melalui konteks peradaban, bukan semata-mata melalui cerita yang berkembang di luar kajian sejarah.
Orang yang sebelumnya hanya mengenal nama Binokasih melalui buku atau cerita kini dapat melihat konteks kebudayaan yang dibangun di sekitarnya. Kirab juga mempertemukan pusaka dengan kesenian, masyarakat, pemerintah daerah, komunitas budaya, serta generasi muda.
Namun, nilai sebuah kirab tidak berhenti pada jumlah orang yang datang atau kemeriahan acaranya. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang tersisa setelah keramaian berakhir.
Apakah masyarakat menjadi lebih memahami sejarahnya? Apakah anak-anak muda mendapatkan pengetahuan baru? Apakah penelitian tentang pusaka menjadi lebih banyak? Apakah museum menjadi lebih hidup? Dan apakah warisan tersebut dapat diterjemahkan ke dalam pendidikan serta kebudayaan tanpa kehilangan konteks sejarahnya?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menentukan apakah sebuah kirab hanya menjadi peristiwa sesaat atau menjadi bagian dari proses pelestarian budaya.

Dari Pusaka Menjadi Objek Kajian
Dorongan untuk membawa Mahkota Binokasih dan Prasasti Batutulis ke dalam kajian akademik juga muncul dalam diskusi kebudayaan di Bogor pada Mei 2026.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendorong agar kedua peninggalan tersebut dikaji secara akademik, termasuk dari sisi bahan, waktu pembuatan, pembuat, tulisan, dan makna yang terkandung di dalamnya. Pendekatan akademik membuka pertanyaan yang lebih spesifik.
Bagaimana mahkota dibuat? Material apa yang digunakan? Bagaimana teknik pengerjaannya? Seberapa jauh bentuk artefak dapat dibandingkan dengan keterangan dalam naskah? Bagaimana sejarah penyimpanannya dapat dilacak? Dan bagaimana perubahan penafsiran terhadap pusaka berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya?
Pertanyaan seperti ini penting karena pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga benda secara fisik. Pengetahuan tentang benda juga harus dijaga.
Sebuah pusaka yang tersimpan dengan baik tetapi kehilangan konteks sejarahnya pada akhirnya hanya akan menjadi objek yang indah tanpa cerita yang dapat dipahami.
Mahkota Binokasih dalam Budaya Sunda Kekinian
Di sinilah Mahkota Binokasih mendapatkan relevansinya bagi kebudayaan Sunda hari ini.
Masyarakat Sunda masa kini tentu tidak hidup dalam struktur kerajaan seperti berabad-abad lalu. Kehidupan berlangsung dalam masyarakat modern, di tengah perkembangan teknologi, pendidikan, ekonomi kreatif, media sosial, urbanisasi, dan pertukaran budaya yang semakin cepat.
Karena itu, menjaga Mahkota Binokasih tidak berarti harus menghidupkan kembali kehidupan masa lalu. Yang lebih penting adalah menghidupkan pengetahuan yang dapat dipelajari dari masa lalu.
Konsep tentang hubungan antara pemimpin, masyarakat, pengetahuan, dan nilai kehidupan yang dibaca melalui Tri Tangtu, misalnya, dapat menjadi bahan diskusi kebudayaan tanpa harus dipaksakan menjadi sistem politik masa kini.
Begitu pula dengan sejarah perjalanan mahkota. Ia dapat menjadi pintu untuk mengenalkan sejarah Sunda kepada generasi muda tanpa harus mengubah sejarah menjadi romantisme tentang kejayaan masa lampau.
Dalam konteks budaya kekinian, Mahkota Binokasih dapat berfungsi sebagai penghubung antara warisan dan kreativitas.
Ia dapat dipelajari melalui museum, pendidikan, penelitian, dokumentasi digital, desain, seni pertunjukan, film, literasi sejarah, hingga ekonomi kreatif—selama pengolahannya tetap menghormati konteks budaya dan tidak mengubah interpretasi menjadi fakta sejarah tanpa dasar.
Apa yang Bisa Dipelajari dan Tersisa Bagi Generasi Sekarang?
Bagi generasi sekarang, salah satu manfaat paling nyata dari mengenal Mahkota Binokasih adalah bertambahnya literasi sejarah dan budaya.
Sejarah tidak lagi hanya hadir sebagai tanggal dan nama kerajaan dalam buku pelajaran. Melalui sebuah artefak, sejarah dapat dipahami sebagai sesuatu yang memiliki bentuk, material, simbol, cerita, dan hubungan dengan masyarakat.
Mahkota Binokasih juga dapat memperkenalkan bahwa warisan budaya tidak selalu harus dipandang secara hitam-putih: antara percaya dan tidak percaya, antara masa lalu dan masa kini. Ia dapat dipelajari secara kritis.
Generasi muda dapat bertanya tentang sumber sejarahnya, membandingkan naskah dengan penelitian, memahami perbedaan antara tradisi dan bukti material, sekaligus menghargai masyarakat yang menjaga warisan tersebut.
Dengan pendekatan seperti itu, identitas budaya tidak harus dibangun melalui klaim bahwa masa lalu selalu lebih baik. Identitas dapat tumbuh dari pengetahuan tentang masa lalu dan kemampuan membaca relevansinya untuk masa kini.
Untuk generasi mendatang, nilai Mahkota Binokasih bukan hanya terletak pada keberadaan benda fisiknya. Yang lebih penting adalah apakah generasi berikutnya masih memiliki kesempatan untuk mengetahui cerita di balik benda tersebut.
Jika mahkota dijaga tetapi penelitian tidak dilakukan, dokumentasi tidak lengkap, dan konteks sejarah tidak diwariskan, generasi mendatang mungkin hanya akan mengenal sebuah benda bernama Binokasih tanpa memahami mengapa ia penting.
Sebaliknya, jika konservasi berjalan bersama penelitian, dokumentasi, pendidikan, dan keterlibatan masyarakat, Mahkota Binokasih dapat menjadi salah satu sumber pengetahuan yang terus hidup.
Ia dapat membantu generasi mendatang memahami bagaimana masyarakat Sunda pada masa lalu membangun kebudayaan, menciptakan simbol, mengatur kehidupan, serta mewariskan ingatan.
Pada titik itu, pelestarian bukan sekadar menyimpan benda. Pelestarian berarti menjaga kemampuan sebuah masyarakat untuk mengingat, memahami, dan menjelaskan dirinya sendiri.
Setelah Kirab Berakhir
Mahkota Binokasih akhirnya kembali ke Museum Prabu Geusan Ulun setelah menyelesaikan rangkaian kirab pada Mei 2026. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat mahkota tersebut dikembalikan kepada pihak Keraton Sumedang Larang dan kembali disimpan di museum.
Jalan-jalan kembali seperti biasa. Keramaian berakhir.
Mahkota kembali berada di balik ruang penyimpanan yang lebih tenang. Tetapi perjalanan sebuah pusaka tidak harus berakhir ketika ia kembali ke tempatnya.
Justru setelah itu pekerjaan kebudayaan yang lebih panjang dimulai: meneliti, mendokumentasikan, merawat, mengajarkan, dan memperbincangkannya dengan cara yang bertanggung jawab.
Mahkota Binokasih karena itu bukan hanya cerita tentang kejayaan sebuah kerajaan.
Ia adalah kesempatan untuk membaca kembali sejarah Sunda melalui benda yang masih ada, naskah yang masih dapat dikaji, simbol yang masih dapat ditafsirkan, dan ingatan yang masih hidup di tengah masyarakat.
Dan mungkin, itulah arti sebuah pusaka bagi zaman sekarang: bukan membawa kita kembali hidup di masa lalu, melainkan membantu kita memahami siapa kita, dari mana kita berasal, dan pengetahuan apa yang layak kita wariskan kepada mereka yang datang setelah kita.
CATATAN REDAKSI
Artikel ini membahas Mahkota Binokasih sebagai artefak dan pusaka dalam sejarah serta kebudayaan Sunda yang memiliki bentuk, sejarah pewarisan, konteks simbolik, dan pemaknaan yang berkembang dalam berbagai sumber. Keterangan mengenai Sanghyang Pake, Kerajaan Sunda/Pajajaran, Sumedang Larang, Tri Tangtu, Rama, Resi, Prabu, serta makna berbagai ornamen mahkota ditempatkan berdasarkan naskah, penelitian, dokumentasi kebudayaan, atau penafsiran yang berkembang dalam kajian dan tradisi masyarakat. EMMANUS membedakan antara fakta sejarah yang terdokumentasi, hasil penelitian, tradisi lisan, dan interpretasi simbolik; penafsiran terhadap makna pusaka tidak disajikan sebagai satu-satunya kebenaran yang tidak dapat dikaji kembali.
Artikel ini juga menempatkan Mahkota Binokasih dalam konteks kebudayaan Sunda masa kini tanpa mengarahkan pembaca untuk menerima atau menolak keyakinan, tradisi, maupun pemaknaan tertentu. Penyebutan unsur spiritual, kosmologi, atau ajaran yang muncul dalam sumber ditempatkan sebagai bagian dari konteks kebudayaan dan penafsiran masyarakat yang terkait dengannya. EMMANUS memandang pelestarian pusaka tidak hanya sebagai upaya menjaga benda secara fisik, tetapi juga menjaga pengetahuan, sejarah, dan konteks budaya yang menyertainya, agar dapat dipelajari secara kritis dan diwariskan kepada generasi berikutnya.






