By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
emmanusemmanusemmanus
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya
  • Cerita Rakyat
  • Pariwisata
Reading: Kampung Pitu, Kampung Tujuh Kepala Keluarga di Gunung Kidul
Share
Font ResizerAa
emmanusemmanus
Search
  • Berita Kategori
    • Berita
    • Profil
    • Event
    • Tradisi
    • Pariwisata
    • Cerita Rakyat
    • Warisan Budaya
Follow US
©2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
emmanus > Blog > Pariwisata > Kampung Pitu, Kampung Tujuh Kepala Keluarga di Gunung Kidul
Pariwisata

Kampung Pitu, Kampung Tujuh Kepala Keluarga di Gunung Kidul

Achmad Aristyan
Last updated: 21/01/2025 03:08
Achmad Aristyan
Share
Suasana alam pedesaan di Kampung Pitu, Gunung Kidul Yogyakarta. Foto: GoogleMaps/Khansa Azzahra
SHARE

Kampung Pitu adalah sebuah perkampungan kecil yang terletak di puncak sisi timur Gunung Api Purba Nglanggeran, Kelurahan Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kampung ini dikenal sebagai tempat yang sarat dengan tradisi leluhur, salah satunya adalah aturan unik yang membatasi jumlah kepala keluarga hanya tujuh. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan tetap dijaga hingga kini.

Sejarah dan Filosofi Kampung Pitu

Dilansir dari regional.kompas.com, awalnya Kampung Pitu dikenal dengan nama Kampung Tlogo, diambil dari nama telaga Tlogo Guyangan. Telaga ini memiliki arti simbolis sebagai tempat pemandian kuda sembrani, kendaraan gaib yang konon digunakan para bidadari. 

Tahun 2015, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mengganti namanya menjadi Kampung Pitu sebagai bagian dari upaya untuk mempromosikan perkampungan ini sebagai destinasi wisata budaya.

Nama baru ini berhasil membawa Kampung Pitu ke panggung pengakuan, termasuk penghargaan dari Gubernur DI Yogyakarta sebagai pelestari kebudayaan, serta penetapan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional tahun 2019.  

Ilustrasi ritual yang diadakan di Kampung Pitu. Foto: bangkalan.pikiran-rakyat.com

Sejarah Kampung Pitu bermula dari kisah Eyang Iro Dikromo, seorang abdi Keraton Yogyakarta yang memenangkan sayembara dengan menemukan pusaka pada pohon Kinah Gadung Wulung di puncak Gunung Nglanggeran.

Sebagai hadiah, ia menerima sebidang tanah dari Keraton untuk ditempati keturunannya. 

Ia menetapkan aturan sakral yang hanya memperbolehkan tujuh kepala keluarga (Empu Pitu) tinggal di kampung ini. Aturan ini diyakini sebagai wasiat leluhur dan tidak boleh dilanggar, karena dipercaya dapat mendatangkan bencana.

Tradisi yang Dilestarikan

Melansir dari jogjaprov.go.id, masyarakat Kampung Pitu tetap mempertahankan tradisi leluhur, termasuk pantangan menggelar pertunjukan wayang. Hal ini berkaitan dengan nama gunung di sekitar desa yang disebut Gunung Wayang. 

Mereka percaya bahwa melanggar aturan ini dapat membawa malapetaka. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Kampung Pitu mempraktikkan sinkretisme antara Islam dan budaya Jawa. 

Mereka rutin menggelar slametan untuk berbagai upacara, seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian. Meskipun aturan kepala keluarga harus berjumlah tujuh sangat ketat, tradisi ini tidak membatasi pilihan pasangan dalam pernikahan. 

Namun, pasangan yang telah menikah harus meninggalkan Kampung Pitu dan tidak diizinkan membuat kartu keluarga sendiri jika tetap tinggal di kampung.

Baca juga: Melihat Gunung Api Purba di Desa Wisata Nglanggeran

Pesona Budaya Kampung Pitu Gunung Kidul

Dengan segala keunikan dan tradisinya, Kampung Pitu menjadi salah satu objek wisata budaya unggulan di Gunungkidul. Selain daya tarik tradisi, pengunjung juga dapat menikmati keindahan panorama dari Gunung Api Purba Nglanggeran. 

Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunung  kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Foto: Instagram/noviralarassati

Keberhasilan kampung ini mempertahankan warisan leluhur sekaligus menyesuaikannya dengan zaman modern menjadikannya sebagai contoh nyata pelestarian budaya berkelanjutan.

Kampung Pitu tidak hanya menyuguhkan cerita sejarah dan tradisi, tetapi juga memberikan pengalaman spiritual yang mendalam bagi mereka yang berkunjung. (Diolah dari berbagai sumber)

You Might Also Like

Wisata Alam Pangjugjugan, Destinasi Liburan Edukatif

Jejak Masa Lalu Kota Batam Berawal Dari Kampung Melayu

Menyaksikan Fenomena Air Terjun Di Pantai Karang Taraje

Kunjungan Wisman ke Indonesia Januari-Agustus 2024 Naik

Roti Bagelen Manglongsari Wonosobo, Resep Asli Sejak 1934

Sign Up For Daily Newsletter

Be keep up! Get the latest breaking news delivered straight to your inbox.
[mc4wp_form]
By signing up, you agree to our Terms of Use and acknowledge the data practices in our Privacy Policy. You may unsubscribe at any time.
Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Share
By Achmad Aristyan
Content Writer
Previous Article Wonosobo Siap Suguhkan Keberagaman Atraksi Wisata di 2025
Next Article Perpaduan Rasa Eropa dan Jawa dalam Sepiring Selat Solo
Leave a comment Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media

2kFollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
- Advertisement -
Ad imageAd image

Berita Terbaru

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar
Berita 30/05/2025
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik
Berita 29/05/2025
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto
Berita 29/05/2025
penulisan ulang sejarah Indonesia
DPR Setujui Proyek Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Target Rampung Tahun 2027
Berita 28/05/2025
- Advertisement -

Quick Link

  • Kontak Kami
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Top Categories

  • Profil
  • Event
  • Tradisi
  • Warisan Budaya

Stay Connected

200FollowersLike
4kFollowersFollow
2.4kSubscribersSubscribe
18kFollowersFollow
emmanusemmanus
Follow US
© 2024 PT Emma Media Nusantara. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Nama Pengguna atau Alamat Email
Kata Sandi

Lupa kata sandi Anda?