Event

Karya Lee Man Fong Warnai Pameran Kongsi di Museum Nasional

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan bahwa pameran bertajuk Kongsi: Akulturasi Tionghoa di Nusantara yang digelar di Museum Nasional, Jakarta, menampilkan karya seni dari seorang pelukis besar yang dikagumi Presiden Soekarno yakni Lee Man Fong. “Kalau di sini ruang pameran dari koleksi karya seorang pelukis besar, Lee Man Fong. Ini pelukis yang disukai Bung Karno dan […]

Oleh Achmad Aristyan

Karya Lee Man Fong Warnai Pameran Kongsi di Museum Nasional
Ilustrasi Lukisan Lee Man Fong. Foto: www.christies.com
Diterbitkan

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan bahwa pameran bertajuk Kongsi: Akulturasi Tionghoa di Nusantara yang digelar di Museum Nasional, Jakarta, menampilkan karya seni dari seorang pelukis besar yang dikagumi Presiden Soekarno yakni Lee Man Fong.

“Kalau di sini ruang pameran dari koleksi karya seorang pelukis besar, Lee Man Fong. Ini pelukis yang disukai Bung Karno dan bahkan ikut menjadi editor dari lima buku volume koleksi Bung Karno,” ujar Fadli, Senin, 10 Februari 2025 dilansir dari tempo.co.  

Buku-buku yang dimaksud adalah Lukisan-lukisan dan Patung-patung Presiden Soekarno, sebuah koleksi yang disusun dalam lima volume dengan sampul berwarna hitam.

Sebagai editor, Lee Man Fong memiliki peran penting dalam dokumentasi seni rupa yang dikoleksi Bung Karno. Buku itu pertama kali dicetak di Jepang pada tahun 1964 berukuran 40 x 30 sentimeter.  

Mengenal Lukisan Karya Lee Man Fong

Karya-karya Lee Man Fong dikenal dengan dominasi warna cokelat dan kuning emas, mencerminkan karakter khas yang membedakannya dari pelukis lain.

Dalam pameran ini, delapan lukisan dipamerkan, masing-masing menggambarkan hewan seperti dua kelinci, dua bangau, dua kakatua, seekor singa, dua merpati, dua bebek, dan dua anjing.  

Fadli tidak merinci pemilik koleksi lukisan yang dipamerkan, namun ia menyatakan bahwa karya itu dipinjam dari berbagai kolektor.

“Dipinjamkan dari beberapa kolektor,” katanya. Berdasarkan keterangan dalam ruang pameran, Lee Man Fong lahir di Guangzhou, Tiongkok, pada 14 November 1913. 

Ia kemudian bermigrasi ke Singapura sebelum akhirnya menetap di Indonesia. Meskipun demikian, sepanjang hidupnya ia tetap berstatus sebagai warga negara Tiongkok. Lee Man Fong wafat di Puncak, Jawa Barat, pada 3 April 1988.  

Tema Satwa dalam Karya Lee Man Fong

Pameran digelar selama tiga bulan, sejak dibuka 11 Februari 2025. Sejumlah karya yang ditampilkan mengusung tema satwa, yang menjadi salah satu ciri khas dalam perjalanan seni Lee Man Fong. 

Lukisan-lukisan itu dibuat menggunakan cat minyak di atas hardboard, bahan komposit serat kayu yang sering digunakan dalam seni lukis.

Salah satu alasan di balik ketertarikan Lee Man Fong terhadap tema satwa adalah dorongan banyak pihak agar ia melukis cap ji shio, yaitu dua belas hewan dalam astrologi Tiongkok yang melambangkan tahun kelahiran seseorang. 

“Cap ji shio dalam astrologi Tiongkok dipercaya mengisyaratkan perjalanan nasib seseorang,” demikian dikutip dari buku Melipat Air: Jurus Budaya Pendekar Tionghoa, Lee Man Fong, Siaw Tik Kwie, Lim Wasim karya Agus Dermawan T.

Dalam karyanya, Lee Man Fong menampilkan satwa shio dengan gaya realistik, menggabungkan unsur seni Tiongkok dan Barat (Chinese-Western art). Latar belakang yang ia hadirkan pun sering kali menggabungkan nuansa alam Tiongkok dan Indonesia.  

Alasan Pameran Digelar di Museum Nasional Indonesia

Pameran akulturasi budaya Tionghoa ini menampilkan koleksi dari Museum Benteng Heritage di Tangerang serta koleksi dari Museum Nasional Indonesia sendiri. Pemilihan museum sebagai lokasi pameran bukanlah tanpa alasan.  

Menurut Fadli Zon, museum kini semakin menarik perhatian generasi muda.

“Di museum sekarang makin banyak anak muda yang datang,” ujarnya. Selain menampilkan karya seni rupa, pameran ini juga menghadirkan berbagai aspek akulturasi budaya Tionghoa dan Nusantara, mulai dari benda-benda peninggalan sejarah hingga ekspresi budaya kontemporer. 

Fadli menambahkan bahwa pameran ini sekaligus menjadi bagian dari perayaan Imlek dan Cap Go Meh. “Kami merayakan ini sebagai peringatan Imlek dan Cap Go Meh,” tuturnya.

TopikEvent
Event20 FEB 2025

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Event

Lihat semua →
Pameran topeng tradisional Indonesia dan Korea Selatan bertajuk Dua Wajah, Satu Jiwa di Museum Nasional Indonesia.

Dua Wajah, Satu Jiwa Indonesia-Korea

Pameran topeng tradisional Indonesia dan Korea Selatan di Museum Nasional mempertemukan dua tradisi melalui kemiripan karakter, kisah kehidupan, dan nilai budaya.

Ridwan

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan